Sudah pukul delapan malam, Haidar belum pulang juga. Safira sedikit khawatir, beberapa kali Razka menanyakan keberadaan papahnya. Safira hanya bisa mengatakan, jika Haidar sedang sibuk bekerja. Karena kemarin lelaki itu tidak bekerja.
"Mah, Adek mau tidur saja."
"Iya, besok kan sekolah. Sudah tidur sana. Jangan lupa baca doa ya."
"Iya Mah."
"Kak. Ayo tidur."
"Mah, besok...,"
"Iya Kak, sudah tidur."
Mereka berdua pergi ke kamar masing-masing. Sementara Safira masih setia menunggu suaminya.
Meskipun sangat membenci Haidar, tapi tidak bisa berhenti khawatir. Begitulah hatinya yang lembut itu bekerja.
Sementara itu, Haidar masih setia di apartemen Lana.
Lelaki itu akhirnya bisa membujuk wanita itu untuk makan dan minum obat lagi.
"Kamu lebih baik pulang, Aku gak apa-apa ditinggal sendirian."
Haidar hanya terdiam. Dia masih enggan meninggalkan wanita itu sendirian, meskipun sebenarnya Lana sudah lebih baik. Namun, tidak menutup kemungkinan. Bisa saja, sakitnya kembali kambuh tengah malam. Masalahnya, tidak ada satu orang pun yang menemani.
"Nanti. Setelah Kamu tidur."
Sudah tiga jam Haidar menunggui Lana yang sedang terbaring lemah di ranjang. Mereka tidak membahas masalah yang dialami. Karena Haidar akan langsung memotong ucapan Lana yang menyinggung masalah mereka. Karena dia merasa ini bukan waktu yang tepat.
"Terserah. Aku tidak tanggung jawab, jika setelah ini Kamu dan Safira berantem lagi," ujarnya sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk lelaki itu pulang.
"Hmm. Lain kali, Kamu harus punya asisten rumah tangga. Jika terjadi seperti ini. Kamu tidak sendirian."
"Jangan khawatir, Aku bisa pulang ke rumah Mamah."
"Malam ini? Dengan kondisi sakit?"
"Pulanglah setelah Aku tidur. Jangan sampai ketika membuka mata. Kamu masih ada di sini."
Haidar pura-pura tidak mendengarnya. Dia memilih untuk tetap diam dan mengecek handphonenya.
Berharap, ada satu pesan singkat untuknya dari Safira. Namun ternyata sama sekali tidak ada. Mungkin, wanita itu sudah tidak lagi perduli padanya. Atau bahkan, tidak masalah jika sekalipun dia tidak pulang.
Biasanya, jika dia pulang telat sedikit saja. Akan ada anak-anak yang menelponnya. Namun, sekarang berbeda. Liana pasti juga tidak akan perduli.
Dia melihat Lana yang sudah tertidur. Ketika punggung tangannya menempel di jidat wanita itu, ternyata demamnya sudah turun.
Sementara Lana, sebenarnya belum sepenuhnya tidur, dia hanya ingin supaya Haidar segera pulang. Namun, sudah ditunggu setengah jam. Lelaki itu masih belum juga pulang, dan malah sibuk dengan handphonenya. Sampai akhirnya, Lana yang awalnya hanya berpura-pura dan sekarang tidur sungguhan.
Safira belum juga beranjak dari sofa. Dia masih enggak pindah ke kamar. Masih setia menunggu suaminya. Meskipun, belum ada tanda-tanda motor memasuki wilayah pekarangan rumah. Matanya sudah mengantuk berat. Namun, terus dia tahan sampai akhirnya ketiduran.
Hari yang sangat melelahkan. Hanya karena masalah cinta, mereka menjadi seperti ini. Persahabatan hancur, dan rumah tangga berantakan.
Haidar meregangkan badannya. Dia merasa otot-ototnya terasa tegang dan kaku. Saat membuka mata, dia baru sadar bahwa dirinya sedang tidur dalam posisi terduduk, di bawah ranjang Lana, hanya beralaskan karpet bulu saja.
Sembari mencoba mengumpulkan kesadaran. Dia baru ingat kejadian semalam, sehingga dia tertidur di sini.
Setelah melihat jam, ternyata sudah pukul 3 dini hari. Haidar bangun, dan bersiap-siap untuk pulang. Untuk pertama kalinya, dia menginap di tempat Lana. Sebelum benar-benar pergi, dia memastikan dulu kondiri wanita itu. Setelah dirasa cukup aman, dia barulah pergi.
Sesampainya di rumah. Dia mengunci stang kendaraannya, juga menggunakan gembok. Karena sebentar lagi subuh. Jadi, dia tidak memasukan motornya ke dalam rumah. Berjalan sebentar, lalu meraih knop pintu. Awalnya iseng, Dia pikir, rumah dikunci. Ternyata tidak. Bukannya senang, Haidar malah khawatir. Dia takut anggota keluarganya terancam bahaya. Bisa saja penjahat masuk ke rumah jika tidak dikunci.
Namun, saat baru sampai di ruang tamu, dia berdiri mematung. Bagaimana tidak, dia melihat istrinya yang sedang berbaring di sofa dengan posisi meringkuk. Membuatnya merasa bersalah. Lagi dan lagi.
Haidar berjalan perlahan, agar tidak membangunkan Safira. Dia berinisiatif untuk menggendong, dan membawanya ke kamar.
"Jangan biarkan tangan bekas menyentuh wanita lain, Kamu gunakan untuk menyentuhku."
Perkataan yang sangat menyakitkan itu, membuat Haidar terperanjat. Dia benar-benar tidak menyangka, jika istrinya pandai sekali akting tidur. Sampai, dia tidak sadar jika Safira hanya sedang pura-pura tidur saja.
Wanita itu mengubah posisinya menjadi duduk. Dia awalnya memang tertidur, tidak sadar suara motor Haidar memasuki pekarangan rumah. Dia terbangun, saat lelaki itu membuka pintu.
"Kamu nungguin Aku ya, maaf."
Sedih, dan kasian. Dia tidak tega, memikirkan sang istri menunggunya semalaman suntuk.
"Tidak ada untungnya. Ternyata, setelah ketahuan. Kamu justru terang-terangan. Salut! Bagaimana rasanya kasur di sana? Apa lebih nyaman?"
Tanpa menunggu klarifikasi dari Haidar, dia sudah tahu. Dari mana lelaki itu pergi.
"Aku tidak menginap."
Kilahnya, karena dia memang tidak benar-benar menginap versi Safira.
"Benar juga tidak masalah."
Santai. Wanita itu bisa mengontrol dirinya dengan baik. Dengan sikapnya ini, justru membuat Haidar ketar ketir. Lelaki itu berubah menjadi cemas. Dan juga berpikir, mungkinkah jika Safira sudah sama sekali tidak mencintainya?
"Anak-anak gimana? Mereka nanyain Aku ya?"
Nada bicaranya seolah paling menyesal. Safira benar-benar tidak suka mendengarnya. Dia tidak butuh kebohongan semacam itu.
"Sepertinya, mereka cukup memaklumi. Papahnya sudah lelah bekerja. Dan mungkin butuh sedikit hiburan."
"Aku hanya menungguinya karena sedang sakit."
Akhirnya, Haidar mengeluarkan jurus terakhir. Dia harus jujur, supaya sang istri tidak terus memojokkannya.
"Kenapa harus Kamu? Keluarganya kemana? Apa uangnya tidak cukup untuk biaya di rumah sakit, jika memang dia tidak ada yang rawat?"
Sedikit terpancing emosi. Dia memanas begitu mendengar perhatian suaminya untuk wanita lain.
"Aku hanya perduli. Dia sendirian."
"Oh iya lupa. Kamu kan pacarnya. Wajar sih, pacar kan emang harus selalu ada. Kebetulan, Kamu belum punya anak dan istri yang menunggu di rumah."
"Safira tolong, Aku lelah. Ini baru terjadi satu kali saja kan? Sebelumnya, Aku gak pernah begini. Situasi mengharuskan Aku berada di sana. Namun, harus kamu ketahui. Tidak terjadi apapun selama di sana."
"Hoammm. Aku ngantuk, ceritamu cukup lucu. Mungkin, bisa kita lanjutkan esok hari saja."
Safira bangun dari sofa, lalu dia berjalan ke arah kamar, diikuti oleh Haidar. Saat lelaki itu hendak masuk, Safira sudah lebih dulu menutup dan mengoncinya. Agar sang suami tidak bisa masuk.
"Safira! Buka! Aku mau istirahat juga."
Wanita itu tidak perduli, dengan suara teriakan Haidar. Dia tetap diam saja, dan memilih mengusap air matanya. Sepertinya, tidak ada hari tanpa air mata. Karena penyebab dia terluka masih berada di sekitarnya dan bertingkah seolah semua yang terjadi adalah hal wajar.
Tidak mudah menjadi kuat seperti tadi, tapi dia harus melakukan hal itu. Karena tidak ada yang bisa membelanya. Selain diri sendiri. Haidar sudah benar-benar memilih ke pihak sana. Bahkan, dia rela meninggalkan keluarganya yang selama ini tidak pernah jauh darinya.
Haidar tidak mungkin terus menerus mengetuk pintu, dia takut jika anak-anaknya akan mendengar dan mengira bahwa orang tua sedang berantem. Dia mengalah. Dan kembali ke sofa. Padahal sebenarnya dia sudah sudah tidak betah dengan pakaian yang sedang digunakan. Karena dari kemarin dia belum ganti.
Sembari menunggu Safira keluar dari kamar. Dia menyeduh teh hangat, agar tubuhnya tidak terlalu lemah. Mengendarai motor di pagi dini hari, membuat badannya sedikit menggigil. Anginnya terasa begitu kencang dan segar.
Safira tidak tidur. Dia sedang milih baju untuk dipakai ke sekolah anak-anak. Setelah itu, barulah dia keluar dari kamar untuk mengerjakan tugas hariannya.
Pertama-tama, dia ke kamar anak-anak untuk membangunkan mereka berdua.
Haidar yang melihat itu, memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil handuk. Lalu dia segera mengambil posisi ke kamar mandi. Sebelum harus mengantri dengan yang lain.
"Papah sudah pulang Mah?"
Razka sepertinya belum bisa jauh dari Haidar. Anak itu, masih sangat membutuhkan ayahnya. Berbeda dengan Liana. Ketika Safira membangunkannya. Dia langsung bangun dan mengambil handuk untuk segera bersiap ke kamar mandi.
"Sudah, makanya ayo bangun."
"Asikk. Aku mau ajak ke masjid. Buat solat berjamaah di sana."
"Iya."
Tanggung jawab, perhatian, dan selalu mengajarkan hal-hal kebaikan. Itulah Haidar. Pria itu, selalu memberikan contoh kepada anak laki-lakinya. Termasuk untuk masalah ibadah. Safira sangat menyayangkan, karena suaminya itu bisa tergoda.
"Mamah kenapa bengong? Ada masalah?"
"Enggak Dek, hanya masih mengantuk."
"Ayo semangat Mah!"
Polos dan lucu, meskipun terkadang menyebalkan dan cengeng. Itulah Razka.
Liana sedang berdiri di ambang pintu. Sudah 10 menit dia menunggu papahnya keluar dari kamar mandi. Karena jika tidak mengantri, maka dia akan disalip anggota keluarga yang lain.
Ceklek
"Kakak kenapa gak bilang, sudah lama berdiri di sini?"
"Kamar mandinya sudah tidak dipakai kan?"
Bukan menjawab, dia malah balik bertanya.
"Enggak kok."
Haidar tidak mau membuat pagi anaknya menjadi buruk, dia mengalah dan mempersilahkan anaknya masuk.