Bab 15

1084 Kata
Sekolah mulai sepi tapi ada juga yang masih menunggu jemputan di gerbang sekolah, ada beberapa orang masih berada di dalam sekolah tepat di bagian timur ada sebuah taman di penuhi bunga dan ada bunga sakura yang berjatuhan karena hari ini musim gugur. "Kalian belum pulang?" Suara lelaki yang baru saja datang memasuki taman sekolah yang di penuhi bunga bermekaran. "Belum vin kalau mau pulang duluan aja." Kata Jaewoo yang masih memakan es krim begitu pun dengan Hyemi sampai belepotan di sudut bibir mungilnya. "Saya akan menunggu." Vino menatap Aira dengan wajah datarnya. "Tidak perlu menunggu kami." Kata Hyemi dengan bibir yang belepotan karena es krim. "Yang bener caranya makan es krim." Jaewoo mengambil selembar tisu di dalam tasnya dan membersihkan es krim yang berada di sudut bibirnya. Kedua mata mereka berdua bertemu dan Jaewoo sadar jika Hyemi menatapnya lekat. "Aduh...akhhh.. sakit!" Aira meringis kesakitan di jari telunjuknya, mengeluarkan darah karena terkena duri saat dia memegang batang bunga tersebut. Vino yang masih besenderan di dinding kini berjalan ke arah Aira yang menggerakkan tangannya. Aira mencari pelasteran tapi nihil dia tidak membawanya. "Sini tangan kananmu." Suaranya yang dingin membuat Aira menoleh ke arahnya dan saat mata mereka tertuju, Vino menarik sudut bibirnya tipis menampilkan senyuman hangat. Vino membungkuk dan memakaikan plaster di jari telunjuk Aira dengan pelan-pelan walaupun Aira tetap meringis kesakitan. Jaewoo dan Hyemi yang melihat itu hanya diam. "Apa masih sakit?" Tanya Vino lalu berdiri sedangkan Aira masih duduk melihat jari telunjuknya yang masih rada sakit. "Sudah tidak, ma-kasih." Aira yang gugup tapi dia harus bisa menahannya tetapi Hyemi yang tau sahabatnya seperti itu hanya terkekeh kecil. "Saya pulang dengan Aira kalian berdua duluan saja." Kata Vino to the point, tidak ingin banyak bicara. "Emang kamu tau rumahnya Aira dimana?" Tanya Jaewoo mengernyitkan dahinya. "Mama menyuruh saya membawa Aira ke rumah." "Kenapa mama tidak menyuruhku saja? kenapa harus kau." Celoteh Jaewoo tidak terima jika Vino yang mengantar Aira. "Saya tidak tau, ya sudah saya duluan." Tanpa pikir panjang Vino menarik tangan Aira pergi meninggalkan mereka berdua yang masih menatap keduanya pergi perlahan meninggalkan halaman sekolah. Tetapi mereka tidak sadar bahwa seseorang sedang mengintai mereka. "Sejak kapan mereka dekat?" Tanya Hyemi tak tau apa yang terjadi selama dia pergi ke Busan. "Entahlah, eh ogeb pulang bareng yuk." Ajak Jaewoo. "Tumben, pasti ada maunya nih" Hyemi tersenyum tipis. "Nggak, aku lagi baik jadi mau gak?." "Yaudah deh, tapi ini gak bayar kan?" "Bayar dong." Tawa Jaewoo dan Hyemi langsung memukul bahunya. "Aduh... gak kok bercanda ogeb." "Gitu kek." "Iya-iya." # "Bisa lepas gak tangannya!!" Aira berdenggus sebal saat Vino tiba-tiba saja menarik tangannya dan tangan Aira di lepas oleh Vino. "Ayo naik, mama sama bunda kamu sudah menunggu." "Kok bunda gak kasih tau." Sebal Aira dan rasa gugupnya hilang di bawa oleh angin. "Mana saya tau, mama menyuruh saya membawamu." Suara dinginnya kembali lagi. 'Mama mengenal ibunya Vino, tapi sejak kapan?' batin Aira terdiam sementara Vino sudah menaiki motornya. "Kenapa bengong? Ayo naik!!" Vino mengangkat alisnya saat melihat Aira yang sedang naik motornya yang besar dan tinggi. Saat motor dinyalakan dan jalan dengan kecepatan tinggi membuat Aira refleks memeluk Vino. Vino yang menyadari hal itu hanya menampilkan seutas senyuman. Di perjalanan tidak ada yang mengobrol, Aira hanya menikmati angin yang sejuk dan keindahan kota Seoul saat di atas bukit. "Kau suka?" Tanya Vino memulai percakapan tapi tempat di tuju hampir sampai. "Suka apa?" Aira balik bertanya karena dia tidak tau apa yang di maksud sahabatnya itu. "Kau suka bunga mawar merah?" Tanya Vino. Aira terdiam sejenak. "Aku menyukainya. Kenapa?" Vino tidak menjawab dan menjalankan motornya sampai pintu bagasi terbuka lebar dan penjaga menunduk saat Vino dan Aira turun dari motor. Aira baru sadar ini rumah sahabat bundanya tapi kenapa Vino mengajaknya kesini, Aira sempat tertegun melihat semua penjaga menunduk. Aira hanya tersenyum sambil menunduk, sedangkan Vino hanya jalan masuk ke dalam rumah yang begitu megah. "Tuan muda, anda di panggil oleh nyonya di kamar." Kata pelayan sambil membawa kotak berwarna putih berukuran persegi panjang berpita biru muda. "Baiklah, kamu duluan saja ke halaman." Aira hanya mengangguk dan melihat Vino pergi menuju kamar mamanya yang letaknya berada di lantai 2. "Wah nona hebat sekali mendapatkan hati tuan muda, ini kotak untuk nona aku tidak tau di dalam ada apa, tapi ini hadiah dari nyonya besar." Pelayan itu tersenyum dan memberikannya kepada Aira. "Makasih, apa bundaku ada disini?" Tanya Aira kepada pelayan. "Tidak ada, yang datang hanya nona dan tuan muda selainnya tidak." Aira dibohongi, rasanya Aira ingin memarahinya tapi ini rumah sahabat bundanya. "Ya sudah kalau begitu aku pamit bilang ke tante Ersa." Kesal Aira bukan berarti dia kesal terhadap pelayan melainkan Vino, sahabatnya yang selalu dia percaya tapi kenyataannya beda dia membohonginya. "Maaf nona, tapi nona harus ke halaman karena teman-teman nona ada di sana." Pelayan itu menggenggam tangan Aira yang ingin keluar dari rumah ini. "Siapa?" "Mari ikut saya nona." Aira mengangguk dan mengikutinya, rumah ini sangatlah luas. Ketika masuk ke dalam pun di balik dinding berwarna putih itu ada sebuah pintu yang mengantarkan ke halaman belakang rumah. "Tempatnya sangat indah." Aira melihat sekeliling halaman yang luasnya tak terhingga di sana ditanami bunga mawar yang bermekaran dan kicauan burung yang sangat merdu. Halaman yang luas ini juga terdapat labirin dengan dinding tanaman yang menjulang tinggi, pelayan yang berada di sebelah Aira mempersilahkan Aira untuk masuk ke dalam labirin yang sangat besar. Aira menelusuri labirin itu walaupun susah untuk mencapai akhir, tapi di pikir-pikir labirin tidaklah rumit hanya saja jalanya berbelok-belok. Aira terus berjalan sampai akhirnya dia menemukan titik terang tapi itu jalan buntu tidak bisa di lalui tetapi dia tetap jalan menuju jalan selanjutnya. Seorang lelaki sedang memantaunya dari lantai atas dengan seutas senyuman. Aira berjalan tapi dia kelelahan, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari belakang dan barulah lelaki itu menarik tangannya. "Cepat sekali lelahnya, tinggal belok sebelah kanan kau sudah sampai." Nadanya dingin ya siapa lagi kalau bukan Vino. "Aku pikir masih jauh." Aira meminum jus strawberry yang sudah di sediakan. "Hahaha, aku juga berfikir seperti itu ra." Kata Hyemi dari balik bunga mawar berwarna merah muda bersama dengan Jaewoo. "Ada jalan pintas jadi cepat sampai sama seperti Vino." Kata Jaewoo sambil memakan pie yang berisikan buat strawberry. "Saya tidak memakai jalan pintas sepertimu." Vino menatapnya tajam ke arah Jaewoo. "Ah iya aku baru ingat kau sudah tau letak tempat ini, tapi bisakah kau mengingat selama-lamanya." Perkataan Jaewoo membuat Vino tertegun memikirkan sesuatu yang ada pada dirinya sendiri. "Apa ini tempat terakhirku?sebelum kecelakaan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN