Suasana rumah itu sangat canggung. Berbeda dengan sebelumnya. Mereka biasanya berisik dan membuat kepala Safira terasa meledak. Hari ini, hanya terdengar suara rengekan dari Razka saja. Anak itu lupa menyiapkan perintah dari gurunya yang meminta murid membawa kompos dan polibag karena akan ada acara menanam.
"Mah... Gimana dong? Nanti Aku di hukum."
"Ini masih pagi, tukang pupuk belum ada yang buka Dek," ujar Safira.
"Bukannya masih ada polibag di belakang mah. Waktu itu kan kita tanam cabai dan tomat."
Liana baru ingat, dia masih mempunyai beberapa polibag.
"Oh iya, benar. Papah waktu itu kasih ke Mamah biar disimpan."
Sekali lagi, Haidar mencoba untuk berbaur. Namun, hasilnya tetap gagal.
"Iya Kak, nanti diambil. Pupuknya barengan aja ya Dek, di rumah sudah habis."
Razka belum sadar, bahwa ada yang tidak beres dari orang tuanya. Sebab, Haidar tidak mempermasalahkan sikap Safira di depan sang anak. Dia membiarkan itu berlalu begitu saja.
"Mah, Kakak berangkat duluan."
"Gak bareng Papah Kak?"
Haidar malu sekali, dia merasa tertolak. Untuk sementara waktu, dia tidak akan memaksa sang anak. Liana pasti menjalani hari yang berat di sekolah, karena ulahnya.
"Kamu lama."
Liana pergi, dia menyalami tangan Haidar, tapi dengan terpaksa. Karena Mamahnya yang memerintah lewat bisikan.
"Kakak kenapa sih, akhir-akhir ini aneh. Selalu menghindari Papah."
"Enggak Dek, Kakak kan sudah besar. Jadi, dia lebih senang jalan bersama dengan temannya."
"Adek sih mending naik motor daripada jalan kaki, lelah."
"Tapi sehat."
"Adek gak kuat Mah, cepat sesak."
"Makanya olahraga. Biar sehat."
"Olahraga juga lelah Mah."
Safira hanya tersenyum saja. Dia memang tidak pernah menang jika berbicara dengan anak bungsunya ini.
"Dek sudah siap, Ayo berangkat!" Ajak Haidar pada anaknya.
Pagi ini, Haidar belum memakai pakaian kerja. Dia masih menggunakan kaos dan juga celana olahraga. Alasannya adalah karena sang istri belum menyiapkan untuknya.
Safira tidak mengatakan apapun, dia membiarkan anaknya pergi sekolah, setelah memberikan uang saku.
Setelah mereka pergi, Dia membersihkan rumah. Hari ini, dia berniat untuk pergi keluar.
Tidak menunggu lama, hanya sekitar lima belas menit, Haidar sudah kembali ke rumah.
Dia mengecek kamar, melihat ke arah kasur dan ternyata bajunya belum juga disiapkan sang istri.
"Mah, bajuku mana?"
Safira hanya menatap ke arah Haidar sebentar, lalu melanjutkan kegiatan mencuci piringnya.
Haidar sedikit gondok, dia pergi ke kamar dan mengambil dua baju berbeda warna dan motif. Dia kembali ke hadapan sang istri yang masih asik dengan pekerjaannya.
"Sayang, hari ini sebaiknya Aku pakai kemeja yang mana ya?"
Safira tetap diam. Dia tidak berselera untuk menjawab pertanyaan seperti itu.
"Kamu kalau gak mau siapin baju gak apa-apa, tapi kenapa sulit banget sih buat jawab pertanyan mudah begitu."
"Kalau tahu mudah, kenapa masih bertanya? Memangnya selingkuhanmu itu senang dengan seleraku? Sampai harus Aku juga yang menentukan warna bajumu."
"Aku kan sudah minta maaf," ujarnya lemah. Dia lelah, belum genap 24 jam, dia merasa snagat tersika diperlakukan seperti ini oleh sang istri.
"Maaf tidak akan mengubah segalanya, apalagi hatiku yang sudah hancur. Kamu perlu bertanggung jawab."
"Aku akan berusaha."
"Caranya?"
"Sedang kupikirkan."
"Berhenti kerja."
Safira langsung memberikan solusi, sekaligus jebakan. Lelaki itu sampai kaget dibuatnya. Tidak semudah itu untuk berhenti bekerja.
"Itu bukan pilihan yang benar. Lagipula, Aku profesional."
"Kenapa? Sulit bukan meninggalkannya?"
"Bukan masalah begitu, mencari kerja susah ditambah umur yang sudah tidak muda lagi. Kebutuhan kita juga banyak. Jika Aku berhenti kerjanya dadakan. Nanti kita akan kesulitan."
Safira paham, dia tidak sungguh-sungguh meminta suaminya berhenti bekerja. Karena anak-anak masih membutuhkan biaya, dan posisi saat ini pun tidak mudah suaminya dapatkan.
"Meskipun alasannya karena wanita itu sekalipun. Aku tidak masalah. Kamu kan selalu berbahagia ketika hendak bekerja. Seolah, tidak ada lelahnya. Ternyata, sekarang Aku tahu jawabannya."
"Oke, Aku pakai yang biru tua saja. Seperti yang Kamu katakan. Jika Aku lebih cocok memakai yang sedikit gelap."
Tidak nyambung? Haidar sengaja melakukannya. Dia memang salah, dia sadar Safira tidak akan berhenti begitu saja.
Dia memilih untuk masuk ke dalam kamar, untuk mengganti baju. Safira mematikan keran air. Dia sudah selesai mencuci perabotan kotor. Tidak lupa, dia juga menyeka air matanya.
Suaminya keluar dari kamar, dengan pakaian siap bekerja. Dia juga sudah membawa tas. Istrinya sedang menyapu lantai.
"Mah, Aku pergi kerja dulu."
Dia berdiri tepat di depan sang istri yang sedang menunduk, merogoh kolong bangku yang sedikit sulit tergapai. Meskipun jarang sekali debu, tapi dia selalu berusaha agar bagian-bagian itu tetap dibersihkan. Karena berpotensi menimbulkan sarang penyakit.
"Mah, Papah pergi kerja dulu."
Haidar sedang menunggu ritual sebelum pergi bekerja. Tentu saja, sang istri menyalami tangannya. Mendoakan supaya kerjanya lancar, dan beberapa kata penyemangat lainnya.
Kini, Safira bahkan tidak perduli sedikitpun. Dia tetap beraktivitas.
"Papah pergi."
Terdengar sangat frustasi.
Entah apa arti kata itu. Karena setelahnya, lelaki itu langsung pergi keluar dari rumah. Safira menghentikan aktifitasnya, lalu dia mengintip di balik jendela. Haidar benar-benar pergi.
Untuk pertama kalinya, dia membiarkan suaminya pergi tanpa berpamitan seperti biasa.
Alasannya, karena dia merasa tidak akan kuat. Tidak semudah itu. Dia belum siap untuk melihat wajah damai lelaki yang sudah menyakitinya.
Meskipun hatinya sangat gelisah, membayangkan apa yang akan terjadi di kantor nanti. Mereka pasti akan bertemu, dan berdiskusi. Safira benci pikirannya sendiri.
Dia cemburu. Dan rasa cemburunya ini beralasan, dia merasa bahwa Lana lebih baik darinya. Sehingga dari dulu, suaminya mencintai wanita itu. Bertahun-tahun mendapatkan cinta yang palsu, membuatnya sangat muak dan juga benci. Kenapa dia bisa mendefinisikan sesuatu secepat itu, padahal jelas-jelas manusia tidak bisa sepenuhnya percaya dengan manusia lainnya. Karena semua berpotensi menyakiti. Baik sengaja ataupun tidak. Mereka mempunyai caranya sendiri.
Seandainya dia tahu kebenarannya, sudah sejak lama dia meninggalkan sang suami. Mungkin, mereka juga tidak akan menikah, dan berakhir dengan seperti ini.
Trak
Safira menjatuhkan sapu yang dia pegang erat. Dia bergegas pergi ke kamar, mengganti pakaiannya. Ada hal yang harus dia selesaikan hari ini. Berdiam diri dan meratapi nasibnya yang pahit ini tidak akan menyelesaikan masalah.
Sebelum anaknya pulang, dia sudah harus ada di rumah. Hari ini, dia akan mencari tahu kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan sangat rapat. Dia masih berharap, bahwa semuanya hanya salah paham. Seandainya ini rekayasa, Safira akan sangat merasa berterima kasih. Namun, ulang tahunnya masih beberapa bulan lagi. Sungguh niat sekali, jika mereka ingin mengerjainya dari jauh-jauh bulan seperti ini.
Setelah angkutan online yang dia pesan datang, Safira langsung bergegas pergi dari rumah. Tidak perduli pada teras yang kotor akibat hujan semalam. Baginya, ada urusan yang lebih penting dan tidak bisa ditunda lagi.
Sedikit menyesal, dia membiarkan suaminya bebas. Jika pada akhirnya, dia harus menerima balasan yang sangat di luar ekspektasi, dan untuk pertama kalinya juga dia pergi tanpa memberitahukan atau ijin terlebih dahulu pada sang suami.
Kecewa, masih menjadi alasan utama kenapa dia sampai berani melakukan ini. Jika pada akhirnya dia yang harus kalah, seharusnya hari ini bisa dia kenang. Kelak, dia tidak akan pernah menyesalinya.