Part 3

624 Kata
Giska menghampiri Elang yang duduk sendirian di pojokan kantin. Ia berdehem hingga Elang menatapnya. "Gue boleh duduk di sini?" tanya Giska sambil memegang nampan berisi makanannya. Elang mengangguk samar. Giska bersorak di dalam hati. Ternyata tidak sesusah itu mendekati Elang. Giska yakin tidak sampai seminggu mereka akan jadian. Giska menuangkan banyak saus, kecap dan sambal ke baksonya, ia butuh makanan enak untuk tenaga supaya lebih semangat memepet Elang. Sambal di tangan Giska tiba-tiba di ambil alih. Ia menatap pelakunya. "Kenapa?" "Ini pedes," jawab Elang. Giska terkekeh. "Namanya juga cabe, ya pasti pedes, kalo yang manis itu gue," ucapnya. Elang tak menanggapi dan tanpa di duga pria itu membuang botol sambal itu ke tempat sampah. Giska menganga. "Kok di buang?" "Sambel bikin sakit perut." "Kan gue yang makan, berarti gue yang sakit perut, hubungannya sama lo?" Elang mengedikan bahunya. Giska menggeleng tak habis fikir, kemudian ia mulai makan meski tanpa sambal, rasanya hambar, tapi Giska sudah terlanjur kelaparan. Gadis itu terkejut saat sebuah tangan menengadah di depannya. "Lo mau minta duit?" Elang menggeleng. "Hp lo?" Giska mengangguk kemudian memberikan hpnya, ia melihat Elang yang terlihat mengotak-atik ponselnya, kemudian mengembalikan nya pada Giska. "Itu nomor hp gue." Giska bengong. "Lo mau pdkt sama gue?" Elang mengangguk. Ia mendekatkan wajahnya pada Giska membuat Giska meneguk ludahnya gugup. "Lo imut, gue suka." **** Giska mulai terlihat gila sekarang, sejak tadi ia senyum-senyum sendiri lalu memekik tertahan, terus begitu berulang kali hingga membuat Dara kebingungan. "Lo kenapa sih, Gis?" Giska terdiam sebentar, kemudian ia menatap teman sebangkunya itu. "Gue sadar diri kalau gue cantik dan imut, udah ratusan orang yang muji gue, tapi baru kali ini gue seseneng ini di puji sama satu orang." Dara mengerutkan keningnya. "Andra?" Giska mendengus. "Bukan lah!" "Terus?" "Elang!" "Anak baru yang sekelas sama Andra itu?" Giska mengangguk. "Oh gue inget, lo ngejadiin dia target kan pas di kantin itu?" "Iya." "Lo masih ngelanjutin mau buat dia jadi pacar lo?" tanya Dara lagi. "Iya, Dara!" jawab Giska kesal. Ekspresi wajah Dara terlihat berubah serius. "Lo belum buka akun gosip sekolah?" Giska menggeleng. Dara menghela nafas. "Gue saranin lo cari cowok yang lain deh, Elang itu gak baik buat lo." "Kenapa?" "Lo tau alasan Elang pindah sekolah?" Giska menggeleng. "Yang gue baca di akun gosip itu, si Elang di keluarin karna terlalu banyak buat masalah, yang paling parah dia ngehamilin salah satu siswi di sana," ucap Dara serius. Giska terdiam sebentar kemudian ia menyemburkan tawanya. "Dan lo percaya? Hei, itu cuman gosip, gak ada konfirmasi langsung dari pihak sekolah atau Elang sendiri," ujarnya. "Jatuhnya fitnah, dan gue dosa kalau percaya itu," ucap Giska. "Tapi, Gis--" "Udah deh, gue gak suka dengerin gosip, gak berfaedah, mending gue tidur," potong Giska, lalu merebahkan kepapanya di atas meja. Dara menghela nafas, namun ia membiarkan Giska yang tertidur di lipatan tangannya. Giska sedikit lagi sampai di alam mimpi. Namun suara teriakan menggema membuat Giska diam-diam mendengus kasar. "Selamat siang pacarnya Andra! Maen yuk!" teriak Andra penuh semangat. Giska membuka matanya yang terpejam. Tinggal sedikit lagi ia tertidur nyenyak, tapi suara teriakan itu menggaggunya. "Si i***t itu," geram Giska menatap pria jangkung di depan pintu kelasnya. **** "Lo kenapa sih gak ngizinin gue maen ke rumah lo?" tanya Dara. Giska yang sedang asik memainkan ponselnya menoleh. "Lo mau banget maen ke rumah gue?" "Enggak juga sih sebenernya." "Yaudah gak usah, di rumah gue juga gak ada apa-apa. Bagusan rumah lo," jawab Giska. "Bukan itu dodol!" kesal Dara. "Maksudnya, masa iya gue udah temenan hampir 2 tahun gak pernah tau rumah lo," ujar Dara memperjelas. "Lo mandang harta? Lo takut rumah gue gubuk ya?" kata Giska. "Astaga Giska! Bukan gitu!" Dara menjitak temannya itu Giska menyengir membuat Dara mendengus. "Intinya lo gak boleh ke rumah gue, di sana ada anjing galak."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN