"Giska!"
Giska berpura-pura tuli, ia mempercepat langkahnya tanpa memperdulikan panggilan Andra. Entah kapan pria itu akan berhenti mengganggunya.
"Sayang!"
"s****n," desis Giska mendengar teriakan itu.
"Giska pacarnya Andra! Tolong berhenti!" teriak Andra semakin kuat.
"Nih cowok apaan banget sih, sumpah dia udah gila," ucap Giska mempercepat langkahnya.
"Giska sayang, jangan lari dong! Mau sampe mana pun aku bakal kejer kamu!"
Giska bergidik jijik mendengarnya. Ucapan Andra terdengar menggelikan.
Giska mendengar suara langkah Andra semakin mendekat. Ia segera berlari menyusuri koridor, demi apapun Giska tak mau berurusan dengan Andra lagi. Pria itu benar-benar konyol dan bisa membuatnya darah tinggi.
Di belokan koridor Giska tak sengaja menabrak orang hingga ia terjatuh. Ya, hanya Giska yang terjatuh sedangkan orang itu tidak.
Memiliki tubuh mungil dan kurus memang menyusahkan. Giska bagai kertas yang gampang terhempas sana-sini.
"Aduh," gadis itu memegangi bokongnya yang nyeri.
"Lo gak papa?"
Suara itu? Giska menoleh secapat kilat.
"Elang?"
Kini Giska tersenyum, ia mengabaikan rasa sakit di bokongnya. Akhirnya Giska bertemu dengan target nya ini. Ia akan menjalankan aksinya lagi, Giska tak akan mudah menyerah.
"Tolongin gue," ucap Giska manja. Ia mengedip-ngedipkan matanya lucu, salah satu s*****a terampuh yang ia punya untuk meluluhkan hati para kaum adam.
Elang mengangguk lalu mengulurkan tangannya yang langsung di sambut senang hati oleh Giska.
"Makasih," ucapnya tersenyum manis.
Tak lama kemudian Giska meringis, ternyata benturan bokongnya dengan lantai lumayan keras, bokongnya masih terasa nyeri sekarang.
Elang melihat Giska yang terlihat kesakitan, dan itu tak di buat-buat.
"Lo beneran gak papa?"
Giska mengangguk. "Iya."
"Giska!"
Giska menegang, itu suara Andra. Gadis itu mengusap wajahnya kasar. Kini ia tak bisa kabur lagi, jangankan kabur, berjalan saja rasanya Giska tak mampu.
"Dapat!" Andra menggenggam lengan Giska yang hanya pasrah.
"Iya dapet, tangkep gue Ndra, gue nyerah," ucap Giska lemas.
Andra terkekeh melihat raut pasrah Giska. "Lo ngapain lari sih? Gue cuman mau ngajak lo balik bareng."
"Tapi gua gak mau."
"Yaelah, gitu amat sama pacar sendiri."
"Gue duluan."
Andra dan Giska menoleh pada Elang yang melangkah meninggalkan mereka.
"Elang tunggu! Gue belum dapet nomor hape lo!" teriak Giska yang tak di hiraukan sama sekali.
"Udahlah Gis, bakal susah dapetin cowok itu. Di kelas aja dia pendiemnya minta ampun, galak lagi, gak sengaja di toel cewek aja dia kayak mau bunuh cewek itu pake tatapannya. Dia nyeremin, gak pantes buat lo."
"Mending lo sama gue aja," lanjut Andra menyengir.
Giska mendesis. Namun ia terlihat sedang berfikir. Mendengar cerita Andra barusan membuatnya semakin penasaran. Elang terlihat baik saja padanya. Tidak segalak itu, meskipun ekspresinya memang datar.
Elang seperti tipikal cowok di w*****d yang dingin di luar namun hangat di dalam. Eumm, Giska tidak sabar merasakan rasanya jadi pacar seorang Elang.
"Ayo balik sama gue, gue kan mau ngajak lo ke suatu tempat."
"Kemana sih? Aelah pergi sendiri kek, manja banget ngajak-ngajak gue."
"Nanti juga lo tau."
Andra menarik tangan Giska, namun Giska malah meringis, ia tak bisa bergerak dari tempatnya.
"Kenapa? Gue megang tangan lo terlalu kasar?" tanya Andra panik.
Giska menggeleng. "p****t gue sakit, tadi abis ciuman sama lantai," adu Giska memajukan bibirnya. Ia tanpa sadar mengeluarkan sifat manjanya pada Andra.
"Lantai yang mana?"
Giska menunjuk lantai yang Andra injak. Andra menoleh ke bawah, lalu menginjak-injak lantai itu dengan emosi, membuat Giska bengong.
"Kurang ajar banget! Gue aja gak pernah cium lo, sedangkan ini lantai malah nyium p****t lo ngeduluin gue!" Andra marah-marah sendiri. Ia terlihat seperti sedang berkelahi, tapi dengan lantai.
Giska meringis malu. "Lo ternyata beneran i***t ya, Ndra?"
*****
"Ini rumah siapa?"
Giska terlihat menatap kagum bangunan mewah tiga lantai di depannya. Giska yakin luas rumah ini bahkan lebih dari 2 kali lipat rumahnya sendiri.
"Rumah gue lah."
"What?!" teriak Giska.
"Yes, babe mphh." Andra mendesah di ujung kalimatnya, membuat Giska langsung melotot garang.
Giska menabok bahu Andra, membuat pria itu mengaduh memegangi bahunya yang terasa panas.
"Serius!"
"Iya-Iya gue bohong, ini bukan rumah gue." Andra berbalik, menatap Giska dengan senyum penuh arti.
"Tapi rumah orang tua gue," lanjut Andra.
Giska menatap Andra dengan raut terkejut. Mulutnya terbuka lebar, matanya melotot sempurna, membuat Andra ngeri sendiri melihatnya. Takut mata gadis itu keluar dari tempatnya.
"Lo kenapa heh?"
"Ndra, lo kenapa gak bilang kalau lo anak sultan, tau gitu kan gue gak mutusin lo secepet itu. Harusnya gue porotin lo dulu sampe miskin," ucap Giska menatap Andra polos.
"Heh, matre!" Andra menyentil jidat Giska.
"Sakit!"
"Sakitan hati gue pas lo ngomong gitu, seakan-akan lo macarin gue cuman karna harta, ah perihnya," ucap Andra dramatis.
Giska mendelik. "Salah, gue pacarin lo karna muka lo ganteng, gua mana tau kalo lo kaya."
"Ah Giska! Hati gue makin sakit dengernya!" Andra memegang dadanya lebai membuat Giska kesal.
"Idiot."
Andra tertawa. "Udah ah, ayo masuk," ajaknya.
"Gak mau! Mau ngapain lo ajak gue ke sini?" tanya Giska waspada.
"Mau ngenalin lo sama calon mertua," jawab Andra enteng.
"Gilak!"
Giska tak habis fikir dengan jalan pemikiran Andra, mereka sudah putus, lalu untuk apa Andra mengenalkannya dengan orang tua pria itu?
"Gak ada penolakan," ujar Andra lalu menarik paksa tangan Giska memasuki rumahnya.
"Bunda! Abang bawa calon mantu!" teriak Andra memancing cubitan di pinggangnya dari Giska.
"Giska astaga, lo seneng banget mukul sama nyubit gue. Kita belum nikah aja lo udah KDRT, gimana nanti coba?"
"Lo nya gilak sih."
"Gilak karna lo." Andra menyengir membuat Giska dongkol setengah mati.
"Eh yaampun, ini yang namanya Giska?" terlihat seorang wanita cantik menuruni tangga. Tampilannya terlihat modern, bahkan tadinya Giska mengira jika itu kakak Andra, bukan ibunya, sangking awet mudanya.
Giska memilin tangannya gugup saat wanita itu sampai di hadapannya. Wanita itu menatap Giska hangat.
"Kamu pacarnya Andra?" tanya wanita itu terdengar antusias.
"Bu--"
"Iya bun, dia pacar aku." Andra mendahului Giska yang akan bicara. Ia merangkul Giska, namun Giska langsung menghempaskannya saat itu juga.
"Ternyata Andra gak salah pilih pacar, kamu cantik banget sayang," puji Ranti. Giska hanya bisa tersenyum canggung, tak mampu berucap apapun.
"Nama tante Ranti, tapi kamu jangan panggil tante ya, panggil bunda aja," ucap Ranti.
Giska menggaruk belakang kepalanya canggung. "I-iya... bunda."
"Andra udah sering cerita tentang kamu, kata dia kamu galak kayak ibu-ibu kos, kadang juga nyeremin kayak anjing polisi, tapi enggak kok, wajah kamu aja keliatan imut banget," ujar Ranti, Giska langsung memelototi Andra di sebelah nya. Andra menyengir padanya, cengiran yang amat menjengkelkan.
"Kamu udah makan?" tanya Ranti.
Giska menggeleng,namun sialnya perutnya malah berbunyi cukup kuat membuatnya menunduk malu, Ranti tertawa begitupun Andra.
Giska melirik Andra seperti meminta pertolongan namun Andra terlihat acuh. Ia malah menggoda Giska dengan menaik-turunkan alisnya.
"Ayo masuk, kita makan siang, bunda baru aja masak tadi."
Ranti merangkul Giska menuju meja makan. Sedangkan Giska masih menoleh ke arah Andra. Ia menatap pria itu seakan berkata 'abis lo sama gue'.
Andra hanya terkekeh. "Sorry Gis, ini salah satu cara gue buat ngedapetin lo lagi."
****
Giska sampai di rumah pukul 5 sore di antar Andra. Ranti tadi menyuruh Giska untuk menginap namun Giska menolak dengan alasan harus menemani Bundanya di rumah.
"Bunda sama Ayah lo ada?"
Giska menatap horor Andra yang membuka helmnya. Dengan cepat ia kembali memasangkan helm itu ke kepala Andra.
Giska tak akan mengizinkan orang gila ini bertemu orang tuanya. Jangankan Andra, bahkan teman-temannya pun tak pernah Giska perkenalan pada mereka.
"Balik gih, gue gak terima tamu," usirnya.
"Gue mau ketemu calon mertua gue." Andra berusaha membuka helmnya namun Giska menahannya.
"Gak! Gak ada mertua-mertuaan. Kita udah selesai ya, jangan ngada-ngada lo." Giska memukul helm Andra hingga menimbulkan bunyi yang nyaring.
"Kita belum selesai, dan gak akan pernah," ucap Andra terdengar serius. Tatapan matanya berubah tidak sekonyol tadi.
"Ndra?"
Andra menatap mata Giska. Bola mata hitam dan tajam itu menatap Giska serius, satu alisnya terangkat seolah bertanya kenapa.
"Gue gak pelet lo sumpah, tapi kenapa lo bucin parah sama gue?" tanya Giska terdengar frustasi. Harus dengan apa supaya Giska terlepas dari mantannya yang sulit menerima kenyataan jika mereka sudah putus ini?
Andra tersenyum menyebalkan. "Karna lo tepos, bisa gue bentuk sendiri suatu hari nanti."
"s****n! PERGI LO DARI RUMAH GUE!"