38. Interlude

3349 Kata

Thalia berlari dan terus berlari. Ia mengabaikan detak sepatunya yang berbunyi bising di sepanjang lorong nan sepi. Setibanya dalam lift, ia memencet tombol lantai dasar sambil mengusap mata dengan punggung tangan. Bibirnya bergetar menahan isak. Sialnya lagi, di lantai-lantai berikutnya, lift tersebut semakin sesak. Ia menepi ke pojokan dan menutupi mukanya dengan menunduk dalam-dalam. Thalia membatalkan niatnya datang ke kampus. Dalam perjalanan pulang ia berusaha keras menjaga matanya agar tidak berair. Konyol bila ia harus mengalami kecelakaan sekali lagi. Belum tentu dirinya masih bisa selamat. Bisa jadi, ulah si pacar sialannya itu pulalah yang memuluskan jalannya ke akhirat lebih cepat. Hatinya hancur. Costa jahat sekali melibatkan dirinya terlalu jauh dalam permainannya. Harapan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN