Mencoba

1038 Kata
Anak-anaknya sudah pulang sekolah. Mereka kaget, melihat papahnya ada di rumah, karena tidak seperti biasanya. "Papah tidak bekerja?" tanya Razka. Sementara Liana hanya diam saja, sembari membuka sepatunya untuk disimpan di rak. Namun, telinganya dia pasang untuk mendengarkan jawaban papahnya. "Eum, bekerja. Tapi, hari ini pulang lebih awal. Karena tidak terlalu banyak pekerjaan. Maaf ya, tadi gak jemput kalian. Papah kira, pulangnya masih setengah jam lagi." Haidar mencoba untuk tidak membuat anaknya curiga. Dia bangun dari kursi single itu. Terlalu lelah berpikir, tidak terasa membuatnya ketiduran di tempat itu. Awalnya, dia berniat ingin menemui Lana. Namun, dia mencari waktu yang pas. Tidak mau meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Takut Safira melakukan hal yang bisa merugikan dirinya sendiri. Sejauh ini, dia memang minim pengetahuan mengenai sang istri. Karena dia selalu menjaga agar perasaan Safira selalu baik-baik saja. Jadi, cukup terkejut melihat istrinya terisak seperti tadi. rasa bersalah semakin terasa kuat. "Iya Pah, Mamah kemana?" "Ada, di kamar. Sebaiknya kalian ganti baju dulu. Mamah sepertinya sakit lagi, jadi jangan di ganggu dulu. Papah mau beli makanan keluar. Kalian mau makan apa?" "Mie ayam aja," ujar Razka. "Kakak?" Liana tadinya tidak berminat meminta dibelikan. Namun, dia melihat papahnya seperti sedang lelah dan banyak masalah. Dia tidak tega. "Samain aja." "Ya sudah, kalau begitu Papah pergi dulu. Mungkin agak lama, kalian makan cemilan dulu aja yang ada di kulkas ya." "Iya Pah." "Kak, jaga Mamah ya," ujar Haidar. Dia memberikan sinyal pada anak perempuannya. Liana langsung menyadari sesuatu. Kemudian dia mengangguk. Dia sudah curiga, semua tidak baik-baik saja. Haidar mengambil kunci motornya, tapi sebelum benar-benar pergi dia mengeluarkan handphonenya, lalu mengetik sesuatu kemudian mengirimkan pesan pada seseorang. Dia segera melajukan motornnya ke tempat tujuan. Sesampainya di sana, orang yang ada janji dengannya itu ternyata sudah datang lebih dulu. "Menunggu lama?" "Enggak, tadi kebetulan emang lagi ada di daerah sini." "Aku mau bicara serius sama Kamu." "Cari tempat yang lebih aman ya, soalnya di sini banyak mata-mata dia. Aku share lokasi nanti." "Oke." Mereka meninggalkan tempat sepi itu, lalu pergi ke tempat yang dimaksud oleh Lana. Wanita itu selalu memiliki tempat yang nyaman untuk bersembunyi makanya selama ini mereka selalu aman. Setidaknya, sebelum Liana melihat dan dia yang ceroboh meninggalkan dompet. Sesampainya di sana. Haidar turun dari motor, lalu masuk ke dalam mobil. "Jadi gimana?" Baru saja lelaki itu menyender pada kursi mobil. Namun. Pertanyaannya Lana membuatnya merubah posisinya. "Sepertinya memang tidak ada cara lain." "Kamu ceroboh." "Maaf," ujarnya penuh penyesalan. "Atau memang sengaja melakukan ini?" "Melakukan apa? Menggali kuburan sendiri? Yang benar saja." "Kamu pasti bisa menyakinkan mereka. Jika sampai mereka memikir ini nyata. Artinya Kamu memang sengaja." "Demi apapun. Aku gak tahu, kalau ternyata Liana sudah melihat kita, juga Safira yang melihat cincin buat Kamu dariku. Aku gak pernah ketinggalan dompet di rumah sebelumnya. Hari ini, sepertinya sudah diatur untuk menghancurkanku." "Kamu mau Aku mundur?" Lana kasihan melihat Haidar, tapi dia juga butuh kepastian. Meskipun dirinya salah, dia merasa memiliki atas Haidar. Setidaknya, jika hati lelaki itu masih untuknya, dia masih ada hak. "Bisa bertahan gak? Aku pengen banget bahagia sama Kamu. Tapi anak-anak gimana?" "Anak-anak dan juga istri Kamu." Lana menjelaskan dengan gamblang yang tidak bisa Haidar sebutkan. "Sedikit khawatir. Namun, Aku juga gak mau nyakitin Kamu." "Ini sudah menyakiti. Jika Kamu tidak tahu apa yang Aku rasakan. Aku bisa menjelaskannya." "Maaf," ujarnya dengan penuh harapan wanita itu bisa mengerti posisinya. "Seandainya Aku tidak sadar, kita memang salah. Aku mungkin sudah memintamu meninggalkannya detik ini juga. Kamu punya pilihan." "Aku bingung." "Cinta memang begitu. Awalnya mungkin Kamu hanya terobsesi saja denganku. Selebihnya, Kamu mencintai Safira." Sadar posisi. Lana memang hanya seperti pelampiasan saja. Dia memang lebih banyak waktu dengan Haidar. Namun, hati manusia siapa yang bisa mengontrolnya? "Enggak. Aku masih cinta Kamu," ujarnya sembari menyugar rambut. Dia mencoba untuk mengingat kembali, bagaimana sakit hatinya dulu karena kehilangan wanita itu. Dua tidak mau mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya. "Kita jalani saja dulu. Tidak ada yang bisa diharapkan. Kita sudah terlambat. Jika Safira egois, dia akan menggugatmu. Cepat atau lambat. Jika Aku jadi dia pun. Pasti akan melakukan hal itu." Dan hal itu yang membuat Haidar tidak siap. Dia ingin mempertahankan keduanya jika boleh. "Kenapa serumit ini? Aku.." "Jika Kamu berat. Aku bisa pergi seperti keinginanmu tadi pagi." "Tidak!" Tak sadar, lelaki itu langsung memegang tangan Lana dan mengatakan hal itu dengan suara lantang. Ini adalah respon yang berada diluar kendalinya. Sadar dengan kecerobohannya, perlahan dia menjauhkan tangannya dari tangan Lana. "Masalah ini. Aku memintamu pergi, bukan karena Safira tahu. Itu karena kumerasa tidak akan bisa membahagiakanmu. Kisah ini rumit, tidak siap rasanya jika mereka berpikir Kamu adalah peran antagonis dalam kisah kita." "Lalu? Aku harus diam dan berpura-pura baik-baik saja? Kamu menyakitiku." "Sepertinya Kita butuh istirahat. Maaf mengganggu waktumu. Jangan terlalu keras berpikir, Aku akan segera menyelesaikannya." "Jangan membual, Aku mual mendengarnya." Haidar diam saja. Dia yakin, suasana hati wanita itu sedang tidak baik saat ini. Mereka harus membuat keputusan yang berat. Sebelum benar-benar bisa melangkah lebih jauh. "Jangan tinggalkan Aku. Kamu hati-hati di jalan. Kabari jika sudah sampai." Haidar keluar dari mobil itu, tidak melihat betapa hancurnya Lana. Mengalami ini senua. Dia malu, sekaligus bingung. Salahnya jatuh cinta pada suami orang yang seharusnya dari dulu memang mereka bisa bersama. Mendengar Haidar meminganya jangan pergi, membuatnya ingin berteriak kencang di depan wajah lelaki itu. Memakinya dengan sarkas. Jika boleh, dia ingin sekali menamparnya. Namun, rasa cintanya membuat dia tidak bisa melakukan apapun selain diam. Dia hanya bisa menatap kepergian lelaki itu. Cepat atau lambat, dia pasti akan ditinggalkan untuk selamanya. Haidar hanya mengulur waktu, agar rasa sakitnya tercicil. Dia sudah mempersiapkan diri. "Arghhhh!" Teriaknya dengan kencang, tidak akan ada yang mendengarnya. Dia selalu sendirian dan berteman dengan kesedihan. Buktinya, sampai saat ini dia belum pernah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Haidar hanya pengalihan dari rasa sakit yang selama ini dialaminya. Dia sangat iri pada Safira. Wanita itu memiliki segalanya. Meskipun tidak mempunyai banyak uang, tapi hidupnya bahagia. Keluarganya utuh, dan satu hal yang tidak bisa dipungkiri, Safira memiliki Haidar dalam hidupnya. Sementara dirinya, hanya memiliki bayangannya saja. Mencengkram erat stir mobil, dia melampiaskan segala rasa sakitnya. Dan menumpahkan emosi dalam dirinya lewat air mata yang terus mengalir dengan deras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN