"Giska, ada Andra di depan," ucap Dara yang baru memasuki kelas.
Giska langsung terlihat frustrasi, ekspresi wajahnya terlihat tertekan. Ia mengehela nafas berkali-kali, serta mengelus dadanya untuk bersiap menghadapi pria gila itu.
"Dar, bawa gue ke Mars, ke Jupiter kek, kemana aja asal jangan di sini lagi, gue capek sama mahluk bumi satu itu," ujar Giska.
Dara tertawa. "Kenapa sih? Andra ganteng b**o, tajir, pinter, apa coba yang kurang?"
"Kewarasannya."
Dara kembali tertawa. "Dia kayak gitu cuman ke lo doang, sama orang lain dia cuek tau, Gis."
"Idih, bodo amat."
"Balikan aja kek kalian, Andra kayaknya udah cinta mati sama lo."
"Iya dia cinta mati, ntar kalo kita balikan gue yang mati," saut Giska kesal.
"Tuh orang kadar kewarasannya minim banget Dar, masa dari kemaren minta di cium sama gue tiba-tiba. Mana ngerengek terus sampe sakit kuping gue."
"Cium aja kali, gratis ini."
"Dara!" Giska melotot, gadis itu memang hobi sekali melotot.
Dara hanya menyengir. Memperhatikan deretan giginya yang rapih. Gadis berambut panjang itu meringis melihat wajah garang Giska.
"Giska sayang, ayo ke kantin!" Andra masuk ke kelas. Berteriak layaknya bocah umur 5 tahun yang mengajak temannya bermain.
Giska langsung berpura-pura tidur dengan menggunakan lipatan tangan sebagai bantal.
"Dia tidur?" tanya Andra pada Dara.
Dara hanya mengangguk. Takut jika dia menggeleng, maka Giska akan mengamuk.
"Duh kasian, pasti capek ya selamem abis 7 ronde sama gue," ujar Andra memancing tatapan penasaran murid sekelas Giska.
Seketika Giska langsung bangun dan menjambak rambut Andra yang tertata rapi.
"Kurang ajar mulut lo!" teriak Giska.
"Hehe, kan bener, lo cuman pura-pura tidur," ucap Andra menyengir.
Giska ingin menangis sekarang, mengapa kelakuan Andra serandom ini?
"Gis, lo udah gak segel?"
"Gilak, lo berdua udah gituan?"
Giska menoleh pada beberapa perempuan di ujung kelas yang bertanya. Mereka adalah biang gosip di kelas Giska. Lambe turah versi sekolah.
"Jaga mulut lo ya!"
"Jangankan gituan, bibir gue aja masih suci sampe sekarang!"
Giska menatap mereka garang, hingga mereka memilih tidak menatap Giska lagi. Sepertinya gadis itu sedang PMS. Galak sekali.
"Mulut lo itu Ndra!" Giska melepaskan jambakannya di rambut Andra.
"Sorry, babe."
"Babe-babe pala lo peang!"
"Jangan marah dong sayang," ujar Andra mengedip-ngedipkan matanya polos. Bukannya membuat Giska luluh, malah membuat gadis itu semakin mendidih.
Giska menarik kerah seragam Andra. "Bunuh gue Ndra! Bunuh! Menglelah gue ngehadepin lo!"
"Yah, jangan dong, gue gak mau jadi duda."
Giska menangis sekarang. "KALAU GITU LO AJA SINI YANG GUE BUNUH!"
*****
Giska berjalan menuju rooftop sekolah, itu satu-satunya tempat yang bisa Giska datangi untuk menghindari Andra.
Andra tak pernah naik ke lantai 4, katanya banyak hantu, meskipun badannya besar, tapi Andra paling takut dengan hantu, jadi di sana Giska bebas dari Andra.
Giska berjalan menuju pinggiran Rooftop, namun ia melihat punggung tegap seorang laki-laki yang membelakanginya. Giska mengenal punggung itu.
"Elang?"
Pria itu menoleh, menatap Giska datar lalu kembali menatap ke depan, dari atas sini mereka bisa melihat pemandangan rumah-rumah warga dan juga gedung-gedung tinggi di belakang sekolah.
Giska duduk di samping Elang. "Lo ngerokok?"
Elang menoleh, menaikan alisnya seolah bertanya Giska tau dari mana.
"Gue nyium bau tembakau," jawab Giska.
Elang bedehem mengiyakan, tak mengelak sama sekali.
"Kenapa?"
"Gue suka."
"Hah?" Giska tak mengerti dengan jawaban singkat Elang.
"Suka lo."
Giska membelalakan matanya. "Eh?"
Elang menarik sudut bibirnya. "Suka rokok," ralatnya.
Giska menormalkan ekspresi wajahnya. "Tapi itu gak sehat, kalo ketauan guru juga lo bisa kena kasus."
"Gak akan ketauan, kecuali lo lapor."
"Gue gak akan lapor!" Giska mengangkat jari tengah dan telunjuknya.
"Bagus."
"Elang, lo kenapa ganteng?" Giska mulai menjalankan aksinya yang belum tuntas sejak kemarin, membuat Elang jadi pacarnya.
Tentu saja Giska akan membuat Elang menembaknya, meskipun terkenal playgirl, Giska masih punya harga diri untuk tidak menembak duluan. Kodrat wanita adalah di kejar, bukan mengejar.
"Lo suka gue?" Elang menaikan alisnya, tatapannya yang tajam langsung menghunus mata Giska.
Giska meneguk ludahnya. Mengapa Elang sangat mempesona? Giska kan jadi gugup.
"G-gue..."
"Jangan suka gue."
"Hah?"
Elang menatap Giska, tangan besarnya terangkat mengelus pipi Giska.
"Cukup gue aja yang suka lo."
"K-kenapa?"
"Nanti lo bakal nyesel."