Perkara Cincin

1068 Kata
Liana langsung paham. Ketika dia memberanikan diri mengintip dari balik pintu. Sejak siang tadi, Mamahnya tidak keluar kamar dengan alasan sakit. Segala keperluannya dan sang adik papahnya yang mengerjakan. Anehnya, kenapa dia tidak boleh menemui mamahnya sendiri. Dari situlah dia berani diam-diam mengintip dari celah pintu kamar yang tidak benar-benar tertutup. Detak jantungnya berdebar tidak karuan, dia merasa sebentar lagi akan ada kehancuran yang terjadi. Rumah yang selama ini sangat nyaman mungkin tidak akan sama lagi. Melihat interaksi orang tuanya yang tidak akur, membuatnya sangat bersedih. Mulai dari Safira yang tidak menyahuti ucapan Haidar, kemudian tidak mau makan, juga bahunya yang bergetar karena menangis. Liana sangat paham, posisi itu. Dia mengalaminya kemarin, dan hari ini sudah lebih baik. Bukan menerima kelakuan papahnya begitu saja. Dia hanya berusaha untuk tetap tegar. Karena ada Razka yang tidak boleh mengetahui yang sebenarnya terjadi. "Kakak!" Panggil adiknya sedikit kencang, Liana langsung menjauh dari dekat pintu dan membawa adiknya pergi dari sana. "Kakak kenapa? Kok mengintip. Kata Mamah kan tidak sopan begitu." "Kakak hanya ingin melihat Mamah." Liana tersenyum. Dia mencoba membuat adiknya tidak penasaran untuk melihat ke dalam kamar. "Emang kalau flu, kita tidak boleh berdekatan ya? Padahal Aku suka flu, mamah tetap merawatku. Ketika temanku flu, Aku tetap berdekatan." "Flu juga kan banyak macamnya." "Berarti, Aku juga boleh dong ya mengintip seperti Kakak." "Jangan!" "Kenapa?" "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik, Kamu mengerjakan tugas sekolah. Nanti Kakak bilangin papah nih." Razka langsung cemberut. Dia tidak terlalu rajin mengerjakan tugas sekolah. Jika tidak diingatkan, bisa-bisa pagi hari baru dikerjakan. "Dasar gak asik," ujarnya penuh penekanan, padahal matanya sudah berkaca-kaca karena kesal. Lalu, dia pergi dari hadapan Liana. Liana baru bisa bernafas lega, begitu melihat adiknya masuk ke dalam kamar. "Kakak belum tidur?" Bukan suara Safira, melainkan Haidar. Lelaki itu berniat untuk mencari udara segar. Menghadapi marah sang istri, membuatnya frustasi. Liana hanya melihat papahnya sebentar, lalu dia pergi masuk ke kamar. Kecewa, anak sekecil dirinya mengalami kecewa hebat. Haidar kembali menghela nafas panjang. Dia ingin marah terhadap situasi seperti ini, tapi di sini dirinyalah yang salah. Dia pergi ke dapur, berniat untuk membuat kopi. Di luar sepertinya angin terasa sedikit kencang. Mungkin, karena ingin hujan. Di dapur, dia malah bertemu dengan sang istri yang sedang berdiri di hadapan dispenser. Menunggu air di gelas itu penuh. Haidar awalnya hendak berbalik, tapi karena Safira melihatnya. Dia tidak jadi melakukannya. Gengsinya terlalu tinggi. Dia berjalan mendekat ke arah wanita itu. "Air kan ada di nakas kamar, kenapa ambil ke dapur?" Tanyanya. Dia memang sudah menyiapkan semuanya di kamar. Karena takut istrinya tidak kuat keluar dari sana. Diam. Tidak ada jawaban, wanita itu menekan tombol agar air itu berhenti mengalir. Dia berpura-pura tidak mendengar. Karena ada suaminya, dia buru-buru pergi. "Malam ini Aku minum kopi ya?" tanya Haidar. Hal sepele seperti ini, sengaja dia tanyakan. Karena biasanya sang istri akan langsung marah. Safira memang berhenti, membuatnya mengulas senyum bahagia. Namun, ternyata tidak lama. Wanita itu langsung kembali berjalan. Senyuman itu memudar, seiring dengan berjalannya sang istri pergi meninggalkannya. Dia langsung mengalihkan perhatian. Berkali-kali dia mencoba untuk menabahkan hatinya. Dia pasrah, mulai mengambil gelas dan meracik kopi. Mungkin, jika dia terkena penyakit lambung seklipun. Safira tidak akan lagi perduli, atau bahkan lebih. Wanita itu akan dengan senang hati menertawakannya. Harusnya, Haidar bersyukur. Karena tidak ada satu barangpun di rumah ini yang pecah. Wanita itu matanya dengan sangat berkelas. Tidak ada teriakan ataupun makian yang berlebihan. Namun, gak ini justru membuatnya sangat merasa bersalah. Jika boleh memilih, dia ingin wanita itu mengeluarkan semua isi hatinya, agar mereka bisa menemukan jalan bersama-sama. Jika yang satu sulit diajak komunikasi, dia tidak tahu jalan apa yang harus ditempuhnya. Setelah selesai. Dia langsung pergi membawa kopi itu keluar rumah. Menaruhnya di teras. Mencoba menikmati udara malam dengan angin bertiup cukup terasa kencang. Melihat langit yang gelap, dan bulan yang tidak tampak. Sepertinya memang akan ada hujan datang. Dia mencoba menenangkan pikirannya. Perlahan, dia memikirkan jalan keluar dari Masalah yang saat ini menimpa dirinya dan keluarga. Dia memang tidak memiliki teman dekat selain Lana. Dia mulai menyesap kopi, ditemani dengan air hujan rintik-rintik yang terbawa oleh angin menghampirinya. Tidak ada niat sedikitpun untuk beranjak dari tempat itu. Dia menikmatinya. Safira gelisah, dia mengetahui bahwa di luar hujan, tapi suaminya masih betah berada di teras rumah. Hampir satu jam sudah. Haidar tidak masuk ke dalam rumah. Dari hujan itu turun rintik-rintik sampai deras dan kini belum juga surut. Lelaki itu masih betah di sana. Bagaimana Safira mengetahuinya? Dia sedang berdiri di ujung jendela, dan melihat suaminya yang terlihat sangat frustasi. Ingin sekali dia berjalan ke arah Haidar, lalu memegang bahu lelaki itu, mengatakan bahwa dia sudah memaafkan Haidar dan mereka bisa kembali baik-baik saja. Namun, rasanya sangat berat dan dia tidak bisa melakukannya. Meskipun rasa marahnya belum reda, tapi melihat Haidar seperti itu tidak termasuk ke dalam listnya. Dia rela berdiri, tak perduli pegal. Dia menangisi sembari melihat suaminya seperti itu. Sejauh ini, belum ada yang bisa dia lakukan. Selain menunggu langkah yang akan diambil oleh Haidar. Baru setelah itu dia akan mengambil langkah selanjutnya. Duarrr Suara petir membuatnya menjauh dari jendela, karena setahunya memang tidak boleh untuk berada di dekat jendela jika sedang ada petir. Safira kembali berbaring. Dia merasa ada suara getaran di kasur, setelah dicarinya. Ternyata panggilan telepon itu dari Lana. Meskipun hanya inisial, dia bisa mengenalinya. Ragu-ragu, Dia mencoba untuk mengangkat handphone tersebut. Jarinya ingin sekali menekan tombol hijau itu. Namun, dia merasa bukan haknya untuk mengangkat panggilan tersebut. Ceklek "Kamu ngapain pegang handphone Aku?" Reflek, Haidar ingin sekali memukul bibirnya sendiri. Niatnya masuk ke dalam kamar karena khawatir istrinya kenapa-kenapa. "Kenapa? Gak boleh? Aku gak butuh. Tadinya, mau kasih ke Kamu. Selingkuhannya nyariin Mas." Sindiran telak dari Safira, membuat Haidar bungkam. "Aku gak bermask-" "Apa? Masih kesel handphonenya Aku pegang. Ada apa sih? Penting banget kayaknya. Lebih penting mana sama cincin yang Aku buang? Atau cincin pernikahan kita juga kalah pentingnya ya?" Tersulut emosi, Safira membuka cincin itu. Lalu melemparnya dengan asal. "Kamu!" Tidak dihargai, itulah yang dirasakan Haidar saat ini. Setidaknya, meskipun memang dia marah. Jangan mengorbankan cincin pernikahan mereka. Safira takut mendengar suara bentakan itu, dua juga sedikit menyesal dan merasa bersalah. Haidar memungut cincin pernikahan mereka, lalu lelaki itu mendekat ke arah sang istri. Safira waspada, apalagi dia melihat raut wajah suaminya yang terlihat sangat seram. Jelas, Haidar tidak pernah benar-benar memukulnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN