bc

The Sun is Rises

book_age16+
592
IKUTI
1.5K
BACA
fated
pregnant
arrogant
goodgirl
independent
drama
sweet
office/work place
disappearance
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

Seorang anak panti asuhan bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri. Adelia Putri adalah seoarang Apoteker yang bekerja di salah satu Rumah Sakit besar di Jakarta. Di sanalah ia bertemu dengan Aditya Rome Suharjo yang merupakan cucu dari pemilik Rumah Sakit tersebut. Semakin hari Adit semakin tidak bisa melupakan sosok Adel yang membuatnya terus ingin berada di sisinya. Adit selalu mencari cara untuk mendekati Adel, bahkan dengan paksaan. Adel akhirnya luluh. Takdir lalu mempertemukan Adel dengan Ibu kandungnya yang selama ini sudah dia anggap mati. Adel terpukul dan kalut, namun Adit selalu ada bersamanya. Cinta mereka lalu diuji lantaran orang tua Adit yang melarang keras hubungan mereka dan membuat Adit dan Adel akhirnya putus. Lima tahun kemudian mereka kembali bertemu dengan rahasia besar yang dipendam oleh Adel selama ini. Apakah mereka akan kembali bersama? Apakah Adit mampu melepaskan semuanya demi Adel? Dan apakah Adel bisa menerima Ibu kandungnya kembali dengan alasan apapun?

chap-preview
Pratinjau gratis
Starbuck
Siang itu, rumah sakit ramai sekali penuh sesak orang. Mengantri dari mulai pendaftaran, ruang tunggu dokter, hingga ke farmasi. Farmasi memang selalu menjadi tujuan akhir, setelah mengambil obat pasien baru merasa lega dan bisa pulang. "Selamat siang bapak, saya konfirmasi dulu ya, bisa sebutkan nama jelas, tanggal lahir dan alamat?" Tanya Adel kepada pasien yang berada di depannya. "Ikbal Santoso tanggal lahir 22 maret 1987, alamat di jalan pegangsaan 2 no 13." Sahut bapak sambil menggendong anaknya. "Baik, dari dokter umum ya Pak, dapat 3 obat. Ini obat batuknya diminum tiga kali sehari, antibiotiknya dua kali sehari dihabiskan ya, untuk radangnya diminum tiga kali sehari. Ada yang ingin ditanyakan?" "Ehhmm, yang harus di habiskan antibiotiknya saja ya mba?" Tanya pasien itu penasaran. "Iya betul harus habis, jika minum s**u dijeda dengan minum antibiotiknya sekitar 30 menit ya pak. Ada lagi?" "Cukup mba terimakasih." "Iya terima kasih bapak semoga lekas sembuh."  Tutur Adel pada pasien yang sekarang beranjak pergi dari hadapannya. Sudah 3 jam adel berdiri di depan counter penyerahan obat, obat terus saja berdatangan menunggu untuk di serahkan. Pasien-pasien di depan sudah melirik Adel dengan wajah sinis, menunggu kapan gilirannya dipanggil. Adel pun mulai kelelahan, "Fiiuuhh bisa jontor bibirku ngomong begini terus setiap hari mana pasiennya banyak banget lagi hadeeuhh." Keluh adel dalam hati. "Ada yang tahu allopurinol dimana nggak? Di rumahnya habis nih." Teriak Lia yang kelingkungan mencari obat. Ditangannya sudah ada dua keranjang penuh berisi lembaran obat dan tinggal allopurinol yang belum ia temukan. "Ini mba, tadi Resti habis ngambil dari gudang." Jawab Resti dengan cepat. "Oh iya makasih Res. Kebiasaan deh stock system ada tapi aslinya kosong." Keluh Lia yang wajahnya sudah kusut dari tadi lelah mengambili obat yang tak kunjung selesai juga. "Kenapa sih ribut banget, sabar mba Lia". Seru Adel yang mengintip dari depan menenangkan temannya. Di ruang Farmasi ada lubang kecil yang bisa digunakan untuk memasukkan obat yang sudah jadi dari belakang ke depan. Dari situ pula kita bisa mengintip teman yang sedang bekerja di belakang. Di sisi lain Mak Yanti yang biasa dianggap sebagai emaknya anak-anak bingung membaca salah satu tulisan tangan dokter yang lebih mirip dengan mie ayam di banding tulisan tangan. Dia pun berinisiatif untuk menelpon sang dokter dan menanyakan resep apa yg ia berikan. "Hallo selamat siang Dok, Dok maaf ganggu Dok untuk pasien Anita resep ke tiga apa ya Dok? Nggak kebaca Dok maaf." Tanya Mak Yanti sambil dag dig dug takut kena semprot dokter tersebut. "Nanya mulu perasaan masa nggak bisa-bisa baca dari dulu, itu simvastatin yang ke tiga." Dengan ketusnya Dokter pun menjawab. "Oh iya maaf Dok, makasih dokter selamat siang." Tanpa bicara panjang lagi mak yanti langsung menutup telponnya. Rasa lega terpancar jelas dari wajahnya, walau sang Dokter menjawab dengan ketus tapi paling tidak dia tidak kena omel parah. "Del, nih ada tiga serahin cepet nanti pasiennya ngamuk." seru Mba Keke khawatir. "Siap Mba." Jawab Adel. Hari ini Adel menyerahkan obat sendirian, karena temannya sedang cuti selama beberap hari dan yang lain sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kerja di rumah sakit memang berat namun begitu berwarna. "Del, panggilin pasien ini bilang nggak ada obat." Pinta Mak Yanti yang setelah memeriksa struk dokter di computer, ternyata pasien tidak diberi obat. Kasihan kalau dia harus menunggu lama kan. "Iya Mak." "Mba punya saya sudah belum ya dari tadi sudah setengah jam soalnya." Tanya pasien yang tiba-tiba berada di hadapan Adel. Baru saja ia ingin memanggil pasien lain. Pasien satu lagi memberinya tugas baru. “Atas nama siapa ibu?” Jawab Adel dengan ramah. “Wina Teresia.” Ucapnya "Sebentar ibu ya, saya tanya kebelakang dulu." "Pasien Wina sudah belum ya obatnya?" Teriak Adel ke ruang racikan. "Belum lagi di racik." Sahut Maya yang sedang serius meracik. "Kenapa sih pasien pada nggak sabaran banget. Kita kan di belakang kewalahan juga. Nanti kalau buru-buru salah, kita juga yang kena." Curhat Lia dengan wajah kesal. "Semangat Mba Lia." Ledek Adel pada seniornya itu. Adel lalu menghampiri pasien tersebut "Sebentar ya Bu, lagi di racik obatnya." "Oh okay." Ujar sang pasien lalu kembali duduk di bangkunya. Senin dan sabtu adalah hari paling melelahkan. Pasien selalu membeludak entah kenapa. Kalau sabtu mungkin karena libur kali ya. Di Rumah Sakit tempat Adel bekerja, hampir semua dokter praktik di hari sabtu. Jadi bisa dibayangkan kan betapa ramainya pasien dan kebetulan ini hari sabtu jadi harus kuat-kuat. "Akhirnya pulang juga ya Res." Ucap Mak Yanti "Iya capek banget Mak. Pasiennya banyak banget ya." "Eh katanya besok mau ada Direktur baru ya cucunya Pak Joko yang dari Amerika mau kesini. Katanya ganteng waah jadi kepo." Ujar Mak Yanti sang tukang gosip. Hampir semua gosip satu Rumah Sakit dia tahu. "Inget suami di rumah Mak ampun dah, inget anak." Sahut Keke. "Hahaha gapapa ah, sekali-sekali cuci mata. Hihi. Del kamu punya pacar?" "Gak Mak aku lagi single." Jawab Adel. "Ah kamu pilih-pilih kali, ya Mak doain semoga cepet dapet deh." "Aamminn, yaudah Mak Adel pulang duluan yak." Pamitnya. Sementara di tempat lain ada sebuah keluarga kaya raya, keluarga Irwan Sumarwan pengusaha terkenal yang namanya sudah tidak asing lagi didengar. Malam itu Irwan dan anaknya Sella sedang makan malam bersama. Meja penuh hidangan hanya untuk mereka berdua. "Gimana Sel sudah dapet kontrak dengan Louis apparel?" "Sedikit lagi kita deal Pah, tinggal diskusi akhir." "Okay, Papa senang kamu berhasil. Kerja kamu bagus habis ini kamu cuti ya biar istirahat dulu kasian tubuh kamu di paksa kerja terus." "Iya Pah." jawab Sella datar, dia selalu menuruti perkataan ayahnya sejak dulu. Sembari melanjutkan makannya, Irwan kembali berbicara dengan putrinya "Oh iya Sel, lusa kamu ketemu Andre ya. Makan malam saja sebentar." "Kan saya udah bilang Pah saya nggak tertarik." "Sebentar saja setelah itu terserah kamu deh." "Hmm yaudah." Dengan terpaksa Sella mengikuti keinginan ayahnya, kalau tidak ayahnya bisa mengamuk. **** Kopi adalah minunan favorite Adel, biasanya dia membeli kopi malam hari untuk mengatasi suntuknya. Malam itu dia pergi ke Starbuck, selesai membeli kopi adel sibuk merogoh tas mencari ponselnya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang sibuk menelpon sampai tidak melihat jalan. Brukk….. Adit menubruk tubuh Adel dan menumpahkan kopi di bajunya. "Yaahh." "Udah dulu ya nanti gue telpon lagi." Seru Adit menutup telponya dan mengalihkan matanya pada Adel, dia melihat dari atas sampai bawah. Perempuan di depannya ini pasti sengaja menubruknya. Tapi dia tidak mau ambil pusing, lebih cepat selesai lebih baik daripada menjadi masalah. "Nih ongkos laundrynya, cepet di laundry sebelum nempel nodanya." Dengan wajah sombong dan tidak bersalah Adit pergi begitu saja. Adel yang kesal langsung mengejar lelaki yang dengan sombong merendahkannya itu, "Heh, bener-bener ya ini orang. Sudah numpahin kopi trus nggak minta maaf. Minta maaf nggak." Ujarnya tegas. "Kan udah gue kasih duit laundry masih kurang?" "Gue nggak perlu duit lo, gue bisa laundry sendiri. Gue mau lo minta maaf." "Nggak jelas." Ucap Adit sambil menggeleng tersenyum sinis. "Minta maaf nggak!" Serunya tegas. BBUUKKK….. Adel menendang kaki Adit. "Adeh, ahhhh ini cewek gila kali ya." "Minta maaf." Teriak Adel. Adit menggelengkan kepala, masuk ke dalam mobilnya dan langsung pergi. “Heeh sialan. Kotor deh baju gue. Nyebelin banget tuh orang kalau Ketemu awas aja.” Dumel Adel sendirian. Bersambung...

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook