Kebencian Damian

1619 Kata
Setiap pagi di rumah besar bergaya klasik itu selalu di mulai dengan keheningan yang aneh. Bukan karena tak ada suara, tapi karena suara-suara yang terdengar tak pernah benar-benar berbicara tentang perasaan yang sesungguhnya. Dan pagi ini, Damian kembali menemukan dirinya berdiri di ambang dapur, menatap pemandangan yang entah mengapa semakin hari membuatnya tak menyukai hal ini. Di meja makan, Agatha sedang menyendokkan bubur oatmeal ke dalam mangkuk putih porselen. Ia menuangkannya dengan penuh kelembutan dan hati-hati. Tak jauh darinya, segelas s**u hangat telah ia siapkan. Uapnya masih mengepul pelan di udara. Ia meletakkan sendok perak di samping mangkuk dan menarik kursi untuk sosok yang kini tengah duduk santai di ujung meja, Alina. Alina tampak tenang, wajahnya sedikit pucat tapi tetap anggun. Perutnya yang telah memperlihatkan perubahan itu menjadi bukti nyata bahwa ia tengah mengandung anak yang kini tumbuh di rahim seorang wanita asing, bukan istrinya sendiri. Damian yang telah rapi menggunakan pakaian kerjanya, memilih untuk mematung di tempatnya, melihat istrinya dari kejauhan kemudian ia mendecih pelan, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk menahan gemuruh di dadanya. Ia bersandar di dinding, menyilangkan tangan di d**a sambil memandangi Agatha. "Lagi-lagi dia bersikap seperti ini," pikirnya dengan gemas. Tatapannya tajam menyisir gerak-gerik istrinya, seperti mencari-cari kesalahan sekecil apa pun. "Dia hanyalah seorang surrogate, bukan ratu di rumah ini," gumam Damian dalam hati dengan celana napas kasarnya. "Apa Agatha benar-benar tidak bisa melihat itu? Kenapa ia harus melakukan seperti ini? Sarapan? s**u? Bahkan tadi malam dia menyiapkan bantal tambahan untuk Alina agar bisa tidur lebih nyenyak." Damian ingin sekali rasanya meminta istrinya untuk tidak melakukan hal seperti itu, tapi entah kenapa setiap kali ia ingin melakukannya ia selalu tak memiliki kesempatan itu. Dan ketika ia melihat Agatha berjalan ke dapur, Damian pun segera buru-buru melangkahkan kakinya menuju ke arahnya untuk menemui istrinya. “Agatha,” panggilnya pelan tapi bernada tajam. Agatha sejenak menoleh ke arah Damian. “Sayang, kau sudah rapi?” tanya Agatha dengan senyuman manisnya. “Aku menyiapkan sarapan untuk Alina dulu, lalu—-“ “Apa wanita itu tidak memiliki tangan sendiri sampai harus kau yang melakukan semuanya?” Suasana pun seketika langsung berubah saat suaranya terdengar, dingin dan tajam seperti belati yang dilempar ke dalam baskom air hangat. Agatha yang sedang memegang botol madu, langsung menatap wajah suaminya. Wajahnya yang semula tenang seketika menegang. Ia menatap suaminya, mencoba membaca arah dari kemarahannya itu. “Aku hanya ingin membantu Agatha saja,” jawabnya lirih, lalu meletakkan botol itu perlahan ke atas meja. Damian terkekeh sinis, kemudian melangkah mendekat. “Kau bilang membantu?” tekan Damian, sembari menatap tajam ke arah Alina yang terduduk di kursi meja makan. “Agatha, kau terlalu baik. Jangan melakukan hal bodoh ini lagi!" “Damian, cukup.” Agatha menarik napas, mencoba tetap tenang. “Alina sedang mengandung anak kita. Setidaknya, ia pantas mendapat perhatian." “Perhatian?” Damian menaikkan alis. “Iya, perhatian. Tapi bukan perlakuan seperti ini. Kau melayaninya seperti dia Nyonya rumah ini dan kau adalah pelayannya. Padahal kenyataannya ia hanyalah seorang Ibu pengganti,” desis Damian, suaranya nyaris tertahan oleh kemarahannya sendiri. “Kau tahu berapa banyak wanita yang berpura-pura manis saat sedang mengandung anak orang lain? Mereka akan mulai menuntut lebih setelah bayinya lahir. Mengancam, memanipulasi. Dan kita akan terjebak dalam rasa bersalah.” Agatha menatap suaminya dengan tatapan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tatapan yang tak hanya terluka, tapi juga tajam. Penuh keteguhan. “Pelankan suaramu, Damian,” katanya dengan tegas. “Bagaimana kalau Alina mendengarnya?” “Bagus kalau dia mendengarnya,” balas Damian cepat. “Bukankah itu lebih baik, agar dia tahu batasnya. Dia hanya bagian dari kontrak. Dia tidak memiliki tempat di rumah ini selain sebagai—” “Damian!” Kali ini suara Agatha sedikit lebih keras. Tapi bukan karena emosi. Melainkan ketegasan yang dibalut kesedihan. “Damian, aku tahu. Kau pikir, aku akan selemah itu yang hanya bisa di manfaatkan oleh seseorang?” ucapnya sepelan mungkin. “Kau pikir aku tidak bisa membedakan mana kebaikan dan mana manipulasi? Damian, aku bukan wanita polos seperti yang kau anggap.” Damian terdiam, terkejut oleh nada suara istrinya yang tak seperti biasanya. Ia terbiasa melihat Agatha tersenyum, menenangkan dan menurut. Tapi pagi ini, ada api dalam tatapannya, seolah Agatha tak menerima saran baik darinya. “Kau takut aku dimanfaatkan,” lanjut Agatha, suaranya tetap lembut tetapi terdengar getir. "Tapi mungkin, yang sebenarnya tak bisa kau terima adalah ketika kau menganggap Alina sebagai sosok paling buruk karena menjadi ibu pengganti untuk kita?" "Kau masih belum sepenuhnya menerima kenyataan itu, bukan? Kau tak menyukai Alina karena ia dengan terpaksa, mengandung anak yang sebenarnya tak kau harapkan tumbuh dalam rahimnya. Dan kau menganggap bayi itu... hanya hasil dari sebuah kontrak, dari keputusan yang ku ambil sendiri." Damian membuka mulutnya, ingin menyanggah, tapi tak ada kata-kata yang keluar ketika Alina tiba-tiba muncul di dapur. Alina yang melihat Damian ternyata berada di dapur ia merasa kikuk dan langsung menghentikan langkahnya seolah niatnya untuk mengambil segelas air mineral tertahan dan terlupakan. Hening pun seketika terjadi di antara mereka dengan Agatha yang mulai di penuhi pikiran apakah Alina mendengar apa yang Damian katakan ? bagaimana bila Alina mendengarnya lalu merasa tersinggung atau sakit hati? Agatha memberikan tatapan tajam pada Damian seolah memintanya untuk diam, kemudian mendekat ke arah Alina. "Apa yang kau lakukan, Alina?" "Aku--- aku hanya ingin mengambil air," kata Alina pelan dengan sesekali melihat Damian yang terlihat sekali tak menyukainya dan ia bisa merasakan aura mencekam itu. Agatha menarik sudut bibirnya, "Kau hanya tinggal memanggilku saja, Alina. Kau tidak perlu sampai melakukan ini." Alina tersenyum kaku. “Maaf. Aku tidak mau merepotkan.” Damian mendecih pelan lagi."Tuhan menciptakan kedua tangan dan kaki--" "Ayo, Alina, kau duduk kembali, biar aku saja yang mengambilkan," kata Agatha sembari menuntun Alina untuk kembali ke kursi dan itu membuat Damian langsung mengatupkan mulutnya. Damian hanya menatap istrinya yang menuntun Alina duduk hingga kembali ke dapur. "Agatha," Dan lagi, Agatha seolah menutup telinganya dan tak menggubrisnya Damian pun hanya berdiri di tempat, sembari menatap punggung wanita itu yang kembali menjauhi dirinya. *** Malam itu, bulan menggantung redup di langit, menyinari rumah besar yang diliputi keheningan. Di kamar utama, lampu tidur temaram menyebarkan cahaya lembut, tetapi suasana di dalamnya jauh dari tenang. Damian berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di d**a, membelakangi istrinya. Agatha duduk di sisi ranjang, kedua tangannya bersedekap di pangkuan, menatap punggung suaminya dengan sorot mata yang penuh pertanyaan. “Agatha,” ucap Damian perlahan, suaranya terdengar berat, seakan menahan sesuatu yang ingin meledak. “Aku sudah mengatakan bukan, apa yang kau lakukan terhadap Alina tadi di dapur… menurutku, terlalu berlebihan.” Agatha menatap suaminya dengan di akhiri helaan napas pelan. "Damian, kita sudah membicarakan ini." “Aku merasa ini memang harus aku lakukan. Dan berlebihan katamu? Aku hanya menyuguhkan sarapan untuknya. Apa salahnya melakukan hal kecil seperti itu?” Damian berbalik dengan ekspresi yang datar tetapi tajam. “Kau memperlakukannya seperti seorang ratu hanya karena ia tengah mengandung anak itu. Itu tidak seharusnya kau lakukan, ia bukan bagian dari keluarga ini.” Agatha berdiri, mendekatinya dengan langkah perlahan. “Damian, dia tengah mengandung anak kita. Apa yang ia lakukan jauh lebih besar dari apa pun yang pernah kulakukan untukmu. Ia bersedia meminjamkan rahimnya demi kita. Bahkan, kita tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan kehamilan ini, sebelum perjodohan yang akan keluargamu lakukan padamu, terjadi." Damian mendengus pelan, tidak menjawab. Agatha melanjutkan, nadanya masih tenang tapi mulai mengguratkan luka. “Aku hanya ingin menunjukkan rasa terima kasihku. Apakah salah jika aku bersikap sedikit peduli? Dan seharusnya kau juga melakukan hal yang sama. Menunjukkan perhatian, setidaknya terhadap bayi yang dikandungnya.” Namun, Damian langsung menggeleng dengan tegas. “Aku tidak akan melibatkan diriku lebih jauh. Aku tidak ingin berinteraksi dengannya, Agatha.” Agatha menatap suaminya dengan begitu dalam. “Kenapa?” tanya Agatha, nyaris berbisik. “Karena ia bukan siapa-siapa bagiku. Hanya wanita asing yang terpaksa dipilih menjadi ibu pengganti untuk kita dan aku tidak merasa perlu untuk menjalin kedekatan dengannya.” Agatha mengembuskan napas dalam-dalam. Sorot matanya mulai meredup, bukan karena marah, melainkan karena kecewa yang menyayat. “Damian, ini bukan hanya tentang Alina. Ini tentang anak kita. Kau Ayah dari bayi itu. Bahkan jika kau tidak bisa dekat dengan Alina, setidaknya ciptakan kedekatan dengan bayi itu. Bicara padanya, rasakan gerakannya, tumbuhkan ikatan itu dari sekarang.” Damian diam. Kepalanya menunduk sesaat, lalu ia melangkah menuju pintu tanpa berkata-kata. Ia membuka pintu dengan kasar, lalu menutupnya cukup keras hingga terdengar menggema. Agatha tetap berdiri di tempatnya. Sorot matanya kosong dan tubuhnya terasa hampa. Ia duduk kembali di ranjang, menyandarkan tubuhnya dengan lelah. “Seandainya aku dapat menjadi wanita sempurna, aku pun takkan memilih jalan ini,” bisiknya lirih. “Tapi Alina… ia seperti malaikat yang hadir saat pernikahan ini berada di ambang kehancuran.” Di lorong rumah yang sunyi, Damian melangkah cepat, tidak peduli pada siapa pun. Tapi, tanpa ia duga, seseorang berdiri tidak jauh dari kamarnya, Alina. Wanita itu berdiri membisu, mengenakan piyama sederhana dan wajah yang tampak lebih pucat dari biasanya. Dengan rambut yang tergerai, wajahnya yang menunduk dan matanya penuh kegamangan. Damian hanya menatapnya sekilas, tanpa menyapa, tanpa ekspresi sedikitpun. Ia berlalu begitu saja, seperti angin dingin yang tidak menyentuh apa pun dalam perjalanannya. Alina tidak berkata sepatah kata pun. Ia hanya memejamkan mata sesaat dan menggenggam ujung bajunya erat-erat. Percakapan mereka yang tanpa sengaja didengarnya masih terngiang jelas di telinganya. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Ia tidak tahu apakah ia sebaiknya merasa bersalah, terluka atau bersyukur karena pekerjaan ini ia dapat menolong nyawa ibunya. Yang ia tahu, ia hanya menjalankan tugas yang berat. Namun mengapa hatinya terasa sakit seperti ini, melihat pria kecil yang dulu ia cintai kini berubah menjadi amat membencinya, hanya karena ia menjalani peran sebagai ibu pengganti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN