Sesuci Melati - 3

1054 Kata
Akhirnya Melati sampai di terminal kota dan hujan mulai reda. Melati teringat pesan Pak Rifat untuk menunggu penjemput dari keluarga majikannya di masjid yang ada di terminal. Melati tidak memiliki telepon genggam, jadi ia tidak bisa menghubungi penjemputnya, ia hanya berbekal nama, alamat dan nomer telepon rumah majikannya serta nomer telepon Budhe Yati. Langkah Melati bergerak lurus dan cepat menuju masjid, ia akan melaksanakan sholat Ashar sebelum waktu berganti Maghrib. Di masjid setelah melaksanakan sholat Ashar, 10 menit kemudian masuk waktu Maghrib, Melati pun melanjutkan sholat Maghrib terlebih dahulu toh ia melaksanakan ibadah di area luar mesjid sehingga dapat memantau jika ada orang yang terlihat mencarinya. Sementara itu, di jalan yang padat merayap menuju terminal sepasang Ibu dan Anak terjebak diantara kendaraan bermotor lainnya. "Mam, ini kita ke terminal mau ngapain?" "Mau jemput" jawab Nyoya Lidya singkat Tak puas dengan jawaban singkat Sang Mami, Fabian pun kembali bertanya "Jemput siapa Mam? Temen Mami? atau kerabat Mami?" "Calon karyawan Mami, anaknya Pak Rifat supir Papi dulu, dia baru lulus SMA jadi Mami minta bantu-bantu toko. Toko kan makin rame Bi, apalagi sekarang perkantoran udah mulai aktif lagi kan, kelimpungan Mami kalau gak ada yang bantu." Fabian hanya bisa mengangguk mencoba memahami keluh kesah Mami tersayangnya. "Eh Bi, ini anak Pak Rifat itu cantik loh, keliatannya kalem gak kayak si siapa tuh mantan kamu.." "Ish! apa sih Mam, dibahas terus..udah lah Mam, Fabian gak suka dijodoh-jodohin..nanti juga ketemu jodohnya! lagian Mami tadi bilang dia baru lulus SMA, ya ampun Mam aku bukan om om yang doyan anak bau kencur ya!" Nyonya Lidya sontak terbahak-bahak mendengar ocehan sang anak laki-lakinya itu. Memang benar adanya entah sudah berapa anak perempuan atau keponakan teman arisannya yang coba dikenalkan kepada Fabian, tapi terus mendapatkan penolakan dari sang putra. Ia ingin sekali Fabian melupakan mantan kekasihnya yang telah meninggalkannya untuk mengejar ambisinya sebagai model papan atas. Tak lama, mereka telah sampai di terminal kota. Fabian memarkirkan mobilnya di area parkir yang cukup padat sore itu. "Mam, udah dimana orangnya? Mami hubungi dia deh biar kita gak lama-lama disini." "Mami gak ada nomer dia Bi, dia gak punya Hp, terakhir Mami sepakat jemput dia di masjid terminal, ayo turun temenin Mami ke masjid!" HAAH, di jaman seperti saat ini, masih ada orang yang gak punya Hp? batin Fabian Tak mau sang Mami mulai mengomel, Fabian pun segera turun dari mobil dan membuka pintu untuk Nyoya Lidya. Mereka pun segera menuju masjid terminal, tak lupa Fabian menitipkan mobilnya kepada petugas sekitar. Tak lama mereka sampai di masjid, tampak sesosok gadis yang sepertinya baru selesai melaksanakan sholat. Ah itu pasti anak Pak Rifat, batin Nyonya Lidya. "Kayaknya yang itu deh Nak, sebentar ya Mami mau samperin." Fabian pun hanya bisa mengangguk sambil melihat sesosok yang dimaksud maminya. Punggung kecil dengan rambut sebahu yang tergerai, jemarinya tampak sibuk merapihkan alat sholatnya. "Permisi, kamu Melati?" sapa Nyonya Lidya kepada sosok gadis yang ia taksir adalah putri Pak Rifat calon pegawainya "Ah, iya Nyonya saya Melati, putrinya Pak Rifat" jawab Melati sopan sembari menyalami tangan halus Nyoya Lidya Nyonya Lidya tersenyum hangat dan terkesima dengan wajah ayu dan lembut didepannya, kemudian ia kembali bertanya "Boleh saya lihat KTP kamu, maaf saya hanya mau memastikan saja, dan ini kamu juga bisa memeriksa KTP saya, disitu ada nama saya dan alamat yang saya yakin Pak Rifat sudah kasih ke kamu, supaya kamu yakin." Melati pun membalas senyuman Nyonya Lidya, melihat perilaku hangat majikannya membuat Melati teringat kehangatan sang Ibu di kampung. Segera ia mengeluarkan KTP miliknya dari dalam tas ransel usang miliknya dan menyerahkan kepada Nyonya Lidya, sembari menerima KTP milik Nyonya Lidya sekilas ia mencocokan dengan informasi yang diberikan oleh sang ayah sebelum berangkat. Seksama Nyonya Lidya memeriksa KTP Melati, tertera nama pada tanda pengenal Melati Indraswari Nismara, usianya tahun ini baru memasuki 18 tahun, masih belia pikirnya sayang sekali jika Melati tidak melanjutkan pendidikannya, mungkin nanti perlahan ia dapat membantunya agar Melati dapat melanjutkan pendidikan. "Hmm, ini saya kembalikan. Maaf, saya hanya memastikan walaupun sebenarnya hanya melihat wajah kamu saja saya sudah tahu kamu anak Rifat dan Utami karena kamu sangat mirip dengan mereka. Duh, melihat kamu saya jadi kangen dengan mereka, mereka apa kabar?" "Alhamdulillah, Bapak dan Ibu baik Nyonya, Bapak dan Ibu menitipkan salam untuk Tuan dan Nyonya, Bapak Ibu menyampaikan terima kasih banyak sudah banyak membantu kami selama ini meskipun Bapak sudah tidak mengabdi dikeluarga Tuan dan Nyonya." "Ah, sudahlah Melati kami hanya sedikit membantu saja, lagipula Bapak kamu bahkan dari Kakek kamu sudah banyak berjasa bagi keluarga kami. Yuk, kita berangkat, kasihan anak saya sudah tunggu lama nanti dia lumutan." Ujar Nyonya Lidya sembari menunjuk ke arah putranya yang sedang berdiri menyadar pagar sambil melihat kearah terminal. Deg, entah mengapa jantung Melati berdetak cepat melihat sosok itu dari belakang, sesosok pria muda, tinggi, tegap, dengan rambutnya yang sedikit kecoklatan tertata rapih. Melati pun mengatur dirinya agar tetap fokus dan tidak gugup. Nyonya Lidya, perempuan paruh baya berusia 58 tahun itu menggenggam tangan mungil milik Melati, hal kecil ini membuat hangat hati Melati, semoga seluruh keluarga Wibowo dapat bersikap baik kepadanya. Meskipun ia hanya seorang pembantu dirumah itu, ya..Melati belum tahu rencana Nyonya Lidya yang akan menempatkannya di Toko miliknya dan Melati pun belum tahu jika sang Nyonya tertarik menjodohkannya dengan sang putra setelah melihat dirinya majikannya yakin, Melati adalah gadis yang tepat untuk putranya. "Bii..kenalin Nak, ini namanya Melati, anaknya Pak Rifat, ingat kan sama Pak Rifat. Melati ini anak saya yang pertama, namanya Fabian." Melati hendak mengulurkan tangannya, namun Fabian yang hanya sekilas melihatnya kemudian berjalan mengacuhkannya, Melati pun hanya bisa tersenyum dan memasukan kembali tangannya kedalam saku. "Maafin Fabian Melati jangan diambil hati sikapnya ya, dia anak baik dan manja sebenernya, mungkin lagi capek aja." Nyonya Lidya tak enak hati dan berusaha menghibur Melati. Melati pun hanya bisa membalas dengan senyum tulus dan mengangguk tanda mengerti. Melati takjub dengan pemandangan mobil mewah dihadapannya saat ini. Mobil milik majikannya ini sangat mewah baginya sehingga menyentuh untuk membuka pintu saja ia gemetar seakan masih tidak percaya, seorang gadis kampung seperti dia bisa naik mobil mewah seperti ini pasti kursinya empuk dan sejuk karena ada AC didalamnya. Namun, suara klakson mobil itu membuyarkan lamunannya, segera ia memasuki mobil mewah itu dibagian belakang dengan tergesa-gesa. Tak lama mobil itu pun melaju meninggalkan terminal kota, lalulintas sudah tak seramai sebelumnya, cuaca kembali cerah berhiaskan langit malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN