Karena telah mengecewakan dan menolak Rizal, Adel dengan perasaan tidak enak mendatanginya sambil membawakan kopi. Ruang kerja Rizal begitu rapih dan bersih, sebelum mulai praktik lebih baik Adel menghampirinya terlebih dahulu. “Kopi.” Ujar Adel. Rizal menaikkan kedua alisnya, wajah angkuhnya dia pajang dengan sangat baik. “Ngerayu?” Tanyanya. “Anggap saja begitu. Baru kali ini nih gue ke ruangan praktik lo. Bersih juga.” “Kalau nggak bersih, pasien gue kabur.” Jawabnya. “Obat adik lo sudah dikasih kan sama Siska?” “Sudah.” “Ayolah jangan ngambek begitu, lo masih jadi teman gue kan?” “Hah, teman? Lelaki dan wanita tidak bisa berteman.” Ucapnya sambil membuang muka. “Kita sudah berte

