Bab 17

1052 Kata
Setelah perempuan itu pergi meninggalkan anak dan ibunya, barulah mereka berdua bicara. "Mama mau bicara sama kamu." Ersa menatap anaknya. "Mama mau bicara apa?" Tanya Vino, dia tau pasti mamanya akan memarahinya karena sebuah perdebatan yang kecil tapi di perpanjang padahal sudah jelas kura-kura yang menang bukan kelinci. "Ayahmu menelpon."Terlihat wajah sang mama yang sedih. "Apa yang papa katakan?" Tanya Vino melihat mamanya menunduk sedih. "Papa menyuruhmu untuk pulang ke Indonesia, kamu bisa melanjutkan kuliahmu di Jakarta." Ucap mama dan menggenggam tangan anaknya itu. "Vino tidak bisa meninggalkan mama sendiri di sini." Itu yang bisa dikatakan oleh Vino, dia tau jika dirinya belasteran Korea dan Indonesia tapi ia lahir di Korea Selatan. Bagaimana pun dia mempunyai ayah yang berada di Indonesia, mau tidak mau dia harus mengikuti jejak sang ayah. "Disini mama gak sendiri ada Jaewoo dan ada banyak orang disini dan di sana kamu akan menemui sahabatmu bernama Gavin, Aril, dan Ergan. Apa kamu masih ingat mereka?" Ersa berharap anaknya masih ingat. "Saya hanya mengingat Gavin selainnya tidak, tapi saya merasa asing dengan nama Ergan." Vino berfikir siapa itu tapi saat dia mengingat kepalanya terasa sakit. "Aku ingin melihatnya mati, dasar lelaki tak tau di untung." Perkataan itu yang membuat Vino merasakan hantaman keras yang berada di belakang kepalanya. "Kamu tidak apa-apa nak?" Tanya bunda khawatir melihat anaknya memegang kepalanya. "Tidak apa-apa ma." Itu yang bisa dikatakan karena Vino tidak mau membuat ibunya khawatir apalagi Vino sudah hampir membaik karena ingatannya bisa kembali normal tapi sulit untuk mengingat ke masa lalu, psikolog pun tidak bisa. Saat di rumah sakit itu Vino tidak bisa mengingat siapa yang pernah ia temui tapi saat perempuan itu datang, Vino langsung mengingat perempuan itu saja, ya itu adalah Aira yang selalu terlintas dipikiran Vino tapi lelaki itu belum bisa mengingat kapan dia bertemu dengan gadis seputih salju itu. # Matahari bersinar terang dan cahaya yang sangat hangat di pagi hari, banyak sekali orang-orang berlarian, berjalan menggunakan pakaian khusus untuk berolahraga. Menjaga kesehatan tubuh itu adalah yang utama. "Beli tteokboki yuk, aku laper." Kata Hyemi karena cacing-cacing di dalam perutnya ingin asupan makanan. "Bukannya kamu sudah memakan sushi." Aira melihat temannya yang terlihat gemuk. "Tapi aku lapar lagi ra." Wajahnya yang di buat-buat imut seperti seorang yang sedang aegyo. Aira yang melihat itu membekap mulutnya agar tidak memajukan bibirnya. "Jangan perlihatkan wajahmu seperti itu, kamu mau aku tampar?" Celoteh Aira melihat kelakuan sahabatnya seperti itu. "Saat marah kau terlihat menggemaskan." Hyemi mengatakannya seperti itu tapi untuk Aira hanya biasa saja, memang dia lucu saat marah tapi bisakah mereka melihat Aira dengan wajah sangarnya yang sangat menyeramkan. "Jangan membuat mood aku hancur." Nada bicaranya yang dingin membuat Hyemi berhenti berbicara dan menarik tangan sahabatnya pergi ke sebuah restoran korea, berdekatan dengan taman tersebut. Saat mereka ingin masuk duluan tetapi ada seorang lelaki yang juga sama-sama ingin masuk kedalam. "Astaga." Hyemi melihat di ke arah samping ternyata itu Jaewoo dan di sebelahnya adalah Vino yang sedang memainkan Earphone miliknya. "Eh ada ogeb, siapa tuh di sam..." Belum saja selesai mengatakannya, Jaewoo langsung melirik ke samping Hyemi. "Eh ada ayang Aira, emang jodoh itu gak akan kemana-mana. Buktinya ada didepan mata." Jaewoo yang mengatakan teralu keras akhirnya dapat tonjokan dari Hyemi. "Aduh sakit..." "Jangan kebanyakan ngayal, mana mungkin Aira suka sama kamu." Sebal Hyemi, karena dia tau sahabatnya itu tidak suka dengan lelaki modelan seperti Jaewoo. "Bilang aja cemburu, iyakan? Ngaku gak?" "Apaan sih." Kesal Hyemi dan masuk ke dalam restoran bersama Aira meninggalkan dua lelaki yang membuntuti mereka berdua. "Benar juga" Vino yang berada di samping Jaewoo pun bersuara walaupun sibuk dengan ponselnya. "Maksudnya?" Jaewoo mengernyitkan dahinya bingung apa yang dimaksud sepupunya itu. "Ya bener, kata Hyemi kamu jangan terlalu banyak berkhayal karena belum tentu Aira menyukaimu." "Bagaimana kalau benar-benar berjodoh, aku akan merasa senang jika dia pendamping hidupku." Jaewoo berbisik di telinga Vino. Vino hanya menatap sepupunya dan pergi untuk memesan makanan begitupun dengan Hyemi. Sementara Aira duduk di samping jendela restauran yang memperlihatkan taman dengan bunga sakura yang berjatuhan. Seorang duduk di seberangnya, melepas earphone nya dan mematikan lagunya melihat ke arah perempuan yang ada di hadapannya yang masih melamun. "Aira!!" Panggil Vino dan Aira melihat ke arahnya. Aira melihat ke hadapannya dan mendapati lelaki yang sudah mengisi dihatinya. "Eh ini pesanannya." Kata Hyemi dan meletakkan pesanan di atas meja. "Oh ad Jaemin, bilang ya ke Jaewoo jangan jail." "Dia memang seperti itu." "Pantes, kau biasa saja." "Kentang aku mana?" Tanya Aira merasa kurang karena tidak ada kentang. "Jaem ini pesananmu." Jaewoo meletakkan pesanan dan pesanannya. "Maaf ra keburu tadi." "Ya udah gak apa-apa." Rasanya Aira ingin marah karena pesanannya tidak lengkap. Tapi dia harus menahannya mungkin karena efek lagi halangan. "Saya punya kentang, kamu mau?" Vino menawarkannya tapi Aira diam tapi dia ingin tanpa pikir panjang, Vino memberikannya. "Makasih tapi kamu tidak perlu memberikannya kepadaku." "Tidak apa-apa, saya tidak ingin memakannya." "Sudahlah Aira makan saja kapan lagi coba Vino baik sama kamu ini pertama kali ini lelaki itu memberikan makanan kepada perempuan." Bisik Hyemi membuat Aira menatap ke arah Vino yang sedang menyuap makanannya. "Kalian bisikin apa?" Tanya Jaewoo yang ingin tahu apa yang dibisikkan oleh Hyemi. "Kepo, kamu lebih baik diam saja." "Dih." Setelah selesai makan mereka keluar dari restauran dan berpisah karena jalan mereka pulang berbeda arah. "Menurutmu Vino itu seperti apa?" Tanya Aira kepada Hyemi dalam perjalanan pulang, Aira sadar dia mengatakan hal seperti itu kepada sahabatnya karena Hyemi duluan tau seperti apa Vino. Lelaki yang dingin tetapi menjadi rebutan di sekolah karena ketampanannya, walaupun seperti itu lelaki itu adalah juaranya. "Mengapa kamu menanyakan soal itu?kamu menyukainya?" Hyemi curiga jika sahabatnya menyukai Vino , apalagi jika Yejin tau itu bisa saja Aira di bully lagi. "Aku hanya bertanya jika kamu tidak menjawabnya juga tidak apa-apa, ya sudah aku duluan pulang." Kesalnya membuat Aira pergi meninggalkan Hyemi di belakangnya, merasa bersalah dengan sahabatnya. "Jangan marah dong." "Aku cuman penasaran aja, kamu itu suka sama Vino?" "Iya, kenapa?" Hyemi yang mendengarnya terkejut tapi dia tau perasaan sahabatnya saat bersama dengan Vino tapi memang benar cinta itu tidak bisa berbohong, tetap bakalan ketauan. "Aku akan membantumu jika kamu membutuhkanku untuk mendekatimu dengan Vino." "Jangan seperti itu aku tau apa yang akan kulakukan." Hyemi terdiam menatap sahabatnya yang menghilang dari balik pintu gerbang rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN