Dengan terpaksa Adel pun masuk ke dalam mobil, wajahnya sudah cemberut menahan kesal. Seenaknya saja menyuruhnya masuk ke dalam mobil, kalau dia bukan atasan di tempatnya bekerja. Sudah dia injak kaki lelaki di sampingnya itu. Sedangkan Adit senyum-senyum sendiri kesenangan berada di samping Adel. Entah sejak kapan dia mulai tertarik, tapi semenjak malam di Starbuck itu. Dia benar-benar tidak bisa melupakannya. Selama di mobil mereka sangat canggung, tidak ada yang berani bicara. Hanya musik yang menemani mereka di sepanjang perjalanan.
"Belok kiri pak, nanti di depan ada rumah warna coklat berhenti." Ucap Adel memberi petunjuk.
Adit mengangguk dan membelokkan mobilnya. Setelah sampai, Adit berhenti dan keluar dari mobilnya menemani Adel.
"Kamu tinggal disini sendiri?" Tanya Adit.
"Iya, saya ngekos sendiri." Adel lalu memindai sekujur tubuh Adit
"Orang tua kamu dimana?" Benar kan apa yang dipikirkan Adel. Bosnya ini pasti bertanya hal itu.
"Saya anak panti asuhan jadiii..." Jawab Adel lirih, namun belum selesai menjawab pertanyaan, Adit memotong perkataannya..
"Hmmm, yasudah masuk sana saya pulang dulu." Pamit Adit tidak mau memperpanjang pertanyaannya.
"Iya pak, terima kasih sudah mengantarkan saya sampai rumah."
Adit mengangguk dan langsung pergi. Di dalam mobilnya berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Bagaimana dia bisa menjadi seorang yatim piatu? Apakah dia sudah memiliki kekasih? Apa dia tidak memiliki keluarga sama sekali? Dan yang terutama adalah. Kenapa dirinya bisa begitu tertarik dengan gadis biasa seperti Adel. Adit bisa mendapatkan siapa saja yang ia inginkan, tapi kenapa semenjak bertemu dengannya pertama kali. Hatinya langsung tahu kalau perempuan itu adalah belahan jiwanya. Bagian dirinya yang lain. Dia bisa merasakan itu.
***
Sella sedang berada di kamarnya melihat foto-foto Adel sejak kecil hingga dewasa. Betapa sedihnya dia selama ini tidak pernah ada untuk putri kesayangannya itu. Air matanya pun mengalir dengan sendirinya, ingin sekali rasanya memeluk Adel tapi tidak bisa, dia rindu sekali. Anak satu-satunya, anak dari laki-laki yang dia cintai.
Sampai sekarang Sella tidak pernah membuka hatinya untuk siapapun selain Faris, ayah Adel yang bahkan dia tidak tahu lelaki itu masih bernapas atau tidak, mungkin karena rasa bersalah yang begitu besar kepada mereka membuat hati Sella tertutup. Andai ibunya masih hidup, mungkin dia tidak akan kesepian seperti sekarang.
"Sell, ayok makan." Ajak ayahnya yang sudah duduk di meja makan meneriaki anaknya untuk turun.
"Iya Pah." Jawab Sella yang dengan sigap menyembunyikan kotak rahasia tersebut dan mengusap air matanya.
"Kamu kenapa??" Tanya Pak Irwan yang melihat mata Sella sembab.
"Nggak papa Pah, Sella cuma kangen sama Mama." Ucapnya berdalih.
Irwan menghela napasnya, raut sedih langsung terpancar dari wajah yang sekarang mulai terlihat keriput di sekitar wajah dan mata. Rambutnya pun sudah berubah warna. Namun katampanan dan kegagahannya masih terpampang jelas. "Papah juga kangen sama mama kamu, dulu dia sering masak makanan kesukaan kamu yah, cumi telor asin." Ucapnya dengan lirih.
"Papah masih ingat saja."
"Sudah dua tahun mama pergi ya, rasanya baru kemarin." Sella bisa melihat air menggenangi mata Papahnya membuat Sella bertambah sedih.
"Iya pah, aduh jadi sedih begini. Kita makan aja yuk Pah laper." Jawab Sella sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir.
"Hayo, makan makan." Ucap Irwan sambil menutupi rasa sedihnya.
***
Hari ini ada pertemuan di tempat kakek Adit. Adit , Rosa, Ayah dan ibunya datang untuk makan malam. Suasana begitu hangat dan menyenangkan, hidangannya pun sangat enak. Ada ayam bakar dan semur daging.
"Hhmmm kenyang, enak banget kek makanannya." Ucap Rosa, adik Adit yang memang sangat manja pada kakeknya.
"Bagus kalau kamu suka, makan yang banyak ini buat kamu semua." Seru Joko, kakek Adit sembari memberikan lauk lagi untuk cucu kesayangannya, Rosa.
"Jangan suruh dia makan mulu kek, dia sudah gendut." Cibir Adit
"Apaan sih kayak gini di bilang gendut. Picek ya mata lo." Ucap Rosa yang kesal dengan ocehan kakaknya itu.
"Heehh udah–udah jangan berantem nggak enak dilihat kakek tuh." Ucap Maia Ibu Adit.
"Hahaha nggak Papa, seru melihat mereka berantem. Oh ya Dit gimana di Rumah Sakit sudah nyaman?" Tanya sang Kakek.
"Nyaman kok Kek, orang-orangnya juga enak. Kemarin saya sudah keliling dan lihat laporan-laporannya juga. Tinggal perbaikan sedikit lagi." Jawab Adit dengan lugas.
"Kakek harap kamu betah dan bisa membangun Rumah Sakit menjadi lebih baik lagi."
"Ammin kek, oh ya. RS kita kerja sama dengan bpjs juga kan Pah? Mau saya benahi untuk bpjsnya, biar pasien lebih nyaman." Tutur Adit kepada Ayah yang ada di sampingnya.
"Boleh ide bagus, untuk bpjs waktu tunggu yang mungkin masih bermasalah. Karena pasien begitu banyak, dan harus mengantri dari pendaftaran sampai ke farmasi pun masih harus antri." Seru Bambang kepada anaknya itu.
"Okay nanti akan Adit evaluasi." Ucapnya tegas.
***
Karena sedang libur dan tidak ada rencana apa-apa, Adel akhirnya memutuskan untuk mengunjungi panti asuhan tempatnya dulu tinggal. Sudah beberapa minggu dia tidak kesana. Kangen juga.
"Ibu," Adel yang datang seketika tersenyum dan langsung mencium tangan Bu Reka. Dia sayang sekali dengan ibu pantinya itu, dia berhutang banyak padanya.
"Adel, gimana kabarnya? Ibu kangen loh sama Adel. Sekarang sudah jarang main kemari." Sahut Bu Reka.
"Iya baik bu, sama Adel juga kangen sama ibu dan semua anak panti." Ucapnya dengan lembut dan lucu.
"Gimana kerjaan kamu? Enak?" Tanya Bu Reka sambil berjalan masuk.
"Lumayan Bu, walau pasiennya banyak tapi seru sih. Ibu makin cantik saja." Adel yang datang langsung duduk di sofa.
"Ah kamu bisa saja, kamu juga tambah dewasa." Ungkap Bu Reka dengan tersipu malu.
"Hehe, tadi saya lihat banyak mainan di depan, Bu Sella lagi yang ngasih?" Tanya Adel yang penasaran sejak tadi saat melihat anak-anak panti bermain dengan begitu banyak mainan.
"Oohh, iya kemarin dia datang membawa banyak mainan dan sembako."
"Dia baik sekali ya Bu, dari dulu nggak berubah. Tapi Adel sama sekali belum pernah bertemu dengan orangnya. Adel penasaran jadinya." Sudah lama sebenarnya Adel ingin bertemu orang yang sering membantu panti itu sedari Adel kecil. Tetapi dia tidak pernah punya kesempatan, ada saja halangannya.
"Iya, kamu nggak pernah ada di sini kalau dia datang. Ibu juga pengen sekali kamu bertemu dengan dia." Dalam hati Bu Reka ingin sekali mempertemukan Adel dengan ibu kandungnya, tetapi Ibu Adel masih belum mau. Dia selalu kucing-kucingan dengan putri kandungnya sendiri.
Adel meghabiskan waktunya di panti sampai sore, tanpa terasa sekarang sudah pukul enam sore. Handphone Adel berbunyi dan ternyata ada pesan dari Tika teman dekatnya.
"Del, pengen curhat. Ketemu di tempat gue ya." Pesan Tika singkat.
"Oke nanti gue kesana." Jawab Adel lewat pesan. Pasti temannya ini sedang bertengkar dengan kekasihnya.
****
Sore itu Adit bertemu dengan temannya di tempat olahraga tenis. Dia memang sering berolahraga agar terlihat bugar dan menjaga bentuk tubuhnya.
Takk… Takk….Takk…
Pukulan berkali-kali dilayangkan oleh mereka berdua. Olahraga itu begitu intens, tubuhnya sudah di penuhi oleh keringat. Mereka terus mengejar bola sampai tubuh mereka tidak sanggup lagi. Adit langsung terkapar di lantai karena kelelahan. Dia begitu menggebu-gebu saat bermain tadi.
“Gila lo, hampir mati gue ngikutin permainan lo. Semangat banget sih?”
“Hehe, entah kenapa gue hari ini semangat banget.”
“Lagi senang ya hati lo? Gue tahu banget deh kalau lo lagi seneng. Pasti apapun yang lo lakuin sangat menggebu-gebu.” Ucap Ihsan, teman baik Adit.
“Gue lagi suka sama cewek.”
“Hah? Wah pantesan. Siapa?”
“Salah satu pegawai di rumah sakit gue.”
Ihsan tersenyum lebar, “Hebat tuh cewek bisa memikat hati lo yang beku itu.”
“Sialan,”
“Sudah berapa lama lo nggak pacaran? Lima tahun, setelah di tinggalkan Vera begitu saja. Syukurlah sekarang ada yang melelehkan beku di hati lo itu.”
“Tapi gue nggak tahu gimana caranya untuk bisa dekat dengan dia.”
“Apa? Jadi lo belum pendekatan. Buset. Kaku amat sih lo.”
“Ih, berisik. Gue kesini itu buat minta nasehat. Gimana caranya supaya gue bisa tahu dia lebih dalam. Kemarin dia agak sedikit tidak nyaman waktu gue maksa dia buat masuk ke mobil dan mengantarnya pulang.”
“Ya lo lagi maksa. Heh, cewek itu harus diperlakukan lembut bukan kasar. Emang drama korea apa. Di Korea juga aslinya nggak gitu-gitu banget kali.”
“Yaudah, terus gue harus gimana?”
“Hmm, temuin dia malem ini. Ke rumahnya kek, ke tempat kerjanya kek. Kemanapun dia berada, lo samperin dia.”
Wajah Adit berubah serius nampak berpikir.
****
Adel akhirnya pamit dengan semua orang di panti dan pergi menemui Tika di restaurannya. Temannya ini pasti sudah menunggunya di sana.
"Lo kenapa lagi si Ka?" Tanya Adel mengerutkan dahi heran pada temannya itu.
"Bete gue del, Bima nyebelin banget. Ngajakin nikah mulu, gue belum siap dan masih ragu-ragu." Seru Tika
"Kenapa lo belum siap? Lo kan pacaran juga sudah lama. Kalau dibilang belum siap mah semua orang juga belum siap untuk nikah Ka, kasihan Bima kalau nggak lo kasih jawaban pasti."
"Gue masih pengen seneng-seneng sendiri saja. Main sama lo gini, kalau sudah nikah dan punya anak mana bisa." Ucap Tika sebal.
"Bisa Tika, habis nikah lo juga masih bisa main kali. Gue rasa lonya yang gak yakin sama Bima."
"Eh masa ya?" Jawab Tika yang tersadar bahwa memang mungkin dia yang tidak percaya dengan kekasihnya Bima.
"Kalau memang nggak yakin, lepasin Ka kasihan dia udah ngebet pengen nikah. Biar dia nikah sama yang lain aja. Jangan ama lo."
"Sue lo, ah nggak asik parah." Sahut Tika geram.
Adel tertawa melihat reaksi temannya yang gemas "Hahaha lagian galau mulu." Cibir Adel.
"Udah-udah cukup soal guenya ya, lo gimana? Cie dianterin Pak Direktur."
"Buset siapa yang cerita?" Tanya Adel penasaran
"Orang gue ngeliat sendiri kemaren mobil berhenti di depan rumah, gue kira siapa nggak tahunya lo sama cowok lagi. Kaget gue kan, pas gue cari tahu nggak tahunya doi Direktur baru lo. Cieeee." Ledek Tika pada temannya itu
Yaampun, Adel lupa kalau bukan cuma dia yang tinggal di kosan itu. Adel tinggal di kosan milik orang tua Tika, mereka sudah berteman lama. Karena tempat kerja Adel dan kosan temannya itu dekat, akhirnya Adel setuju untuk tinggal disana.
"Apaan sih, lo udah kayak lebih-lebih dari FBI tahu nggak? Lagipula orang sombong begitu kayak dia? Males banget gue." Jawab Adel sambil memancungkan bibirnya tidak suka.
"Masa? Emang sombong banget Del?"
"Gitu deh, panjang ceritanya. Udah ah, gue balik ya ngantuk besok masuk pagi gue." Serunya. Karena masuk shift pagi, jadi Adel harus tidur cepat malam ini
"Yah ceritanya gitu aja. Ah nggak asik lo." Ucap Tika kecewa karena tidak mendapatkan cerita yang ia harapkan.
"Bye..." Adel dengan cepat beranjak dari kursinya dan pergi
"Ooy, jangan lupa bayar kosan." Teriak Tika sambil tersenyum jahil.
"Iyee"
***
Saat itu keadaan sudah sangat gelap, Adel yang baru sampai karena jalan begitu macet berjalan sendiri menuju tempat kosannya. Dia tidak bawa motor hari ini. Di tengah jalan ada tiga orang preman yang sedang mabuk. Jalanan sangat gelap karena sudah pukul dua belas malam. Tiga laki-laki tersebut kemudian menghampiri Adel dengan tubuh limbung. Mulut mereka sangat bau minuman alkohol.
"Hallo neng, sendirian aja nih." Seru sang Preman yang jalan dengan sempoyongan.
Adel seketika merasa takut dan tidak nyaman, dia memeluki tasnya sambil menjauh dari orang yang ada di depannya itu.
"Mending temenin kita sini." Ucap salah satu preman.
"Apaan sih jangan deket-deket." Sahut Adel dengan nada keras.
"Udah sini." Ujar preman yang sekarang mencoba menyentuh wajah Adel dan preman satunya memegang tangan halus milik perempuan berumur 25 tahun itu.
"Lepasin nggak, lepasin tolonngg... tolonggg..." Teriaknya ketakutan dan panik.
Preman itu terus saja menarik keras tangan Adel, Adel tidak punya tenaga untuk melawan mereka bertiga. Lalu tiba-tiba saja ada sesorang yang menangkap tangan preman tersebut menghajarnya.