Kebenaran Terungkap

1928 Kata
Saat sampai di rumah, Adit sudah di tunggu oleh Pak Bambang. Ayahnya. Setelah mendengar apa yang terjadi saat rapat di Kalimantan. Bambang begitu marah pada anak lelakinya itu.                “Apa maksud kamu pergi dari rapat kemarin, HAH?” Bentak Bambang marah.                Adit yang merasa bersalah hanya diam menundukkan wajahnya, “Ada keadaan mendesak, dan saya harus pergi.”                “Kamu kira perusahan itu taman bermain? Mau ditaruh dimana muka papahmu ini. Semua orang sekarang membicarakan soal ketidaksopanan kamu meninggalkan ruang rapat begitu saja.”                “Maafin Adit Pah, saya akan menebus kesalahan saya.”                “Ada apa sebenarnya sama kamu? Kenapa kamu jadi seperti ini?”                Adit menghela napasnya, tidak ada lagi yang bisa dia katakan selain. “Saya akan memperbaiki semuanya. Papah tidak perlu khawatir.”                “Mulutmu itu beracun, kalau kamu hanya ingin bermain-main. Lebih baik keluar dari rumah ini.” Adit hanya diam tanpa membantah sedikit pun. Bambang lalu menatap Adit tajam, “Kalau ini terjadi lagi, jangan harap kamu bisa kembali ke rumah ini.”                Adit hanya mengangguk menuruti keinginan sang Ayah. ****                Sella dengan riasan cantik kini berada di Restaurant sebuah Hotel ternama di Jakarta, dia duduk bersama Tomi. Sebenarnya dia tidak mau melakukan ini, tapi Ayahnya memaksanya untuk makan siang bersama mantan pacarnya itu.                “Sudah lama kita tidak makan siang seperti ini.” Ucap Tomi.                “Yup.”                “Kamu dan emosimu sungguh.” Ujar Tomi sambil menggelengkan kepala.                Sella tersenyum miring, “Memangnya apa yang kamu harapkan? Saya loncat-loncat gembira karena kamu ingin mendekati saya kembali?”                “Hei, santailah sedikit. Kita sudah lama tidak bertemu dan saya juga baru saja bercerai. Tidak bisakah kamu bersikap baik?”                Sella menelan ludahnya kesal, dia lalu menatap Tomi dengan tatapan menjijikan.                “Jangan menatap saya seperti itu.” Ancam Tomi yang merasa tersinggung.                “Saya tidak tertarik menjalin hubungan kembali dengan orang yang sudah mengkhianati saya. Saya kesini karena Papah memaksa.” Jelas Sella.                “Saya tahu, dari dulu juga kamu tidak pernah benar-benar mencintai saya.”                Sella mengerutkan dahinya kaget, “Apa?”                “Saya dengar Faris sudah sukses berbisnis di luar negeri. Sepertinya perlakuan yang kalian berikan membuatnya mendapat keberuntungan sekarang. Apa yang dia lakukan ya, kalau dia tahu dia memiliki anak di sini.”                Sella langsung terdiam mendengar perkataan Tomi, sejak kapan dia tahu kalau mereka memiliki anak.                “Kenapa? Kamu terkejut? Apa perlu saya memberitahu Ayahmu juga?” Ujar Tomi menantang.                Menaikkan bibirnya kesal, Sella langsung meraih kerah kemeja Tomi.                “Dasar b******k, kamu sengaja kembali hanya untuk mempermainkan saya? Jangan mimpi. Enyahlah sebelum saya membuangmu ke tong sampah.”                Tomi dengan percaya diri, meraih tangan Sella dan menarik genggamannya.                “Uh, menyeramkan. Kita lihat saja bagaimana kamu menjaga rahasiamu itu.” Tomi lalu mengusap bibirnya dengan tissue, “Selera makan saya hilang. Sampai jumpa.” Ucapnya sambil mengedipkan satu matanya pada Sella.                Sella mengeraskan rahangnya geram, apa yang harus dia lakukan sekarang. ****                Adit yang sedang berhenti di sebuah café untuk membeli kopi tiba-tiba terkejut mendengar suara mobil tertabrak. Saat menoleh dia keget karena mobilnyalah yang ternyata ditabrak oleh mobil orang lain.                “Yaelah.” Ucap Adit yang langsung menghampiri pemilik mobil yang menabraknya.                Dia kemudian mengetuk kaca pemilik mobil tersebut. Pemiliknya ternyata adalah seorang wanita, dia perlahan-lahan membuka kaca dan dengan kacamata hitamnya menoleh ke arah Adit. Mereka ternyata kenal satu sama lain, Adit memicingkan matanya mencoba mengingat. Sedangkan wanita itu mengendurkan kacamatanya untuk memastikan.                “Lo lagi?” Ucap perempuan itu                “Tunggu-tunggu. Lo yang ketemu di Rumah Sakit kan? Pas banget, ganti rugi. Mobil lagi parkir di tabrak. Buta apa.”                “Sembarangan kalau ngomong, mobil lo parkirnya nggak bener.”                “Situ yang nabrak gimana sih. Tanggung jawab.” Adit kemudian belari memeriksa mobil kesayangannya yang ternyata lecet dalam. “Lihat tuh, lecet. Aahhh, mobil gue.” Dia mulai frustasi.                Rhea tersenyum tak percaya, “Lelaki kok cengeng.”                “Apa lo bilang?” Tanya Adit.                “Kalau ditolak sama wanita dan menangis semalaman di bar apa namanya kalau bukan cengeng.”                Adit mengerutkan dahinya nampak berpikir, tiba-tiba saja ingatannya kembali pada malam saat ia ditolak oleh Adel dan menangis sejadi-jadinya di Bar. Dia juga ingat ada wanita di sebelahnya tapi dia tidak tahu siapa.                “Sial, jadi lo wanita itu?”                “Ya, saya yang mendengarkan keluhan kamu semalaman sampai kuping saya sakit.”                Seketika Adit menjadi jinak, “Saya mohon maaf.” Ucapnya sambil menunduk. “Kalau begitu anda tidak usah ganti rugi. Nggak usah, mobil saya juga tidak lecet parah. Saya ikhlas, ikhlas banget tapi tolong jaga rahasia itu ya. Jangan sampai ada yang tahu kalau saya menangis karena ditolak seorang wanita. Sebagai laki-laki harga diri saya tercabik-cabik.”                “Orang stress.” Ucap Rhea sambil berjalan masuk kembali ke mobilnya. Dia menyalakan mesin mobil dan melaju dengan cepat.                Adam yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum manis, atasannya ini sedang di mabuk cinta. Dia sedang tidak waras.                “Silahkan Pak Adit.” Ucap Adam membukakan pintu mobil untuk atasannya itu.                “Huh, kamu dari mana saja? Mobil saya lecet.”                Adam memiringkan kepalanya bingung, “Perempuan tadi yang menabrak? Sepertinya kalian punya sifat yang sama.”                “Jangan bercanda, saya sedang tidak mood untuk diajak bercanda. Bawa mobil saya ke bengkel setelah dari Rumah Sakit!” Serunya.                “Baik.” ****            Setelah izin beberapa hari, Adel kembali masuk kerja. Badannya sudah bugar dan sehat. Kasihan farmasi jadi kekurangan orang karena dia. "Wah sudah sembuh kamu Del?" Tanya Mak Yanti yang kaget melihat Adel masuk kerja dengan begitu bersemangat. "Alamdulillah Mak. Sudah. Eh Mak kok kemaren nggak ada yang jenguk Adel di IGD? Sedih jadinya." Tanya Adel yang akhirnya penasaran dengan semua kebetulan itu. "Lah kamu masuk igd Del? Nggak tahu emak." "Emang kemaren nggak ada yang ke farmasi Mak ngasih tahu kalau Adel di IGD?" "Nggak ada, tapi coba tanya yang lain Del takut Emak doang ternyata yang nggak tahu." "Iya kemaren Keke masuk sore Mba, tapi nggak ada yang ngasih tau Mbanya masuk igd. Kita tahunya mba ijin saja. " Sahut Keke yang mendengar percakapan seniornya. "Iya, kenapa memangnya Del?" Tanya Mba Lia sambil mondar mandir ngambilin obat. "Ah nggak papa." Kecurigaan Adel semakin kuat dia tidak bisa membiarkan ini. Apa sebenarnya yang membuat Bu Sella mendekatinya? Bahkan begitu baik. Karena penasaran akhirnya Adel pergi ke IGD untuk bertanya pada Dokter yang kemarin meriksanya. Dia yakin ada sesuatu, Bu Sella berbohong saat bilang dia tahu alegi Adel dari farmasi. Lalu dia tahu darimana? "Hai Dok, apa kabar?" Tanya Adel ramah. "Baik, loh kamu sudah sembuh?" Tanya Dokter itu. "Sudah dong Dok, nih sudah bisa mondar-mandir lagi. Oh iya untung Dokter kemaren nggak ngeresepin saya antibiotik golongan sefalosporin Dok saya alergi." Adel mencoba mengorek informasi. "Hah? Bukannya Ibu yang kemarin bilang kamu punya alergi?" Dokter pun bingung dengan pertanyaan Adel. "Ibu Sella maksud Dokter?" "Iya yang kemarin nganter kamu kesini, Dia juga punya alergi yang sama sama kamu kan Del? Waktu kemarin kamu anter kesini dia bilang punya alergi obat yang persis kayak kamu. Tapi aneh kalian punya wajah yang mirip dan alergi yang sama, tapi kata kamu dia bukan Ibu kamu. Kebetulan sekali ya." Adel terkejut, dia terdiam setelah mengetahui itu semua. Omongan Dokter itu seperti menusuk ke jantungya. Tubuhnya kaku, otaknya seperti tidak berfungsi lagi. "Yaudah Dok, makasih ya Dok." Adel buru-buru pamit dan langsung pergi ke bagian medical record untuk melihat status Ibu Sella. Dia harus mengetahui semuanya, sebenarnya ada apa ini. Kebetulan yang terjadi lebih dari satu kali namanya bukan kebetulan. Tapi kenapa? "Mba, maaf saya mau lihat medrec pasien Sella boleh? Dia punya alergi obat tapi dokter nggak tahu, takut salah katanya." Ucap Adel berbohong "Boleh, tuh di bagian atas ya." Jawab Mba Atin yang sedang bertugas dengan ramah. "Ok makasih mba." Adel melihat status Bu Sella dengan cermat dan ternyata baru pertama kali dia berobat di RS itu. Benar ternyata dia punya alergi obat yang sama dengan dirinya. Perasaan Adel semakin jelas. Tapi dia perlu bukti lebih untuk memastikan semua ini. Memastikan pikirannya yang sekarang terlalu mengandai-andai. Sumpah demi Tuhan, kalau apa yang ia pikirkan benar. Maka dia harus menyiapkan kemungkinan terburuk. Tubuhnya tiba-tiba lemas dan sempoyongan. Bbrruukk… .            Adel sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi, dia menghantam dinding dan terlalu lemah untuk berjalan. "Del, hallo kamu kenapa?" Adit langsung menghampiri Adel yang terlihat pucat dan seperti mau pingsan. "Hah? Oh nggak papa Pak." Pikiran Adel kosong, dia bahkan tidak tahu kalau yang ada dihapadannya adalah Adit. Dia langsung lari kembali ke farmasi tanpa menghiraukan kekasihnya itu.            Berpikir dan terus berpikir, Adel termenung. Pikirannya kacau, semua yang dikerjakan berantakan. Rasanya ini seperti mimpi buruk, bertahun-tahun dia hidup dalam kesepian namun tidak pernah sekalipun dia menyalahkan orang lain. Dia bekerja keras dalam hidupnya, apa yang ia lakukan sampai harus mendapatkan hidup seperti ini. “Arrrgghh.” Tanpa sadar, dia melempar keranjang obat yang ada di tangannya. Seketika semua orang menoleh ke arah Adel. Dia lalu tersadar dan memungut lagi keranjang tersebut. Adel menghela napas dan mengusap dahinya penat. **** Setelah selesai dinas Adel langsung pergi ke tempat Bu Reka. "Adel? Masuk. Ada apa Del?" Tanya Bu Reka yang melihat Adel begitu berantakan dan kacau. "Bu, saya mau Ibu jujur sama saya. Saya tidak mau lagi dibohongi." Ucap Adel tegas. "Iya, kamu kenapa?" "Apakah orang tua saya masih hidup?" Tanya Adel dengan menatap mata Bu Reka tajam. Dia ingin melihat kejujuran dari mata itu. Bu Reka kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan anak asuhnya itu. Dia berusaha untuk menenangkan Adel dan dirinya sendiri, "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal orang tua kamu?" "Tolong jawab Bu, apakah Ibu tahu tentang orang tua saya?" Adel sedikit menaikkan suaranya, “Nggak, Ibu pasti tahu kan tentang mereka? Siapa Bu? Kasih tahu saya.” Bu Reka terdiam lalu pergi ke kamarnya. "Ibu rasa ini sudah saatnya kamu tau Del," Bu Reka lalu memberikan sebuah kotak kepada Adel. Adel dengan gugup membuka kotak tersebut dan dia benar-benar terkejut. Dia melihat foto Sella menggendong seorang bayi. "Ibu Sella adalah ibu kandung kamu." Ungkapan Bu Reka membuat seluruh dunia Adel runtuh. Ibu yang telah membuangnya tiba-tiba masuk kembali ke dalam kehidupannya Adel menatap Bu Reka, air matanya tidak bisa di bendung. Napasnya kembang kempis menahan amarah sekaligus tangis. “Kenapa Ibu tidak memberitahu saya? Dia selama ini berada di dekat saya.” Teriak Adel, “Ibu berbohong selama bertahun-tahun. Saya kecewa.” Ucap Adel sambil berdiri memegang foto dirinya bersama Sella dan mondar-mandir kebingungan. “Maafin Ibu Del, Ibu kandung kamu meminta ibu untuk merahasiakan semuanya.” “Kalian berdua. Apa kalian tahu apa yang telah kalian lakukan kepada saya?” Adel mengerutkan bibirnya kesal, sudah tidak ada lagi yang bisa ia katakan. Kata-kata tidak bisa menggambarkan bagaimana perasannya saat ini. “Kamu boleh membenci Ibu karena telah berbohong, tapi Ibu kandung kamu melakukan semuanya untuk kamu. Dia sayang sama kamu Del,”  Adel terduduk menutupi tangisnya, dia tidak percaya semua ini. Dia perlu waktu untuk mengerti semuanya. Seketika raut wajahnya berubah, dia mengusap air matanya, “Saya tidak mau mendengar kata-kata Ibu lagi. Saya permisi.” Adel pergi dengan membawa kotak yang dilihatnya tadi. Dia menangis tanpa henti, semua telpon dan pesan dia abaikan. Dia mengurung diri di kamar, Tika sempat mengetuk kamarnya beberapa kali tapi dia membiarkannya begitu saja. Dia hanya ingin sendirian, berpikir dan menenangkan dirinya. Semua ini membuatnya bingung. Untuk apa dia kembali mendekatinya kalau dulu dia membuangnya. Meringkuk di samping tempat tidur, sepanjang malam dia berpikir dan menangis sampai matanya bengkak. Dia sama sekali tidak tidur, apalagi makan. Dia tidak selera. Ponselnya dimatikan agar ia lebih tenang. Akhirnya setelah berpikir semalaman, Adel memutuskan untuk menemui Bu Sella di kantornya. Bersambung......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN