"Aduh.." Aina terjatuh saat lelaki itu menabraknya.
"Maaf...saya tidak sen__" Ucapannya terhenti saat melihat gadis itu menongak "Aira?"
Saat itu juga ia terkejut karena yang di tabrak adalah Aira sahabatnya sendiri tapi itu bukanlah Aira melainkan Aina. Lalu Vino membangunkannya yang masih duduk lesu di jalan taman yang di penuhi salju.
"Maaf ra saya tidak sengaja, apa ada yang luka?" Tanya Vino khawatir.
"Udah gak apa-apa kok."
"Kamu mau kemana?biar saya antar." Dengan begitu Vino tersenyum saat melihat Aira tak lagi menjauh darinya tapi sekarang posisinya beda.
"Tidak perlu, aku tidak mau merepotkanmu." Kata Aina meniru ucapan Aira, walaupun nada bicaranya beda.
"Saya sahabatmu Aira jangan lupakan itu. Saya bisa saja mengantar dan menjemputmu kapan saja saat kamu membutuhkan saya." Lirih Vino dan menggandeng tangan Aina.
'Beruntung banget sih Aira punya sahabat laki-laki seganteng ini.' Batin Aina.
"Boleh gak anterin aku beli ikan salmon?" Sebenarnya Aina tidak terbiasa dengan ucapan seperti ini dan juga dia lebih menyukai bahasa gaul dibandingkan bahasa aku, saya, dan kamu.
"Boleh, kemarin kamu kenapa lari?"
"Em__" Gugup Aina tapi tidak dengan Aira yang gugupnya selalu menggigit kukunya atau tidak berlari sampai menemukan tujuannya.
"Itu aku di suruh pulang sama bunda jadi aku lari." Jelas Aina berbohong karena dia tidak tau apa-apa tentang kembarannya. 'Apa mungkin ini ada sangkutannya saat Aira lari terbirit-b***t dengan nafas terengah-engah?' Batin Aina.
"Ohh, saya pikir kamu tidak ingin bertemu dengan saya."
"Maaf ya."
"Tidak apa-apa, kamu mau beli apa?"
"Beli ikan salmon di suruh sama bunda."
"Ya sudah saya tunggu di luar, kamu beli aja."
"Oke."
Aina masuk ke dalam toko, mengambil ikan salmon dan beberapa makanan ringan untuk menonton drama korea bersama Aira. Sementara Vino bermain ponselnya, sampai akhirnya Jaewoo menelponnya.
"Apa?"
"Sudah aku bilang, aku akan berkencan dengan Aira."
"Apa ini tidak teralu cepat woo?"
"Kenapa?kamu cemburu?"
"Ti_dak bu_at apa aku cemburu." Kata Vino dengan ucapan terbata-bata.
"Sudahlah Jaemin, aku sudah tau kau itu tidak terima kenyataan. Karena aku bisa mendapatkan Aira, ya sudah aku matikan telponnya."
Jaewoo pun mematikan teleponnya, Vino tidak terima jika gadis itu akan menjadi milik Jaewoo, apa itu semua akan terjadi?
"Jae..Jaewoo!!" Seru Vino tapi telat karena Jaewoo sudah mematikannya.
"Kamu telponan sama siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Jaewoo, kamu ingin berkencan dengannya?"
"Hah?" Aina terkejut dia tidak tau apa-apa 'Cinta segitiga azekk, punya kembaran ternyata bisa bikin hati laki-laki klepek-klepek. Kayaknya ni cowo gak tau Aira punya kembaran deh." Batin Aina membayangi dirinya yang menggantikan posisi Aira.
"Tidak...tidak... ada, tidak usah dipikirkan."
"Setelah ini kamu mau pulang atau mau pergi ketempat lain?" Tanya Vino mengalihkan pembicaraan agar Aina melupakan perkataanya.
"Pulang aja, aku juga sudah cape."
"Ya sudah, tapi saya antar kamu sampai depan rumah karena saya ada keperluan."
#
"Iya, kamu hati-hati di jalan."
Aina melambaikan tangan dan Vino membalas dengan senyuman manisnya alhasih membuat Aina baper "Ganteng banget sih, inget na masih ada Gavin gak boleh sampai pindah ke hati orang lain." Kata Aina saat melihat Vino berjalan menjauh darinya.
"Siapa tuhh?" Tanya Aira yang baru saja keluar dari gerbang.
"Bukan siapa-siapa kok." Kata Aina sambil tersenyum tipis.
"Ra, lo punya cowo?" Perkataan Aina membuatnya terkejut.
"Ng-gak, kenapa?" Aira yang gugup tapi dia menahannya.
"Lo jangan bohong sama gue." Aina menyeringai dan saat itu juga bunda datang membawa cookies di depan mereka berdua.
"Siapa yang berbohong?" Tanya bunda telat mendengar percakapan mereka berdua.
"Tidak ada bun." Kata Aina menatap Aira dingin.
"Ini cookies buat kalian berdua."
"Makasih bun." Kata mereka berdua dan mengambil cookies buatan bunda melupakan percakapan mereka berdua.
"Habis itu bantu bunda masak ya."
"Iya bunda." Mereka berdua menjawabnya dengan serempak dan bunda hanya tersenyum.
#
"Semuanya harus indah." Kata Jaewoo berbicara dengan seorang di telepon.
"Kami akan mempersiapkannya dengan sebaik mungkin."
"Baiklah, kalau begitu saya tunggu kabarnya pak."
Setelah itu Jaewoo mematikan teleponnya dengan senyum manisnya memegang foto Aira yang sengaja dia tempel di dinding kamarnya itupun dia harus meminta fotonya kepada Hyemi.
"Ini memang teralu cepat tapi hatiku tidak salah memilih perempuan seperti dirimu Aira."
Jaewoo adalah seorang lelaki yang baik tapi saat ketemu perempuan yang pertama di lakukan adalah mendekatinya seperti apa dirinya dan apa ada lelaki yang mendekatinya kecuali dia.
Jaewoo tidak ingin salah memilih perempuan seperti mantannya yang dulu sangat dia cintai tapi saat itu juga pacarnya mensembunyikan lelaki lain darinya, saat itu Jaewoo sedang membawa bunga untuk kekasihnya di sebuah apartemen di Busan.
Jaewoo sangat menyayanginya dan karena teralu rindu akhirnya dia menghampirinya dengan penuh rasa cinta tapi saat itu juga Jaewoo melihat perempuan itu tengah bersenang-senang di sofa sambil berciuman dengan lelaki lain.
Sejak itulah Jaewoo memutuskannya dan terus mengumpat kepada perempuannya, berlalu pergi dari apartemen. Menenangkan hatinya yang rapuh dan tidak ingin menemui perempuan itu lagi.
"Jaewoo!!" Panggil Vino membuka pintu kamar milik Jaewoo.
"Ada apa?" Dengan muka datarnya berbalik hadap ke arah Vino.
"Kamu beneran mau kencan dengannya?"
"Iya, ada yang salah dengan ucapanku?"
"Tidak, apa ini tidak teralu cepat?"
"Memang rencana aku untuk berkencan dengannya hanya sebatas makan malam saja tapi jika aku mengatakannya pasti dia akan mau."
"Jangan terlalu banyak berkhayal, apa secepat itukah Aira mencintaimu itu tidak mungkin."
"Darimana kau bisa berfikir seperti itu, apa kau cemburu?"
Jaewoo terkekeh pelan.
"Tidak, aku tidak cemburu tapi jika dia menolakmu bagaimana?"
"Kau ingin membuatku marah ya?"
"Bukan, saya hanya ingin bertanya saja."
"Bilang aja kamu cemburu." Ejek Jaewoo.
"Sudah saya bilang saya tidak cemburu dengan sahabat saya sendiri."
"Inget ya cuma sahabat tapi tidak lebih karena dia akan segera menjadi milikku dan kamu sebagai adikku jangan merebutnya."
"Kau sangat berlebihan, jangan terlalu banyak menonton drama."
Vino hanya tertawa melihat kelakuan Jaewoo dengan mantannya yang selalu bucin sampai ikut-ikutan menonton drama.
"Tidak."
"Tidak mungkin saya tidak tau jika kamu sering menonton dengan Eun__"
"Stop, aku tidak suka kau menyebut nama perempuan b******k itu lagi."
"Bukannya dia adalah perempuan yang sangat kamu cintai?"
"Itu dulu sekarang sudah pindah ke lain hati."
"Ohh, tapi ingat kamu jangan sampai nyakitin dia."
"Aku tidak akan nyakitin dia yang ada kamu."
"Saya tidak pernah memainkan hati perempuan."
"Apa kamu tidak mencintai Yejin?"
"Tidak."
"Tipe ideal perempuanmu seperti apa?"
"Seperti Aira." Vino mengucapkannya dengan senyuman membuat Jaewoo geram.
"Kamu menyukainya?" Sebal Jaewoo.
"Kamu bertanya siapa tipe ideal perempuan saya jadi saya menjawab seperti Aira dan belum tentu jodoh saya Aira, banyak di luar sana yang sama seperti Aira." Jelasnya membuat Jaewoo salah sangka.
"Maaf, aku kira kamu suka Aira."
Vino hanya tersenyum tipis dan keluar dari kamar Jaewoo yang menurutnya membosankan karena barang-barang yang berserakan dimana-mana.
Vino memanglah orang yang tidak bisa diam apalagi melihat rumah besar yang berisikan dua orang saja dan asisten rumah tangga yang selalu membersikan rumah dan sorenya baru pulang.
"Main basket kuy, sekalian gue ajak pacar gue." Jawab seorang dari seberang telepon.
"Oke, saya tunggu di lapangan dekat rumah saya."
Vino berbincang-bincang dengannya setelah itu barulah dia pergi ke lapangan basket dan menunggunya.
###
Mampir juga ke lapak Boss Needs Me & Suddenly Marriage^^