"Apa kamu masih mengingatku?" Tanya Aira memandang lelaki yang sekarang tengah bangun menyender di stand ranjang.
"Tidak." Singkatnya tidak ada kata-kata selainnya.
Aira hanya tersenyum walaupun di dalam hatinya sakit saat sahabatnya sendiri tidak mengenalinya sama sekali.
"Kau benar-benar melupakanku." Kata Aira dengan nada sendu.
"Aku tidak mengingatmu sama sekali." Dengan ekspresi muka datarnya tanpa melihat ke arah Aira melainkan ke jendela tapi bukan mengabaikan Aira justru Vino sedang mengingat-ingat, siapa perempuan yang berada di sampingnya ini.
"Kalau kamu masih belum ingat aku, tidak apa-apa." Ada jeda dalam ucapannya. "Mungkin ini belum saatnya ingatanmu pulih dan aku pastikan kamu akan mengingatku kembali."
Vino tidak meresponnya dan tetap diposisi semula, menatap jendela tidak ingin memandang ataupun menatapnya, seakan-akan Aira hanyalah siaran radio yang hanya suaranya saja terdengar.
"Kalau begitu aku pamit jaga dirimu baik-baik, cepatlah pulih aku menunggumu." Kata Aira dan keluar dari ruangan Vino sambil nangis senggukan.
'Kenapa aku menangisinya sampai membuat hatiku terluka dan lelaki itu hanya mengabaikan aku, jadi untuk apa aku menangis karena dia hilang ingatannya saja, bukankah itu bagus agar dia tidak mengingatku kembali.' Batin Aira sambil berlari di koridor rumah sakit tidak peduli dengan orang-orang yang melihatnya, sampai akhirnya seorang memanggil namanya.
"Bunda!!" Seru Aira dan memeluk sang bunda masih dengan suara tangisan.
"Kamu kenapa nak?" Tanya bunda dan mengelus rambut anak perempuannya itu yang tidak ada hentinya menangis.
"Cerita sama bunda kenapa kamu bisa menangis? apa ada yang melukaimu?"
Aira masih menangis tapi saat itu juga bunda menggengam tangan putrinya itu dan pergi dari rumah sakit.
"Sebenarnya kamu itu kenapa?" Tanya bunda yang dari tadi tidak di respon oleh putrinya itu.
"Aira jawab bunda."
"Maaf bun Aira gak bermaksud menghiraukan ucapan bunda."
Saat sudah sampai dirumah bunda mulai berbicara kepada putri bungsunya itu.
"Sekarang bunda tanya lagi sama kamu. Kamu kenapa?"
"Nanti aja bun, Aira mau istirahat dan jangan bilang ke Aina kalau aku habis nangis." Jelas Aira dan masuk ke dalam kamarnya kembali meneteskan air matanya.
#
"Siapa lelaki itu Aina?" Tanya bunda dan Aina tersenyum. "Pacarku."
"Kenapa tidak bilang ke bunda jika kamu mengajak pacarmu ke rumah?"
"Maaf bun, aku lupa memberitahu kepada bunda."
"Ya sudah tidak apa-apa, ayo duduk dulu."
Mereka berdua duduk di sofa sedangkan Aina membuatkan teh.
"Saya Gavin tante pacarnya Aina."
"Kalian udah berapa lama berpacaran?" Kata bunda langsung to the point.
"2 tahun tante." Gavin menjawabnya santai padahal di dalam dirinya dia gugup.
"Lama sekali, apa kamu mencintai putri saya dengan tulus?"
"Saya mencintainya tulus apa adanya."
"Saya percaya kamu bisa menajaga putri saya baik-baik."
"Iya tante, saya akan menjaganya."
"Baiklah, tapi jangan sampai kamu menyakiti hati anak saya dan satu lagi panggil saya bunda aja."
"Siap tante eh bunda, saya tidak akan menyakitinya." Hormat Gavin di depan bunda.
"Kenapa kamu hormat?" Tanya Aina yang baru saja selesai membuat teh dan menatap aneh pacarnya itu, dia tidak mendengar apa yang Gavin ucapkan, Aina hanya melihat Gavin hormat saja.
"Kangen di hukum pak Rendi karena gak ngerjain tugasnya, mangkanya gue hormat." Kata Gavin sambil tertawa dan bunda hanya menggeleng-geleng, biasa anak muda jaman sekarang sukanya bermalas-malasan.
"Astaga, elu nakal banget sih gak pernah mau ngerjain tugasnya, sampai dihukum pun lo gak ada kapoknya." Bunda hanya tertawa pelan melihat dua sepasang kekasih ini yang sangat serasi.
"Inget ya jangan sampai kebiasaan gak ngerjain tugas, walaupun tetep di kasih tugas sama guru tapi harus tetap di kerjain suka ataupun gak suka pelajarannya yang memang ada tidak mudah tapi jika sudah paham pasti di mengerti."
"Tuh dengerin bunda, yang."
"Iya bun, makasih atas sarannya."
"Sama-sama, Aina juga harus ngerjain tugasnya biar gak di marah sama gurunya. Bunda juga seperti itu mendidik Aira."
"Iya bunda." Kata Aina sambil memakan makanan yang dia bawa, mereka bertiga berbincang-bincang tentang keromantisan dua pasangan itu. Tak terasa malam pun tiba. Gavin pun pamit pulang ke apartemennya.
Di dalam kamar Aira sedang menonton film kartun menggunakan laptop biru muda kesayangannya, Aira tidak bersedih lagi dan yang dia lakukan sekarang tertawa melihat kelucuan yang tertera di layar laptopnya itu. Aira tidak larut dalam kesedihan dia juga butuh kebahagian.
"Dek!" Panggil kembarannya yang di sebut sebagai kakak walaupun mereka seumuran.
"Apa?" Nadanya dingin.
"Makan malam yuk, dari tadi lo belum makan." Kata Aina to the point karena dia tau kembarannya baru saja selesai menangis, Aina menunggu yang tepat untuk menanyakan apa masalah Aira.
"Iya nanti aku ke bawah." Masih dengan nadanya yang dingin, apa Aira marah pada Aina?
'Ada apa dengannya?apa salah gue?' batin Aina melihat kembarannya seperti harimau yang ingin melahap mangsanya.
"Kemana Aira?" Tanya bunda saat Aina saja yang datang ke ruang makan biasanya mereka selalu bersamaan.
"Lagi asyik nonton film bun."
"Ya sudah kamu duluan makannya, bunda mau samperin Aira."
"Okeh."
Di ruang makan hanya Aina saja yang makan sambil video call dengan kekasihnya, siapa lagi kalau bukan Gavin.
"Udah selesai nangisnya?" Tanya bunda sambil mengelus rambut panjang anak perempuannya itu.
Aira yang masih sibuk menonton tapi saat mendengar suara bunda dia langsung menoleh lalu menjeda film yang ia tonton.
"Aira udah gak nangis bun, ada apa?"
Aira menampilkan wajah cerianya walaupun hatinya masih sakit.
"Baguslah, sekarang kamu harus cerita sama bunda." Bunda mainnya to the point harus ke intinya tanpa basa-basi.
"Sebenarnya Aira itu nangis gara-gara..." Aira menjeda ucapannya sebenarnya dia merasa gugup untuk menceritakannya, walaupun itu bundanya ataupun orang terdekatnya.
"Kamu nangis saat ketemu Vino?"
"Iya bunda, dia lupa ingatan bun. Aku nangis liat dia, aku ngobrol sama dia tapi Vino gak liat ke arah aku bun. Terus dia cuma jawab singkat aja, entah kenapa hati Aira sakit pas Vino gak ngenalin aku sama sekali."
"Jujur sama bunda, kamu punya perasaan sama Vino?"
Aira sempat terdiam tapi saat Aira ingin mengucapkan perkataannya, tiba-tiba saja Aina datang memanggil bunda.
"Bunda ada tamu di bawah." Kata Aina dan bunda pun menghampiri putrinya itu.
"Siapa tamunya?" Tanya bunda dan Aina menggeleng karena perempuan yang di sebut sebagai tamu itu hanya mengatakan "Aku ingin bicara dengan bundamu."
Bunda datang menuju ruang tamu dan saat itu juga dia melihat perempuan itu dengan wajah khawatir. Bunda pun memeluk wanita itu.
"Sudah lama tidak bertemu denganmu." Kata itu yang di ucapkan oleh bunda saat bertemu dengan sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa walaupun mereka berdua sama beropesi sebagai seorang dokter.
###
Follow akun : imyourput
jangan lupa komen nya juga^^