“Jadi, sudah seserius apa hubunganmu dengan Atha?” tanya Hamdan setelah anaknya duduk di hadapannya. Dua cangkir kopi ikut terhidang di atas meja. “Kami baru berpacaran kurang lebih tiga bulan, Pa,” erang Costa lemah. “Baru tiga bulan, bukan berarti hubungan kalian tidak serius, kan? Bagaimana dengan rencana menikah?” Costa mengangkat bahu. Sebelumnya ia berharap, ayahnya mampu menyelamatkannya dari pertanyaan klise tentang pernikahan. Tetapi ibu dan ayahnya sama saja, sama-sama mengharapkan kehadiran menantu. Mereka tampaknya sudah cocok dengan Athalia. Ayahnya kerap memuji gadisnya itu, padahal mereka baru tiga kali bertemu. “Do you love her?” Hamdan berusaha mencari kejujuran di kedua bola mata anaknya. Costa kerap menanyakan pertanyaan yang sama terhadap hatinya sendiri. Ia balas

