Bab 10

1233 Kata
"Saya kira kamu tidak datang Gavin." Gavin hanya terkekeh kecil, sebenarnya tadi dia lama karena ada urusan dengan ayahnya. "Maaf vin, gue tadi ada urusan keluarga." "Tidak apa-apa, mana perempuan yang kamu bawa?" Tanya Vino masih mengingat ucapan Gavin di telepon. "Dia tidak bisa datang karena dia masih rindu sama keluarga kecilnya." Ada jeda dari ucapannya. "Karena ibu dan adiknya tinggal di Korea Selatan, jadi dia menghabiskan waktunya bersama mereka." "Ya sudah kalau begitu. Yang lain sudah menunggumu lama." Gavin juga sama dengan Vino suka bermain basket saat itu Gavin tinggal di Korea Selatan, mereka berdua selalu bersama tapi saat sudah SMA Gavin pindah ke Indonesia karena ayahnya menyuruhnya pulang. Mereka bermain sampai akhirnya benda berat berbentuk lingkaran itu mengenai tengkuk Vino dengan pantulan yang keras dan membuatnya kesakitan, semua pemain basket berkumpul mendekati Vino yang tersungkur di tengah lapangan. "Vin banguunn!!" Gavin mencoba menggerakkan tubuh Vino tapi tak bisa. Gavin mencoba lagi untuk menyadarkan Vino yang sedang pingsan tapi tetap tidak bisa dan akhirnya Gavin dan yang lain membawa Vino ke rumah sakit. Jaewoo yang mendengar berita Vino pingsan melalui Gavin dan langsung bergegas menuju rumah sakit. "Bagaimana keadaan Vino?" Khawatir Jaewoo. "Dokter masih memeriksanya." Kata Gavin dengan tubuh gemetar dan rasa khawatir yang sama seperti Jaewoo. Beberapa saat kemudian pintu terbuka menampakkan dokter dengan raut muka yang serius. "Apa ada keluarga dari Jaemin?" "Saya, dok." Kata Jaewoo menaikan tangan kanannya, ada jeda dalam ucapannya"Bagaimana keadaan adik saya, dok?" "Ternyata kamu Jaewoo, adikmu hanya terbentur saja, tapii..." "Tapii kenapa dokter Erland?"Kata Jaewoo penuh rasa kekhawatiran. "Saya jelaskan di ruangan saya saja." Jaewoo ngangguk dan pergi ke ruangan dokter Erland yaitu dokter andalan keluarga Vino. "Sebenarnya Jaemin mengalami amnesia kembali, tapi ini hanya sebentar saja. Saya hanya mengingatkan berinteraksi dengannya dan jangan membahas masa lalu tentang dirinya." "Baik dok, saya akan mengikuti perintah dokter." "Apa ayah dan ibunya pulang ke Korea atau kembali di Indonesia?" "Ayah kembali ke Indonesia dan mama sedang di Daegu, karena dia juga sibuk sebagai dokter sama seperti anda." "Saya pikir kalian tidak akan bertemu karena kedua orang tuamu terlalu sibuk." Ada jeda dalam ucapannya "Suster akan mengambilkan obat dan makanan untuknya. Kamu tunggu saja dia sadar." "Iya dok, kalau begitu saya permisi." Jaewoo duduk di sofa melihat Vino terbaring lemah di ranjang rumah sakit. "Kenapa penyakit itu kembali lagi, setauku saat dia terkena basket dia tak pernah seperti ini." Gumamnya dan terdengar suara pintu terbuka menampakkan Gavin. "Bukannya kamu pamit tadi mau pulang." "Tadi sih tapi saya melupakan sesuatu." Gavin mengeluarkan kotak berwarna putih berpita merah muda dan di berikan kepada Jaewoo. "Ini apa?" Tanya Jaewoo penasaran. "Gue gak tau tapi yang jelas itu kotak dia bawa saat di lapangan basket." "Kalau begitu gue pamit pulang." Pamitnya dan Jaewoo penasaran dengan kotak putih itu. Jaewoo membukanya, ia mendapati syal berwarna biru muda. "Untuk siapa syal ini, apa dia memiliki perempuan? tidak mungkin." Batin Jaewoo. # "Kau suka hadiahnya?" "Suka, aku akan menjaga bunga mawar ini sampai dia tumbuh besar sama seperti kita nanti." Perempuan itu tersenyum begitu juga dengan Vino yang sangat bahagia dipertemukan dengan perempuan penyuka mawar merah ini. "Aku akan terus menunggumu dari tahun ke tahun sampai kita bisa bertemu kembali." Vino yang masih dengan posisinya di ranjang tiba-tiba saja perlahan membuka kedua matanya dan melirik ke arah Jaewoo yang masih melihat kotak putih itu karena ada surat tersimpan di bawah syal. Jaewoo yang ingin membuka surat itu langsung menutup kotak tersebut karena Vino sudah sadar dan melihat Jaewoo seperti orang asing di matanya. "Kamu siapa?" Tanya Vino memperhatikan Jaewoo. "Aku Jaewoo, sepupumu dan sekarang aku saudaramu." Vino memegang kepalanya mengingat kembali kejadian tapi dia tak bisa mengingat kejadian itu. Di pikirannya hanyalah perempuan yang di mimpinya, tapi sayang dia tidak mengenalinya. Karena Vino melihat perempuan itu dengan penglihatan yang buram. "Jaewoo?" "Iya ini aku yang selalu mengganggumu." "Maaf saya tidak bisa ingat, apa saya memiliki orang tua?" "Ayah sedang mengurus perusahaannya di Indonesia sementara mama sedang di Daegu sebagai seorang dokter, mereka sangatlah sibuk." "Hm, apa kau tau perempuan itu?" Tanya Vino bertanya alhasil membuat Jaewoo bingung dengan pertanyaannya. "Perempuan siapa maksudmu?" Sekarang giliran Vino yang bingung sama dirinya sendiri, kenapa dia bertanya soal perempuan yang ada di mimpinya. Jelas-jelas dia saja tidak mengenali perempuan itu. "Kau baru sadar, lebih baik kau makan dulu." Kata Jaewoo memberikan Vino makanan dan juga dia tidak mau mendengar kata-kata dari Vino yang membuatnya bingung. "Terimakasih." "Jangan bilang makasih, setiap hari juga kau mengambil apa saja dariku." "Oh maaf, saya tidak tau." "Ternyata amnesiamu ini parah juga padahal kata dokter ini cuma sebentar." "Apa separah itukah penyakit saya?" "Tidak juga, aku ke toilet sebentar. Lanjutin makannya." Vino mengangguk dan menghabiskan makanannya tak lupa dia meminum obat, Baru selesai makan Vino beranjak dari ranjang tempatnya berbaring karena ia sangat bosan di ruangannya akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan hari ini juga sudah sore menjelang malam. Vino berjalan-jalan di sekitar taman dari atas sini dia bisa melihat pantai dengan ombak kencang dan melihat matahari terbenam di ufuk barat. Vino yang menikmati pemandangan terkejut saat perempuan memakai baju dokter datang menghampirinya. "Vino!!!" Panggil bunda Aira. "Siapa Vino?" Tanyanya, nama sendirinya saja dia tidak ingat. "Nama kamu Vino." Kata bunda mengernyitkan keningnya. "Maaf saya tidak ingat apapun." Jujurnya 'Anak ini kenapa?' batin bunda melihat Vino yang berbeda. "Kamu masih ingat saya?" "Tidak." "Saya bundanya Aira, kamu yang menyelamatkan anak saya dari pencuri waktu di rumah saya." Vino mengingat-ingat tapi nihil dia tidak bisa mengingatnya yang ada kepalanya tambah sakit. "Akhhh..." Vino meringis kesakitan. "Sudah kamu jangan ingat kejadian-kejadian itu." Kata bunda mengelus bahu Vino agar dia tidak mengingat kejadian yang pernah dia alami sebelumnya. "Ruangan kamu di mana?" Tanya bunda lalu Vino memberitahukannya dan bunda mengantarkannya sampai ruangannya. "Kamu kemana saja, aku mencarimu." Khawatir Jaewoo dan menoleh ke samping Vino. "Eh ada bundanya Aira." "Iya, saya melihat Vino di taman tapi kepalanya sakit jadi saya antar ke ruangannya." "Terimakasih tante." "Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit bunda tapi saat membuka pintu Jaewoo mulai berbicara. "Iya tante, Aira pergi atau tidak bunda?" "Dia ada di rumah, bersama saudaranya dari Indonesia." "Ya sudah tante, aku akan menemuinya." Barulah saat itu juga bunda keluar dari ruangan, meninggalkan kedua kakak beradik itu di dalam. "Apa kau dekat dengan perempuan itu?" "Iya, aku akan berkencan dengannya. Menurutmu itu ide yang bagus? agar dia bisa menerimaku." "Baguss, jika itu keputusanmu tapi apa perempuan itu juga mencintaimu?" "Entah, tapi aku merasa dia menyukaiku." "Kalau dia mencintaimu juga katakanlah padanya dan saya akan mendukungmu sampai kalian berdua bersatu." Kata Vino sambil tersenyum dan Jaewoo terlihat senang karena Vino tidak seperti kemarin-kemarinan yang selalu mencegahnya agar dia tidak berkencan dengan Aira. 'Kau sudah berubah vin, aku akan menjauhkanmu dengan Aira.' Batin Jaewoo dengan senyuman tipisnya. "Siapa nama perempuan yang kamu kencani itu?" "Namanya Aira, apa kamu mengenalinya?" Tanya Jaewoo memastikan agar Vino tidak mengingat Aira sama sekali karena jika dia ingat semua yang dia rencanakan gagal. "Tidak, aku tidak ingat." Jawabnya membuat Jaewoo bernafas lega, tapi ada jeda di ucapannya."Apakah dia sahabatku?" "Tidak mungkin, jika kau melihatnya mungkin kau tau siapa dia." "Lupakan pertanyaan saya. Saya hanya mengarang saja, jelas saja saya tidak mengenalinya." "Oh, kalau begitu istirahatlah. Aku harus pergi menemuinya." Kata Jaewoo dan Vino mengangguk, barulah Jaewoo keluar dari ruangan. Setelah Vino menutup kedua matanya. ### Jangan lupa mampir ke lapak yang lain ya^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN