Sesampainya mereka di taman, Aldo memejamkan matanya. Mengirup udara di sekitarnya. Tatapan Rara sendiri hanya terfokus ke pria yang tengah memejamkan matanya. Seolah dunianya hanya berpusat di pria itu. "Kak." "Hm?" sontak Aldo membuka kedua matanya dan menolehkan kepalanya. "Aku ngga bakal ngira kalo Allah mempersatukan kita lagi. Aku kira, sampai aku tua nanti cuman Nalen yang jadi penguat aku." "Tuhan itu Maha Adil Ra, Dia yang nentuin takdir manusia. Apapun takdir yang diberikan, kita harus mensyukuri." Tangan Rara terulur menyentuh punggung Aldo, "Masih sakit ya Kak?" "Nyeri aja sih kalo kena sesuatu gitu." "Aku gantiin perbannya mau?" perawat yang menangani Aldo memang menyarankan untuk mengganti perban setiap tiga jam sekali. "Boleh, nanti aja. Kan masih ada Chika sama Di

