Bab 19

1087 Kata
Gadis berambut panjang itu sudah memasuki pekarangan rumah yang sangat luas di hiasi bunga yang sangat indah. "Sudah lama sekali, aku tidak datang kesini." Aira melihat-lihat isi dalam rumah yang sangat besar dan megah sama seperti rumah Vino yang berada di Korea Selatan. "Udah bertahun-tahun lo gak pernah kesini tapi ayah bilang rumah ini harus tetap seperti ini sampai bunda sama lo balik ke Jakarta." Ucap Aina membuat Aira sangat senang bisa kembali ke rumah ini dimana saat itu dia masih berumur sebelas tahun tetapi saat SMP bunda memisahkan mereka lagi pergi ke Amerika karena bunda dipindahkan ke sana barulah saat Aira naik kelas tiga SMA, bunda balik lagi ke Korea. "Aku kangen sama ayah." "Ayah ada di rumah sakit, kondisinya belum stabil." "Ya sudah kalau begitu kita ke rumah sakit." Aira sangat merindukan sosok ayah apalagi dari kecil mereka sudah dipisahkan dan mulai hari ini mereka tidak akan berpisah lagi. "Ganti pakaianmu dulu baru kerumah sakit." "Baiklah, bang Dirga kemana?" Lelaki yang merupakan kakaknya itu sedang berada di perusahaan ayahnya. "Kak Dirga ada di kantor ayah." "Oh, ya sudah tunggu aku kak ina." "Gue tunggu di mobil." Aira berlari ke atas menuju kamarnya yang memang sering di bersihkan walaupun Aira tidak ada di sini, kamarnya yang dulu tidak pernah berubah. Semuanya tetap dan tersusun rapi. Sementara di lain tempat lelaki dengan hoodie hitam keluar dari rumah yang megah dan halaman yang luas. "Tuan muda mau kemana?" Tanya pelayan rumah yang sedang membersihkan halaman. "Saya hanya berkeliling." Vino menaiki sepeda motornya berwarna merah dan menjauh dari bagasi. "Tapi tuan akan marah jika anda tidak memberitahunya apalagi tuan baru pulang tapi sudah pergi." Kata pelayan dan menunduk. "Saya bosan dan saya butuh udara segar jangan halangi saya." Vino keluar dan penjaga membukakan pintu gerbang. Jika ayahnya tau bahwa anaknya keluar dari rumah semua yang berada di sana akan dimarahi karena anaknya itu ingatannya belum pulih Saat masih remaja,Vino pernah lupa dengan jalan untuk pulang ke rumah akhirnya dia nyasar tepat di sana dia bertemu dengan Gavin dan mereka menjadi sahabat karena Gavin tau rumah Vino dia segera mengantarkannya. Vino mengelilingi gedung-gedung tertinggi melewati jalan-jalan dan keramaian kendaraan. Sampai akhirnya Vino memberhentikan sepeda motornya di sebuah rumah sakit yang letaknya tak jauh dari kantor ayahnya. Vino mencari ruangan yang sudah di beritahukan oleh mamanya. Akhirnya Vino menemukannya dan masuk ke dalam mendapati wanita yang sudah tua sedang berbaring di ranjang rumah sakit dengan keadaan masih tertidur pulas. "Nek, ini Alvin cucu nenek." Kata Vino dengan suara pelan tetapi wanita tua itu terbangun melihat cucunya yang berjongkok sedang mengelus tangannya. "Alvin!!" Panggil wanita tua itu dan yang di panggil melihat. "Maaf nek, Alvin baru bisa menjenguk nenek." "Iya gak apa-apa, nenek sangat merindukan cucu nenek yang sekarang sudah tumbuh sebagai lelaki tampan dan akan menggantikan posisi ayahnya." Wanita tua itu mengelus kepala cucunya yang dulu masih seumuran balita, bertemu saat lelaki itu sudah remaja dan sekarang lelaki itu tumbuh dewasa. "Saya akan melanjutkan kuliah saya di Indonesia dan menetap disini." "Nenek senang mendengarnya." Ada jeda dalam ucapannya. "Mana ibumu?" Vino yang mendengar itu sempat terdiam. "Mama sibuk di Korea, nek." Vino yang gugup tapi mau gimana lagi dia harus mengatakannya. "Nenek ingin sekali bertemu dengannya, tapi sepertinya dia sama saja seperti ayahmu teralu sibuk dengan urusan pekerjaan." Wanita tua itu merasa sedih melihat keluarga anaknya yang selalu mementingkan perkerjannya dibandingkan keluarganya. "Jangan sedih nek, Alvin bisa jaga diri sendiri. Kalau begitu Alvin pulang dulu nek, cepet sembuh." Hanya itu saja Vino ucapkan dan pergi meninggalkan wanita tua itu sendirian di ruangan yang hampa dan sunyi kembali dengan posisinya yang semula. Gadis berambut panjang itu sedang duduk di antara orang-orang yang sedang bercengkrama, dia. "Aira?" Vino tak percaya jika dia menemukan gadis yang membuat hatinya terpikat tapi sayangnya lelaki itu tak tau tentang kebersamaannya dengan gadis yang duduk di sebelahnya saat ini. "Kamu ngapain ke sini?" Tanya Aira melihat lelaki itu dengan santainya duduk di sebelahnya. "Ini tempat umum sudah sepantasnya saya berada disini." Dengan begitu membuat Aira kepancing amarah. "Iya aku tau ini tempat umum tapi kamu ngapain ke sini?, kamu ngikutin aku ya?" Aira menunjuk Vino sambil menyipitkan matanya. "Tidak, untuk apa saya mengikutimu kurang kerjaan sekali." Vino memutar bola matanya malas. "Iya siapa tau kan." Aira merasa malu karena teralu kepedean apalagi lelaki itu yang dia sukai tapi entah mengapa Aira menyukai Vino yang dulu dibandingkan yang sekarang. "Tidak, saya kemari menjenguk nenek yang sedang sakit." Jujur Vino yang selalu memakai bahasa baku. Aira hanya membuka mulut berbentuk o dan diam karena tidak ada percakapan yang lain. "Kamu disini ngapain?" Vino kembali bertanya, membuat Aira langsung menoleh. "Aku ke sini karena ayah." "Ayah kamu sakit apa?" Tanya Vino penasaran siapa ayah dari gadis yang membuat hatinya terpikat. "Dia hanya kelelahan, ya sudah kalau begitu aku masuk ke dalam sudah tidak ada di omongin lagi kan?" Aira yang terlihat sangat malas sekali untuk mengobrol lagi akhirnya dia masuk ke dalam meninggalkan Vino tapi saat ingin masuk Vino tiba-tiba menggengam tangannya. "Saya akan menemuimu lagi." Vino melepaskan tautan tangannya dan pergi dari sana, Aira yang masih mematung memperhatikan langkah lelaki yang lama-lama menghilang dari balik pintu rumah sakit. "Ada apa dengan adikmu itu?" Tanya ayah yang baru saja mengobrol dengan Aina saat menyuruh Aira keluar dari ruangan. "Aina juga gak tau yah, kenapa dia tersenyum seperti orang gila." Aina mengangkat alisnya saat melihat kembarannya itu. Aina menghampiri sang adik yang masih menatap penuh dengan tanda tanya. "Lo kenapa? Senyam-senyum kek orang gila haha." Tawanya membuat adiknya berhenti tersenyum. "Siapa yang senyum orang tadi itu aku liat idol kpop yang udah buat aku tersenyum." Aira berbohong agar Aina tak tau siapa lelaki yang membuatnya tersenyum sampai membuat pipinya merona. "Siapa tuh?" Tanya Aina karena melihat kembarannya sangat senang sekali melihat lelaki Korea. "Namanya Kim Jaesung dia penyanyi solo yang terkenal di Korea sampai internasional." "Oh dia temen gue juga banyak yang biasin dia." Aina melihat kembarannya sangat suka sekali dengan lelaki bernama Jaesung. Tetapi Aina memikirkan percakapannya dengan Ayahnya yang sangat ingin menjodohkannya dengan anak yang merupakan lawan sang ayah karena sebuah perkerjaan. Dan orang itu adalah sahabat ayahnya dan bundanya. # "Ayah ingin menjodohkanmu dengan anak sahabat ayah, lelaki itu sangat tampan dan belasteran Korea kamu pasti menyukainya." Aina ingin menolak tetapi ini permintaan ayahnya dia bisa apa. Apalagi dia masih berhubungan dengan Gavin jadi tidak mungkin dia memutuskan hubungannya karena sudah tiga tahun itupun mereka baik-baik saja tidak ada yang ingin memisahkan mereka tapi kenyataannya mereka harus berpisah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN