Setelah gadis itu memberitahukan kepada sahabatnya bahwa dia menyukai Vino sepupu dari Jaewoo sahabatnya.
Apa yang dilakukan oleh Aira jika Vino sudah mengetahuinya? Bagaimana pun lelaki itu terlihat dingin dan sudah membuat Aira kesal, tapi dia berusaha baik kepadanya.
"Mama Ersa itu siapanya Vino?" Gumam Aira karena saat dirumah itu ada Jaewoo.
"Apa tante yang jadi ibunya itu adalah mama Ersa? Lalu Vino siapa?" Aira tidak memikirkan hal itu, tapi dia ingin menemui Alvin karena Ersa pernah bilang kepada Aira jika Alvin baik-baik saja dia sembuh.
Sampai saat ini Aira tidak tau siapa Vino yang sebenarnya, Aira saja tidak mengenalinya karena wajah mereka terlihat agak berbeda hanya saja dia juga memimpikan seorang lelaki seperti Vino tapi penglihatan Aira buram.
Drttt...
Suara nada dering berbunyi, berasal dari benda pipih panjang yang berada di atas meja.
"Halo dek."
"Kak Aina, ada apa kak?" Tanya Aira saat mendengar suara Aina dan ada suara serak ayahnya.
"Ini ayah mau ngobrol sama bunda."
Aira mendengarkan suara sang ayah yang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu apalagi berbicara melalui panggilan karena mereka teralu sibuk dengan pekerjaannya.
"Bunda ada di dapur, bentar yah. Aku panggil dulu." Kata Aira dengan nada lembut dan turun kebawah menemui bunda.
"Bun, ayah mau ngobrol." Aira menyerahkan benda pipih itu kepada bundanya dan mereka berdua duduk di sofa.
"Ada apa mas?" Tanya bunda yang sudah lama tidak memakai sebutan 'mas' rasanya rindu sekali.
"Setelah urusanmu selesai di sana kembalilah kemari, anak-anak merindukanmu. Saya tau kamu sibuk tapi tidaklah kamu merindukan kasih sayang seorang anak yang merindukan ibunya selama bertahun-tahun, apalagi kamu memisahkan anak kembar yang tidak seharusnya di pisahkan karena masalah perkerjaan. Saya tidak mau itu terjadi kembali." Jelas ayah dan bunda meneteskan air matanya.
"Aku akan pulang ke Indonesia dan menyelesaikan pekerjaan di sini, aku belum bisa disebut sebagai ibu yang baik untuk mereka maafkan ibu." Kata bunda sambil menangis di pelukan anaknya.
"Nggak bun, bunda adalah yang terbaik bagi Aina, Aira, dan kak Dirga. Bunda adalah segalanya." Aina yang mengatakan itu membuat bunda kembali terisak.
"Bunda jangan nangis kita semua sayang bunda." Kata Dirga kakak sulungnya yang sudah lulus kuliah dan sekarang menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin perusahaan.
"Bunda jangan nangis lagi." Aira mengusap air mata yang berjatuhan membasahi pipi bundanya.
"Tolong pikirkan sekali lagi Lina dan Aira harus pulang ke Indonesia, kamu akan kuliah di sini bersama Aina. Biarkan bunda berkerja di sana tanpa memikirkan kalian." Tanpa rasa bersalah ayahnya mengatakan seperti itu dan bunda terdiam dan pergi masuk kedalam kamarnya, menangis karena merasa bersalah.
"Cukup ayah, jangan seperti itu sama bunda. Aina tau bunda pasti kangen sama kita, cuma dia harus menyelesaikannya perkerjaan terlebih dahulu." Jelas Aina dan keluar dari ruangan.
"Apa ayah tidak sadar jika semua ini juga ayah yang bersalah bukan bunda saja." Celoteh Dirga dan pergi meninggalkan ayahnya di dalam ruangan.
"Mereka anak-anak yang membutuhkan kasih sayang dari orang tua, maafin ayah nak." Ayahnya meneteskan air mata merasa gagal mendidik anak-anaknya.
#
Semua yang berada di dalam lemari dikeluarkan oleh sang pemilik dan dimasukkan ke dalam koper yang sangat besar.
"Aku tidak bisa meninggalkan bunda sendiri di sini." Aira menitikkan air mata tidak tega rasanya meninggalkan orang yang sangat berharga di hidupnya ditinggalkan.
"Bunda gak sendirian ada kakek sama paman dan bibik. Kamu jangan khawatirkan bunda." Bunda menjawabnya dengan tenang tapi rasanya sakit di tinggalkan anaknya yang sudah dirawat sejak kecil dan sekarang tumbuh dewasa.
"Aira sayang sama bunda jangan lupa kabarin Aira ya bun." Berat sekali rasanya berpisah dengan sang bunda yang sudah membesarkannya.
"Iya nak, kamu hati-hati ya."
Aira pergi meninggalkan rumah dan bergegas menuju bandara. Aira meletakkan kopernya di sampingnya, duduk di tempat di sediakan. Tapi Aira tidak sadar jika di belakangnya adalah ada lelaki yang sedang bermain game dan earphone yang sering dia bawa-bawa kemana-mana.
Para penumpang pesawat masuk kedalam pesawat, Aira mendapat kursi yang letaknya di sebelah jendela memperlihatkan kota Seoul dari atas sana. Tiba-tiba saja ada seorang lelaki
memakai topi dan duduk di sebelah Aira.
Aira mengenalinya siapa yang duduk di sebelahnya, hatinya berdetak kencang.
"Vino?" Aira melihatnya, lelaki itu menoleh melihat Aira yang kebingungan.
"Apa?"
"Tidak ada aku hanya kaget saja." Gugupnya dan ya seperti biasa dia selalu menggigit kukunya saat sedang gugup.
Vino yang melihat Aira seperti itu seperti perempuan yang pernah ia temui tapi ia tidak tau siapa perempuan itu.
"Tuan Park dan nyo-nya apa yang ingin di pesan." Kata pramugari tersebut, mengernyitkan dahinya. Saat melihat Vino dekat dengan serang perempuan.
Vino menyebutkan makanan yang ia mau sedangkan Aira diam, melihat ke arah jendela.
"Aira!" Panggil Vino dan yang dipanggil menoleh.
"Iya?" Aira menoleh ke arah pramugari yang menatapnya tajam tapi saat Vino kembali menatapnya pramugari itu tersenyum.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Vino dan Aira menggeleng sebenarnya dia tidak nafsu makan.
"Jika kau tidak makan kau akan sakit." Vino berbalik arah dan meminta pramugari itu untuk membawa makanan yang sama dengan Vino untuk Aira.
"Aku tidak lapar vin." Aira terus saja seperti itu, padahal dia tau kalau dirinya mempunyai penyakit mag.
"Janga seperti itu, kamu pasti akan menyukai masakan koki Zeren."
"Tapi aku tidak nafsu." Aira yang tidak ingin makan apa pun diam dan Vino tidak mengatakan apa pun karena Aira tidak bisa di paksa.
Pramugari itupun datang membawa makanan yang sudah dipesan dan Vino memberikan Aira makanan yang sama dengannya.
"Makanannya gak enak kalau sudah dingin lebih baik kamu memakannya sekarang, dibandingkan magmu kambuh." Entah dari mana Vino tau jika Aira punya penyakit mag karena telat makan.
"Aku akan memakannya setelah nafsu makanku kembali." Hanya itu yang diucapkan oleh Aira dan memilih ke arah jendela.
"Susah sekali membujukmu untuk makan, jika sudah seperti ini kamu akan menyesal tidak memakannya." Vino memakan makanan itu dengan lahap, Aira yang melihatnya ingin merasakan makanan tersebut. Apalagi ada buah strawberry sebagai makanan penutup.
Aira memakan makanan tersebut ternyata benar makanan itu sangat lezat, Vino yang melihat Aira yang senang sekali memakan masakan dari koki Zevan.
Koki Zevan adalah koki yang juara satu di Indonesia karena makanannya yang begitu lezat, sampai saat ini banyak sekali yang ingin mencicipinya tetapi lelaki itu sudah menjadi sukses tapi sekarang koki itu menjadi koki dirumah ayahnya di Indonesia.
#
Setibanya mereka di Indonesia, mobil sedan berwarna hitam datang untuk menjemput Vino tapi Aira harus menaiki taksi dan Vino menawarkannya, Aira mau menolak tapi dia ingin pulang menemui ayahnya dan kakak-kakaknya.