"Sejak kapan?"
Setelah keduanya terdiam cukup lama. Safira kembali bersuara. Dia belum puas dengan apa yang dibahas dengan sang suami. Sementara Haidar, dia sama sekali tidak beranjak dari tempat duduk itu. Sengaja berdiam diri, agar sang istri puas menghakiminya. Dia merasa pantas mendapatkan semua itu.
"Aku mencintainya."
Runtuh sudah semua harapan yang selama ini dibangunnya. Safira bagaikan mendapat sebuah benda dengan kekuatan besar yang mampu membuat segala hal yang menjadi ambisinya menjadi berantakan. Hanya karena ungkapan rasa cinta yang bukan untuknya.
"Aku membebaskanmu di luar sana bukan untuk berselingkuh, tidak pernah bertanya atas kecurigaanku karena takut kamu tak nyaman. Menuruti ucapanmu tidak perlu bekerja karena Aku yakin padamu. Ternyata, itu semua tidak ada harganya di matamu."
"Aku mencintainya sebelum kita menikah."
"Cukup! Jika ini sebuah settingan agar Kamu ingin terbebas denganku, lalu pergi bersamanya. Silahkan lakukan, jangan menjadi pembohong atau Aku akan membencimu seumur hidupku."
"Aku gak bohong. Aku tidak mau ada kesalahpahaman lagi di sini."
"Tidak. Kamu memuakkan."
Tring
Safira membuang asal cincin tersebut, dia tidak perduli seberapa berharganya cincin itu untuk sang suami.
"Safira!" Teriak Haidar tidak terima. Meskipun sebenarnya, lelaki itu melakukannya tanpa sadar. Dia tidak bermaksud untuk membentak istrinya. Namun, benda itu sudah dia jaga belasan tahun.
"Kenapa? Mau pukul atau tampar? Ayo lakukan!"
"Aku memang salah, tapi benda itu tidak pantas Kamu perlakukan seperti itu."
"Lebih berharga cincin bernamakan wanita itu dibandingkan dengan istrimu sendiri?"
Wanita itu terus menantang kesabaran sang suami. Namun, sejauh ini Haidar cukup kuat menahan diri untuk tidak menyakiti istrinya secara fisik.
Tanpa menjawab, dia langsung mencari kemana cincin itu pergi, dia mencarinya di sudut ruangan. Membuat hati Safira semakin sakit. Di hadapannya, lelaki itu terang-terangan membela wanita itu.
"Aku gak akan maafin Kamu, jika cincin itu tidak ketemu."
Jelas. Sekarang sangat jelas, bahwa Safira sama sekali tidak berharga untuk Haidar.
"Terserah. Sekalipun cincin itu ketemu. Jangan biarkan ada di rumah ini. Aku tidak sudi melihatnya."
Safira membanting pintu kamar. Dia tidak mau lagi mendengar ucapan sang suami yang sangat menyakiti hatinya. Bukan meminta maaf, Haidar malah membuatnya semakin panas.
Haidar yang masih diselimuti oleh emosi, belum sadar. Jika yang dilakukannya akan berdampak buruk pada hubungan mereka. Dia terus saja mencari cincin itu, sampai akhirnya menemukannya. Masih dalam keadaan utuh. Tidak ada satu mata cincin itu yang jatuh.
Kenapa dia sangat menjaga cincin ini? Karena sangat bersejarah untuknya. Cincin itu, dia beli memakai gaji pertamanya bekerja. Dia sengaja khususkan agar bisa mengikat wanita yang dicintainya. Namun, sangat disayangkan. Dia terlambat. Lana sudah bertunangan lebih dulu dengan pria kaya raya yang sekarang menjadi suami wanita itu.
Dia selalu menyimpan dengan baik cincin ini, berharap suatu saat bisa memakaikannya langsung pada jari manis wanita itu. Sengaja dia simpan di dompet, karena Safira sama sekali tidak pernah membuka dompetnya bertahun-tahun mereka menikah. Jadi, dia merasa aman. Dia merasa sangat ceroboh, sudah meninggalkan dompet itu di rumahnya.
Safira kembali menangis. Dia tidak menyangka. Haidar akan membela wanita itu. Bahkan dia kalah oleh sebuah benda mati yang bernama cincin bertuliskan nama sahabatnya.
Terlepas dari semua itu, dia sama sekali tidak menyangka. Jika suaminya selama ini ternyata sudah berselingkuh di belakangnya. Padahal, dia menaruh banyak harapan pada lelaki itu. Sama sekali tidak pernah berpikir bahwa suaminya bisa tega melakukan hal ini padanya. Dia benar-benar dibohongi sampai ke akar-akarnya. Semua perlakuannya, tutur katanya, bahasa tubuhnya hanyalah kebohongan semata. Menutupi diri dari dari tingkah laku yang sebenarnya.
Satu hal yang membuatnya sangat sakit hati, yaitu Liana. Bagaimana anaknya yang sangat dia jaga dari melihat pertengkaran, kesedihan dan semua hal yang akan membuat memorinya menjadi bermasalah. Harus menerima kenyataan melihat secara langsung bahwa Papahnya bersama wanita lain. Pantas saja. Anak itu terlihat Kaget berat. Sampai berprilaku tidak seperti biasanya. Mereka harus bertanggung jawab, seandainya Liana sampai mengalami trauma.
Dia juga menyesal, sudah menyudutkan Liana. Tanpa tahu yang sebenarnya. Anak itu pasti sedang merasa sendirian dan terpukul. Dia tidak tahu sekarang harus bagaimana. Karena tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Liana. Anak itu masih terlalu kecil, menanggung beban sebesar ini. Dia sepertinya akan berbohong. Demi kebaikan mental sang anak.
Haidar datang dari belakang, dia memeluk istrinya dari belakang.
"Aku benar-benar minta maaf."
Sangat erat, sampai Safira kesulitan untuk melepaskannya.
"Harusnya, Kamu lakukan ini sebelum kita memilik anak. Jika memang tidak mencintaiku. Kenapa anak kita bisa lahir? Kamu keterlaluan!"
"Aku sayang Kamu."
"Jangan berbohong. Tidak ada satu hati untuk dua wanita sekaligus. Jika Kamu mempertahankan dia, artinya memang Kamu tidak pernah mencintaiku apalagi menyayangi. Manusia mana menyanyangi dengan cara menyakiti seperti ini?"
"Aku berniat mengakhiri hubungan Kami."
"Setelah ketahuan? Lepas Mas! aku tidak mau dipeluk oleh lelaki yang terbiasa menggenggam tangan wanita selain istrinya."
Haidar terus menerus mendapatkan perkataan yang membuat hatinya sakit. Namun, dia tidak langsung terpancing, dia merasa wajar mendapatkan semua ini. Masih beruntung, Safira tidak berteriak Sampai tetangga mendengar, atau memecahkan barang-barang yang ada di rumah ini.
Perlahan dia melepaskan pelukannya, Haidar mengambil posisi bersimpuh di samping sang istrinya. Semua yang dilakukannya akan menjadi salah di mata sang istri.
"Aku harus bagaimana supaya Kamu memaafkanku?"
"Jika Kamu bisa mengelabuiku, kenapa tidak terpikirkan cara untuk yang satu ini. Atau jangan-jangan memang Kamu sengaja kan? Supaya Aku menyerah. Dan kalian bisa hidup bahagia bersama. Licik."
"Aku sudah mengakui salah. Kenapa Kamu tidak bisa menghargai itu? Tolong lah Safira, demi anak kita."
"Sekarang Kamu bisa bilang demi anak kita. Saat kalian makan bersama sampai Liana melihat. Di mana otak kalian? Aku lebih baik tidak mengetahui. Apalagi Liana yang melihatnya langsung. Maaf, Aku gak bisa maafin Kamu. Ini terlalu sakit. Kalian lebih dari sekedar jahat. Hati anakku pasti sangat hancur."
Kembali menangis dan terisak.
Beberapa kali dia mengatakan istighfar, agar hatinya bisa tenang.
Haidar menyerah. Dia sadar, istrinya sedang dalam masa tidak baik-baik saja. Dia memilih untuk mundur.
"Kita bicarakan lagi nanti, Saat Kamu sudah merasa lebih baik."
Tidak ada jawaban, dia memutuskan untuk keluar dari kamar. Hari ini, dirinya bolos kerja. Tidak mungkin kembali ke kantor. Sebentar lagi jam istirahat. Dia sedang memikirkan jalan keluarnya. Hari ini, dia bertanggung jawab atas dua hati wanita yang harus tersakiti di waktu yang bersamaan.
Di sisi lain, dia ingin melindungi Lana, tapi dia juga tidak mau melepaskan Safira. Semakin hari, dia sangat menyadari bahwa dirinya membutuhkan kehadiran sang istri. Perasaannya yang awalnya biasa saja menjadi berubah.
Semenjak dia bisa menjalin hubungan dengan Lana. Perlahan, rasa ingin memiliki yang dulu pernah ada, sedikit demi sedikit memudar.