Haidar sampai ke kantor. Dia mencari keberadaan Lana. Namun, wanita itu belum datang ternyata. Setelah mencari tahu pada orang kantor. Lana memang sudah bilang akan datang telat hari ini.
Tidak menyerah begitu saja, dia menelpon wanita itu. Tidak ada satu panggilan pun yang diangkat. Dia akhirnya memilih untuk bekerja saja. Sembari menunggu Lana datang.
Sementara itu, Safira sudah sampai di tempat tujuan. Dia berjalan dengan anggun, mencari tempat duduk yang sekiranya tidak banyak orang bisa mendengar percakapan mereka.
Matanya menyapu setiap penjuru cafe yang baru saja buka ini. Ada seseorang yang sudah duduk di pojok sana sembari melambaikan tangan. Menandakan Safira untuk menghampirinya.
Tanpa gentar, Safira berjalan ke arah orang itu. Sorot matanya dibuat setegar mungkin. Dia sedikit malu, dengan penampilannya sendiri. Bagaimana dia merasa sangat jauh dibawah orang itu. Tidak ada satu barang merah pun yang dia pakai.
Bajunya hasil diskonan, tasnya pun bukan dia beli dua tahun lalu. Saking jarangnya keluar rumah, dia memang tidak pernah sengaja membeli sesuatu untuk koleksi. Jika tidak ada fungsinya. Dia pasti tidak akan membelinya. Ditambah dengan kebutuhan anak-anak yang menurutnya jauh lebih penting, dibandingkan dengan keinginan dia terhadap benda-benda tersebut.
"Safiraaa! Kangen banget!"
Akting?
Safira sudah berhati-hati sejak dia menginjakan kakinya di luar rumah. Dia tahu, tidak akan mudah untuk berbicara dengan wanita 'hebat' seperti Lana.
Wajahnya yang cantik dan dibuat sepolos mungkin. Membuat siapapun bisa tersihir. Mereka akan menganggap bahwa dia adalah orang baik dan tulus.
"Hai!"
Safira tersenyum, tapi dia tidak menerima pelukan dari sahabat lamanya ini, tidak sudi.
"Gimana kabar Lo, ya ampun lama banget ya kita gak tememu. Pasti sibuk banget ya? Anak-anak gimana? Duh ponakan kesayangan, udah pada besar deh pastinya."
Muak.
Safira benar-benar mual dibuatnya. Wanita itu pasti sudah tahu maksud dan tujuannya mengajak bertemu. Namun, malah terlalu banyak basa-basi.
"Baik. Lo gimana kabarnya?"
"Baik juga, pesen minum dulu ya. Mas!"
Pelayan itu datang, dan mencatat minuman yang mereka pesan. Setelah pelayan itu pergi, Safira langsung mengambil sikap.
"Maaf ganggu waktu Lo, tapi kedatangan Gue ke sini bukan untuk basa-basi tentang pertemanan kita. Sebelumnya, Gue cuma mau minta tolong. Jika Haidar ngedeketin Lo, atau bujukin Lo dengan kata manisnya, tolong jangan diladenin."
See, Safira tidak menyudutkan wanita itu sama sekali, dia mencoba untuk netral dan berpikir bahwa suaminya lah yang sepenuhnya salah dan harus bertanggung jawab atas semua ini.
Lana diam. Dia pikir, tidak akan secepat ini Safira menunjukan maksud dari mereka bertemu pada hari ini.
"Haidar? Kenapa dia?"
Masih dengan tampang polosnya yang membuat Safira ingin sekali mencak-mencak. Namun, dia terus menahan diri.
"Gak perlu menutupinya lagi. Gue udah tahu, dan Gue yakin. Lo juga dikasih tahu sama dia. Kalau rahasia kalian sudah terbongkar. Jujur saja, Gue kecewa. Lo bukan cuma Gue anggap sahabat, tapi udah saudara."
Lana malu, dia sadar atas kesalahannya. Namun, semua dilakukan karena terpaksa dan terlanjur. Tidak mungkin semudah itu untuk mundur.
"Gue gak pernah mengambil Haidar dari kalian."
Satu kalimat klarifikasi yang keluar dari mulut wanita itu, seakan menunjukan bahwa mereka memang menjalin hubungan, tapi beda definisi.
"Gue atas nama Haidar minta maaf. Kalau selama ini, dia berusaha buat Lo jatuh cinta."
Istri mana, yang melakukan ini untuk suaminya? Jawabannya tidak ada. Safira melakukan ini untuk anak-anaknya. Lana harus sadar, bahwa dia tidak bisa menyakiti anak-anak.
"Lo salah paham."
"Enggak perduli ini salah paham atau bukan. Intinya, Lo bisa kan jauhin Haidar?"
Deg
Lana bersyukur dia tidak dilabrak seperti kebanyakan orang-orang melakukannya. Namun, setiap ucapan Safira mampu membuatnya meringis. Malu, itulah yang dirasakannya saat ini.
"Bisa kan?" Sekali lagi, wanita itu bertanya. Karena sebelumnya, tidak ada jawaban.
"Aku, Kami saling mencintai."
Lana tertunduk. Dia terpaksa melakukan ini, karena dirinya memang sudah terlanjur mencintai Haidar. Dia tidak bisa melepas lelaki itu begitu saja.
"Sadar gak sih? Kalian sudah memiliki kehidupan rumah tangga. Ini bukan hal yang benar Lana. Aku tahu, melepaskan itu bukan hal yang mudah. Namun, cobalah! Aku tidak bisa berbagi. Bagaimana jika suamimu mengetahui hal ini?"
"Sebelum Kamu lebih jauh menghakimiku. Ingat Safira. Harusnya Aku yang menikah dengan Haidar bukan Kamu. Kenapa juga sekarang harus meninggalkannya?"
"Itu masa lalu, dan Aku tidak merebut siapapun kala itu."
"Tetap saja, Kamu seharusnya sadar, jika Aku yang dicintai Haidar, bukan Kamu."
Memanas, dan yang memancing ini semua adalah Lana.
"Permisi, ini minumannya sudah jadi. Nanti, jika ada pesanan lagi, silahkan panggil saja ya Bu."
Keduanya tidak ada yang menjawab, mereka diam dan saling menatap tajam satu sama lainnya.
"Ternyata Kamu cuma pintar di bidang akademi, tapi mau saja dibodohi cinta. Sadar Lana, Haidar bukan lelaki single. Dia juga mengatakan cinta padaku. Kamu masih mau dengan lelaki seperti itu?"
"Masih. Aku dan dia sudah terlanjur basah."
"Kesabaranku tidak seluas daratan dan sedalam lautan. Jika Kamu masih bersikukuh. Jangan salahkan Aku jika Kamu menyesal."
Semula Safira sudah berbaik hati, tapi lama kelamaan wanita itu membuat emosinya terpancing, dan keluarlah sifat pertahanan dari ibu dua orang anak.
"Kamu yang akan menyesal. Bertahun-tahun hidup tanpa cinta, tapi masih mau bertahan. Sadar Safira. Dia itu tidak pernah mencintai Kamu sedikitpun. Jika Kamu kuberitahu bagaimana dia memohon,"
"Aku tidak penasaran dengan cerita rekayasa itu. Kamu hanya selingkuhannya yang tidak berharga. Kami sah secara hukum dan agama. Kami melakukan kegiatan rumah tangga yang tidak bisa kamu lakukan. Kasihan sekali Kamu, hanya menjadi bayangannya saja bangga."
Wajah Lana memerah, dia menahan emosi.
"Tidak masalah, yang terpenting hatinya ada buatku."
"Kamu berfikir lelaki dewasa masih mengedepankan hati? Haha. Jika iya, kenapa anak kami bisa sampai dua? Mungkin akan jadi tiga," ujarnya sembari mengelus perutnya yang sedikit membuncit, akibat sudah mempunyai dua anak. Jadi, tidak bisa serata dulu.
Mata Lana mulai berkaca-kaca, dia benar-benar dipermalukan.
"Maaf, jika ucapanmu mengecewakanmu. Sadarlah, dia berbohong."
"Oh ya? Kenapa dia selau meninggalkan wangi parfumnya di bajuku?"
Wanita itu jelas berbohong, mereka benar-benar tidak pernah melakukan apapun. Karena Haidar bilang, tidak bisa melakukannya. Dia tidak mau merusak Lana.
"Ya mungkin karena kalian berdempetan di lift. Aku kamu yang sengaja memepetnya."
"Dia yang sengaja mendekatiku. Menghabiskan hari sibuk kami di satu ruangan yang sama."
Kini, giliran telinga Safira yang terasa panas mendengar penuturan itu.
"Dia memang melakukan kerjanya dengan baik, anak-anak Kami butuh makan dan sekolah yang layak. Jika kamu terayu. Rencana kami berhasil."
"Kamu!"
Teriak Lana kencang. Beruntung cafe sepi, jadi hanya para pelayan yang mendengarnya.
Safira mengambil tasnya yang dia simpan di samping tempat duduk. Lalu pergi meninggalkan wanita itu tanpa sepatah katamu. Dia cukup puas melihat Lana merasa kalah. Meskipun sebenarnya. hatinya merasa ngilu, jika membayangkan Haidar dengan segala perhatiannya itu dia berikan kepada Lana.
Safira tidak bisa berbuat banyak. dia hanya perlu bersabar, sampai waktunya tiba. semua baru awal, tidak mudah mengambil langkah yang cukup besar. Lawannya pun bukan orang sembarangan.
belum diketahui pasti, motif sebenarnya mereka melakukan ini padanya. sebagai wanita yang berada di posisi dirugikan. Safira berhak mengetahui. apa yang mereka rencanakan.