Kejadian tahun lalu itu mengakibatkan anak lelaki yang masih berusia lima tahun itu terluka parah di bagian kepala, ketika itu mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi hingga mengakibatkan kecelakaan dari arah berlawanan sampai akhirnya anak kecil itu terbentur sangat keras hingga dilarikan ke rumah sakit.
Banyak darah keluar karena benturan itu teralu keras tetapi lelaki itu tetap berusaha untuk bertahan, di genggaman tangannya ada sekuntum bunga mawar merah yang segar dan cantik tapi bunga itu juga ternodai oleh darahnya.
"Tidak, itu bukan salahmu."
Dari kejadian yang pernah di alami oleh putranya itu, Ersa menyalahkan anak sahabatnya karena pada saat itu Alvin ingin menemui Aira tapi di tengah perjalanan anaknya mengalami kecelakaan yang cukup parah dan hampir kehilangan nyawanya.
"Kecelakaan itu sudah berlalu Aira, itu sudah di atur oleh tuhan. Tante tau kamu kangen sekali dengannya tapi tidak untuk saat ini, Alvin masih menjalani proses untuk mengingat kembali. Apa kamu bisa bantu tante?"
Ersa memohon agar Aira bisa membantu anaknya.
"Aku tidak tau bisa atau tidak tapi aku akan mencobanya." Aira tau ini sangat sulit baginya, menurutnya Alvin pasti akan mudah mengingat dibandingkan Vino yang tidak tau kapan dia mengingatnya.
Sayangnya Aira tidak tau kalau sebenarnya Alvin dan Vino itu adalah orang sama Aira tidak menyadarinya, karena dari wajah Alvin saat masih kecil memiliki luka di samping kiri keningnya. Aira yang melihat sekilas wajah Vino memang mirip tapi Aira tidak percaya.
"Makasih ra, tante percaya sama kamu." Ersa memeluk Aira lagi, Ersa sadar bahwa dia tidak harus menyalahkan orang lain apalagi yang dia salahkan adakah anak sahabatnya itu.
"Bagaimana kabar Alvin sekarang?" Tanya bunda, karena dari tadi sahabatnya mengobrol dengan anaknya.
"Dia baik-baik saja, ada Jae yang jaga."
"Siapa Jae?" Sekarang Aira bergiliran bertanya sambil memakan salad buah yang ada di atas meja.
"Dek, habiskan makanan yang ada di dalam mulutmu dulu baru bicara." Kata bunda agar anaknya itu tidak kebiasaan saat mengobrol tetapi makanan masih ada di dalam mulutnya.
"Iya bun."
"Dia sepupunya Alvin namanya..." Belum saja Ersa melanjutkan perkataannya, nada dering benda pipih itu berbunyi. Segera Ersa mengangkatnya dan menempelkannya di telinga, menjauh dari mereka berdua.
"Halo, ada apa?"
"Nyonya harus kembali ke Daegu karena ada pasien anak kecil yang harus di tangani, anak kecil itu selalu memanggil namamu."
"Siapa dia?"
"Saya tidak tau nyonya, tapi anak itu akibat kekerasan orang tuanya."
"Saya akan ke sana."
Setelah Ersa mematikan teleponnya, dia melihat ke arah Lina dan anaknya yang sudah berdiri siap untuk pulang.
"Kalian mau pulang?"
"Iya Ersa, barusan Aina telpon dia sendiri di rumah."
"Baiklah, aku juga ada keperluan mendadak dan aku titip ya buat jagain anakku, aku percaya padamu Aira."
Aira ingin sekali membuat Alvin bisa mengingat tapi apakah itu mudah baginya? Aira juga ingin Vino cepat pulih dari ingatannya.
#
"Apa kau tidak merasa bosan di rumah sakit ini?" Tanya lelaki yang berbaring di ranjang rumah sakit yang dari tadi masih memainkan ponselnya.
"Emang kamu mau kemana?" Tanya sepupunya itu sama juga memainkan ponselnya.
"Pulang." Singkat, padat dan jelas.
"Tunggu hasil dari dokter baru kau boleh pulang." Tegas sepupunya itu.
"Saya sudah bosan, apa kamu tau rumah perempuan yang kemarin kamu bawa kesini itu?"
Lelaki yang ada di sofa itu kaget mendengarnya, apalagi ingatan sepupunya itu masih belum pulih.
"Untuk apa kamu menanyakan rumahnya, kamu saja tidak tau siapa dia."
"Saya tau namanya Aira. Perempuan berkulit putih hatinya selembut marshmellow, rambutnya yamg selalu terurai dan dia menggigit kukunya saat gugup." Vino mengatakannya dengan jelas.
"Kamu bisa mengingatnya?" Jaewoo tertegun dengan ucapannya, jika Aira ada disini dia pasti senang.
"Apa yang saya katakan itu salah." Vino mengelak, bagaimana bisa orang yang hilang ingatan bisa mengenali seseorang sedetail itu?
"Tidak, itu semua benar. Apa kamu mengenaliku?"
"Tidak." Singkatnya dan Vino memilih diam. Bukankah Vino tidak mengingat Aira sama sekali tapi sekarang dia tau siapa Aira.
'Kenapa dia tidak bisa mengingatku?' batin Jaewoo terus bertanya-tanya, kenapa Aira saja dia ingat sementara orang terdekatnya tidak dia ingat.
"Bunda!!" Panggil perempuan dengan rambut yang diikat di belakang
"Apa Aina?" Tanya bunda saat anaknya berlarian datang dan memeluknya.
"Ayah tadi menelpon Aina katanya harus pulang ke Indonesia karena penyakit ayah kambuh lagi bun, bang Dirga gak bisa di samping ayah selama 24 jam karena dia harus berkerja di perusahaan ayah." Jelas Aina dan bunda meneteskan air mata, Linda sangat ingin bertemu dengan suaminya itu tapi dia sangat sibuk dengan pekerjaannya.
"Bunda ingin menemui mereka tapi di sini perkerjaan bunda belum kelar, mungkin saat libur panjang kita akan bertemu kembali."
"Aina sayang bunda sama Aira juga."
Mereka bertiga berpelukan, barulah Aina menggeret koper itu dan pamit kepada bunda dan kembarannya itu.
"Kak Aina tunggu!!" Cegah Aira dan berlari menuju kamar mengambil kotak kecil berpita merah dan memberinya kepada Aina.
"Apa ini dek?"
"Nanti saja jika kakak sudah sampai."
"Makasih dek, aku akan rindu dengan kalian berdua. Cepatlah pulang." Aina meneteskan air mata walaupun dia di sini hanya sebentar tapi dia bisa melihat adiknya dan bundanya yang sudah lama tidak pernah bertemu.
Aina pun pergi bersama dengan Gavin yang berada di dalam mobil menunggu kekasihnya melepaskan kerinduan.
#
Libur telah usai saat inilah hari kelulusan dimulai di Korea Selatan, mereka melihat nilai mereka yang tertera di dalam raport tersebut.
Semua nilai sangat bagus tetapi satu siswa mendapatkan nilai paling tinggi tidak ada orang yang dapat menggapainya iya itu adalah Park Jaemin atau Vino ia di sebut sebagai anak emas semua guru tau itu, dialah peringkat tertinggi karena dia sekolah ini menjadi sekolah teratas di Seoul.
Mereka semua sudah lulus dan memasuki universitas yang mereka inginkan tetapi ada juga sebagian dari mereka menjadi trainee dari perusahaan terkenal di Seoul dan akan debut sebagai idol.
Perempuan berambut sedada berjalan menuju taman sekolah dan duduk di depan bunga-bunga bermekaran.
"Kamu kenapa ra?" Tanya perempuan berambut sebahu yang notabene adalah sahabatnya.
"Aku kangen keluarga aku yang ada di Indonesia." Aira kangen sekali dengan kembarannya tapi apa bisa dia menemui mereka sedangkan bundanya masih sibuk dengan perkembangannya.
"Kamu pasti akan menemuinya."
"Iya Hyemi, aku akan tetap menemuinya."
"Jangan bersedih lagi."
"Kemarin waktu libur kamu kemana saja?"
"Aku menjumpai nenekku di Busan."
"Pantas saja aku tidak pernah melihatmu dan aku ingin menghubungimu tapi ponselmu rusak."
"Hehe, maaf ya. Kemarin aku baru sempat beli ponsel baru."
"Iya gak apa-apa, aku minta nomermu."
"Aku juga." Jawab lelaki berjalan sambil membawa dua es krim.
"Hai fans."
"Siapa sih yang ngefans sama kang ogeb, aku cuma minta nomer doang."
"Samanya aja, eh itu es krim buat aku kan."
"Pede banget sih, orang ini khusus buat ayang Aira."
"Idih."
"Mau gak?" Tanya Jaewoo dan Aira menggeleng pelan.
"Tuh Aira gak mau buat aku aja ya."
"Ya udah.. tapi bayar."
"Enak aja."
"Canda ogeb."
"Dih."
"Kalian tidak pulang?"