Aina tau ini begitu cepat apalagi saat ayahnya sangat kekah sekali ingin menjodohkan anaknya sampai kapanpun keinginan sang ayah tidak bisa di tolak, jika dia tolak ayahnya tidak akan menganggapnya sebagai anaknya lagi, kejam sekali bukan. Tapi itu bukanlah candaan, melainkan keseriusan.
"Kak Aina!!" Panggil kembarannya itu dari balik pintu kamar menggedor pintu tapi tidak ada sahutan. Sampai akhirnya Aira membuka pintu itu dengan keras.
"Astaga." Kaget Aina saat melihat adiknya itu masuk dengan tatapan tajamnya.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Aina melihat adiknya yang sedang berdengus kesal.
"Dari tadi aku manggil kakak gak jawab!!" Nadanya mulai meninggi, Aina tau kembarannya seperti ini karena datang bulan.
"Iya maaf." Aina tau dia salah harusnya dia menjawabnya saat Aira memanggil namanya, karena melamun Aina tidak mendengarnya bukan berarti dia tuli.
"Kak Aina lagi apa? Dari tadi diem aja."
Aira melihat kembarannya dari kemarin melamun tapi apa yang sedang di pikirkannya, Aira tidak mengetahuinya tapi apa salahnya Aira menduga bahwa ini disebabkan oleh percakapan ayahnya dengan kembarannya.
"Gak ada, lo kesini mau ngapain?" Tanya Aina. "Aku ke sini untuk memanggilmu untuk makan bersama dengan ayah dan kak Dirga juga." Mendengar itu Aina tidak ingin bergabung dengan mereka karena dia akan selalu kepikiran dengan lelaki yang di jodohkan ayahnya.
"Gue masih kenyang, bilang aja ke bibik anterin makanannya ke kamar."
"Kenapa tidak ingin gabung dengan kami, mereka sudah menunggumu." Tetapi Aina tetap menolak dan Aira tidak bisa membujuknya.
"Ya sudah aku akan menyuruh bibi untuk membawakan makanan untukmu." Mau tidak mau Aira harus mengikuti kemauannya, dia takut jika kembarannya sakit jika tidak makan.
"Mana Aina, dek?" Tanya lelaki berjas navy yang sudah menjadi penerus ayahnya.
"Kak Aina gak mau makan, tapi aku udah bilang ke bibik untuk membawakan makanan ke kamarnya kak Aina." Jelas Aira dengan wajahnya yang cemberut
"Ya sudah tidak apa-apa mungkin dia sedang sibuk." Nadanya yang santai membuat Aira berfikir bahwa ayahnya yang menyebabkan kembarannya diam dan selalu melamun.
Mereka bertiga makan dengan tenang hanya sendok dan garpu yang bersuara tak ada yang mulai pembicaraan sampai selesai makan pun ayahnya langsung pergi ke kamarnya.
"Aku ingin pamit pada ayah." Aira yang sudah melesaikan makanannya dan beranjak dari kursinya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Dirga melihat sang adik yang sekarang masuk ke dalam kamar ayah.
Aira tidak mendengarnya dan masuk kedalam kamarnya.
"Yah, aku mau pergi ketemu temanku boleh?" Aira memohon agar ayahnya mengizinkannya, ayahnya saja baru pulang dari rumah sakit kata ayahnya bosan.
"Dengan siapa?cewe atau cowo?" Tanya ayahnya secara tegas terhadap putri bungsunya itu.
Aira yang berdiri tegak di hadapan ayahnya yang sedang duduk di kasur, gadis itu sangat gugup untuk mengatakannya yang sebenarnya.
"Jawab dek." Ayahnya menanti jawabannya.
"Temen lama aku yah, boleh-kan?" Rasanya Aira ingin pergi dari sini tapi mau gimana lagi dia harus izin kepada ayahnya karena takut anaknya khawatir.
"Temen kamu yang mana? Kamu saja sudah lama tidak pernah ke sini apalagi sekarang kamu itu sudah dewasa, mana mungkin dia bisa mengenalimu."
"Dia mengenaliku, dia sempat menelponku." Kata Aira menahan agar tidak gugup.
"Ya sudah ayah mengizinkanmu tapi ingat jangan pulang sampai malam pukul sembilan kalau tidak ayah akan mengembalikanmu ke bunda."
"Iya yah, gak lama nanti sore juga pulang." Aira mengucapkannya dengan santai tapi dia kelihatan gugup.
"Baiklah."
Setelah itu barulah Aira keluar dari kamar tetapi saat dia membuka pintu kamar ayahnya, ia melihat lelaki berjas navy yang terbentur lemari karena pintunya terbuka. Siapa lagi kalau bukan kakak sulungnya itu, yang dari dulu suka menguping pembicaraan orang lain apalagi keluarganya sendiri.
"Dek jangan buka keras-keras dong pintunya, untung aja gue gak jatuh." Dirga memegang kepalanya yang sakit akibat ulahnya sendiri.
"Maaf kak, tapi kenapa kakak nempel di pintu? Kakak nguping ya?" Tunjuk Aira sambil tersenyum melihat kelakuan kakaknya yang tdiak pernah berubah sama sekali, ayah yang melihat itu hanya menggeleng-geleng kepala dan pintu kamar tertutup.
"Nn-nggak kok." Gugupnya tapi Aira tau kakaknya nguping pembicaraan.
"Udalah Aira tau kakak itu nguping tadi."
"Iya, gue tadi nguping."
"Berarti abang udah tau semuanya, aku mau pergi dulu." Aira melangkahkan kakinya pergi menuju pintu tapi saat itu juga Dirga memanggilnya.
"Kamu mau kemana? Ingat jangan sampai ayah marah, karena lo gak pulang."
"SIAP!" Aira mengangkat tangan kanannya dan sejajar dengan dahinya, hormat kepada kakaknya.
#
"Apa dia tidak jadi datang?" Gumam Vino karena menunggu gadis yang selama ini dia rindukan.
Aira sampai di cafe tempatnya bertemu dengan sahabatnya. Vino bangkit dari kursinya tapi saat Aira datang Vino menarik sudut bibirnya, tersenyum di matanya Aira begitu menggemaskan.
"Maaf menunggu, aku harus izin ke ayah baru diperbolehkan pergi keluar." Aira melihat lelaki yangal ada dihadapannya terlihat sangat manis saat tersenyum dan ketampanannya membuat semua orang terpikat.
"Saya tadinya mau pulang karena kamu tidak datang." Kata Vino dengan nada dinginnya dan menatap serius ke arah Aira.
"Kamu menyuruhku ke sini untuk apa?" Tanya Aira karena tak ingin berlama-lama.
"Aku memberikanmu kotak ini." Vino memberikan sebuah kotak berwarna putih dan Aira berterimakasih kepadanya.
"Apa ini?" Tanya Aira, dia berpikir bahwa ini adalah hadiah tali ulang tahunnya bukan hari ini.
"Kau boleh membukanya di rumah, saya hanya memberikan itu saja dan sampai jumpa." Ada jeda dalam ucapannya." Satu bulan lagi kita sudah mulai kuliah, kalau boleh tau kamu kuliah dimana?" Lelaki itu memandang gadis itu dengan seutas senyuman.
"Aku belum tau, kamu?"
"Entahlah, dimana pun tempatnya saya tidak masalah juga saya akan tetap belajar lebih giat lagi."
Setelah mengatakannya Vino langsung keluar dari cafe, berjalan ke arah mobil. Aira melihat kotak itu dengan senyuman yang sangat berarti baginya apalagi mendapatkan sebuah hadiah dari lelaki yang ia sukai. Jika lelaki itu bisa ingat pasti mereka akan bersatu, sayangnya Vino bisa saja hilang ingatannya jika dia mengalami kecelakaan dan akan terus mencoba menggali-gali ingatan yang pernah terkubur.
#
Malam yang sangat gelap dan bintang-bintang menghiasi langit, bulan purnama yang sangat bercahaya. Seorang gadis duduk di kasur di tangannya ia membawa kotak berwarna putih dan di atasnya dihiasi pita, gadis itu sedang melamun dengan benda yang di bawanya.
"Aku penasaran apa yang ada di dalamnya tapi..." Aira sangat penasaran apa yang ada di dalamnya, tapi jika terus seperti itu lebih baik dia langsung membukanya.
Aira membuka kotak terikat dengan pita itu dan melihat apa di dalamnya. Aira mengingat kejadian itu kembali.