Part 1
"Gis, ada cogan."
Giska yang sedang makan mendongak begitu merasa lengannya di sikut oleh gadis di sebelahnya.
"Mana, Dar?" tanya Giska antusias.
Dara menunjuk ke depan, tepatnya dua meja dari meja mereka saat ini.
Giska seketika berdecak kagum. "Ganteng banget, fiks dia target gue selanjutnya."
Dara melirik Giska. "Kayaknya kali ini gak bakal mudah deh."
"Kenapa?"
"Tuh." Dara mengangkat dagunya menujuk sosok laki-laki yang duduk bersama cogan tadi.
Giska berdecak. "Itu orang ngapain sih di sana?" kesalnya.
"Mana gue tau, lo tanya aja sendiri, dia kan mantan lo." Dara mengedikan bahunya.
"Ah bodo amat, pokoknya tuh cowok harus jadi pacar gue selanjutnya, masa bodo sama kutu kupret yang itu."
Giska merapihkan rambut pendeknya yang tergerai sampai bahu, ia mengambil cermin kecil di sakunya, lalu memoleskan liptin berwarna merah. Sekarang ia sudah siap untuk menjalankan aksinya.
Giska berjalan mendekati meja pria itu. "Hai, gue Giska," ucapnya mengulurkan tangan.
"Gue Andra."
Bukan pria yang Giska targetkan yang menyambut uluran tangannya melainkan pria di sebelahnya.
"Lepas!" kesal Giska menarik tangannya.
Gadis itu berusaha mengabaikan Andra dan memilih duduk di samping pria yang sedang asik dengan makanannya. Dari dekat sini Giska bisa lihat jelas ketampanan paripurna pria itu.
"Nama lo siapa?" tanya Giska.
"Elang," sautnya datar.
Hal itu malah membuat senyum Giska semakin lebar, ia jarang menemukan pria dingin seperti ini. Giska merasa semakin tertantang untuk mendapatkannya.
"Gue gak pernah liat lo, anak baru ya?"
"Hm."
Oh demi tuhan! Giska rasa pria ini adalah satu-satunya pria yang tak terpengaruh oleh kecantikannya.
Giska berdehem. "Kita belum kenalan secara resmi," ia mengulurkan tangannya lagi. "Gue Giska Arabella. Lo boleh panggil gue Giska, Bella, atau sayang juga gak papa."
Giska memberikan senyuman terbaiknya.
Elang membalas uluran tangan Giska. "Gue Elang, sayang."
Giska melongo. "Barusan lo panggil gue sayang?"
Elang mengangguk. "Lo yang nyuruh."
Pipi Giska memerah. Apa-apaan ini? Mengapa ia jadi tersipu begini.
Andra yang sedari tadi menonton interaksi keduanya merasa kesal.
"Lang, lo jangan mau sama Giska. Dia playgirl, satu bulan bisa ganti pacar 5 kali," ucap Andra memengaruhi teman barunya itu.
Elang menaikan alisnya. "Oh ya?"
Giska memelototi Andra. "Gak! Andra bohong."
Giska menatap Elang. "Percaya sama gue, satu bulan gue cuman ganti 3 kali, gak sampe 5 kali, itu fitnah."
Elang di buat terdiam. Bukankah itu perbedaannya sangat tipis?
Elang berdiri. "Gue ke kelas," ucapnya lalu pergi dari kantin.
Giska mengepalkan tangannya dan menatap Andra tajam. "Gara-gara lo nih!"
"Kok gue? Lo sendiri tadi yang ngaku."
Giska tak menjawab, ia menatap Andra nyalang.
"Lo harusnya tau diri ya, bersyukur jadi mantan dengan waktu pacaran terlama sama gue."
"Halah cuman 2 minggu, lama apanya?" Andra berdecak pelan.
"Itu lama bodoh! Biasanya gue cuman 3 hari!"
Andra tertawa membuat dua lesung pipinya terlihat. "Iya mbak playgirl, terserah lo."
Giska beranjak bediri lalu pergi dengan kaki di hentak-hentakan.
Andra tertawa lagi. "Silahkan pacaran sama siapapun, tapi gue pastiin di akhir cerita, lo bakal balik lagi ke gue."
****
"Itu orang kenapa sih, nyebelin banget!" gerutu Giska sambil mencuci wajahnya di depan wastafel.
Giska lalu menatap pantulan dirinya di cermin. "Gue terlalu cantik kali ya, sampe dia susah lupain gue."
Gadis itu terkekeh.
"Giska!"
Giska menoleh. "Ngapa?"
Dara berjalan mendekati temannya itu.
"Balik sekolah kita kerja kelompok di rumah lo ya?"
Giska terdiam sebentar, lalu dia menggeleng.
"Sorry Dar, jangan di rumah gue ya?" ujar Giska mengeluarkan puppy eyes.
Dara menghela nafas. Sudah ia duga. "Yaudah di rumah gue aja."
"Jam 2 ya, jangan telat."
Setelah itu Daraa keluar dari toilet meninggalkan Giska sendirian
Giska menghela nafas lega. "Untung aja."
****
"Pagi pacar!"
Giska di buat terkejut saat bahunya tiba-tiba di rangkul, ia mendongak dan menemukan sosok pria jangkung di sampingnya, Andra.
"Pacar gigi lo! Kita udah putus enam bulan lalu!" Giska melepaskan tangan besar Andra dari bahunya.
"Itu sih menurut lo, menurut gue kita masih pacaran sampe sekarang." Andra menyengir memeperhatikan deretan giginya yang rapih, juga dua lesung pipi yang mempermanis wajahnya.
Giska mendelik tajam. "i***t!"
"Makasih, kamu juga cantik," saut Andra mengelus kepala Giska lembut.
Giska semakin mendelik. "Cari cewek gih, gue takut lo gilak lama-lama."
Andra menggeleng. "Gak mau, lo tau kan gue megang prinsip untuk pacaran satu kali seumur hidup?"
"Kuno banget cara berfikir lo," cibir Giska.
"Bukan kuno, tapi setia."
"Itu i***t bukan setia."
Andra terkekeh, ekspresi kesal Giska sangat menggemaskan. Membuat Andra ingin menciumnya, jika tidak ingat amukan gadis itu yang menyeramkan.
"Pulang sekolah ikut gue yuk?" ajak Andra.
"Kemana?" jawab Giska singkat. Pandangannya lurus ke depan, malas menatap wajah konyol Andra.
"Hotel," balas Andra enteng.
"Kurang ajar!" Giska mendaratkan pukulan di lengan berotot Andra.
"Bercanda elah, serius amat hidup lo," ujar Andra.
"Bercandaan lo garing, Crunchy kayak keripik kentang."
Andra terkekeh lagi.
"Lucu banget sih, lawakan pacar Andra, gemes!" Andra mencubit kedua pipi berisi Giska membuat Giska langsung melotot sempurna.
"Gue gak ngelawak setan! Gue ngehina candaan lo!" Giska menepis tangan Andra di pipinya.
"Syutt, gak boleh kasar mulutnya, gak baik," ucap Andra.
Giska mencebikan bibir. "Nyenye..."
"Pulang sekolah gue tunggu di parkiran yah," ucap Andra lalu mengelus kepala Giska sebentar kemudian pergi dari sana. Kelas mereka berbeda lantai jadi terpaksa mereka berpisah di tangga.
"Ck, tuh cowok buta kali ya ngebucinin gue, muka dia kayak aktor Korea, pasti masih banyak cewek yang mau, ngapain sama gue yang biasa aja ini," ucap Giska.
Giska menghentikan langkahnya di depan kelas bertuliskan 11 IPS 5.
Jangan tertawa, Giska memang tak terlalu pandai dalam akademi hingga mendapatkan kelas ujung seperti itu. Tapi setidaknya ia masih bisa membanggakan wajah cantiknya yang bisa memikat pria manapun.
"Pagi Giska!"
"Cantik banget sih, padahal masih pagi."
"Gue pengen ngajak lo balikan, tapi gue sadar diri."
"Sumpah gue gak nyesel pernah jadi pacar lo meski cuman satu hari."
Lihatkan? Ucapan teman-teman sekelasnya itu sudah membuktikan betapa kuatnya aura kecantikan Giska.
Giska tekekeh sombong sekarang.
****
Giska Arabella, gadis bertubuh mungil serta memiliki wajah cantik dan imut sekaligus. Di sekolah ia terkenal playgirl, Giska sangat sering bergonta-ganti pasangan.
Bisa di bilang Giska adalah laki-laki mata keranjang versi perempuan. Gadis itu tak bisa melihat pria tampan, sesuatu dalam dirinya selalu berontak ingin menjadikannya pacar.
Giska akan mengejar lelaki yang ia jadikan target hingga lelaki itu menyukai Giska balik. Pesonanya memang sulit di tolak, meskipun sudah terkenal playgirl tapi anehnya para lelaki itu akan tetap mau dengan Giska.
Setelah Giska berhasil menjadikan mereka pacar, maka Giska akan memutuskan hubungan mereka satu atau tiga hari kemudian. Giska tak pernah serius dalam menjalankan hubungan. Ia hanya coba-coba.
Rekor terlamanya berpacaran adalah 2 minggu, dan itu bersama Andra Gilbert. Lelaki tampan yang merupakan salah satu pentolan sekolah karna terkenal oleh kepintarannya. Ia sering mewakili sekolah untuk berbagai lomba Akademi dan selalu kembali dengan piala besar.
Giska bertemu Andra saat melihat pria itu masuk ke kelasnya untuk mengantar buku milik teman sekelas Giska. Saat itu Giska langsung terpana melihat Andra yang terlihat cool dan tampan. Kemudian Giska berusaha mendekati Andra lewat temannya itu. Giska tak menyangka hanya butuh waktu 3 hari untuk membuat Andra luluh dan menembaknya.
Awalnya Giska senang, tapi tak bertahan lama karna ia mengetahui sifat asli Andra. Giska kira Andra adalah cowok cool dan cuek seperti di film-film, tapi ternyata salah. Pria itu manja, menyebalkan, sering mengatur nya, dan terkadang juga m***m hingga membuat Giska ilfeel. Andra memang tampan, tapi Giska tidak suka sifatnya.
Sebenarnya sejak hari ketiga mereka pacaran Giska sudah meminta putus, namun Andra terus-terusan menolak hingga Giska frustasi sendiri. Akhirnya setelah dua minggu Giska berhasil putus dari Andra karna ia mengancam akan bunuh diri jika Andra tak mau memutuskannya.
Namun setelah mereka putus tak ada yang berubah, Andra malah masih menganggap mereka kekasih. Pria itu juga kadang berlaku posesif pada Giska.
Kadang juga mengganggu Giska dengan pacar-pacar barunya. Giska rasa Andra sudah gila hingga melakukan hal itu. Padahal Andra masih bisa mendapatkan yang lebih segalanya dari Giska.
Setiap Giska berhasil mendapatkan pacar baru, maka Andra akan melakukan berbagai cara untuk membuat Giska putus, padahal Giska memang akan memutuskannya meski Andra tak berbuat apapun.
Kenapa? Karna Giska hanya penasaran dengan para lelaki tampan itu, dia tidak benar-benar menyukai mereka.
Bukan cuman pria kan yang boleh bermain-main dengan lawan jenisnya?