Di tengah labirin tersebut adalah taman bunga mawar dan tempat duduk, atapnya yang dipenuhi tanaman berjalar.
"Apa ini tempat terakhirku?sebelum kecelakaan."
Mereka bertiga terkejut mendengar perkataan Vino tapi Jaewoo yang tau saat kecelakaan itu terjadi pada Vino.
"Kecelakaan?" Aira mengernyitkan dahinya.
"Saya pernah mengalami kecelakaan tetapi saya tidak ingat kapan itu terjadi dan siapa yang menabrak saya." Vino memandang ke arah lain seperti memikirkan sesuatu.
"Sudah cukup, ingatanmu belum pulih." Jaewoo menyeringai melihat sepupunya yang tidak tau kapan sembuh dari amnesia.
Karena psikolog telah membantunya mengingat-ingat kejadian yang pernah dia alami sebelumnya tapi saat mengingat masa lalu dia hanya mengingat sedikit demi sedikit.
"Jangan teralu dipaksakan, kepalamu juga butuh istirahat." Vino hanya mengangguk dan tidak memikirkannya lagi.
Hyemi yang baru saja selesai menelpon menoleh ketiga temannya itu.
"Gue di suruh pulang sama mama, gue duluan ra." Hyemi berjalan ke arah pintu yang memang di sebut sebagai jalur pintas untuk keluar dari dalam labirin.
"Gue anterin sampe pintu depan." Teriak Jaewoo dan berjalan beriringan dengan Hyemi.
Di dalam labirin menyisakan dua orang saja, mata mereka bergerak ke sana kemari melihat sekeliling sampai akhirnya mata mereka saling tertuju.
"Saya bosan tempat ini, ayolah kita ke dalam." Ajak Vino, berlalu pergi meninggalkan Aira yang berjalan di belakangnya.
"Lambat sekali jalanmu seperti kura-kura. Lomba lari saja kalah dari kelinci" Ejek Vino dengan menaikkan bibirnya ke atas.
"Salah, yang menang itu kura-kura bukan kelinci." Aira menyeringai ucapan lelaki yang ada di hadapannya saat ini, rasanya geram.
"Kura-kura tidak akan menang karena tempurungnya yang besar dan berat jadi dia tidak bisa mengalahkan kelinci." Itu prinsip dari Vino tapi Aira menjawabnya dengan tenang.
"Memang seperti itu tapi ketika kura-kura ikut lomba lari dia menang dan yang kalah itu kelinci karena kesalahannya sendiri." Aira tak bisa menahan rasa geramnya tapi Vino tetap melawan perkataannya.
"Tapi kelinci tidur karena kasihan melihat kura-kura yang lama sekali berlari." Ada jeda dalam ucapannya."Eh berjalan yg sangat lama."
"Tidak ada yang seperti itu, kura-kura terus berusaha dibandingkan kelinci yang asik tiduran di pohon."
Mereka berdua terus berlawanan karena tak terima kura-kura menang. Ersa yang melihat perdebatan anaknya dan anak sahabatnya itu langsung menghampiri mereka.
"Tapi di peduli." Lawan Vino tidak mau kalah.
"Kelinci tidak peduli hanya saja kesombongannya yang terlihat dan mengabaikan pertandingan alhasil kura-kura yang menang."
"Tidak, kelinci yang harus menang."
"Kalian bisa stop!" Pinta mama tapi tidak bisa di dengar oleh keduanya yang asik berdebat.
"Tidak, kura-kura yang menang."
"Kelinci yang menang."
"Kura-kura yang menang."
"Kelinci."
"Kura-kura."
"Stopp!" Mereka berdua tidak kunjung mendengar.
"Kelinci."
"Kura-kura."
"Kelinci."
"Saya bilang STOP!!!" Nadanya mulai meninggi karena dari tadi tidak didengar oleh mereka berdua. Sampai saat ini mereka terdiam sambil menunduk.
"Cerita dongeng saja kalian ributkan sudah jelas kura-kura yang menang." Jelas Ersa dan tak dibantah oleh mereka berdua.
"Tuhkan bener." Aira hanya tersenyum tipis dan Vino memutar bola matanya malas, dia sebenarnya tau cuma Vino saja yang ingin melihat Aira marah, karena baginya Aira terlihat menggemaskan.
"Ya udah kalau begitu ikut ke meja makan, bunda sudah menunggumu Aira." Ersa memberitahukannya dan meminta pelayan untuk mengantarkannya ke meja makan, Aira mengikuti pelayan tersebut.
"Mama mau bicara sama kamu." Ersa menatap tajam ke arah anaknya itu. Tapi dari kejauhan Aira mendengarnya.
'Mama? Apa mama Ersa adalah ibunya, itu tidak mungkin.' batin Aira tak percaya jika Vino adalah anak sahabat bundanya.
"Nona di sebelah sana." Wanita paruh baya itu mempersilahkan masuk ke ruang makan dimana makanan tersebut sudah tertata rapi di atas meja.
"Bunda kapan dateng?" Tanya Aira saat sudah berada di barisan kursi yang sama dengan bundanya.
"Dari tadi, oh ya tadi bunda liat ada Hyemi bersama denga Jaewoo apa kalian bertemu?"
"Tentu saja, kami baru saja makan kue di dalam labirin tapi hanya sebentar karena mama Hyemi menyuruhnya pulang." Aira menatap manik mata sang mama yang begitu senang sekali.
Ada apa dengan bundanya, seperti menyembunyikan sesuatu.
"Bagaimana di dalamnya, bagus kan?" Tanya bunda.
"Bagus bangett bun, di sana ada bunga mawar bermacam warna." Aira terlihat senang karena di dalam sana adalah rumahnya bunga mawar, Aira sampai tergila-gila dengan bunga berbatang duri itu.
"Apa kamu ingat kapan terakhir kamu ada di sana?" Tanya bunda antusias sekali, karena anaknya saat itu masih berusia empat tahun.
"Aku baru saja memasukinya, labirin itu sangat tinggi hingga membuatku kesulitan untuk kedalamnya atau pun jalan keluarnya." Jelas Aira saat memasuki labirin tersebut dia sempat pusing karena jalan yang di tujunya buntu tapi tak lama kemudian Vino datang dan berjalan di depannya.
"Labirin itu mudah, Alvin saja tau letaknya dan Hyemi juga Jaewoo cepat sampai."
"Hyemi dan Jaewoo melewati jalan pintas mana mungkin mereka bisa melewatinya, lagi pula tempatnya sangat panas." Aira menatap benda-benda di sekelilingnya.
"Jika di pagi dan di sore hari tempat itu sangat nyaman."
"Benarkah?tapi aku hanya biasa saja."
"Jangan seperti itu siapa tau kamu akan suka berada di dalam sana."
"Bunda aku lapar, apa kita boleh memakannya?" Cacing-cacing yang berada di perutnya mulai kelaparan mencari makanan.
"Tunggu dulu nak, tante Ersa belum datang." Lina mencegahnya agar anaknya tidak makan duluan karena pemilik rumah saja belum datang.
"Tidak apa-apa lin." Suara lembut dari wanita cantik dan duduk di kursi makan diikuti oleh anaknya.
"Tapi aku gak enak yang punya rumah aja belum mempersilahkan makan."
"Anggap rumah sendiri lin, bukannya kita akan menjadi keluarga." Ersa tersenyum begitupun dengan Lina tetapi anak mereka bingung, sebenarnya apa yang mereka bicarakan.
"Keluarga gimana maksudnya?" Tanya Jaewoo yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Aira.
"Iya ini keluarga, kan mama sama Lina sahabatan dari dulu." Kata Ersa agak gugup tapi lebih baik dia mengatakannya dibandingkan anaknya curiga.
"Kemana teman perempuan yang kamu bawa?" Tanya Jaewoo yang sedang menyuap makanannya.
"Dia baru saja pulang."
"Kenapa kamu tidak mengantarnya pulang?"
"Aku hanya mengantarnya sampai halte habis itu dia pulang dengan bis." Jaewoo menjawabnya dengan tenang kalau tidak mamanya akan terus bertanya-tanya.
"Harusnya kamu yang mengantarnya pulang karena kamu yang membawanya kesini." Jaewoo yang mendengar perkataan dari bunda langsung menoleh dan menarik sudut bibir, tersenyum tipis.
"Aku ingin mengantarnya tapi dia menolaknya." Kata Jaewoo dan mama diam tak menjawab, hanya sendok dan garpu yang bersuara.
1 jam kemudian bunda dan Aira pamit pulang, sedari tadi bunda dan mama Ersa yang mengobrol, Aira hanya bermain ponselnya jika di tanya baru ia menjawabnya. Vino dan Jaewoo pergi ke kamar mereka, kegiatan mereka berbeda-beda. Vino menjadi kutu buku sedangkan Jaewoo senang bermain game.