Selama perjalanan menuju rumah keluarga Wibowo diwarnai dengan berbagai pertanyaan Nyonya Lidya kepada Melati, mulai dari kondisi orang tua Melati, adik- adiknya hingga ladang orang tuanya di kampung. Sesekali Fabian mencuri pandang ke bagian belakang untuk melihat Melati, namun ketika mereka beradu pandang keduanya kembali sibuk melempar penglihatan kearah lain. Nyonya Lidya yang menyadari hal tersebut merasa gembira, baginya ini merupakan tanda awal mula yang baik bagi keduanya dan mimpinya agar sang putra segera mengakhiri masa lajang dan menimang cucu akan segera terwujud.
"Melati, Eyang kamu apa kabar ya?"
Eyang yang dimaksud Nyonya Lidya adalah Eyang Rasyid, ayah dari Pak Rifat yang dulu semasa muda juga mengabdi pada keluarga Wibowo. Eyang Kakung dan Uti biasa Melati menyapa mereka yang kini sudah berusia 80 dan 75 tahun tinggal bersama adik bungsu sang ayah, Bulik Ambar.
"Eyang Rasyid dan Uti Aini Alhamdulillah masih sehat Nyoya." jawab Melati singkat
"Syukurlah, sudah lama sekali tidak ketemu beliau-beliau, nanti kalau ada waktu kita berkunjung ke desa kamu yaa, gimana Bi kamu mau ikut kan Nak?"
Hah, apa-apaan sih mami kok jadi aku harus ikut, batin Fabian sambil berusaha fokus ke jalan, untung mata jelinya melihat tukang martabak sehingga dia pun dapat mengalihkan pembicaraan.
"Mam, mampir dulu ya, mau beli martabak titipan Bik Tum."
sang mami hanya menurut, dia akan berusaha lagi agar keduanya menjadi lebih akrab pikirnya.
Tak lama setelah mobil terparkir sempurna, Fabian dengan gesit keluar dari mobil dan memesan martabak kesukaan Bik Tum. Hening melanda didalam mobil, hanua suara penyiar radio yang terdengar saat ini, hingga beberapa menit kemudian kembali Nyonya Lidya membuka percakapan dengan Melati.
"Kamu apa ada keinginan melanjutkan sekolah? maksud saya kuliah."
"Hm, keinginan ada Nyonya tapi saat ini saya ingin fokus bekerja saja dulu, biar nanti Bagas dan Kinar yang kuliah." jawab Melati jujur, semoga majikannya tidak keberatan atas kejujurannya.
Mendengar jawaban Melati membuat Nyonya Lidya terenyuh, ia berniat membicarakan hal ini dengan sang suami nanti sesampainya dirumah. Lalu kemudian ia kembali bertanya
"Kalau pacar atau calon suami apa kamu sudah ada?"
Baru pertanyaan tersebut terlontar, Fabian tiba-tiba kembali dengan 4 bungkus martabak ditangannya.
"Saya..saya tidak punya pacar Nyonya" jawab Melati singkat dan gugup, terpaksa menjawab pertanyaan Nyonya Lidya karena tak ingin dianggap tidak sopan, tapi ia pun jadi merasa tak enak hati karena menjawab ketika sang tuan muda datang.
Ini pasti mami mulai tanya hal yang enggak-enggak deh, pikir Fabian sembari melirik ke arah Nyonya Lidya.
"Wah banyak banget Sinyo, buat Bik Tum semua Nyo?" Nyonya Lidya berusaha menetralisir keadaan sadar sang putra melirik kearahnya ketika memasuki mobil dan mendengar jawaban Melati.
"Buat Bik Tum dan yang lainnya, aku juga beliin Martabak Asin buat kita." respon Fabian sembari mulai menyalakan mesin kendaraannya.
Sisa perjalanan mereka bertiga hanya dilalui dalam diam, sesekali Nyonya Lidya berdendang mengikuti syair lagu dari radio yang diputar sang putra, sedangkan Melati menyibukan diri dengan melihat kearah jalanan kota yang indah dihiasi lampu-lampu dan gedung pencakar langit.
Selang 20 menit kemudian, mereka sampai di kediaman Wibowo, hunian mewah yang membuat Melati terheran-heran, dan berpikir bagaimana nanti ia harus membersihkan, merawat rumah sebesar ini. Tunggu...bukan rumah, bangunan mewah, kokoh di d******i warna putih dengan taman luas di halaman depan berhiaskan tanaman-tanaman cantik dan lampu taman yang indah lebih tepatnya seperti istana.
Dengan tampilan amat sederhananya, Melati merasa tak pantas menginjakan kakinya kedalam istana Wibowo. Dengan langkah ragu-ragu ia melangkah keluar dari mobil mewah sang tuan muda. Sedangkan Nyonya Lidya dan Fabian sudah lebih dulu meninggalkan mobil mewah Fabian.
Fabian memasuki rumah terlebih dahulu, sang mami mengajak masuk Melati yang terlihat gugup dan ragu memasuki bangunan mewah itu
"Ayo, silahkan masuk Melati anggap saja ini rumah sendiri." Nyonya Lidya mempersilahkan Melati masuk kedalam rumahnya
Fabian kemudian menghampiri Papi dan Keisha yang tengah bersantai di gazebo belakang rumah untuk menyerahkan 2 box martabak asin dan manis untuk keduanya.
"Wah, udah sampe Kak! bawa apa tuh Kak?" tanya Keisha basa basi padahal ia tahu kalau yang dibawa Kakaknya adalah martabak.
Namun, Fabian hanya mengacuhkan basa basi sang Adik dan dengan gesitnya sang Adik mengambil bungkusan yang dibawa sang Kakak
"Dua bungkus lainnya kasih Bik Tum, itu buat Bik Tum dan yang lain."
"Iya Kak Fabian yang ganteng!" jawab Keisha sambil menjulurkan lidah ke arah Fabian dan berlari ke arah kamar tinggal ART yang terletak dibagian belakang rumah dekat service area.
Tak lama Nyonya Lidya dan Melati sampai di Gazebo, menyadari hal tersebut Tuan Harris kemudian berdiri dan menghampiri sang istri.
"Assalamualaikum..." sapa Nyonya Lidya dan Melati kompak
"Walaikumsalam..." jawab Tuan Harris sembari menghampiri sang istri kemudian memberikan kecupan di kening Nyonya Lidya
"Pap, ini Melati anak Pak Rifat, dulu masih kecil waktu kita ketemu." buka Nyonya Lidya memperkenalkan sosok ayu disebelahnya kepada sang suami
"Oh, kamu sudah besar ya Nak, dulu terakhir ketemu kamu masih balita sekarang sudah dewasa ya." imbuh Tuan Harris
"Ayo, kita masuk aja kedalam Mam, kasihan Melati pasti capek juga." tambah Tuan Harris
Hmm, jadi Papi dan Mami sudah pernah ketemu dengan perempuan itu, batin Fabian yang sibuk mengunyah martabak sembari memperhatikan interaksi kedua orang tuanya.
Ketiganya meninggalkan taman belakang kemudian masuk kedalam rumah, di ruang keluarga.
"Mam, sholat Maghrib dulu lanjut Isya abis itu kita lanjut ngobrol-ngobrolnya sambil makan malam." peringat sang suami agar sang istri berhenti sejenak
"Ah iya bener, yuk Melati saya antar ke kamar kamu, kamu istirahat dulu sebentar nanti jam 8 nanti kesini lagi ya kita makan malam sama-sama."
Meski ragu namun Melati hanya bisa menurut dan mengikuti langkah sang majikan. Sebagian dari dirinya tidak percaya kalau ia punya kamar sendiri dan diajak makan malam dengan keluarga majikannya.
Sesampainya di kamar yang akan Melati tempati, Nyonya Lidya meninggalkan Melati untuk beristirahat namun sebelum Nyonya Lidya beranjak Melati memberanikan diri untuk meminta sesuatu kepadanya
"Ma..maaf Nyonya saya..saya apa boleh meminjam telepon untuk memberitahu keluarga saya kalau saya sudah sampai di rumah Nyonya.."
Melati tidak ingin Bapak dan Ibu serta adik-adiknya khawatir karena belum juga menerima kabar dari dirinya.
"Oh boleh dong, tapi Hp saya di tas, ah Sinyooo sini dulu Nak, mami pinjam Hp kamu dong." Melihat Fabian yang hendak naik menuju kamarnya, Fabian pun menghelakan nafas sembari menuju ke arah Mami dan Melati si gadis desa yang menurutnya sudah menyusahkannya.
Fabian menyerahkan Hp miliknya kepada sang mami yang kemudian menyerahkannya ke Melati
"Maaf Nyonya saya, saya tidak tahu caranya..ini butuh password.." karena Hp Fabian memang di kunci dan butuh password untuk membukanya
Fabian kemudian mengambil kembali Hp miliknya dari Melati tak sengaja jarinya bersentuhan dengan milik Melati. Fabian dapat merasakan lembutnya jemari Melati dan hal kecil ini sukses memberikan desiran halus dihatinya dan Melati pun merasakan hal yang sama.
Menyaksikan hal itu Nyonya Lidya berinisiatif untuk meninggalkan mereka berdua. Berharap keduanya dapat lebih akrab.
"Mami naik duluan ya Nyo, Melati ingat jam 8 kita makan malam bersama ya.." Melati menganggukan kepala menurut ucapan sang majikan sedangkan Fabian tetap fokus ke Hp nya dan ketika selesai sosok mami tersayang sudah menghilang. Fabian kemudian menatap sosok gadis desa mungil didepannya, tingginya hanya sebatas dadanya, rambut sebahu miliknya hitam pekat, kulit putih bersih, mata bulat coklat gelap dan bibir merah muda yang hmmm cukup menggodanya untuk...ish apaan sih Fabian protesnya dalam hati mengumpulkan kesadarannya.
"Ini..kamu sudah bisa pakai, mau telepon atau kirim pesan silahkan.."
Melati kemudian meraih Hp yang sudah ada didepannya
"Te..terima kasih tuan muda, saya izin untuk kirim pesan ke Budhe saya di kampung."
Tak mau membuat sang tuan muda menunggu lama Melati kemudian dengan cekatan mengetik pesan
Assalamualaikum,
Budhe, Melati sudah sampai kota dan sekarang sudah di rumah keluarga Wibowo, mohon disampaikan ke Bapak dan Ibu, terima kasih Budhe, sehat-sehat selalu untuk Pakdhe Djarot dan Budhe.
"Ini tuan muda, terima kasih banyak dan maaf merepotkan Anda.." ucap Melati kepada Fabian namun tak berani menatap mata hazel nan mempesona milik Fabian.
Fabian kemudian mengambil Hp nya dan meninggalkan Melati sendiri di ambang pintu kamarnya. Degup jantung keduanya berdisko namun keduanya sama-sama mengabaikannya.
Melati dibuat kembali takjub dengan kamar yang akan ia tinggali, sangat mewah untuk dirinya yang hanya seorang pembantu. Ukurannya yang hampir 2 kali ukuran kamar kedua orang tuanya di desa, belum lagi ranjang queen size dan kamar mandi didalam dan AC yang siap menyejukan raganya ketika cuaca panas. Apa setiap pembantu mendapatkan fasilitas seperti ini pikirnya.
Tak ingin terlena terlalu lama, Melati bergegas membersihkan diri dan melakasanakan sholat, kemudian segera menuju ruang keluarga seperti perintah sang majikan sebelumnya.