Bab 13

1037 Kata
"Lin, aku khawatir sama anakku." Kata perempuan itu terbata-bata tetap dengan posisi yang sama dengan suara tangisan "Bersabarlah Ersa, anakmu Vino akan sembuh dia pasti bisa mengingat kembali." Kata-kata itu yang mampu di ucapakan oleh bunda. Melihat ibunya Vino yang sangat ingin melihat anaknya sehat dan bisa mengingat kembali walaupun Vino hanya bisa mengingat-ingat sedikit demi sedikit tapi sekarang ingatannya hilang dan dia hanya mengingat kedua orang tuanya, terutama perempuan yang selalu ada di dalam pikiran dan di dalam mimpinya. "Aku membutuhkan anakmu Aira, pasti ingatannya akan kembali. Jadi kumohon tolonglah anakku karena bagaimanapun Vino adalah penerus ayahnya." Jelasnya dan bunda mengangguk. Tanpa mereka ketahui seseorang sedang menguping pembicaraan keduanya dan saat pembicaraan mereka selesai Ersa ibunda Vino itu memutuskan untuk keluar dari rumah wanita beranak tiga itu. "Bun itu siapa?" Tanya Aira yang baru keluar dari kamarnya dan melihat ke arah wanita yang baru saja selesai berbicara dengan bundanya dan keluar dari rumah. "Temen bunda, Aira kamu mau ikut bunda besok?" "Mau kemana bun?" Sebenarnya Aira sendiri tidak ingin pergi kemana-mana hanya ingin di kamarnya saja dan rasanya Aira masih kepikiran Vino. "Rahasia, bunda hanya mengajakmu jangan bilang ke kak Aina ya!" Pintanya dan Aira mengacungkan jempolnya. Aira berfikir bahwa bundanya akan mengajaknya ke kebun stroberi milik pamannya karena bunda selalu memberikan kejutannya di sana. # "Mama dimana?" Tanya lelaki yang masih berbaring di atas ranjang rumah sakit. "Mama hanya pergi sebentar kamu tunggu saja." Ujar Jaewoo dan melanjutkan memainkan ponselnya. "Kamu tau dimana ponsel saya ada di mana?" Ingatannya belum pulih tetapi dia bisa mengingat demi sedikit apa yang sudah terjadi di mana saat Vino bisa masuk ke rumah sakit itu disebabkan karena kepalanya terbentur bola basket tetapi dia tidak bisa mengingat kejadian yang sudah berlalu kecuali seseorang yang bisa membuatnya mengingat kembali. "Bukannya aku tidak ingin memberikannya kepadamu, tetapi karena kau perlu jadi kuberikan." "Baiklah, terimakasih." "Tapi jika kau tidak tau orang yang kau hubungi tanya kepadaku." Vino hanya mengangguk dan langsung membuka ponselnya mencari kontak dan menghubunginya, entahlah siapa itu yang pasti bukanlah keluarganya. Lelaki yang masih berbaring di ranjang rumah sakit itu langsung menurunkan kedua kakinya dari ranjang, lalu berjalan menuju pintu. "Kamu mau kemana?" "Saya hanya pergi ke taman." "Ohh, inget cepat balik. Awas aja sampai aku diomelin sama mama." Celoteh Jaewoo dan melanjutkan memainkan ponselnya. Setelah berapa kali dihubungi orang itu tidak kunjung di menjawab panggilan telepon sampai Vino kesal tapi dia tetap menelpon sampai akhirnya ponselnya berdering. "Halo!!" Panggil seorang perempuan dari seberang sana. "Maaf." Kata itu yang diucapkan oleh Vino membuat orang yang berada di telepon kebingungan. "Kenapa kamu minta maaf? emm apa kamu punya masalah denganku?" Tanya perempuan itu terbata-bata karena dia tidak tau apa yang harus dia katakan dan tidak tau apa-apa masalah adiknya. "Saya hanya minta maaf saja, apa ibumu ada dirumah?" "Mereka berdua baru saja keluar dari rumah." "Eh maksudku ibu-ku dan kak-akku." Aina yang gugup karena tidak tau apa yang akan dia katakan setelahnya tetapi Aina tau yang punya suara itu adalah lelaki yang pernah menabraknya saat di taman. "Oh begitu." "Hm... Apa kau tidak ingin menemuiku?" Vino memelankan suaranya walaupun samar di telinga Aina. "Hah?" "Aa.. tidak ada, ya sudah." Barulah Vino mematikan teleponnya, dia tidak tau harus mengatakan apa lagi dengan perempuan itu, berakhirlah dengan senyuman. # "Bun ponselku gak ada atau ketinggalan di kamar ya?" Aira masih merogoh tas selempangnya mencari benda pipih panjang itu tetapi nihil dia tidak menemukannya. "Kita sudah sampai, nanti saja mencarinya." "Baiklah, tapi ini rumah siapa bun?" Aira melihat sekitar perkarangan rumah yang amat luas dan rumah ini terletak di atas bukit, dari atas sini pun sudah terlihat jelas kota Seoul yang indah. "Kamu mau tau siapa yang punya rumah ini?" "Tentu saja. Apa ini rumah teman bunda?" Aira sangat menyukai tempat ini dan udaranya pun sejuk. "Iya ini rumahnya, ini temen bunda yang kemarin datang dia belum sempat melihatmu." Kata bunda penuh harap jika anak bungsunya itu akan mengetahui siapa lelaki yang selalu ada untuknya. Aira sempat berfikir jika ibunya akan memperkenalkannya dengan temannya itu 'apa rahasianya itu adalah perjodohan?itu tidak mungkin' batin Aira, sampai pada akhirnya pintu rumah itu terbuka. "Silahkan masuk, nyonya sudah menunggu di ruang keluarga." Kata kedua pelayan itu sambil menunduk mempersilahkan bunda dan Aira masuk ke dalam. 'Rumah ini besar sekali bukan hanya di luarnya saja tapi di dalamnya pun luas' gumam Aira melihat sekeliling sampai akhirnya dia melihat bingkai foto yang sangat besar terpajang di dinding." "I-itu-kan..." Gugup Aira melihat foto itu, rasanya Aira ingin meneteskan air mata saat ini juga tapi Aira bisa menahannya dan juga sang bunda menarik tangan anak bunsunya itu untuk masuk ke ruang keluarga. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya bunda menghawatirkan sahabatnya itu. "Aku baik-baik saja lin. Wah! Aira kamu cantik sekali malam ini." Ersa tersenyum lebar, melihat Aira yang dulunya masih kecil dan senang bermain dengan anaknya itu. "Tante Ersa!!" Ada jeda dalam ucapannya "Udah lama gak pernah ketemu tante." Aira berlari menuju Ersa dan memeluknya erat dari dulu Aira sudah menganggap Ersa itu adalah ibunya karena dulu bundanya juga selalu meninggalkannya pergi ke tempat kerjanya. "Tante hampir gak mengenalimu karena kita tidak pernah ketemu." Ersa membalas pelukan hangat dari anak sahabatnya itu. "Aku kangen banget sama tante, apa kabar Alvin. Dia ada dimana?" Aira sangat antusias ingin bertemu dengan Alvin karena keinginan dia untuk bertemu dengan Alvin adalah keinginan yang spesial. "Alvin sekarang ada di rumah sakit ra, kalau kamu ke sana mungkin dia bisa mengingatmu." Saat itu juga butiran air mata jatuh membasahi pipinya. "Alvin kenapa tante?" Tanya Aira khawatir tetapi di pikiran Aira adalah Vino dan Aira tidak ingat wajah Alvin yang sekarang karena dari kecil mereka sudah berpisah. "Dia amnesia tetapi ini hanya sebentar dia akan kembali pulih, tetapi Vino belum bisa mengingat masa lalu dimana kalian berdua di pertemukan." Jelas bunda membuat Aira terdiam berfikir bahwa Alvin tidak bisa mengingat dirinya. 'Aku tidak mau dia sama seperti Vino' batin Aira, dia takut sekali sampai itu terjadi. Aira saja sudah cukup dibuat sedih oleh sahabatnya itu. "Apa karena aku dia seperti itu?" Tanya Aira, karena saat masih kecil idia pernah mendengar bundanya menelpon dengan seorang bahwa Alvin kecelakaan dan membawa-bawa namanya. "Tidak, itu bukan salahmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN