Irene duduk seorang diri di ruang makan seraya menundukan kepalanya dalam. Tak ada suara apa pun yang terdengar, bahkan tak ada satu pun makanan yang tersaji di atas meja. Irene masih mempertahankan posisi yang sama meski suara langkah Reiki yang baru keluar dari kamarnya terdengar olehnya. Ketika Reiki sudah berdiri di hadapannya pun, Irene masih bergeming di kursinya. Di sisi lain Reiki mengernyitkan alisnya, menatap kondisi meja yang kosong melompong tanpa ada satu piring pun makanan, ditambah kondisi Irene yang menurutnya aneh itu, membuatnya kebingungan. Lantas dia berdeham cukup kencang, berharap Irene mengangkat kepalanya setelah mengetahui keberadaan dirinya di ruang makan. Nyatanya usahanya nihil karena Irene masih tetap menunduk. “Ren, kamu belum nyiapin makanan ya? Mau a

