Perusak Kebahagiaan

1270 Kata
Dapur rumah itu di selimuti aroma lembut dari adonan yang tengah mengembang di dalam oven. Agatha berdiri di depan meja marmer, mengenakan apron krem yang sudah penuh bercak tepung. Jemarinya sibuk mengaduk adonan cake di dalam mangkuk besar, sesekali mencicipi rasa dengan ujung jari yang kemudian ia cicipi sambil mengerutkan kening. “Apa terlalu manis? Atau kurang garam ya?” gumamnya sendiri, berusaha menciptakan rasa yang pas. Udara sore menyelinap pelan dari jendela terbuka, menyapu helai rambutnya yang terlepas dari ikatan. Ia tenggelam dalam kesibukannya, tak sadar ada langkah kaki pelan yang menghampiri dari belakang. Tiba-tiba, sepasang lengan melingkar lembut di pinggangnya dari belakang. Agatha tersentak kecil, lalu tertawa pelan saat merasakan dagu Damian bertumpu di bahunya. “Sedang apa istri manisku di sini, hm?” bisik Damian, suaranya berat namun hangat, mengalir seperti desir angin senja yang merasuk ke kulit. Agatha tersenyum tapi tidak menoleh. “Sedang mencoba resep cake baru. Aku ingin membuat sesuatu yang manis hari ini.” “Sudah cukup manis,” gumam Damian, kini mengecup pelan sisi lehernya. “Kau sendiri justru yang paling manis.” Agatha terkikik dan mendorong wajahnya pelan. “Kalau kau terus mengganggu, adonannya mungkin bisa gagal mengembang, tahu!” Damian memutar tubuhnya perlahan hingga Agatha berbalik menghadapnya. “Kalau gagal, aku yang bertanggung jawab. Tapi, sepertinya apa yang kau buat pasti akan selalu berhasil." Mereka tertawa bersama. Tak ada kemewahan dalam momen itu, hanya kehangatan dua hati yang saling menyatu dalam keheningan dapur yang sederhana. Agatha kembali sibuk menuangkan adonan ke loyang, sementara Damian tak jauh-jauh dari sisinya, mencicipi, mengomentari dan sesekali, secara terang-terangan mencuri pelukan pada istrinya Ketika cake akhirnya matang dan keluar dari oven, keharuman cokelat memenuhi ruangan, menambah suasana yang sudah nyaman menjadi sempurna. Agatha memotong sepotong kecil dan mencicipinya bersama Damian. Mereka saling bertukar pandang dan tersenyum, puas dengan hasil kerja sama mereka. Dan pada saat itulah, sebuah bayangan bergerak di ambang pintu. Alina berdiri di sana. Tak sengaja lewat, tapi terlalu terkejut untuk langsung berbalik. Matanya menangkap momen manis di antara dua insan yang begitu dekat untuk tak menimbulkan getaran di dadanya. Sekilas, Agatha yang sedang tertawa dan Damian yang memandangnya penuh cinta, menyadarkan Alina bahwa ia adalah orang luar di tempat ini. Orang asing dalam cerita yang bukan miliknya. Namun, yang mengejutkannya bukan kemesraan itu. Melainkan saat Agatha menoleh dan tersenyum padanya, seolah kehadirannya bukan gangguan besar. “Lin?” panggil Agatha, lembut seperti biasa. “Kau sudah bangun? Ayo sini… coba cake buatan kami. Ini masih hangat.” Alina terdiam. Seolah tak percaya bahwa wanita yang harusnya membencinya itu justru mengajaknya bergabung. Ia melangkah pelan, ragu. Tatapannya sempat bertemu dengan Damian yang kini berdiri kaku, tak menyambut kehadirannya. Agatha, kenapa kau harus memanggilnya! ucap batin Damian tak suka dengan keberadaan Alina disini. Ia menganggap Alina bak seorang pengacau mereka. Damian memilih untuk menunduk, bersikap seolah Alina tidak ada. Seolah keberadaannya tak berarti. Dia pikir, bisa begitu saja masuk ke dalam hidup kami dan mengacaukan segalanya! teriak batin Damian tak terima Namun Agatha tetap memegang piring kecil berisi potongan cake, menyodorkannya padanya. “Ayo, coba. Anggap ini... semacam penyambung antara kita dan bayi di perutmu. Lagipula, bayi itu perlu rasa manis juga kan?” ucapnya dengan senyum hangat. Alina menelan ludah. Hatinya terasa campur aduk. Ia menerima piring itu dengan tangan gemetar dan mencicipi perlahan. Rasa cake-nya enak, manis, lembut, dengan sedikit rasa pahit dari cokelat pekat. Tapi, yang lebih kuat terasa adalah rasa getir yang mendadak membuncah dari dalam dadanya. Damian diam. Sikapnya tetap kaku dan dingin. Ia memilih untuk menatap adonan sisa di meja, pura-pura sibuk, seolah Alina hanyalah siluet tembus pandang yang tidak perlu digubris. Namun, Agatha justru mencairkan suasana dengan keramahan yang mengalir begitu tulus. Bukan karena ingin berpura-pura atau terlihat baik, melainkan karena memang begitulah dirinya yang penuh dengan kelembutan, pengertian dan menerima segala sesuatu dengan hati yang lapang. Alina memandangi wajah wanita itu. Wajah yang tenang, tanpa dendam, tanpa penolakan. Ia mulai menyadari, bahwa mungkin inilah alasan mengapa Damian begitu dalam mencintai Agatha. Karena Agatha memiliki sesuatu yang sulit dimiliki banyak wanita, ketulusan yang tak bisa dibuat-buat. Dan di tengah rasa asing, malu dan tak nyaman yang menusuk di dalam dirinya, Alina akhirnya menyadari satu hal yang menyesakkan. Wajar bila Damian begitu membenci kehadirannya. Wajar bila Damian tak pernah ingin melihatnya ada di sini. Karena di samping wanita seperti Agatha, dirinya hanyalah bayang-bayang samar yang tidak seharusnya hadir. Namun Agatha tak pernah memperlakukannya buruk. Ia tidak menyindir, tidak merendahkan dan tidak menjauhi. Ia bahkan memberinya tempat, walau sempit di antara mereka. Satu potong cake, satu undangan sederhana, tapi cukup untuk membuat Alina sadar, bahwa dunia tidak selalu hitam-putih. Dan bahwa tidak semua wanita akan melabelinya murahan hanya karena satu keputusannya untuk menjadi surrogate mother, yang tak bisa di hapus. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada caci maki. Sebab yang benar-benar menyakitkan bukanlah kebencian, tapi kebaikan… ketika kita menyadari, tak peduli sekeras apa pun mencoba, kita tak akan pernah bisa menjadi seperti mereka. *** Hening menyelimuti kamar itu, hanya suara detak jarum jam di dinding yang terdengar nyaris seperti bisikan. Di sudut ranjang, Alina duduk bersandar pada bantal, kedua tangannya mengelus lembut perutnya yang perlahan membesar. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang tirainya setengah terbuka, membiarkan cahaya senja merembes masuk dengan lembut, seolah tak ingin mengganggu ketenangan yang semu. Namun, di dalam dirinya, ketenangan itu hanyalah ilusi. Ada badai kecil yang bergemuruh di balik tatapan tenangnya. Pertanyaan demi pertanyaan muncul tanpa bisa ia kendalikan. Kenapa Agatha melakukannya? pikirnya, berulang-ulang. Kenapa wanita sebaik itu, yang jelas-jelas sangat mencintai suaminya dan dicintai pula dengan begitu dalam oleh Damian harus memilih cara seperti ini? Kilasan adegan di dapur tadi masih terekam jelas di kepalanya. Senyuman lembut Agatha. Tatapan penuh kasih Damian. Tawa kecil yang terdengar begitu tulus, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Tidak ada jarak, tidak ada luka, tidak ada kekosongan di antara mereka. Dan justru karena itu semua… semuanya justru tak masuk akal bagi Alina. “Mereka terlihat sempurna,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara napasnya sendiri. “Begitu harmonis, saling mencintai… lalu kenapa harus aku yang berada di tengah-tengah kebahagiaan mereka?” Ia menunduk, menatap perutnya dengan sorot mata rumit. Ada kehangatan, tapi juga keraguan. Ia tahu ini bukan hanya karena bayi ini adalah simbol dari keputusan yang tidak ia pahami, dari perjanjian yang bahkan tidak di izinkan untuk dipertanyakannya. Alina meremas ujung selimut dengan pelan. “Kalau memang mereka bahagia… kenapa memilih surrogate? Apakah Agatha tidak bisa hamil? Tapi dia tampak sehat… atau mungkin—” Ia menghentikan lamunannya sendiri. Tangan kirinya menutupi mulut, seolah mencegah dirinya melangkah terlalu jauh ke dalam dugaan-dugaan yang tak seharusnya ia punya. Ia mengingat kembali kalimat dalam kontrak yang ia tandatangani, tidak berhak menuntut penjelasan, tidak boleh bertanya tentang alasan dan harus menjaga jarak emosional. “Semuanya rahasia …,” bisiknya getir. “Aku tidak dapat menerka sesuatu hal yang tidak pasti." Kepalanya tertunduk. Ada rasa kecil yang membuatnya merasa tak berarti, seperti hanya wadah tanpa nilai, sekadar perantara yang fungsi tubuhnya saja yang dihargai. Tapi rasa penasaran itu terus menggerogoti, menggigiti bagian dirinya yang paling rapuh. Ia mencoba melawan keinginan untuk bertanya, untuk mencari tahu, tapi manusia punya batas dan batinnya sudah terlalu lama dipenuhi pertanyaan tak terjawab. “Bagaimana bisa aku terus berpura-pura tidak peduli?” lirihnya, hampir seperti keluhan kepada dirinya sendiri. “Aku tinggal di rumah mereka, mengandung anak mereka, melihat cinta mereka setiap hari… tapi tak diberi tahu alasan kenapa aku harus melakukan ini?” Alina menggigit bibir bawahnya, menahan emosi yang mendesak di tenggorokannya. Tapi apa yang bisa ia lakukan, ketika ia tak memiliki hak apapun untuk berbicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN