Sesuci Melati - 2

1376 Kata
Perjalanan menuju kota kini sudah berlangsung hampir selama 2 jam, Melati masih setia melempar pandangan kearah luar jendela menikmati pemandangan yang disuguhkan selama perjalanan. Rasa rindu akan keluarga kecilnya tiba-tiba terbesit dibenak Melati, biasanya setelah selesai ujian SMA usai, sambil menunggu pengumuman hasil ujian dan kelulusan pada jam seperti ini Melati akan sibuk membantu sang Ibu membantu menyiapkan makan siang untuk seluruh keluarganya, melakukan pekerjaan rumah, hingga terkadang membantu sang Ibu menyiapkan kue pesanan tetangga sekitar rumah tak jarang ada pesanan kue dari desa lain. Adik-adik Melati biasanya akan sampai rumah pukul 12.45, dan Pak Rifat sudah kembali dari ladang lebih awal sebelum adzan sholat Dzuhur berkumandang. Mereka sekeluarga akan makan siang bersama ketika semua sudah berganti pakaian dan menjalankan sholat Dzuhur. Melati dan adik-adiknya juga tidak ragu membantu Pak Rifat di ladang setelah makan siang hingga menjelang masuk waktu Ashar tiba. Tak terasa matanya mulai terasa berat hingga netranya mulai tertutup dan Melati mulai terlelap hingga 1 jam berlalu, Melati terbangun oleh suara-suara penumpang lain yang mulai bergegas untuk menuju rest area. Waktu rehat 30 menit Melati gunakan untuk merenggangkan tubuhnya, menghirup kuat-kuat oksigen untuk masuk ke paru-paru membiarkan angin sejuk menerpa kulitnya dan melaksanakan Sholat Dzuhur di masjid rest area. Diperkirakan waktu tempuh yang tersisa 4 jam Melati akan sampai di terminal kota dan akan memulai perjalanan hidup sebagai pekerja di tempat majikannya. Roda kembali berputar mengantar para penumpang menuju terminal tujuan, Melati kini telah kembali sibuk menikmati pemandangan sambil mengucap doa dalam hati bagi dirinya serta keluarganya agar selalu diberi keselamatan dan penjagaan yang sebaik-baiknya oleh Yang Maha Kuasa. Perjalanan menuju terminal kota mulai terlihat kepadatan oleh beberapa kendaraan bermotor. Jam digital dalam bis menunjukan pukul 16.30 sepertinya akan ada keterlambatan sampai ke terminal kota, itu yang Melati simpulkan dalam hatinya. Semoga tidak terlalu lama, atau ia tak enak hati membuat orang yang menjemputnya nanti. Keresahan Melati semakin menjadi karena hujan yang turun semakin deras disertai angin dan petir, kendaraan-kendaraan pun melambatkan lajunya membuat perjalanan menuju terminal melambat. Ia tidak bisa berbuat banyak selain memohon dalam doa agar sedianya hujan yang turun membawa berkah bagi seluruh makhluk ciptaanNYA serta alam semesta dan lalulintas segera menjadi lancar. Sementara itu di kediaman Keluarga Wibowo "Biiaaan...Fabian! ayooo bangun ini udah hampir sore loh Nak" Nyonya Lidya Wibowo berusaha membangunkan anak sulungnya Fabian Narendra Wibowo yang sudah 3 bulan tidak kembali ke kediaman Wibowo dan lebih memilih menghabiskan waktu di apartemen mewah miliknya setelah beraktifitas di perusahaan keluarga yang ia pimpin. Bahkan akhir pekan pun ia lebih memilih menghabiskan waktu dengan teman-temannya di klub, cafe bahkan tak jarang ia dan teman-temannya liburan singkat ke luar negeri melepas penat setelah berjibaku dengan urusan perusahaan keluarganya. "Mam, Bian masih ngantuk...please jangan teriak-teriak." jawab Fabian asal masih dengan mata tertutup rapat. Huh bener-bener deh ini anak, minta dibalikin lagi ke rahim kali yaaa Batin Nyonya Lidya kesal mendapat jawaban asal dari putranya. "Gak! ini udah sore! Papi kamu aja udah main tennis sama Keisha dan Radit dari tadi pagi, masa kamu masih aja melungker di kasur sih Biii." Kesal mendengar ia dibandingkan dengan pria bernama Radit yang merupakan sahabat sekaligus kekasih adiknya Keisha, Fabian pun mulai membuka matanya dengan sedikit memincingkan matanya kearah sang Mami. Nyonya Lidya pun merasa senang melihat putranya sudah bangun. "Nah, gitu dong anak Mami bangun juga, yuk ah bangun Nak, temenin Mami." "Duuh, kemana sih Mam? kenapa gak sama Keisha aja minta temeninnya, kan Mami sama Keisha sama-sama suka belanja." "Ish, kamu gak denger tadi Mami bilang apa?? Keisha itu lagi nemenin Papi main tennis sama Radit. Udah deh gak usah bawel, sana bangun, mandi terus siap-siap temenin Mami pergi." Enggan melanjutkan debat dengan Maminya, Pria tampan yang akan genap berusia 32 tahun itu pun segera bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi dengan jalan perlahan sembari mengumpulkan nyawanya. Melihat putranya berjalan gontai, Nyonya Lidya pun kembali berteriak "Sinyooo mandinya jangan lama-lama yaaa, terlambat nanti kita Nyooo." Ujar sang mami yang tak ingin putra tampannya lambat bersiap diri, meskipun tanpa mandi pun putra kesayangannya tetap terlihat tampan. Fabian pun bergerak lebih cepat tak ingin sang Mami berteriak dan membuat telinganya makin panas. Secepat kilat ia menyelesaikan mandinya dan bersiap. Sabun dan shampoo beraroma maskulin mulai menyeruak harumnya diseluruh kamar. Tak perlu lama memutuskan apa yang akan digunakan toh sang Mami tidak ada pesan padanya harus berpakaian seperti apa. Meski hanya menggunakan polo shirt hitam dan celana selutut berwarna coklat Fabian tetap terlihat tampan, rambutnya tertata rapih, wangi tubuhnya beraroma maskulin, dengan wajah yang memang sudah tampan sejak ia kecil dan kerap menjadi perhatian kaum hawa baik tua maupun muda. Fabian kini ia tengah menelusuri anak tangga yang mengantarnya ke ruang keluarga kediamana Wibowo yang megah. Nyonya Lidya pun sudah terlihat rapih, duduk santai di sofa sembari berbincang dengan Bik Tum, salah satu pelayan dirumah keluarga Wibowo yang sudah bekerja lebih dari 30 tahun lamanya. ".........Bik, nanti kamar tamu yang hadap ke taman belakang, tolong siapin ya Bik terus makan malam nanti tolong siapkan tambahan 1 set piring dan alat makan." pesan Nyonya Lidya kepada Bik Tum yang direspon mengangguk sembari menjawab dengan kalimat Injih Ndoro (Baik Bu) Meski tak mendengar secara jelas pembicaraan antara Maminya dan Bik Tum, Fabian merasa sepertinya akan ada tamu di rumah mereka, apa ada hubungannya dengan permintaan sang Mami untuk menemaninya sore ini yang entah kemana tujuannya. Fabian bergerak meraih kunci mobil dan menghampiri sang Mami, Bik Tum yang ada didekat sang Mami hanya bisa tersenyum manis sembari menyapanya "Sore Sinyo, Bik Tum kayaknya udah lama gak liat Sinyo, kok makin ganteng aja ya Ndoro." Fabian dan Nyonya Lidya hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Bik Tum. Sinyo adalah panggilan sayang keluarga Wibowo untuk Fabian semasa kecilnya, Bik Tum salah satu orang yang ikut merawatnya sejak kecil hingga sekarang selalu menyapa Fabian dengan panggilan Sinyo dan Noni untuk Keisha. "Bisa aja nih Bik Tum, kenapa mau dibeliin martabak nanti malam ya?" jawab Fabian menggoda Bik Tum, dia tahu betul pelayan keluarganya yang setia ini suka sekali dengan yang namanya Martabak Manis. "Waaah, mau bangeeet Nyooo." Bik Tum tersenyum lebar hingga gigi nya yang ompong terlihat. Hujan pun mulai turun di wilayah kediaman tuan Harris Wibowo, kini mereka sudah berada di garasi rumah Fabian menatap ke sang Mami. "Kenapa kok malah ngeliatin Mami, ayok cepet keburu hujan makin besar dan nanti macet Nak!" Fabian menghela nafasnya hendak menyusun kata namun belum sempat terucap mobil sang calon adik ipar yang membawa sang Adik dan Papi datang dan berhenti sempurna didepannya. "Nah, Keisha udah sampe tuh Mam! pergi sama Keisha aja ya Mam." Fabian kembali mencoba menawarkan posisinya digantikan oleh sang adik "Issh kamu Biii, bener-bener deh niat gak sih anterin Mami, udah ayok deh, lagian kasihan Keisha baru juga sampe masa harus anterin Mami." ucap Nyonya Lidya protes kepada putranya "Assalamualaikum..." sapa Tuan Harris kepada sang istri dan anak sulungnya yang terlihat sedang berdebat "Mau kemana ini Mam?" lanjut Tuan Harris "Mau jemput, Papi lupa?" jawab Nyonya Lidya Fabian merasa asing dengan pembicaraan kedua orang tuanya. "Oh ya ya, sore ini ya...ya sudah hati-hati ya Fabian kamu nyetirnya, jagain Mami!" "Yes Boss!" jawabnya singkat, dasar Papi bucin pikirnya "Wuiiih mau kemana nih Mami sama Kak Fabian?!" Berisik! lirih Fabian menanggapi pertanyaan sang Adik namun bisa tetap terdengar oleh kedua orang tua dan adiknya sementara Radit sahabat sekaligus pria yang menjadi tambatan hati sang Adik masih sibuk mengeluarkan peralatan tennis dari bagasi. "Bian, ih kok gitu sih sama Adik kamu." sang Mami mengingatkan "Mami mau keluar sama Kakak, kamu sama Papi dan Radit bersih-bersih terus makan puding gih di dalem Nak." "Waaah Mami bikin puding, asik! Yuk, Pap kita masuk! Sayaaaang cepetan ya!" Keisha kemudian menggandeng sang Papi masuk ke dalam meninggalkan Mami dan Kakaknya. "Tante, Bii.." sapa Radit tak lupa dengan senyum manisnya yang entah mengapa membuat Fabian merasa jijik dengan sahabatnya sejak sebelum sunat itu. "Masuk Dit, ikut makan puding didalam sama Keisha dan Papinya" Nyonya Lidya tersenyum hangat menyambut Radit yang sudah dikenalnya sejak putranya dan Radit berteman di Sekolah Dasar. Fabian memincingkan mata kearah Radit menunjukan iri hati dia harus keluar rumah sedangkan sahabat, Keisha dan sang Papi didalam rumah menikmati puding buatan sang Mami. Hal tersebut dibalas senyuman jahil dari Radit. Tak lama, mobil mewah Audi A8 L miliknya melaju membelah hujan dan kemungkinan ramainya lalulintas kota.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN