Mobil hitam mengilap berhenti tepat di depan gerbang rumah megah bergaya modern minimalis. Arina menatap bangunan tiga lantai itu dengan jantung berdegup kencang. Ini bukan sekadar rumah, ini istana. Dan kini tempat tinggalnya.
Tangannya mengepal di atas rok panjang yang dikenakannya. Rasanya seperti mimpi buruk yang belum selesai. Pernikahan kontrak? Dengan CEO sombong yang bahkan tidak menatap matanya saat ijab kabul? Ya Tuhan
“Silakan, Nona Arina,” ujar Pak Darto, sopir pribadi keluarga Mahendra.
“Terima kasih, Pak,” ucap Arina pelan sebelum melangkah keluar. Angin sore menyapu wajahnya, membawa serta aroma bunga anggrek dari taman depan.
Begitu pintu utama dibuka oleh pembantu rumah tangga, hawa dingin menyergap. Bukan hanya karena pendingin ruangan yang bekerja sempurna, tapi juga karena..
Dia ada di sana.
Arsen Mahendra.
Berdiri dengan jas hitam tanpa dasi, kemeja putihnya digulung sampai siku. Tatapannya menusuk. Dingin. Tanpa senyum. Seperti tidak sudi melihat kedatangan seseorang yang kini sah menjadi istrinya di atas kertas.
“Kau terlambat,” katanya tanpa basa-basi.
Arina menelan ludah. “Maaf, jalannya agak macet.”
Arsen tidak menanggapi. Ia berbalik dan mulai berjalan ke arah tangga.
“Satu aturan,” katanya tanpa menoleh, “Jangan pernah ganggu hidupku. Kau tinggal di kamar tamu lantai dua. Kita tidak perlu pura-pura mesra. Aku hanya akan memainkan peran ini di depan publik jika diperlukan. Selain itu, kita adalah dua orang asing. Paham?”
Arina terdiam, tapi mengangguk kecil.
Dua orang asing. Ya. Meski dia istrinya sekarang.
“Dan satu lagi,” Arsen berbalik sejenak. “Jangan pernah mencoba membuka kamar utamaku.”
Deg.
Arina menunduk, menahan desahan napas.
“Baik.”
Tanpa sepatah kata lagi, pria itu menghilang ke balik koridor.
Malam Hari
Kamar tamu di lantai dua terlalu mewah untuk disebut tamu. Tapi entah kenapa, Arina merasa seperti tahanan di dalamnya. Ia menatap langit-langit, mencoba mengusir perasaan canggung yang membelit dirinya.
Suara langkah kaki di luar membuatnya menegang.
Arsen?
Tapi langkah itu berlalu begitu saja. Tidak berhenti di depan pintunya. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara.
“Ya Tuhan, ini baru hari pertama” gumam Arina.
“Bisakah aku bertahan 90 hari bersama pria itu?”