“Apa menurutmu, itu akan berhasil?” “Kita nggak tahu akan berhasil atau tidak sebelum mencobanya, Pa,” jawab Attar. Matanya masih terfokus menatap layar ponselnya. “Kalau Atha semakin marah, bagaimana?” Bima mengusap wajahnya kasar. Pikirannya bercabang ke mana-mana. Gundah di hatinya tak kunjung pergi. “Ah, Papa cemen! Itu saja takut.” Bima melotot kesal. “Jangan terus mengulur waktu, Pa. Dia harus tahu yang sebenarnya. Masalah ajal, tak ada seorang pun yang dapat menerka. Papa mau meninggal dalam kondisi masih bertengkar dengan putri Papa? Yang ada nanti bukan Papa yang menyesal karena alam kita sudah berbeda,” cerocos Attar sok puitis tanpa memedulikan tampang ayahnya yang sudah berubah kelabu. “Papa, sih, enak, tinggal berurusan dengan Munkar dan Nakir. Sementara aku? Dia akan ter

