Di dalam mobil, wanita itu menangis. Dia sedih, kenapa harus Lana yang suaminya cintai. Dia tidak tahu, kemana harus mengadu, tidak mungkin memberitahukan pada orang tuanya. Sebab, mereka bisa langsung mengambil keputusan besar.
Dari dulu, keluarganya sangat benci perselingkuhan. Mereka tidak pernah memaafkan hal ini, dan dikeluarganya tidak ada hal seperti itu. Dia pikir Haidar bukan lelaki yang seperti itu, dia mengharapkan Haidar seperti Ayahnya yang sangat cinta dan sayang keluarga. Bahkan, tidak pernah menyakiti hati Ibunya sedikitpun. Dia bisa bersaksi akan hal itu. Abangnya juga sama, lelaki dididik sangat baik dan perhatian.
Dan ini untuk pertama kalinya, dia mendapatkan perlakuan seperti ini. Jelas, dia kaget bukan main. Dirinya tidak terbiasa dengan perasaan sakit hati seperti ini. Dia terbiasa bahagia dan merasa aman serta nyaman. Hal ini, sangat membuatnya lemah. Di sisi lain, rasa cintanya pada Sang suami. Mampu membuatnya menutupi ini semua dari keluarga besar.
Meskipun sebenarnya, ketakutan terbesarnya tetaplah. Ketika Haidar memilih Lana dibanding dirinya. Dia belum bisa menerima alasan Haidar yang menurutnya tidak masuk akal.
Flashback on
Haidar sedang membujuk sang istri. Namun, Safira tidak berminat dengan segala alasan. Dia terus menyudutkan Haidar.
"Aku nyesel nikah sama Kamu!"
Lelaki paling tidak bisa mendapatkan penolakan, dan juga hal yang membuat hatinya terbakar. Safira membuat egonya tersentil. Dia tidak terima, dengan segala kesabaran, perhatian dan juga kasih sayang yang diberikan selama ini. Wanita itu dengan mudahnya bilang menyesal.
Dengan tangan yang terkepal kuat, dan urat yang mulai terlihat bermunculan. Lelaki itu angkat bicara.
"Kamu sama sekali tidak menghargaiku. Selama ini Aku sudah berjuang sangat keras untuk keluarga ini. Hanya karena satu kesalahan. Kamu bilang menyesal? Di mana hati nuranimu. Memangnya kurangku apa? Selama ini, tidak pernah Aku membentak, memarahi, bahkan berbuat kasar tidak pernah. Dan sekarang menyesal? Lelaki tidak butuh ijin wanitanya untuk menikah lagi."
Haidar sangat kesal, dia belum bisa mendapatkan maaf dari Safira. Namun, hal yang membuatnya tidak bisa diam adalah semua hal yang dituduhkan padanya dan ungkapan-ungkapan hati sang istri yang sangat menyakiti baginya. Namun, dia tidak sadar. Bahwa ucapannya kali ini, sangat membuat Safira tersakiti.
"Berjuang untuk menutupi semuanya. Kamu memang tidak perlu ijinku. Tapi, jika memang Kamu menginginkannya. Jangan bawa Aku dalam kehidupan seperti ini. Bahagia yang Kamu maksud itu palsu! Sama aja tidak berharga."
Meskipun tidak bisa dipungkiri, selama ini dia sudah sangat tertipu. Perlakuan manis yang didapatkan membuatnya terlena. Namun, Safira tidak mau mengakui secara langsung. Dia terus membuat suaminya dalam posisi bersalah.
"Aku memang salah, Aku mencintai Lana. Tapi, tidak ada cinta yang salah. Aku lebih dulu mengenalnya. Hanya takdir memang mengharuskanku menikahimu. Lalu, salahku di mana? Jika hati ini memang untuknya. Aku bisa apa? Jangan pernah berpikir Lana sejahat itu. Dulu dia menitipkanmu padaku dengan sangat hati-hati. Dia menginginkan yang terbaik untukmu. Bagiamana Aku bisa berhenti mencintai wanita seperti dia?"
"Cukup! Kamu pengecut."
"Iya, memang benar. Aku pengecut. Bahkan, ketika Aku memiliki kesempatan untuk mendapatkan Lana selamanya Aku tetap tidak melakukan itu. Bagaimana Aku sangat memprioritaskan kalian dibanding hatiku sendiri."
Ini adalah fakta. Beberapa waktu lalu, Lana pernah mengajaknya menikah. Namun, Haidar tidak benari mengiyakan. Dia berpikir ulang. Dia hanya ingin terus bersama Lana, meskipun harus bersembunyi dari Safira. Namun, dia tidak bisa menjanjikan sebuah pernikahan untuk wanita itu. Mereka jelas berbeda.
Lana cantik, berpendidikan, mandiri, dan juga kaya raya. Mantan suaminyapun cukup mengimbangi. Hanya saja, dia lelaki yang cukup kasar. Beberapa kali, Lana mengaku jika suaminya sering berbuat kasar.
"Menikahlah! Kalian cocok." Suara parau itu terdengar sangat tidak ikhlas.
"Karena Kamu gak ada di posisi ini. Kamu bebas mengatakan apapun yang Kamu pikirkan. Cobalah jadi Aku, selama ini Aku sudah berusaha sangat keras, supaya bisa mencintaimu. Tapi, tidak bisa. Maaf. Ini mungkin memang menyakitkan. Namun, Aku sudah berusaha semaksimal mungkin."
Safira benar-benar ditipu besar-besaran. Selama bertahun-tahun, bahkan lebih dari sepuluh tahun, lelaki itu baru mengatakan semuanya.
"Dan Kamu merasa jadi pihak yang menyedihkan? Lalu aku apa? Aku korban atas keegoisan Kamu. Bertahun-tahun menjadi pasangan hanya sebagai pelampiasan. Hati, perhatian yang Kamu beri tidak benar-benar tulus. Masih pantas disebut manusia? Atau jangan-jangan setiap Kamu disampingku. Kamu membayangkan Aku adalah di-"
"Enggak. Mana mungkin begitu. Aku tidak sejahat itu. Kamu adalah Kamu, dan dia..."
"Liana dan Lana. Kamu merencakan dengan sebaik itu. Salut Aku."
Penuh penekanan, Safira mengatakan itu semua. Dia tidak tahu kenapa sampai berpikir begitu. Namun, dia ingin tahu kebenarannya.
Pada saat itu, anak pertama mereka dipastikan seorang laki-laki. Namun, ternyata saat keluar adalah seorang perempuan. Mereka hanya menyiapkan beberapa nama anak laki-laki. Sehingga, tidak ada gambaran untuk nama perempuan.
Di hari yang sama, tanpa berpikir panjang Haidar memberikan ide atas nama tersebut. Safira yang masih percaya penuh pada suaminya. Langsung setuju dan mengiyakan nama tersebut.
Haidar tidak pernah sedikitpun berpikir bahwa nama anaknya akan sama dengan wanita yang dia cintai.
"Demi apapun, itu tidak benar."
Sangat frustasi, dan terlihat jelas dari raut wajah dan juga gerak tangan yang menyapu rambut bagian depannya.
"Kalau begitu, mari kita ganti nama Liana."
Safira menantang sang suami.
Haidar membulatkan matanya, dia langsung emosi.
"Ini masalah kita. Jangan cuma karena Kamu cemburu. Seenaknya saja mengganti nama anak kita."
"Ya, benarti Kamu memang melakukannya."
"Terserah! Aku kecewa. Kamu kenakanak-kanalan sekali."
Lemah, pria itu langsung kehabisan kata-kata setelahnya.
"Sebaiknya kita sudahi saja semua ini. Aku minta maaf. Sudah menjadi beban untukmu. Kamu pasti sangat tersiksa, hidup dengan orang egois sepertiku. Kamu berhak bahagia dan memilih Lana sebagai pendamping hidupmu. Biar anak-anak Aku yang urus. Berbahagialah!"
Safira hilang akal, dia menyerah. Gemuruh amarah membuatnya sangat kelelahan.
"Tidak semudah itu. Dan Aku tidak akan melepaskan Kamu begitu saja."
"Kamu jangan mempersulit keadaan. Jalannya sudah Aku berikan. Kamu pasti bisa bahagia sekarang. Ditambah, wanita itu sudah bercerai seperti katamu."
"Percuma Kamu mempertahankanku. Aku sudah kehilangan selera mencintaimu. Hati ini, langsung mati rasa. Dan Kamu sudah Aku anggap tidak berharga lagi."
Perkataan seseorang memang bisa membuat hati orang lain sakit, lebih dari sebuah pukulan fisik. Haidar langsung kalah telak. Meskipun dia tidak tahu, haruskan senang atau sedih mendengarnya. Yang pasti, hatinya merasa seperti tergores. Dia tidak ingin. Safira berhenti mencintainya. Dia tidak mau kehilangan wanita itu. Apalagi, dengan cara seperti ini.
"Maaf."
Air mata yang sudah mengalir deras itu, hanya mampu membuat sang empunya berbicara kata maaf dengan lantang.
"Selain ini semua, apa lagi yang Kamu sembunyikan? Apa kalian sudah menikah siri? Atau kalian hanya formalitas saja bekerja. Sebenarnya hanya agar bisa saling bertemu dan menghabiskan hari bersama. Hebat Kamu Mas."
Flashback off
"Maaf Bu, kita mau ke mana ya?"
Supir taksi yang sangat baik, dia tidak langsung menegur penumpangnya. Karena mengetahui, jika wanita itu sedang bersedih. Namun, setelah di rasa cukup baik. Barulah, dia bersuara.
"Aduh, maaf Pak. Ke jalan utama ya Pak."
"Tidak masalah Bu, baik. Ini buat lap air matanya."
Driver itu memberikan satu kotak tisu padanya.
"Terima kasih Pak."
"Lelaki tidak bisa dilawan dengan ucapan Bu, sekalipun dia salah dan terlihat oleh mata kepala sendiri. Dia tidak akan merasa salah."
Sepertinya pria itu tahu. Apa yang dirasakan oleh penumpangnya. Tidak bisa dipungkiri, menjadi supir taksi selama bertahun-tahun banyak sekali pengalaman bertemu orang dan segala prilakunya. Hal seperti ini, sangat biasa untuknya.
Safira yang sedang mengelap air matanya menggunakan tisu itu, seketika menghentikan gerakannya.
"Saya harus bagaimana?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja. Membuat supir taksi itu tersenyum, sembari melihat ke arah kaca yang menggantung, agar penumpangnya bisa melihat wajahnya.
"Ibu kan istrinya. Wanita lebih tahu kelemahan suaminya."
Safira mengangguk mengerti.
Sekarang, dia dalam posisi serba salah. Tidak tahu apa yang diinginkannya. Semua terasa hambar. Pernikahannya sudah di ujung tanduk. Pilihannya hanya dua, mundur atau bertahan.
Jika dia mundur, akan ada anak-anak yang menjadi korban. Jika dia bertahan, artinya dia memaafkan dan menerima segala kebohongan yang akan didapatkannya lagi nanti kedepannya. Tidak akan semudah itu. Dia pasti akan dibayang-bayangi rasa bencinya atas kejadian masa lalu sang suami bersama wanita itu. Meskipun, dia sudah memaafkannya