Perkenalan Pertama

1378 Kata
Adit dan Adam berkeliling Rumah Sakit dari ruangan Rawat Inap, Nurse Station, Hemodialisa, Poli Rawat jalan,Pendaftaran, Kasir dan terakhir Farmasi. "Ini terakhir pak, Farmasi." Ucap Adam. Lintang sebagai kepala instalasi yang melihat Adit dan Adam datang langsung menyambutnya. "Selamat pagi Pak, kenalkan saya Lintang, saya kepala Instalasi Farmasi RS ini." Sambut Lintang, dengan ramah dia mengulurkan tangannya. “Adit.” Ucapnya menyambut jabat tangan Lintang. “Suatu kehormatan bisa bertemu dengan bapak.” Ujar Lintang. "Hmm,” Adit mengangguk dengan dingin namun penuh wibawa. Dia lalu memindai seisi ruangan “Disini ada berapa Apoteker dan AA (Asisten Apoteker) nya Pak Lintang?" "Sesuai ketentuan Pak untuk RS tipe B Apoteker ada 13 orang dan asistennya di sini ada 25 orang. Untuk Apoteker hanya kena shift pagi dan siang saja." Adit kembali mengangguk sambil mengusap bibirnya nampak berpikir "Kartu stock apa berjalan?" Kembali Adit melontarkan pertanyaannya. Dia sedikit banyak tahu tentang dunia kefarmasian, karena dulu saudara sepupu dekat Adit adalah Apoteker juga. Dan dia sering cerita berbagai macam masalah dan keunikan di dunia farmasi. "Berjalan kok Pak, sesuai cuma terkadang masih ada terlewat masalah stock system komputer dan realnya. Biasalah anak-anak kadang kalau pasien sedang ramai suka kurang teliti." Jawab Lintang sembari mencairkan suasana yang sungguh canggung. "Ok, coba kamu perbaiki ya," Seru Adit sambil menengok ke arah petugas yang sedang sibuk melayani pasien. "Aahhh , Adel, Ratri, Lia, Mak Yanti sini semua." Seru Lintang sedikit teriak. Dia melambaikan tangan pada mereka semua pertanda bahawa mereka dipanggil olehnya. Setelah menghampiri Lintang, mereka satu per satu memperkenalkan diri ke Adit. Adel jadi yang paling canggung karena masalah kopi kemarin. "Saya Adel Pak, Apoteker rawat jalan di sini." Ucapnya malu-malu mengehindari tatapan atasanna itu. "Oohh Adel, kamu masih inget saya? Starbuck?" Ledek Adit dengan sengaja. Seketika semua orang menoleh menatap Adel dengan penuh pertanyaan, termasuk Lintang. "Heehe, maaf pak." Ucap Adel salah tingkah. Adit tersenyum meledek kepada Adel lalu menoleh ke arah Adam. "Dam, ayok." Seru Adit tegas. Adam mengikuti Adit dari belakang dan pergi mengakhiri observasi mereka. Adel kemudian kembali ke tempatnya, “Kamu kenal sama Pak Adit Del?” Ucap Mak Yanti penasaran. “Hmm, bau-baunya ada yang mencurigakan nih.” Ucap Ratri. “Apaan sih kalian. Saya pernah ketemu sama Pak Adit di Starbuck waktu itu. Ya tapi saya nggak tahu kalau dia adalah cucu pemilik Rumah Sakit ini.” “Ohh, jadi ada yang lagi PDKT.” Ujar Lintang meledek sambil melintas di depan Adel. “Nggak, nggak ada yang PDKT. Udah ah, tuh pasien mulai ngantri lagi.” Jawab Adel. Mereka kemudian kembali melayani pasien yang sudah menumpuk di depan. **** Di dalam ruang kantornya Adit terus mengingat kejadian di Starbuck itu. Entah kenapa kejadian itu tidak bisa ia lupakan dan selalu tersimpan di kepalanya. Dia kesal tapi dalam hatinya sebenarnya dia menganggap kejadian itu lucu. Mengingat kejadian itu dia jadi senyum-senyum sendiri. "Jadi namanya Adel heh," Adit tersenyum sambil melihat data karyawan di di tangannya. Tadi dia meminta langsung pada Adam untuk memberikannya semua data karyawan. Ketukan pintu membuyarkan lamunan Adit, “Masuk!” Teriaknya “Siang Pak Adit.” Ucap Johan, Manajer keuangan di Rumah Sakit mereka. “Siang, silahkan duduk. Ada apa?” Tanyanya. “Ini Pak, kami ingin membeli alat kemoterapi baru. Saya butuh tanda tangan bapak.” “Oh, memang berapa harganya.” “Sekitar 900 juta.” Ucap Johan. Adit mengangguk, “Banyak pasien kemo?” “Lumayan Pak, karena kita Rumah Sakit dengan alat yang lengkap jadi banyak yang berobat ke sini.”            Adit lalu membaca dan menandatangani dokumen tersebut, “Nih.” Ucapnya sambil menyerahkan berkas tersebut. Johan begitu canggung di depan Direktur barunya, ia sangat gugup. “Hmm, nanti malam kita ada makan bersama Pak. Apa bapak mau ikut?” Adit seketika menaikkan alisnya mendengar hal tersebut, “Saya lain waktu saja. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.” “Baik.”            **** Kembali ke Rawat Jalan “Gimana sih Mba. Masa obat seperti ini bisa kosong. Ini kan obat rutin saya, gimana dong kalau saya tidak makan obat ini. Nanti kalau gula darah saya tiba-tiba melonjak, Mba mau tanggung jawab?” Ucap seorang pasien yang marah karena petugas bilang kalau obatnya sedang kosong. “Iya Pak, saya mohon maaf kita benar-benar sedang kosong. Kita akan kasih copy resep supaya Bapak bisa beli di luar ya.” Ujar Keke. “Biaya lagi dong Mba, saya kan sudah pake asuransi. Sudah bayar tiap bulan, dan sekarang kalau begini saya harus keluar biaya lagi. Saya tidak mau.” Seketika Keke panik, dia bingung menggaruk kepalanya harus bagaimana mengatasi pasien seperti ini. Stok Metformin, obat gula yang biasa bapak ini minum hanya tinggal 30 lembar. Tidak cukup untuk diberikan selama sebulan dengan pemaikaian 3 kali sehari. “Jangan bengong Mba. Ini gimana sih?” Bentaknya membuat jantung Keke melompat. Adel yang mendengar keributan tersebut kemudian mencoba membantu. “Kenapa?” Bisik Adel pada Keke. “Bapaknya nggak mau beli obat keluar.” Adel mengangguk, “Bapak, kami mohon maaf sekali. Obat gulanya sedang habis dan mungkin baru lusa akan dikirim oleh distributor.” “Terus bagaimana? Saya kan harus minum obat. Saya tidak mau kalau harus keluar biaya lagi untuk beli obat di luar.” Adel tersenyum dengan manis di depan pasien tersebut, “Baik, kalau begitu begini saja. Saya hanya ada sepuluh tablet untuk bapak bisa sampai lusa. Ini sudah jam delapan malam kan. Nanti 10 tablet cukup sampai lusa, nah lusa bapak kembali lagi ke sini untuk ambil sisa obatnya bagaimana?” Bapak itu berpikir sebentar, dia menimbang-nimbang apakah bisa jika dia datang lagi lusa. “Boleh, lalu sistemnya seperti apa?” “Nanti Bapak saya berikan kertas hutang. Kami hutang ke bapak 80 tablet lagi kan untuk sebulan. Jadi nanti kami hubungi jika obat sudah tersedia, Bapak tinggal datang dan berikan kertas hutang tersebut.” “Oke, saya mau.” Ujar sang Pasien. “Baik, tunggu sebentar ya pak.” Adel langsung membuatkan bon hutang untuk pasien tersebut. Keke mendesah lega, dia berterima kasih sekali atas bantuan Adel. “Makasih ya Mba.” Ucap Keke “Sama-sama, biasa pasien gitu mah. Lagi pula kita kadang memang suka kehabisan obat tiba-tiba karena banyak pemakaian atau distributor yang terlambat. Di rumahnya, metformin masih ada 30 tablet, menurut kamu kenapa saya kasih cuma sepuluh ke pasien tadi?” Keke menggeleng, “Memangnya kenapa?” “Untuk jaga-jaga buat pasien lain. Kalau kejadiannya seperti tadi lagi. Kita masih ada cadangan.” “Oh.” Keke baru mengagguk mengerti. “Kamu harus banyak belajar dari Adel Ke,” Ucap Mba Lia yang melintas. “Hehehe, iya.” Jawabnya. Adel terseyum lalu meninggalkan Keke dan kembali bekerja. **** Saat pulang untuk shift dua, Adel dan temannya bersiap untuk pulang. "Akhirnya selesai juga untung pasiennya nggak terlalu ramai hari ini." keluh Mba Lia "Iya mba, mungkin karena dokter nggak semuanya praktek hari ini ya." Jawab Adel, memang banyak Dokter cuti hari ini entah kenapa atau mungkin ini hanya hari keberuntungan mereka. "Yaudah pulang ah, dadah semua." Pamit Lia. "Dadah, aku pulang juga deh." Seru Adel sambil mengangkat tasnya dan melambaikan tangan pada rekan kerjanya yang hari ini dinas malam. **** Saat mengendarai mobilnya pulang, di depan Rumah Sakit Adit melihat Adel jalan sendirian. Dia begitu menikmati waktu sendirinya. Senyum tipis terlukis di bibir merahnya Tiiiiin..tiiinnn... Suara kencang klakson mobil Adit membuat Adel kaget. Dia berhenti tepat di depan Adel. Adel yang bingung mencoba mencari tahu mobil siapa yang berhenti di depanya. "Hai cewek Starbuck." Teriak Adit. "Pak Adit?" Ucap Adel terkejut, dia mengerutkan wajahnya sebal. Mau apa lagi dia mengikutinya. "Nggak nyangka kamu kerja disini ya, tanggung jawab, saya harus ke Rumah Sakit karena ditendang kamu." Mata Adit melihat Adel dengan dalamnya sampai membuat Adel canggung dan menelan ludahnya tersipu malu. "Maaf Pak, saya nggak tahu.." Lalu Adel tiba-tiba tersadar "Kan Bapak duluan yang numpahin kopi sampai baju saya kotor, Bapak juga tanggung jawab dong." Sahutnya kesal. "Saya kan nggak sengaja." Ucap Adit dengan nada angkuhnya. Dalam hati Adel "Terserah deh." Muka Adel sudah mulai menunjukkan rasa tidak nyaman. "Masuk, biar saya anter pulang." Seru Adit. "Nggak usah Pak, saya ngekos dekat sini kok, saya jalan kaki saja." Tutur Adel menolak dengan halus "Masuukkk !!!!" Hardik Adit. Pria seperti Adit tidak terbiasa menerima penolakan, semuanya bisa dia dapatkan kalau dia mau. Termasuk Adel.   Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN