"Emphhh!" "Ngomong apa sih, yang jelas!" Giska memukul-mukul tangan yang membekap mulutnya, setelah tangan itu terlepas Giska terbatuk-batuk, menepuki dadanya untuk meraup udara lebih banyak. "Lo niat nolongin atau mau bunuh gue sih?!" teriak Giska. Harusnya hanya mulutnya saja yang di bekap, tapi tangan besar pria ini malah membungkus hidungnya juga hingga Giska kesulitan bernafas, membekapnya seperti menyalurkan dendam. "Diem, nanti cewek tadi denger." "Udah pergi, dia udah lari jauh gue liat tadi," balas Giska malas. "Oh," sautnya singkat dengan wajah lempeng. "Anjing! Dulu gue memang tertarik ya sama sikap cuek dan dingin lo itu, tapi sekarang jangan harap!" Giska menunjuk wajah di depannya. "Gue gampang benci orang, dan sekalinya gue benci, gue bakal nganggep orang itu se

