Bab 11

1251 Kata
"Sampai kapan lo nyembunyiin ini dari gue, ra?" "Aku sudah bilang kepadamu, aku tidak memiliki kekasih." "Benarkah?, Lalu siapa lelaki itu." Aina memperlihatkan foto yang sempat dia potret saat di dalam supermarket, yang dia potret itu adalah Vino yang berdiri sedang mengangkat telpon. "I-tu sahabatku." Gugupnya membuat Aina terkekeh pelan. "Gue gak percaya, dia itu ganteng kok lo cuma bilang sahabat atau mungkin dia pacar lo." "Tidak, aku berbicara jujur Aina. Aku saja tidak memiliki perasaan padanya." Aira saja tidak tau perasaannya yang sebenarnya, apa dia sudah membuka hatinya untuk lelaki?dia saja yang melihat Vino ingin kabur saja. "Gak mungkin, lo pasti punya perasaan. Udahlah Aira, lo gak bisa bohong lagi." "Berapa kali, aku sudah bilang padamu. Aku tidak memiliki perasaan apapun dengannya jika kau menyukainya aku akan mendukungmu sampai kalian bersatu." Nada bicaranya makin meninggi, membuat Aina terdiam melihat kembarannya mulai kesal. "Jangan seperti itu ra, aku sudah memiliki pacar jadi jangan berfikir aku akan merebutnya darimu." "AINAA!!!!" Serunya mulai geram dengan kembarannya itu. "Muka lo kalau lagi marah lucu tau." Kata Aina sambil tertawa saat itu juga kemarahan Aira semakin mereda. "Gak ada yang lucu, aku mau keluar." "Jangan marah lagi, gue gak bermaksud buat lo kesal." Aina memasang muka memelas. "Iya tau kok, aku mau siram tanaman dulu." "Oh oke, gue mau pergi bareng doi gue. Bye." Kata Aina dan pamit pergi tapi sebelum itu. "Ingat, jangan pulang teralu malam." Aira mengingatkannya. "Iya, gue tau kok." Kata Aina sebel keluar dari perkarangan rumah lalu berjalan dari rumah menuju halte bus. Sementara Aira menyiram bunga mawar merahnya yang kini tumbuh besar, banyak sekali bunga mawar merah yang Aira tanam karena Aira sangat menyukainya. "Setiap hari aku melihat bunga ini aku selalu mengingatmu Alvin." Kata Aira mengingat kembali kejadian masa lalu bersama lelaki bernama Daren itu. Dimana lelaki itu setiap hari minggu selalu memberikannya sekuntum bunga mawar merah, Aira yang selalu di berikan tidak pernah merasa bosan tapi saat dia pindah ke Amerika karena bundanya ada perkerjaan di sana. Mau tidak mau Aira harus mengikuti keinginan bunda dan juga di sana dia bersekolah namun hanya sebentar, setelah perkerjaan bunda selesai barulah dia kembali ke Korea. Rumah yang Aira tempati sudah lama tidak berpenghuni tapi rumahnya selalu dibersihkan oleh asisten rumah tangga, rumahnya tetap seperti dulu dan yang paling mengejutkan adalah, banyak sekuntum bunga mawar merah dan sebuah bucket mawar merah yang segar di taruh di depan pintu dan di dalamnya terdapat selembar kertas. Hai! Apa kamu masih mengingatku? Kamu apa kabar? Apakah kamu baik-baik saja? Aku selalu membawakanmu bunga mawar merah, kamu tidak pernah merasa bosan dengan bunga mawar merah yang selalu aku berikan padamu tapi hari ini aku membawanya untuk terakhir kalinya, karena aku selalu merindukanmu dan selalu mimpikanmu setiap malam. Aku selalu menunggumu agar kau kembali, jangan lupakan aku dan jangan tinggalkan aku. Bunga mawar yang selalu aku berikan kepadamu kamu menjaganya dengan baik, aku melihat asisten rumah tanggamu setiap harinya selalu membersihkan perkarangan rumahmu. Tapi untuk hari ini aku pergi, bukan berarti aku meninggalkanmu atau melupakanmu. Aku berharap kau tidak kesepian, mungkin kali ini kita tidak dipertemukan tapi di lain hari. Aku menunggumu sampai umurku sudah siap untuk berumah tangga dan kedua orang tuaku akan menjodohkanku dengan pilihannya, kembalilah kepadaku Aira. Aku berharap kau adalah perempuan yang pertama dan yang terakhir untukku, bagiku kau adalah segalanya. "Aku mencintaimu Aira." Mungkin saat kau sudah kembali, kau tidak akan bisa menemuiku karena aku sudah pergi dari sini. Tapi aku pastikan kau akan menemuiku, aku akan mengingatmu kelinciku. To: Aira From: Alvino # Aira yang masih melamun sambil menyiram tanaman memikirkan lelaki bernama Alvin yang selalu terlintas di pikirannya, 'kamu di mana?aku nungguin kamu, kamu baik-baik aja kan?, aku harap kamu akan selalu bahagia walaupun aku gak ada di samping kamu.' Kata Aira dengan kepalanya yang penuh memikirkan Alvin. Sampai-sampai dia tidak sadar bahwa Jaewoo ada di dekatnya sedang melambaikan tangannya ke muka Aira tapi tidak ada respon. "Airaaa!!!" Panggilnya dengan nada tinggi. "Astaga, Vino." Terkejut Aira tapi mulutnya refleks mengucapkan nama Vino dan Jaewoo mengernyitkan keningnya. "Kau membuatku kaget." "Maaf ra, kamu dari tadi aku liatin ngelamun terus, ngelamunin apaan?" "Gak ada." "Kamu lamunin Vino ya?" "Tidak...tidak." "Tapi kamu menyebut namanya." "Aku gak nye-but nama-nnya dia." Gugup Aira yang tidak sadar jika dia mengucapkan nama Vino padahal yang dipikirkannya adalah Alvin bukan Vino. 'Aku kan mikirin Alvin bukan Vino, kok bisa aku nyebut namanya dia?' Batin Aira dalam hatinya berusaha meyakinkan bahwa dia tidak memikirkan Vino yang di pikirannya hanyalah Alvin. "Aku tau kamu lagi mikirin dia dan sekarang Vino lagi dirumah sakit." Aira yang mendengarnya langsung terkejut saat mendengar Vino masuk ke rumah sakit. "Apa?" "Iya, dia masuk rumah sakit karena kepalanya terkena pukulan basket dan mengakibatkan dia amnesia kembali yang sudah ia derita selama bertahun-tahun." "Seriusan?" "Iya serius sayang." "Jangan sebut aku seperti itu." Sebal Aira. "Maaf ra." Jaewoo hanya nyengir sedangkan Aira sedang menghawatirkan Vino. "Iya gak apa-apa, aku mau jenguk Vino kamu bisa anterin aku ya?" Aira memohon untuk diantarkan ke rumah sakit dimana Vino di rawat inap, awalnya Jaewoo yang sangat antusias ingin mengajak Aira berkencan sayangnya ekspetasinya tidak sesuai dengan realita. 'Lain kali saja aku mengajaknya.' batin Jaewoo, padahal dia sudah merencanakan. "Jae, jadi gak nih?" Tanya Aira yang ingin sekali ketemu Vino. "Iya jadi." Aira hanya tersenyum saat Jaewoo membukakannya pintu mobil dan mengucapkan terima kasih padanya. Di dalam mobil tidak ada yang mulai pembicaraan. Sampai akhirnya Aira yang memecahkan keheningan. "Jae, boleh gak anterin aku ke toko buah." "Bisa kok, kemanapun kamu pergi aku pasti akan mengantarkanmu asalkan sama ayang Aira aja." "Idih." Baru saja mereka berbicara mereka sudah sampai di toko buah, lalu keluar dari mobil. "Gak apa-apalah jalani aja dulu siapa tau akhirnya jodoh." "Sekali lagi kamu bicara..." ucapannya terjeda, Aira melepaskan sepatu selopnya dan ingin melemparkannya ke arah Jaewoo. "Sepatu ini akan melayang mengenai mukamu!" Kesal Aira menaikkan bibir atasnya dan memakai kembali sepatu biru mudanya itu. "Ampun nyai." Kata Jaewoo menempelkan kedua telapak tangannya. Aira menatapnya tajam setelah itu barulah dia masuk ke toko buah, hampir setengah jam Aira berada di dalam toko tersebut. # "Maaf ya, aku lama tadi karena bingung mau pilih buah yang mana." Nadanya berubah lembut tidak seperti yang tadi, memang di dalam toko buah dia bingung milih buah apel atau pir jadi dia ragu memilih dan akhirnya dia memilih dua-duanya. "Iya gak apa-apa." Kata Jaewoo dengan nada pasrah saat dia sudah lama menunggu diluar. Walaupun seperti itu dia tetap saja menunggu Aira karena menurut dia, Aira adalah perempuan yang tepat untuknya. "Taruh aja buahnya di meja ra." Aira menaruh tas yang berisikan buah-buahan dan menuju ke arah Vino yang tertidur pulas. "Aku ke luar dulu beli makanan kamu tunggu aja." "Iya." Jaewoo keluar dari ruangan menuju lantai dasar, Aira duduk di kursi dan menggenggam tangan Vino. "Mmmm a-ku bawain kamu buah-buahan." Kata Aira dengan nada gugup dan mengelus tangan halus Vino. "Apa kamu benar-benar tidak mengingatku?" Tanya Aira tanpa ragu dengan tangan gemetar dan saat itu juga setetes air keluar dari matanya. "Kembalilah seperti dulu lagi, Vino yang dulu aku kenal." Ucapnya dengan air mata yang tidak ada hentinya mengalir. Aira menangis dengan menundukkan kepala dan tanpa sadar tangan yang masih dia genggam sedang mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Jangan menangis lagi, aku tidak suka melihat perempuan menangis." Aira yang mendengar perkataan itu berhenti menangis dan melihat ke arah lelaki yang saat ini sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit. ### IG : im_yourput
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN