"Melati, kamu hati-hati ya Nduk di kota itu beda sekali dengan di desa" Pak Rifat berpesan kepada Melati yang tengah mempersiapkan pakaian yang akan dia bawa ke kota besok pagi. Di kota nanti Melati akan bekerja dan tinggal di rumah keluarga Harris Wibowo yang merupakan majikan tempat Bapaknya bekerja dulu.
"Iya Pak, Bapak tenang aja ya..Melati bisa kok jaga diri selama di kota dan tinggal di rumah Tuan dan Nyonya Harris, ya kan Buk?" Melati seakan meminta persetujuan sang Ibu yang saat ini tengah merapihkan piring kotor bekas makan malam mereka.
"Iya..Bapak ndak usah khawatir, Melati sudah dewasa, sudah bisa jaga diri. Lagipula Melati itu kan kerja dan tinggal di rumah keluarga Wibowo, Tuan dan Nyonya kan selalu baik dan perhatian ke keluarga kita meski Bapak sudah ndak kerja dengan mereka" jawab Bu Utami yang diiringi langkah cepat untuk bergegas menuju dapur tak mau menampakan raut wajah sedihnya yang akan ditinggal oleh anak gadis kesayangannya. Sebenarnya Bu Utami tak ingin Melati untuk pergi dari desa dan mengabdi kepada keluarga Wibowo, hanya saja ia dan sang suami tidak mampu menolak permintaan Nyonya Lidya istri dari Tuan Harris Wibowo yang meminta Melati untuk bekerja denganya. Nyonya Lidya baru saja membuka usaha toko kue dan coffee shop yang awalnya hanya iseng belaka namun ternyata makin banyak peminatnya sehingga ia pun merasa kerepotan dan butuh bantuan dari orang yang bisa ia percaya, ya meskipun bisnis ini terbilang kecil jika dibandingkan usaha lain milik keluarga Wibowo.
"Buk..." suara lembut menyapa Bu Utami yang menyadarkan dari lamunannya
"Eh, iya Nduk...sudah selesai tho siapin baju-bajunya?"
"Sudah kok Bu, Melati bawa seperlunya aja supaya nanti kalau libur dan pulang kerumah gak perlu bawa baju banyak" seulas senyum disematkan oleh Melati diwajah ayu nya membuat Bu Utami semakin sedih akan ditinggal oleh putri cantiknya ke kota untuk mengadu nasib.
"Ya wes, kamu istirahat aja Nduk besok kan harus berangkat pagi"
"Iya nanti Melati tidur abis cuci piring ya Buk" jawabnya sambil meraih piring kotor dan mulai membasuhnya satu per satu
"Mbak, sini biar Bagas aja yang cuci piring...bener kata Ibuk, Mbak Melati istirahat aja" tiba-tiba sang adik - Bagas muncul diantara keduanya
"Gak apa apa Gas, ini gak banyak kok...kamu lanjutin aja belajarnya sama Kinar, kasihan Kinar sebentar lagi dia ujian"
"Ya udah, Bagas lanjut ngajarin Kinar ya Mbak"
"Yo wes Le, kamu ajarin dulu sana adik mu kasihan dia sebentar lagi ujian" tambah sang Ibu
Bagas pun meninggalkan sang Ibu dan Melati menuju ruang tengah untuk kembali belajar bersama sang adik Kinara yang saat ini duduk dibangku kelas 6 SD sedangkan Bagas sendiri masih berseragam putih abu abu dan masih butuh waktu 2 tahun lagi baginya untuk lulus dan mungkin sama seperti Melati pergi ke kota untuk bekerja agar keluarganya mendapatkan kehidupan yang lebih baik, agar si kecil Kinara setidaknya bisa merasakan pendidikan tinggi di Universitas.
Sebenarnya Bagas ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke Universitas, namun melihat sang Kakak dan kondisi kedua orang tuanya Bagas pun menguburkan mimpinya. Pikirnya akan lebih baik jika setelah lulus nanti, ia bekerja sehingga uang yang dihasilkan nanti bisa untuk keluarga dan menabung untuk kuliahnya dimasa datang. Sang Kakak pun tak perlu pergi jauh ke kota, ia lebih memilih Melati kerja di desa sehingga bisa bersama dengan keluarganya.
"Melati, kamu janji ya harus jaga diri baik-baik disana, di kota gak semua orang baik, tapi bukan berarti semua orang yang kamu temui jahat, masih ada orang-orang baik dan tulus disana tapi kamu juga tetap harus waspada ya Nduk, jaga kehormatan kamu sebagai wanita, jangan tinggalkan sholat 5 waktu Nduk selelah apapun kamu bekerja" Bu Utami kembali membuka suara ditengah kesibukan Melati membereskan piring yang telah bersih ia cuci.
Melati pun menatap sang Ibu, dilihatnya raut wajah wanita yang telah mengandung dan membawanya lahir ke dunia ini, manik mata sang Ibu yang membuat hatinya perih, seakan tatapan sedih sang Ibu membuatnya berat untuk berangkat ke kota.
Seumur hidupnya Melati selalu bersama dengan keluarganya meski kehidupan di desa terbilang sederhana, namun ia bahagia. Tak ada barang mewah dirumahnya, jangankan memiliki barang mewah, berandai-andai memiliki pun tidak.
"Iya Buk, Insya Allah Melati bisa jaga diri dan gak tinggalin sholat 5 waktu, Ibu Bapak dan adik-adik juga jaga diri baik-baik ya, Ibu Bapak jangan capek-capek kerja di ladang, kan nanti Melati kirim uang yang cukup buat hidup di desa dan kebutuhan sekolah adik-adik."
"Kamu gak usah mikir sekolah adik-adik mu dan biaya hidup di desa, itu biarlah jadi tanggung jawab Ibu dan Bapak mu, kami masih kuat kok Nduk, wes jangan dipikir."
"Buk, Melati kerja memang untuk keluarga kita. Bapak dan Ibu memang masih kuat tapi Melati gak mau Ibu dan Bapak capek-capek kerja di ladang, Melati juga tau kok kalau Bagas itu selesai SMA mau lanjutin kuliah tapi dia gak berani ngomong ke kita"
"Kamu tau dari mana Nduk?"
"Melati pernah liat Bagas baca-baca brosur kampus yang dia dapet dari sekolahnya Buk, dia simpan juga dilemari kamarnya. Ngeliat itu Melati makin semangat buat berangkat ke kota, Melati mau Bagas dan Kinara bisa kuliah, supaya mereka punya masa depan yang cerah yang lebih baik dari Melati."
"Maaf ya Nduk, Ibu dan Bapak gak bisa bayarin kamu kuliah, kamu pun terpaksa kerja ke kota jauh dari kami."
"Buk, Melati gak apa-apa kok, lagi pula Melati kan memang gak ada niat kuliah Buk, bisa lulus dari SMA dan kerja di kota, Melati udah bersyukur banget, kalau nanti ada rejeki dan ada kesempatan pasti Melati akan kuliah supaya bisa dapat kerja yang lebih baik." tutup Melati berbohong kalau ia tak ada niat untuk melanjutkan kuliah sembari berusaha menyakinkan Ibu nya, ia pun merasa bersalah atas ucapannya sebelumnya yang mungkin melukai dan membebani pikiran sang Ibu.
Selesai di dapur, Melati pun merebahkan tubuh ramping nya di kasur kamarnya yang sangat sederhana. Disebelahnya sudah ada si kecil Kinara yang mulai terlelap, dipandangnya wajah lelah si kecil Kinar seusai belajar. Diusapnya lembut rambut hitam pekat Kinar sambil berbisik pelan
Dek, doain Mbak Melati ya supaya di Kota Mbak baik-baik aja, kerjaannya lancar jadi bisa kirim uang buat kamu, Kak Bagas dan Bapak Ibu. Biar kamu bisa kuliah, jadi orang sukses dan jadi kebanggan buat Bapak Ibu.
Pandangan Melati memindai kamar tidurnya yang ukurannya tidak terlalu besar. Dirumah sederhana Pak Rifat ada 3 kamar, 1 kamar utama yang digunakan oleh Pak Rifat dan Bu Utami, dan 2 kamar ukuran yang lebih kecil digunakan oleh anak-anak mereka, Bagas dan kedua putri mereka Kinara, Melati. Di kamar itu hanya ada kasur, lemari pakaian dari kain itupun sudah terlihat usang, lampu remang dan jendela yang setiap malam Melati akan menyempatkan diri melamun melihat ke atas langit bermandikan bintang ataupun larut dalam kelam malam, serta membiarkan angin malam menyapu lembut kulit putihnya.
Matanya kini melihat keatas langit-langit kamar yang sudah terlihat usang namun dia tak pernah mengeluh selama air hujan tidak bocor dan angin dingin tidak masuk itu sudah cukup baginya. Ia akan merindukan tempat ini, kamarnya, rumahnya, keluarganya, teman-teman dan suasana desa. Tak terasa kedua mata Melati terasa berat dan tidak membutuhkan waktu lebih lama baginya untuk terbawa ke alam mimpi.
Pagi setelah menunaikan sholat subuh berjamaah dengan keluarganya, Melati bergegas menyiapkan sarapan untuk keluarganya, adik-adiknya tidak mengantarnya ke terminal bis, karena mereka harus sekolah. Tak ada menu istimewa di hari terakhir Melati memasak sarapan untuk keluarganya, hanya Nasi Goreng sederhana dan tempe goreng yang menjadi favorit Kinar dan Bagas. Melati banyak belajar memasak, menjahit dan lain lain dari Bu Utami, menurut Bu Utami hal ini perlu sebagai bekal hidup Melati kelak.
Selesai memasak dan bersiap-siap, kini keluarga Pak Rifat sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Bagas dan Kinara sudah siap dengan seragam sekolah mereka, Pak Rifat dan Bu Utami pun sudah rapih hendak mengantar Melati ke terminal bis menggunakan angkot sewaan milik Pakdhe Djarot salah satu kerabat mereka di desa. Melati pun sudah tampak rapih, ya meskipun pakaian yang ia gunakan terbilang sederhana dan ketinggalan jaman karena memang rok dan kaos nya itu sudah ia miliki dan pakai sejak dibangku SMP yang merupakan pemberian Budhe Yati istri Pakdhe Djarot.
Tak banyak pembicaraan yang terjadi di meja makan pagi itu, setelah sarapan dan minum teh hangat satu per satu mereka mulai melanjutkan persiapan untuk memulai aktifitas. Melati dan Bu Utami membersihkan piring dan gelas, Pak Rifat mempersiapkan tas bawaan Melati dan kedua anaknya bersiap berangkat sekolah.
Di teras, sepeda tua milik keluarga Pak Rifat sudah siap menunggu empunya untuk ke sekolah. Seperti biasa Bagas akan membonceng Kinar ke sekolah. Ia akan mengantarkan Kinar sampai depan sekolah kemudian melanjutkan menuju sekolahnya. Pulang sekolah biasa Kinar akan menunggu Bagas atau jika Bagas ada tambahan pelajaran Kinar akan berjalan kaki bersama teman-temannya.
"Mbak, Pak, Buk kami berangkat sekolah dulu ya" pamit Bagas diiringi dengan Kinar yang menyalami satu per satu mulai dari kedua orang tuanya lalu Melati.
"Kalian hati-hati ya, ingat pesan Mbak kalian harus rajin belajar, jadi anak pintar supaya jadi orang sukses kelak, jangan berantem, yang akur ya...jaga diri kalian dan jaga Bapak Ibu. Nanti jam 9 Mbak berangkat ya." ucap Melati sambil memeluk erat kedua adiknya.
"Iya Mbak, Kinar janji. Mbak jangan lupain kita ya."
"Iya Mbak, Bagas janji."
"Yo wes sana berangkat Le, Nduk jangan ngebut ya, sing ati ati di jalan."
"Ya Buk, lagian mana bisa ngebut kan sepedanya tua terus mana yang dibonceng juga berat."
"Bapaaaak, Kak Bagas jahat" rengek Kinar setelah mendengar ucapan Bagas.
Bagas tertawa lepas melihat sang Adik kesal. Melati pun hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kedua adiknya, belum 5 menit yang lalu ia minta mereka untuk akur.
"Huuuss sudah-sudah, baru saja Mbak mu bilang jangan berantem, sing akur...kok ya udah mulai ngeledek Adiknya tho Le." Bu Utami berusaha menengahi ke dua anaknya.
"Sudah Bagas, ayo sana berangkat sama Kinar sudah jam setengah tujuh nanti kalian telat." ucap Pak Rifat menyudahi drama pagi hari ini.
Tak lama Bagas dan Kinar meninggalkan halaman rumah mereka, Melati menatap hingga punggung mereka hilang sembari berdoa dalam hati kecilnya, agar Yang Maha Kuasa selalu menjaga adik-adiknya.
Pukul 07.18
Mobil angkot sewaan yang akan membawa Melati, Pak Rifat dan Bu Utami pun sudah sampai. Tanpa membuang waktu mereka bergegas untuk menaiki angkot sewaan itu, beruntung Pakdhe Djarot meminjamkan secara percuma, sehingga untuk ke kota Melati hanya perlu mengeluarkan ongkos bis saja, Ibunya bilang akan ada orang dari keluarga Wibowo yang menjemputnya nanti.
Dalam jarak tempuh yang dihabiskan sekitar 30 menit, kini Melati sudah berada di terminal bis. Banyak orang hilir mudik, membawa banyak barang menuju dan dari kota. Ditangannya sudah ada tiket yang siap ia tunjukan kepada petugas.
Bapak dan Ibu nya setia berada disamping Melati menanti bis yang akan membawa putrinya datang. Berselang 10 menit kemudian, bis datang dan penumpang pun satu per satu mulai menghampiri bis, berbaris dan masuk ke dalam bis. Kini giliran Melati melangkah masuk ke dalam bis. Ia pun memeluk Bapak dan Ibu nya, menyambut telapak tangan kedua orang tuanya meminta doa dan restu agar diberikan keselamatan dan kelancaran selama ia bekerja di kota. Bu Utami pun tak sanggup menahan air mata, Pak Rifat hanya mampu memberi Bu Utami kekuatan. Tepat pukul 09.00 bis pun melaju perlahan meninggalkan terminal. Pak Rifat tampak memeluk pundak Bu Utami, seolah menguatkan wanita yang sudah ia nikahi selama 20 tahun. Dilihatnya Melati, putri cantik mereka dari luar bis, Melati pun tampak menitikan air mata dan melambaikan tangan ke arah kedua orang tuanya, ia berjanji akan memberi kabar kedua orangnya melalui Budhe Yati.
Nduk maafin Bapak dan Ibu ya, karena keadaan kami, kamu harus bekerja di kota, meninggalkan rumah, teman-teman dan adik-adik mu meskipun kami tau berat bagi mu, tapi kamu tidak pernah mengeluh, terima kasih Nduk. Semoga Allah SWT selalu menjagamu...