Andra membawa Giska ke belakang sekolah, tepatnya taman yang jarang di datangi karna letaknya sangat ujung dan tepat di samping gudang sekolah yang katanya angker.
Padahal nyatanya tidak, itu hanya opini mereka. Tempat ini justru sangat asri karna terdapat banyak pohon dan rumput hijau. Cocok untuk tempat bersantai.
Giska masih menunduk, ia terlihat ketakutan dan itu membuat Andra merasa bersalah.
"Gis, maaf, gue gak sengaja bentak lo," ujar Andra lembut.
Andra hendak menyentuh pipi Giska, namun Giska langsung menepisnya.
"Jangan marah," ucap Andra.
Giska masih diam. Ia hanya menunduk.
"Ih, Giska sayang jangan marah, nanti aku nangis!" tiba-tiba Andra merengek seperti bayi, ia mengehentakan kakinya ke tanah bagai anak kecil.
Giska perlahan mendongak, melihat ekspresi seram Andra yang sudah menghilang, dan berubah menjadi ekspresi nya yang biasa.
Giska terkekeh pelan.
Andra langsung tersenyum lebar. "Gitu dong! Gue lebih suka lo senyum dari pada nunduk ketakutan."
"Lo tadi kayak bukan Andra, gue kaget," ungkap Giska jujur.
"Gue selama ini terlalu baik ya? Sampe lo gak ngira gue bisa kayak gitu?" gurau Andra.
Giska mangangguk. "Tadi lo kayak monster, bikin gue takut."
Andra terkekeh, ia menarik lembut tangan Giska duduk di bangku panjang yang tersedia disana.
"Jangan takut sama gue, ntar gue gak bisa liat muka imut lo kalo lagi ngomel."
"Ih, apasih!"
Andra tertawa. Giska salting, padahal biasanya tidak pernah. Apakah ini artinya gadis itu mulai bisa membuka hati untuknya?
Giska mendongak, ia menatap wajah Andra, namun Giska langsung terdiam, ekspresinya terlihat kaget.
"Ndra, lo luka!" pekik Giska panik.
"Hah?"
Andra menyentuh wajahnya, mencari bagian yang terluka, padahal ia tak merasakan sakit sama sekali di wajahnya.
Tangan lembut Giska menyentuh sudut bibir Andra membuat Andra meringis kecil, pasti bagian itu terluka karna pukulan Elang yang tadi tidak sengaja meleset.
"Sakit ya?" tanya Giska. Luka Andra memang tak terlalu banyak jika di bandingkan dengan Elang, Andra hanya lebam-lebam di beberapa bagian, yang paling parah hanya di sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.
Andra mengangguk. Ia memanyunkan bibirnya. "Perih banget," ucapnya manja.
"Mangkanya gak usah banyak gaya, berantem segala! Sok jagoan," omel Giska.
"Kan gue berantem demi lo," jawab Andra tak terima.
"Emang gue nyuruh lo berantem buat gue?" tanya Giska sarkas. Andra hanya menyengir menjawabnya.
"Ayo ke UKS, ujung bibir lo robek, bisa infeksi kalau gak di obatin."
Giska berdiri namun tangan kekar Andra menariknya hingga duduk kembali.
"Obat di UKS gak bakal mempan nyembuhin luka gue. Gue juga gak mau ke sana, di sana pasti ada si burung."
"Terus harus di obatin make apa? Lo mau gue bawa ke dokter? Boleh sih, tapi bayar sendiri, duit gue mau gue pake jajan," ujar Giska.
Andra mendengus. "Luka gue gak seserius itu, gak perlu dokter."
"Terus gimana ngobatinnya?" kesal Giska. Pria ini ribet sekali, padahal tinggal di beri antiseptik di UKS.
Andra menunjuk sudut bibirnya. "Kiss!"
Giska melotot. "Gilak!"
"Di cium sama lo pasti langsung sembuh, ayolah, gue kan berantem sampe luka gini juga buat bela lo."
"Jangan aneh-aneh deh Ndra," kesal Giska.
"Ayo dong, sayang, masa nyium pacarnya sendiri gak mau!" rengek Andra.
"Pacar sempak lo kejepit! Kita udah putus ya!" ujar Giska berang.
"Kan lo udah setuju ngasih gue waktu sebulan buat bikin lo jatuh cinta sama gue, itu artinya sama aja lo nerima gue buat jadi cowok lo."
"Beda lah!"
"Sama!"
"Terserah lo," ujar Giska menyerah.
"Ayo cium luka gue, biar gue langsung sembuh," paksa Andra dengan suara manja yang membuat telinga Giska panas.
Giska menghela nafas. "Oke-oke, gak usah berisik," ucapnya pasrah.
Andra tersenyum lebar, ia mendekatkan wajahnya pada Giska. Giska manarik nafas dalam lalu menghembuskan nya. Giska gugup, Ini pertama kalinya ia mencium seorang pria meskipun bukan di bibir.
Perlahan Giska mendekatkan bibirnya pada luka Andra, ia memejamkan matanya saat bibirnya sudah menyentuh sudut bibir Andra, namun anehnya yang ia rasakan bukan seperti sudut bibir.
Giska membuka matanya, seketika pupil matanya melebar. Andra ternyata menggeser wajahnya hingga bibir Giska malah menyentuh bibir pria itu.
Giska hendak menarik kepalanya, namun Andra menahannya, pria itu memiringkan wajahnya, menyesap lembut bibir Giska bagai permen, lalu menjauhkan wajahnya.
Cengiran polos tanpa dosa terbit di wajah menyebalkan yang sialnya sangat tampan ini. Giska hanya mematung, masih syok dengan kejadian barusan. Ini pertama kalinya seseorang melumat bibirnya. Tadi pagi Andra hanya menempelkan bibirnya tidak sampai melumat seperti ini.
"Itu tahap pertama dari tahapan-tahapan yang bakal gue lakuin selama sebulan buat bikin lo jatuh cinta ke gue."