Kasihan Liana

1199 Kata
Haidar berdiri di pinggiran kasur. Safira mencoba untuk menghindar. Dia duduk tegap, mencoba menguasai dirinya dari rasa takut. Dia tidak pernah mengalami kekerasan secara fisik. Sekilas, dia melihat Haidar yang menggelapkan tangannya dengan sangat kuat. Sampai otot-ototnya pun terlihat. Perlahan, dia mencoba untuk mundur, tapi Haidar malah naik ke atas kasur. "Kenapa? Mau mukul Aku?" Safira yang panik, malah terlihat seperti orang yang menantang. Haidar menatap dengan mata elangnya, raut wajahnya tidak bisa dibaca. Dia menarik tangan sang istri. Mendekapnya sedikit kuat. Karena Safira sudah mencoba untuk melepaskannya, tapi sulit. Tak di sangka, ternyata Haidar memakaikannya kembali. "Jangan pernah lakukan ini lagi." Dia berkata dengan penuh penekanan, dia sepertinya memang sangat marah. Cup Setengah mati, dia mencoba untuk tidak goyah. Dia tahu, ini hanya cara lelaki itu untuk membuatnya luluh. Safira langsung mengelap punggung tangannya dengan menggesekkan ke alas kasur di hadapan sang suami. "Jika cincin ini berharga. Kenapa Kamu bisa dengan mudah m*****i pernikahan kita. Jangan seakan Aku lupa, bahwa Kamu penyebab semuanya hancur. Kepercayaanku, dan sebentar lagi mungkin pernikahan kita." "Tidak akan kubiarkan." "Terserah. Hal yang paling penting, jika sampai kita bercerai. Anak-anaknya harus ikut Aku." "Mereka juga anakku. Aku berhak." "Bagaimana Kamu bisa mengurusnya? Aku tidak sudi, jika anakku harus diurus wanita jahat itu." "Lana tidak jahat." "Lagi? Kamu sebut nama dia. Sadar diri bisa gak sih?" Suara Safira sudah mulai naik, dia mudah sekali terbawa suasana. "Pelankan. Takut anak-anak mendengarnya." "Biarin saja. Biar mereka tahu, bahwa Papahnya sudah berhianat. Lagipula, bukannya Kamu sudah ketahuan." Safira memang terlihat sangat tegar di hadapan Haidar, padahal aslinya wanita itu sangat rapuh. Dia tidak tahu sampai kapan bisa menahan beban ini sendirian. "Aku mau istirahat." "Begitulah, lelaki kalau sudah salah. Tidak akan pernah bisa menerimanya. Tidak tahu malu." "Hmm." Haidar mencoba untuk sabar. Dia berpura-pura tidak mendengar dan memilih untuk mengambil posisi untuk tidur di sebelah sang istri. Baru saja dia memejamkan matanya, mencoba untuk mengistirahatkan jiwa dan raga yang terasa sangat berat. Namun, belum lima menit. Dia sudah harus membuka matanya, karena merasakan ada yang bergerak. "Mau ke mana." "Tidur di luar." Refleks. Dia langsung bangun, bahkan berdiri, lalu menghela nafas panjang. "Biar Aku saja." Sangat romantis. Namun, Safira tidak perduli. "Baguslah, pergi sana. Aku tidak sudi tidur di kasur yang sama dengan seorang penghianat." Haidar tersenyum masam, lalu dia mengambil bantal tanpa selimut. Karena takut istrinya kedinginan. Tanpa menoleh lagi, dia dengan mantap pergi keluar dari kamar. Hari ini sudah sangat berat, kantuk yang menyerangnya pun tidak bisa diajak kompromi. Dia juga tidak punya banyak tenaga untuk meladeni marahnya sang istri. Sesampainya di ruang tamu. Dia langsung merebahkan diri di sofa dan tertidur. Safira sebenarnya tidak tega, tapi dia memang sungguh tidak kuat jika berdekatan dengan Haidar. Karena bawaannya, ingin selalu memaki. Haidar nafas pun terasa sangat memuakkan untuknya. Dia sendiri sekarang kesulitan untuk tidur. Selama ini, mereka tidak pernah pisah kamar. Dan Safira tidak pernah tidur sendirian. Seperti saat ini, pikirannya melayang kemana-mana. Dia membayangkan banyak hal. Terutama anak-anaknya. Tidak pernah terbesit dalam pikirannya untuk bercerai dengan sang suami. Namun, hatinya sangat sakit. Dia tidak tahu, seberapa lama lagi dia bisa kuat untuk tinggal bersama sang suami. Melihat Haidar, membuatnya jadi membayangkan perselingkuhan antara sang suami dan wanita itu. Lukanya kembali terbuka, dia memang belum tahu kebenarannya seperti apa. Namun, setelah pengakuan suaminya. Dia bisa menyimpulkan bahwa mereka memang melakukan perselingkuhan itu. Jika dia melayangkan gugatan, dia memikirkan anak-anaknya. Razka dan Liana. Mereka masih sangat membutuhkan kasih sayang Haidar secara penuh dan dirinyapun masih sangat mencintai sang suami. Belum lagi, selama ini dia bergantung pada Haidar. Jika mereka sampai pisah. Akan menjadi perubahan yang sangat besar. Detik ini, dia merasa sangat gagal sebagai seorang istri dan ibu. Karena baginya, jika sampai Haidar penghianatinya. Sama saja dia sudah gagal menjadi istri. Mungkin, banyak hal yang tidak dimilikinya dan dimiliki wanita itu. Ditambah, Lana adalah seorang wanita karier, mandiri dan sukses. Badannya terawat, diajak bicara apapun pasti nyambung. Tidak seperti dirinya yang selalu sibuk dengan urusan rumah saja. Mungkin saja, Haidar memang bosan padanya. Lelaki itu bertahan hanya karena anak-anak. Pikiran buruk menghantuinya, dia kembali menangis sampai lelah dan barulah bisa tertidur, karena kepalanya sangat pusing sekali. Mereka semua beristirahat, mencoba untuk mengisi kembali energi untuk esok hari. Esok harinya. Safira bangun lebih awal. Dia mencoba beradaptasi dengan apa yang sekarang ini dia alami. Tidak mungkin, dia terus menerus diam di kamar dan membuat anak-anak semakin curiga. Setelah salat subuh. Dia bergegas melakukan tugasnya. Pikirannya tentang Haidar dan Lana memang belum hilang. Namun, dia tidak bisa terus meledak-ledak. Ada hati anak-anak yang harus dia jaga. Meskipun ini adalah patah hati terberat untuknya, dia mencoba bersabar. Karena untuk ditahap menerima jelas sama sekali belum bisa. Mendengar suara berisik dari arah dapur. Haidar mencoba membuka matanya yang masih terasa mengantuk. Dia mencoba untuk mengumpulkan energi. Setelah di rasa cukup, dia bangun dari sofa tersebut, bergegas ke kamar mandi untuk mandi. "Wah harum banget, Kamu masak apa Mah?" Jangan harap Safira lupa dan mau jawabin ucapan itu. Dia tahu betul, jika suaminya sedang berpura-pura lupa dengan kejadian sebenarnya. Dia diam saja, dan menggunakan cara lain untuk menjawab pertanyaan itu. Spatula dia ketuk-ketukkan di atas teplon. Sengaja dia buat gaduh. Agar suaminya mengerti, bahwa dirinya sedang tidak ingin berbicara dan masih sangat marah. "Mah, kenapa berisik sekali?" Liana terbangun dari tidurnya dan bergegas ke sumber suara. Haidar yang melihat anaknya berdiri di ambang pintu merasa resah. Jangan sampai masih pagi begini, mereka ribut. "Pagi Kak, Papah duluan pakai kamar mandinya ya." Tanpa menunggu jawaban sang anak. Dia langsung masuk ke kamar mandi. Sementara Liana cuek saja. Dia berjalan ke depan dispenser untuk mengambil air minum. Dari semalam dia haus, tapi malas gerak untuk mengambilnya ke dapur. "Mamah sudah sehat?" "Sudah Kak." "Aku tahu kal-" Ctak Safira mematikan kompor, kemudian melihat ke arah sang anak. "Kamu salah paham. Papah dan Tante Lana hanya sedang berdiskusi." Safira memilih untuk menutupinya dari Liana. Dia harus mengubah cara pandang sang anak terhadap papahnya. "Tidak ada berdiskusi dengan saling menyuapi. Mamah tidak perlu berbohong. Aku sudah cukup mengerti." Kaku Itulah yang dirasakan Safira. Dia seperti tidak memiliki pilihan lain di hadapan anak wanitanya ini. Liana terlihat sangat pintar membaca situasi. "Papah sudah minta maaf." "Papah jahat, Aku tidak suka." "Kak, tolong jangan dibahas lagi. Mamah tahu Kamu sedih, tapi kita pasti bisa lewatin ini semua. Pokonya, Mamah gak mau tahu. Jangan karena hal ini, Kamu jadi minder dan malas. Ingat ya, tidak akan ada yang berubah. Jadi anak baik, dan sekolah yang rajin." "Tapi Aku malu Mah, teman-temanku melihatnya. Aku takut mereka meledek. Kemarin saja begitu, Aku ditertawakan, dan jadi bahan candaan. Aku gak suka!" Deg Sepasang orang tua itu merasakan sakit hati anaknya. Safira dan juga Haidar yang ada di balik kamar mandi. Dia memang sengaja tidak menyalakan kran air terlebih dahulu. Karena ingin mendengarkan anak dan istrinya berbicara. Hatinya terasa hancur. Dia benar-benar merasa gagal. Tidak menyangka, jika ternyata akan jadi seperti ini. "Tapi Nak, mereka juga hanya salah paham." "Aku malu Mah!" Perlahan, terdengar suara tangisan sang anak, dan suara Safira yang mencoba menenangkan Liana. Haidar mengepalkan tangannya, dia marah pada dirinya sendiri. Tak sadar, dia memukul dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN