Thalia mematut dirinya di depan cermin. Ia melirik gaun mahal berwarna pastel pilihan Costa. Sebuah tas mungil bermerek ikut menghiasi tangannya. Kakinya mengenakan sepatu hak tinggi dengan warna senada. Untung saja dulu ia cukup terbiasa. Kalau tidak, persis sudah ia bagai orang udik yang digiring ke pesta. Lututnya lemas menghitung berapa puluh juta uang yang dikeluarkan Costa untuk membuatnya pantas dibawa ke hadapan orang tuanya. Menurutnya, hasil karya si tukang make up sudah sempurna. Thalia sibuk memunguti kepercayaan dirinya yang berceceran entah di mana. Sering ia mengambil napas panjang lalu mengembuskannya kembali seperti pesakitan. “Perfect, cyin! Akika yakin, pacar you pasti makin cintrong!” oceh si tukang rias—entah Thalia harus menyebutnya pria atau wanita—sangat antusia

