Pagi itu seperti biasa sebelum pasien ramai, kami semua beberes ruangan. Komputer dinyalakan, semua kertas dan dokumen disiapkan. Tepat jam delapan pagi Kepala Instalasi kami datang dan langsung menghampiri Adel.
"Del, kamu naik ya ikut acara sambutan Direktur baru sama Ratri."
"Oh ok Kak." Adel memanggil "Kak" memang karena Kak Lintang belum terlalu tua dan belum memiliki anak walau sudah menikah.
“Jangan lupa ya, diminta Apoteker dateng soalnya."
"Tenang kak. Saya pasti kesana." Ucapnya dengan antusias.
Beberapa saat kemudian, Adel dan Ratri naik ke atas untuk acara penyambutan Direktur baru. Acara begitu ramai, banyak petinggi dan rekan kerja Suharjo Group yang datang. Semua orang penasaran dengan sosok Direktur baru yang katanya begitu muda dan tampan. Setelah semua bergiliran memberi sambutan, datanglah Direktur yang baru dengan setelan jas dan sepatu mewah. Dia begitu percaya diri berdiri di samping panggung.
"Ini dia Direktur kita Bapak Aditya Rome Suharjo." Seru Pak Tono selaku MC acara, semua orang terlihat bertepuk tangan mendengar kehadiran Direktur muda yang katanya kegantengnya melebihi Nicholas Saputra.
Terkjutlah Adel saat mengetahui siapa Pak Adit itu. Dengan gagah dan percaya diri, dia menaiki podium. Suasana begitu hangat dan sangat kekeluargaan, membuat Adit merasa begitu diterima.
"Loh dia kan..." Seru Adel dengan wajah bingung.
"Kenapa Del? Kamu kenal?" Sahut Ratri.
"Ahhh nggak, nggak papa." Dalam hati Adel berkata "Mampus deh gue dia direktur baru disini? Hadeuh pantesan gayanya sombong amat, gawat"
"Ganteng ya Del, Direktur baru kita, seneng ngeliatnya." ungkap Ratri dengan wajah berbung-bunga.
"Hehe iya Ka." Dalam hati "Ganteng sih tapi sombongnya ngelebihin artis Hollywood, berasa Leonardo DiCaprio kali." Gumam Adel sambil memalingkan wajahnya.
"Terima kasih semua atas doa dan sambutannya, saya berharap kita bisa bekerja sama dengan baik. Mohon bantuannya selama saya di sini. Semoga saya bisa menjadikan rumah sakit ini lebih baik lagi. Mari bekerja bersama." Seru Adit dengan penuh semangat.
Setelah Adit selesai bicara, dia melihat semua orang di depannya dengan seksama. Semuanya bertepuk tangan meriah, dan tanpa sengaja dia melihat Adel berdiri menatapnya sinis. Dalam hati "Dia kan cewek yang kemaren, oh dia kerja disini. Kena kau." Seketika senyum Adit berubah menjadi menyeringai. Dia ingat sekali kejadian malam itu, dia tidak akan bisa melupakan bagaimana seorang wanita menginjak kakiknya dengan keras. Itu sedikit melukai harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
****
Sampai di ruang kerjanya, Adit melepaskan jas yang ia kenakan dan duduk dengan nyaman, "Adam, bagaimana laporannya?" Tanya Adit yang di hari pertamanya harus mereview laporan-laporan yang ada.
"Sejauh ini terlihat bagus, memang masih ada yang kurang tapi bisa diperbaiki Pak." Jawab Adam assisten Adit yang gantengnya nggak kalah dari sang bos.
Adit Mengangguk "Hmm, besok kita observasi keliling ya. Saya ingin melihat langsung di lapangan. Untuk hari ini sampai di sini saja, besok kerjaan kita akan banyak. Jadi istirahat dulu."
"Baik." Jawab Adam datar.
****
Di tempat lain, Sella datang siang itu ke Panti Asuhan dengan berbagai macam mainan dan alat tulis yang berguna untuk anak panti. Sudah lama sejak dia mengunjungi panti tersebut. Dia rindu pada anak-anak panti di sana.
"Wah, Alhamdulillah Bu Sella datang. Anak-anak senang sekali Bu terima kasih banyak atas pemberiannya." Seru Bu Reka.
"Sama-sama Bu, saya senang melihat anak-anak bisa bermain dengan bahagia."
"Mari masuk ke dalam, kita bicara di dalam saja." Ajak Bu Reka yang dijawab oleh Sella dengan mengangguk dan mengikuti Bu Reka dari belakang.
Sella dihidangkan secangkir teh dan kue kering. Mereka berbincang di kantor Bu Reka. Sella menyilangkan kedua kakinya sambil menatap Bu Reka dengan lembut.
"Bagaimana keadaan Ibu? Sudah lama tidak kemari ya. Makasih loh hadiahnya untuk anak-anak."
"Iya, kerjaan saya lagi banyak-banyaknya, jadi baru sempat kemari. Yaahh paling tidak hanya ini yang bisa saya berikan buat anak-anak panti ini Bu." Kedua mata Sella melihat ke sekeliling ruang panti yang sudah lama sekali tidak dia kunjungi dan banyak berubah ternyata.
“Ruangan ini sepertinya banyak berubah.”
“Ah, iya Alhamdulillah banyak donatur yang memberikan bantuannya. Ruangan ini memang sengaja diperbaiki agar lebih nyaman. Itu hiasan dinding itu.” Bu Reka menunjuk sebuah hiasan dinding bergambar tanaman yang menyejukkan. “Adel yang membelinya.”
Seketinya senyum getir keluar dari bibir Sella, dia berusaha untuk menyembunyikan rasa harunya. Tapi Bu Reka jelas melihat semua itu
Bu Reka tersenyum manis menatap Sella, mata mereka bertatapan satu sama lain. "Sudah dua puluh lima tahun, apa ibu tidak mau memberi tahu Adel?" Pertanyaan Bu Reka yang tiba-tiba membuat Sella terkejut.
Sella menggeleng dengan wajah sendu, "Belum saatnya Bu, saya khawatir kalau Papa saya tahu soal Adel. Dia bisa dalam bahaya." Dengan getir Sella menjawab.
"Saya rasa Adel berhak tahu soal ini, tapi semua kembali lagi kepada ibu. Adel sudah dewasa sekarang dia cantik, dan pintar."
"Iya saya bangga sama dia dan berhutang budi kepada Ibu karena telah membesarkan dan membuat Adel kuat. Dia kerja di RS Suharjo kan ya? RSnya bagus, besar juga."
"Iya, Adel memang kuat kerja sambil kuliah dan jadi seperti sekarang atas usahanya sendiri." Bu Reka memang bangga sekali dengan Adel, impiannya tercapai dengan kerja keras. Dia menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan anak asuhnya itu untuk bisa lulus menjadi Apoteker. Begadang dan makan sehari sekali adalah salah satunya.
Ttrrrttt.....ttrrrtttt…… Handphone Sella tiba-tiba berdering.
"Hallo.”
"Hallo, Bu Sella maaf mengganggu. Pak Galuh meminta laporan kepemilikan saham Bu. Dia ada di sini sekarang.” Tutur Gerry dengan gaya lemah lembutnya.
"Oh iya ada disana kok. Sebentar saya kesana ya. Ok." Bip… Sella mematikan telponnya.
Dia kemudian menoleh sambil tersenyum merasa bersalah, "Ibu maaf sekali, saya harus permisi dulu mau ke tempat lain. Ada urusan mendadak dan saya harus datang." Seru Sella dengan raut kecewa, padahal ia ingin lebih lama lagi berada di sana. Tapi apa daya, pekerjaan terus membebaninya.
"Oh ya silahkan hati-hati Bu." Ucap Bu Reka ramah.
Sella lalu melangkah sembari tersenyum kepada Bu Reka. Dia kemudian masuk ke dalam mobil dan langsung pergi. Sedangkan Bu Reka menaikkan kedua alisnya sambil menghela napas, kini takdir Adel dan Sella dia pasrahkan kepada yang di atas.
****
“Haduh saya lupa tadi masukin supplement makanan ke pasien asuransi. Ternyata asuransinya nggak cover.”
“Yah, Mak gimana sih. Mana strucknya ambil dulu.” Ucap Adel.
“Bentar-bentar.” Mak Yanti mulai panik dan melirik ke bagian kasir yang ada di sebelahnya, “Mba, tunggu-tunggu. Ada revisi, maaf ya bentar.” Ucap Mak dengan logat betawinya pada kasir yang baru saja ingin memasukkan data untuk ditagihkan kepada pasien.
“Wah udah nggak fokus nih Mak kebanyakan pasien.” Ledek Adel.
Mak Yanti yang panik memijat dahinya pusing. “Si Keke sih ngomong jorok tadi bilang sepi. Bener kan jadi rame.”
“Yee, kenapa Keke yang disalahin. Emang Mak aja lagi galfok.” Sahut Keke yang tiba-tiba datang dari belakang membawa keranjang berisi obat. “Mba Adel, ini obatnya tolong diserahin.” Ucapnya pada Adel.
“Sip.” Jawab Adel. Dia kemudian tersenyum menatap ke depan melihat berbagai pasien dan perawat yang mondar mandir di sekeliling Rumah Sakit. Begitu banyak orang yang ingin sembuh dari penyakitnya dan betapa beruntungnya dia bisa diberikan kesempatan untuk membantu mereka. Menghela napas dengan semangat tinggi, dia lalu meneruskan pekerjaan dengan sangat baik.
Bersambung....