Memudar

1316 Kata
Haidar tidak bisa fokus bekerja. Dia beberapa kali mencari kesempatan untuk mengecek keberadaan wanita itu. Ternyata, Lana memang terlambat. Karena sebentar lagi jam makan siang, tapi wanita itu belum juga datang. Dia mengambil handphone di sakunya. Untuk kesekian kali, dia mengirimkan pesan singkat, tapi tidak ada satupun yang dibalas. Juga panggilan telepon, tidak ada satupun yang diangkat. Lana Di mana? Kamu baik-baik saja kan? Tolong balas. Haidar menunggu jawaban dari wanita itu, selayaknya anak remaja yang sedang mengkhawatirkan pacarnya. Dia merasa sangat gelisah. Padahal, dia sadar betul. Wanita itu bisa menjaga dirinya sendiri. Lana bukan lagi anak kecil, yang bisa tersasar di jalan. Atau tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Jelas, Lana bisa melakukan semua itu dengan baik. Hanya saja, Haidar sadar betul. Hatinya pasti sedang tidak baik-baik saja. Dia memikirkan Lana, bukan berarti tidak memikirkan Safira. Dia memikirkan keduanya. Namun, ini resiko. Dia harus bisa membuat kondisi menjadi lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya, jika masalahnya dengan Lana sudah selesai, dia bisa menyelesaikan juga dengan Safira. Setidaknya, setelah dia yakin. Bahwa Lana baik-baik saja. Handphone yang bergetar, membuat Haidar sangat bersemangat untuk membuka aplikasi pesan. Dan melihat balasan dari wanita itu. Apartemen Hanya satu kata itu, yang diucapkan oleh Lana. Haidar menghela nafas, dia tahu sekarang. Pasti Lana sedang sakit. Jarang sekali, wanita itu tidak masuk kantor. Jika memang tidak terlalu urgent. "Haidar, mau kemana?" "Hari ini Saya ijin pulang lebih awal ya Pak, soalnya istri Saya sakit." Alasan! "Kamu memang dekat dengan Bu Lana. Namun, perusahaan ini bukan miliknya. Jika Kamu ingin bebas, sebaiknya buat perusahaan sendiri." Ketua timnya memang sangat menyebalkan. Mereka tidak pernah akur. Entahlah, mungkin karena iri padanya. Sebab, dia lebih banyak mendapat kebebasan. Sampai beberapa kali, lelaki itu mencoba untuk menjatuhkannya. Beruntung, ada Lana yang selalu membela. Karena memang Haidar tidak salah. "Saya sudah menyelesaikan tugas." "Kemarin, Kamu bolos. Hari ini mau bolos lagi? Pantas saja, tidak pernah naik level. Jika kerjaanmu begini terus, mau jadi apa perusahaan ini?" Haidar menatap tajam lelaki itu. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Selagi Saya sudah sesui prosedur, artinya masih aman kan? Kenapa harus naik level? Jika berakhir hanya untuk caper pada atasan." Bukan lagi menyindir, dia langsung mengatakan yang sebenarnya. Saat ini, emosinya sednag tidak stabil, siapa saja orangnya pasti akan dia lawan. "Pekerjaan mana yang sudah beres? Tolong berikan laporannya. Jika memang benar, Saya akan membiarkanmu pergi. Jika masih ada yang salah. Maka harus dibenarkan lebih dulu." Haidar kembali duduk, dan menyiapkan file yang tadi sudah selesai dia kerjakan. Sebenarnya, dia masih bisa menunggu waktu bertemu dengan Lana sampai nanti sore. Namun, hatinya tidak tenang. "Setelah saya chek, masih ada data yang salah. Jika memang Kamu memiliki prioritas lain, dan lebih penting dari pekerjaan ini. Masih banyak kok, yang sudah siap menggeser posisimu. Biar mudah, bagaimana jika saya langsung katakan pada pihak HRD saja?" "Gilang bulan lalu bolos 3 hari, tidak masalah. Kenapa Saya tidak boleh?" Gilang adalah teman kerja mereka. Satu tim juga, dan orangnya sedang melihat ke arah Haidar saat ini. Kemungkinan besar, dia mengumpat. Karena namanya dibawa-bawa dalam perdebatan ini. "Karena Kamu terlalu sering. Tidak perduli, jika setelah ini Bu Lana akan menegur, bahkan meminta pihak HRD memberikan saya surat peringatan sekalipun saya tidak akan gentar. Karena kinerja Kamu memang buruk. Perusahaan ini menggaji, untuk Kamu fokus bekerja." Ketua tim menegaskan kata sering. Karena sebenarnya, Haidar itu banyak sekali kesiangan, apalagi ketika setelah makan siang di luar. Anehnya, setiap kali dia melaporkan, lelaki itu seperti kebal hukuman. Dan itu terjadi, karena ada Lana yang melindunginya. Setelah ditelisik, ternyata Lana memiliki orang dalam yaitu dewan direksi. Semuanya tidak berani pada Lana. Namun tidak pada Haidar. Mereka tetap memperlakukan lelaki itu seperti kebanyakan karyawan biasa. Dan banyak yang tidak menyukainya. Haidar menghela nafas, dia memang salah. Karena terlalu memikirkan urusan pribadi, sampai membuat kinerjanya rusak. Dulu, sebelum menjalin hubungan dengan Lana. Dia sangat rajin bekerja. Sering sekali mendapatkan rekomendasi. Namun, selalu kalah saat presentasi. Maka dari itu, dia kesulitan naik jabatan. Pernah. Lana menawarinya. Namun, dia tolak mentah-mentah. Dia ingin pakai usahanya sendiri. "Sebutkan saja bagian yang salahnya. Akan segera Saya perbaiki." Haidar menyudahi acara debat ini. Meskipun hatinya sangat dongkol, dia tetap melakukannya pekerjaan itu. Karena sudah menjadi tanggung jawabnya. Sepertinya, mulai sekarang. Dia harus membenahi diri. Karena, tidak selamanya Lana bisa melindunginya. Bukti nyata seperti saat ini, hanya karena Lana tidak masuk kantor hari ini. Ketua timnya langsung berani seperti ini. Sementara itu, Safira sudah kembali ke rumahnya. Awlanya, dia berniat mengunjungi rumah orang tuanya. Namun, dia tahan-tahan. Karena anak-anak sebentar lagi pulang sekolah. Dia takut, mereka mencarinya. Dan benar saja, setelah dia selesai masak. Anak-anaknya pulang sekolah. "Gimana sekolah kalian? Menyenangkan hmm?" "Kakak tadi nangis Mah," adu si bungsu pada mamahnya. "Enggak!" Liana langsung panik, padahal dia sudah menyogok adiknya dengan permen, agar tidak memberitahukannya pada mamah. Mendengar kakaknya mengatakan itu dengan suara yang lantang, membuat Razka refleks menutup mulutnya. "Kenapa Kak? Kamu berantem." "Aku-" "Iya Mah." "Apa sih Dek, nyamber aja. Udah saja ganti baju." "Nah iya bener, ganti baju gih. Terus makan, mamah sudah masakin buat kalian." "Asik!" Razka langsung pergi ke kamar. Jika soal makanan, dia adalah jagonya. "Kenapa Kak? Cerita yuk!" "Teman-temanku meledek lagi Mah, mereka mengatakan Papah selingkuh. Pokonya, besok Aku gak mau sekolah." "Loh, jangan gitu dong sayang. Kan kenyataannya tidak seperti itu, biarkan mereka bicara apa, yang penting kita tahu kebenarannya." Safira pikir, anak kecil bisa dengan mudah melupakan kejadian seperti itu. Ternyata, Liana masih menjadi bahan bullyan sampai sekarang. "Hiks..., Liana malu Mah." Safira langsung memeluk dan memenangkan anaknya gadisnya. Dia tidak bisa membayangkan. Bagaimana hancurnya perasaan Liana, sampai dirinya saja ikut menangis. "Nanti, biar Mamah yang bilang Bu guru. Sekarang, Kamu istirahat dulu ya. Tenang, jangan panik. Besok Mamah antar Kamu kesekolah." "Jangan Mah, Aku gak mau sekolah." "Ya sudah, Kamu istirahat dulu sekarang ya." Liana mengangguk, lalu dia pergi ke kamarnya. Anak itu kehilangan kepercayaan dirinya. Bahkan, tidak ada satu temanpun yang ingin bermain dengannya. Teman sebangkunya bahkan pindah. Dia sendirian dan terbuang di kelas. Nyalinya menjadi sangat ciut, dan menghawatirkan. Banyak ketakutan-ketakutan lain, yang tidak seharusnya dia terima sebagai anak kecil. Terutama, ini masalah orang tuanya. Safira mencoba mencari solusi. Dia tidak mau anaknya menjadi korban bullying, karena banyak fakta bahwa anak yang terkena bullying, akan mengalami gangguan mental, tidak percaya diri, cemas dan lain-lain. Dia tidak ingin. Anaknya mengalami hal itu. Apalagi, sampai Liana menyakiti dirinya sendiri. Safira akan merasa hancur. Haidar meregangkan otot-ototnya. Niat awalnya untuk pulang lebih dulu. Tidak bisa dilakukan. Karena ternyata kerjaan datang lagi dan lagi. Bahkan, dia tidak sempat makan siang. Namun, dia tidak perduli. Setelah waktu kerjanya selesai. Dia langsung pergi dari kantor untuk menemui Lana di apartemen. Tidak jauh dari kantor, apartemen ini adalah salah satu aset yang dimiliki wanita itu. Haidar menekan kunci sandi apartemen tersebut, karena dia memang mengetahuinya dari Lana sendiri yang memberitahu. Namun, bukan berarti mereka sering berduaan di apartemen ini, sama sekali tidak. Beberapa kali, Haidar ditugaskan mengambil file di apartemen. Sehingga, dia bisa dengan mudah mengakses apartemen ini. "Kamu sakit? Kenapa tidak bilang?" Setelah masuk, dan melihat kondisi Lana, Haidar langsung bertanya. Sementara, wanita itu masih diam, dan meratapi panas dingin yang dia rasakan saat ini. Wanita itu bahkan sudah menaikan suhu, dan memakai selimut tebal. Tapi, masih saja meriang hebat. Haidar menempelkan punggung tangannya. "Sudah minum obat?" Lana menjawab dengan gelengan kepala. "CK..., Di mana?" "Laci." Haidar langsung mengambil obat itu di laci. Tidak banyak orang tahu, jika Lana itu mengidap penyakit yang mudah sekali sakit ketika cemas berlebihan. Haidar pun baru tahu beberapa waktu belakangan. Wanita itu sangat pandai menyembunyikannya. Dan semenjak saat itu, rasa ingin melindungi semakin kuat. "Sebentar, Aku pesen makan dulu. Baru nanti minum obat." Lana hanya bisa diam. Dia memperhatikan Haidar yang sedang sibuk sendiri karena khawatir padanya. Entahlah, seharusnya dia senang. Namun, mengingat Safira dan kejadian tadi pagi. Dia merasa ada rasa yang memudar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN