Disinilah sekarang Melati, di ruang keluarga milik keluarga Wibowo sang majikan. Hanya rok panjang dan kaos lengan panjang sederhana yang ia gunakan, yang penting ia terlihat rapih dan sudah bersih. Tidak perlu menunggu lama satu per satu keluarga Wibowo mulai muncul, mulai dari Tuan dan Nyonya Wibowo yang dengan ramah melempar senyum kepada Melati yang duduk bersimpuh didekat sofa ruang keluarga.
"Melati, kenapa duduk dilantai yuk duduk diatas sofa sini Nak." pinta Nyonya Lidya
"Maaf Nyonya, saya..saya duduk disini saja Nyonya, saya sudah terbiasa seperti ini."
"Ya sudah, kalau begitu kita ke ruang makan aja Mam...sudah hampir jam 8, tolong minta Bik Tum panggilkan Keisha dan Fabian."
Belum sempat Nyonya Lidya meminta tolong Bik Tum panggilkan Sinyo dan Noni kesayangannya tiba-tiba keduanya mulai menampakan batang hidungnya dari arah tangga.
"Nah, panjang umur! Ayo kita ke ruang makan sekarang, Papi kalian udah laper tuh.."
"Enak aja bilang Papi laper, Mami juga kan udah laper..." balas Tuan Harris sembari tersenyum jahil kearah istrinya yang kemudian dihadiahi cubitan dipinggangnya oleh sang istri.
Keluarga Wibowo dan Melati kini sudah berada di ruang makan, ia melihat sosok perempuan tua yang ia perkirakan berusia 60 tahunan namun masih cekatan mengatur meja makan dan kemudian ia juga melihat sosok wanita usia 40 tahunan yang sibuk keluar masuk dapur untuk menata hasil makanan di meja makan. Menyadari Melati memperhatikan kedua sosok tersebut Nyonya Lidya kemudian berinisiatif memperkenalkan Melati kepada kedua pekerjanya
"Melati, kenalkan ini Bik Tum dan Anaknya Lestari...Bik Tum, Lestari kenalkan ini Melati putrinya Pak Rifat, cucunya Pak Rasyid..."
"Woalah ini tho anak'e Rifat..ayu ne mirip Rifat Utami yooo Nyah!" Bik Tum kemudian meraih tangan Melati dan memeluknya hangat
Ah, Melati merasa lega karena ada sosok lain yang mengenal kedua orang tuanya dirumah mewah ini.
"Saya Lestari, anak Bik Tum...dulu waktu saya kecil suka diajak main sama Bapak kamu main sepeda dan Eyang Rasyid...mereka sudah menganggap kami seperti keluarga, ya kan Buk" Lestari menambahkan pelukan kepada Melati sembari mengusap halus rambut hitam panjang Melati yang tergerai.
Ya, Eyang Rasyid sudah mengabdi kepada kedua orang tua Tuan Harris Wibowo jauh sebelum Tuan Harris Wibowo lahir bahkan sebelum dirinya menikah dengan Uti Aini. Kesetiaan Eyang Rasyid mengabdi lebih dari 40 tahun diteruskan oleh Rifat sang putra.
"Mulai besok Melati akan membantu saya mengelola Toko ya Bik...jadi Bik Tum dan Lestari bisa fokus bantu saya mengurus rumah, dan Karsa fokus urus taman, kolam sama Bella, Nella Benson dan Samson."
Karsa? Bella? Nella? Benson? Samson? siapa ya mereka batin Melati
Seolah tahu apa yang ada dipikiran Melati, buru-buru Nyonya Lidya memberikan klarifikasi
"Karsa itu menantu Bik Tum, suami dari Lestari, tugasnya merawat rumah bagian luar seperti taman depan, samping, belakang, kolam ikan, kolam renang dan mengurus kucing kesayangan keluarga kami Bella, Nella, Benson dan Samson, mereka ada cat room sebelah kolam renang, kamu boleh main sama mereka sewaktu lowong." Nyonya Lidya berusaha menjelaskan kepada Melati, Melati pun hanya bisa membalas dengan senyum manisnya dalam hati ia merasa senang karena diperbolehkan bermain dengan Bella, Nella, Benson dan Samson dikala ia tak sibuk.
"Mam, aku gak dikenalin nih.." protes Keisha
"Lah iya...Mami lupa! Nah, Melati kalau ini Keisha, anak perempuan saya satu-satunya, adiknya Fabian."
"Salam kenal, nama saya Melati Non..."
"Halo Melati, aku Keisha panggil Kakak aja juga boleh kok..." Keisha memperkenalkan dirinya menerima jabat tangan halus Melati disertai dengan senyum manisnya.
Sungguh keluarga Wibowo meskipun bergelimang harta tak menjadikan mereka angkuh, meskipun hanya sosok Tuan Muda Fabian saja yang menurutnya dingin, apapun itu semoga Melati tidak akan mengecewakan keluarga di kampung maupun keluarga sang majikan.
"Yuk, kita duduk dan mulai makan Mam, supaya Melati bisa segera istirahat." Tuan Harris mengingatkan sang istri.
"Ah iya yuk..."
Bik Tum dan Lestari kemudian meninggalkan ruang makan, hal tersebut membuat Melati merasa tidak enak, bukankah ia seperti Bik Tum dan Bulik Lestari hanya pekerja, tapi kenapa hanya dia yang diajak makan di meja makan?
Melati pun memberanikan diri
"Maaf Tuan, Nyonya, saya..saya makan didapur saja.."
"Eh, kenapa disini aja bareng-bareng..." jawab Nyonya Lidya
"Ta..tapi Nyonya saya.."
Tiba-tiba...
"Udahlah Mam, jangan dipaksa...biar aja dia mau makan dimana...keburu malam, Bian mau balik ke Apartemen!"
"Fabian! jaga sikap kamu." Tuan Harris Wibowo mengingatkan sang putra untuk berlaku sopan dan bersabar.
Tak mau memperkeruh keadaan, Nyonya Lidya merelaka Melati yang pamit menuju dapur menyusul Bik Tum dan Lestari dan segera duduk menyusul sang suami dan kedua anaknya, makan malam pun berlangsung hening, tanpa pembicaraan berarti, hanya terdengar alat makan selama makan malam keluarga Wibowo berlangsung malam itu.
Sedangkan Melati yang tengah berada di dapur menghampiri dua sosok wanita berbeda generasi dihadapannya
"Bik Tum, Bulik Lestari...Boleh Melati ikut makan disini?" tanya Melati sopan
"Ya boleh dong sayang, yuk sini kita makan bareng." sambut Lestari
"Kenapa ndak makan sama Tuan Nyonya Nduk?" tanya Bik Tum penasaran sembari menuangkan nasi dan lauk ke beberapa piring
"Saya..saya ndak enak Bik, gak biasa juga makan pakai sendok garpu, lebih enak makan pakai tangan." jawabnya halus
Bik Tum dan Lestari tertawa mendengar jawaban jujur Melati
"Ya sudah makan sama kami disini aja sebenarnya apa yang mereka makan kami juga makan disini kok cuma memang disini bebas mau makan pakai sendok garpu boleh, pakai tangan ya juga boleh." jawab Lestari sambil terkekeh
"Nah ikuloh, Karsa wes mari ngopeni Samson." (Nah itu, Karsa sudah selesai mengurus Samson)
Sang empunya nama pun tersenyum dari kejauhan kemudian membasuh tangan dan segera bergabung untuk makan malam bersama.
Makan malam hari pertama bersama sesama pekerja dilalui dengan canda tawa, dari pembicaraan tersebut Melati mengetahui bahwa Bik Tum sudah bekerja lebih dari 30 tahun dan 15 tahun lalu tinggal bersama sang majikan sejak sang suami meninggal dunia, sang anak Bulik Lestari anak satu-satunya pun sudah sekitar 10 tahun mengabdi bersama suaminya Pak Karsa yang sebelumnya keduanya adalah pekerja pabrik namun karena PHK mereka pun ikut bekerja dikediaman keluarga Wibowo, keduanya memiliki 3 orang anak di kampung bersama mertua dari Bulik Lestari, sementara mereka tinggal dirumah ini dengan Bik Tum dan secara rutin pulang kampung menjengguk ke tiga buah hati mereka yang saat ini duduk dibangku 2 SMA, 3 dan 1 SMP.
Para pekerja memiliki kamar sendiri dibagian belakang rumah dekat service area dan taman belakang, ada bangunan dengan 2 kamar dengan ukuran yang tidak terlalu besar namun bagi mereka dapat dikatakan sangat layak untuk ditinggali, ada AC meskipun jarang sekali mereka pakai, televisi, kamar mandi yang bersih dan bahkan pemilik rumah menyediakan area santai, kulkas dan dapur ukuran sedang yang dapat mereka gunakan.
Setelah membereskan piring-piring bekas makan malam keluarga Wibowo, Melati tidak langsung menuju kamarnya, ia memilih untuk melihat-lihat taman depan yang dihiasi lampu-lampu dan tanaman cantik yang memanjakan matanya sembari merehatkan kakinya sejenak. Aroma khas dari tanah yang basah karena hujan menyeruak memberikan ketenangan tersendiri bagi Melati malam itu. Pikirannya jauh melayang ke kampung halaman, sampai tak sadar Fabian berada didekatnya hendak bersiap meninggalkan kediaman keluarga Wibowo.
"Kamu ngapain disini?!Diluar dingin, kamu mau sakit terus jadi nyusahin semua orang?!" pertanyaan pedas Fabian menyadarkan lamunan Melati dengan segera ia bangkit dan menundukan kepala ada rasa sakit dihatinya, sungguh ia tidak bermaksud ingin sakit dan menyusahkan orang lain.
"Mma..maaf Tuan Muda, saya tidak bermaksud seperti itu, saya hanya ingin rehat sejenak..."
"Cckk.." respon Fabian yang seolah tak ingin dibantah semakin membuat Melati beringsut
"Saya bukakan pintu gerbang ya Tuan."
"Gak perlu, didepan ada Jono sekuriti disini, masuk!" perintah Fabian kepada Melati seolah tak ingin dibantah Fabian membuka lebar pintu dibelakangnya dan Melati pun langsung menuju pintu mewah yang sudah terbuka oleh tuannya
"Baik Tuan Muda..hati-hati dijalan."
Ish..Melati apa-apaan sih! Melati merutuki dirinya sendiri dan berharap sang Tuan Muda tak mendengar ucapannya, ia tak ingin dianggap sok dekat atau tidak sopan oleh Tuan Mudanya.
Sedangkan Fabian menjadi salah tingkah mendengar ucapan lembut dan terdengar tulus dari bibir ranum Melati. Ranum...oh no no no Fabian! Ayolah, dia hanya gadis desa yang bekerja untuk Mami! Usianya jauh lebih muda! Arrrghh..pikirannya semakin menjadi tak karuan.
Fabian berdeham berusaha menetralisir jantungnya yang berdetak tak beraturan dan kemudian segera memacu kendaraan untuk segera meninggalkan kediaman keluarganya menuju apartemen, tempat dimana ia menyendiri dari hiruk pikuk pekerjaan yang terus menerus menghajarnya, belum lagi keluarganya terutama Maminya yang selalu saja memaksanya berkenalan dengan anak perempuan kenalannya.