Observasi

2230 Kata
Keesokan paginya Adel menepati janjinya untuk mengembalikan barang pemberian Sella. Dia pergi ke kantor I.B Indonesia yang diberitahukan oleh orang rumah Sella saat Adel menelpon dan ternyata Sella sudah berangkat kerja. Untungnya Sella memeberikannya kartu nama saat kemarin mereka berada di Rumah Sakit. "Ibu, ada yang menunggu di ruangan." Seru Rani Asisten Sella yang dengan ramah menyambut atasannya datang. "Pagi-pagi begini?” Tanyanya bingung, “Yasudah saya ke dalam ya." Sahut Sella. "Iya bu." “Siapa?” Tanya Geri yang baru kembali dari kamar mandi. “Nggak tahu, perempuan itu bawa banyak barang belanjaan.” Ucapannya membuat Geri menghela napas dan menaikkan kedua alisnya. Saat membuka pintu dan melihat ternyata Adel yang ada di dalam dengan membawa barang-barang yang diberikan kemaren. Sella mendesah kecewa. "Adel? Ada apa kemari?" Tanya Sella berpura-pura tidak tahu. "Ah iya, saya mau mengembalikan barang-barang ini, maaf saya tidak bisa menerimanya. Saya menolong Ibu tulus dan menurut saya, barang-barang ini terlalu berlebihan buat saya" Ucap Adel dengan sopan. Dia tersenyum manis sembari menatap Sella. "Del, Ibu juga ngasih ini buat Adel tulus. Sudah Adel terima saja ya." Rayu Sella. Adel menggelengkan kepala "Bukannya saya tidak sopan, tapi saya tidak bisa menerima ini. Saya tidak mau ada salah paham nantinya. Ini saya kembalikan. Saya permisi." Matanya menatap Sella dalam. Adel beranjak dari sofa dan pamit dengan senyuman datar. Ada rasa canggung di dalam dirinya. Sella yang heran hanya bisa terdiam tanpa berkata apa-apa, tubuhnya kaku. Dia terkejut karena Adel mengembalikan semua yang dia berikan. Adel pergi setelah mengebalikan semuanya dan Sella hanya bisa menghela napas sedih. "Kenapa kamu nggak bisa nerima ini Del? Ini semua buat kamu, Ibu bisa berikan semuanya buat kamu." Kata yang hanya bisa diucapkan dalam hati yang menangis dengan mata yang berlinang. Adel keluar dari ruangan Sella dengan rasa lega, dia tidak mau nantinya orang-orang malah salah paham kepadanya. Tapi dia merasa ada yang aneh, kenapa hatinya bergetar setiap kali menatap mata Ibu yang ia tolong itu. Dia sepertinya tidak kekurangan apapun, tapi kenapa di matanya tampak begitu banyak kesedihan. Kebetulan sekali saat berjalan, dia bepapasan dengan Irwan yang saat itu ingin menemui anaknya. Mereka melintasi satu sama lain dan mata mereka bertemu untuk beberapa saat. "Hallo sayang." Ucap Pak Irwan. "Eh papah," Sella langsung mengusap air matanya lalu Irwan mencium pipi anaknya lembut. "Ayok meeting udah di tungguin." Ajaknya sambil melihat jam tangan biru kristal miliknya. "Iya sebentar pah." Sella kemudian membereskan beberapa berkas dan dalam sekejap dia sudah siap untuk rapat. Mereka pergi ke ruang rapat untuk mediskusikan acara tahunan yang biasa di gelar sebagai tanda terima kasih atas pencapaian perusahaan. Semua orang sudah duduk dengan rapih sembari menunggu penjelasan dari atasan mereka. "Saya punya ide, bagaimana untuk tahun ini kita adakan posko berobat gratis? Kita akan bekerja sama dengan salah satu Rumah Sakit swasta dan membuat posko-posko kesehatan." Matanya berbinar ketika mengatakan semua itu, entah bagaimana caranya tapi ide itu tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Ini kesempatan dia untuk bisa bertemu dengan anaknya lagi, lentera hidupnya. Semakin Adel berada di dekatnya, semakin dia merindukan dan menginginkan anaknya untuk berada di sampingnya. "Rumah Sakit? Anda punya rekomendasi RS yang mau memberikan pelayanan medis seperti itu?" Tanya Pak Roni yang terlihat tertarik dengan topik pembicaraan mereka, "Saya punya kenalan di salah satu RS, sebenarnya kita hanya butuh dokter, perawat,alkes dan tim paramedis lainnya. Simple saja seperti di puskesmas hanya untuk penanganan awal saja." Tutur Sella menjelaskan. "Bagaimana menurut kalian, setuju?" Tanya Irwan menoleh kepada semua anggota rapat lainnya. "Bagaimana untuk biaya? Pasti akan sangat besar, untuk tim medis dan alkesnya." Tanya Doni. "Untuk biaya paling besar mungkin di dokter dan obat, kita juga akan kerja sama dengan perusahaan lain supaya tim medis bisa dapat sertifikat setelah acara selesai." Ucap Sella. "Ok saya setuju." Seru Roni dengan tegas. "Boleh, jadi nanti tinggal bikin list untuk apa saja yang dibutuhkan." Doni akhirnya juga menyatakan kesetujuannya. Semua orang mengangguk setuju sedangkan Sella tersenyum penuh kegembiraan. Hatinya serasa tidak sabar. ***             Adel yang sedang sibuk melakukan penyerahan obat tiba-tiba didatangi oleh seorang lelaki paruh baya. Dia menanyakan kapan obatnya akan kelaur.             “Mba obat saya kok belum selesai ya?” Tanyanya.             “Atas nama siapa pak?” Tanya Adel dengan ramah.             “I Nengah Farabi, itu bukan obat sembarang mba. Saya butuh cepat.” Ucap lelaki tersebut.             “Sebentar ya Pak.”             Adel lalu memeriksa sampai di mana obat Bapak tersebut dikerjakan. Ternyata obat tersebut adalah obat khusus untuk pasien HIV/AIDS yang memang disediakan oleh pemerintah secara gratis.             Setelah tahu hal tersebut, Adel langsung bertanya pada orang yang berada di belakang. “Res, kok obat ARV (Antiretroviral) belum pada keluar? Bukannya biasanya didahulukan?”             “Mba, tadi pagi Kak Lintang baru saja memberitahu kita semua kalau semua pasien HIV harus ikut antrian.” Ucap Resti sedikit berbisik.             “Oalah saya nggak tahu. Pantesan.”             “Kayaknya sudah di share di group w******p. Mba nggak buka?” Tanya Resti.             Adel menghela napasnya, dia terlalu sibuk tadi pagi. “Haduh maaf, saya tidak baca group dengan baik. Yasudah, makasih Res.”             Adel lalu kembali menghampiri pasien tersebut, “Bapak nomer antriannya ada?”             “Ini.” Sahut sang pasien yang sepertinya sudah mulai kesal sambil menunjukan nomer yang tadi diberikan. “Maaf bapak, nomernya belum sampai. Sekarang baru nomer 43, nomer bapak 58.” “Kok aneh, biasanya cepat.” Bapak itu terlihat panik dan marah. “Itu bukan obat sembarangan mba. Biasanya juga cepat.” “Saya tahu Pak itu bukan obat sembarangan, tapi Bapak harus menunggu sesuai antrian.” Ucap Adel tegas. Bapak itu terlihat begitu marah dan frustasi, dia lalu membuka kacamatanya dan melemparnya ke lantai. Adel kaget melihatnya. Pasien tersebut kemudian menginjak kacamatanya sampai hampir hancur. Semua orang seketika menatap mereka dengan tanda tanya besar. Adel yang bingung terdiam beberapa saat, kemudian berlari ke belakang dan mengambil sendiri obat untuk pasien tersebut. Dia terlihat panik dan ketakutan, Resti yang juga sedang menyiapkan obat melihatnya dengan aneh. “Kak, itu buat siapa?” Tanya Resti. “Pasiennya ngomel-ngomel. Dia nggak mau nunggu.” Jelasnya. Dengan cepat Adel kemudian memberikan obat tersebut pada pasien yang ada di depannya. Tangannya sedikit gemetar saat memberikan obat tersebut, tapi untungnya sang pasien tidak melakukan apa-apa lagi. Dia menerimanya dengan baik lalu pergi. Seketika Adel menghela napasnya lega, jantungnya masih berdebar kencang dan tubuhnya terasa lemas karena terkejut. Setelah pasien mulai sepi, Adel mundur ke belakang untuk beristirahat sebentar. Lintang yang mendengar kejadian tadi dari Resti lalu menghampiri dan berbicara dengannya. “Kamu kenapa?” “Haduh kak, saya sampai gemetar tadi nyerahin obat. Tiba-tiba saja dia membanting kacamatanya ke lantai dan menginjaknya sampai rusak.” “Dia pasien HIV kan? Maklumin aja, dia mungkin sudah putus asa. Bayangkan kalau kamu diposisi dia, pasti stress. Lagipula ini peraturan baru RS untuk memasukkan mereka ke dalam antrian biar kalian juga nggak kelabakan harus menyiap obat mereka secara cepat.” “Iya kak, saya ngerti.” Ucap Adel sambil tersenyum. "Oh ya, kamu sudah siap buat berangkat besok?" Tanyanya yang membawa berkas-berkas dan keperluan besok. "Siap kak." "Cie Adel sama Pak Adit mau jalan." Ledek Mba Lia yang sedang melintas di depan mereka. "Sirik aja wwooo." Sahut Adel "Jangan lupa oleh-oleh ya Del." Kebiasaan Mak Yanti memang. Minta oleh-oleh melulu. "Insyaallah." Jawab Adel sambil tersenyum jahil. "Besok jam 8 berangkat dari sini, jangan telat dan ini berkas-berkas yang harus kamu bawa besok. Sudah jam pulang kan? Pulang gih istirahat. Awas nanti digebet Pak Adit." Ucap Kak Lintang sambil tertawa kecil. "Ih, kakak rese. Yasudah Kak Adel pamit pulang dulu. Dah semua." Ujarnya sambil melambaikan tangan. ****             Di dalam kamarnya, Adit gelisah gulang guling di tempat tidurnya. Entah kenapa dia begitu gugup untuk acara besok. Memikirkan akan berada dekat dengan Adel membuatnya antusias, dia kenapa sebenarnya? Ini bukan pertama kalinya dia menyukai seorang wanita, tapi ini pertama kalinya dia merasakan hal seperti ini. Jantungnya berdebar tak beraturan. Dia kemudian beranjak dari tempat tidur dan berusaha mengalihkan pikirannya dengan menyiapkan semua barang untuk keperluannya besok.             Baju, celana, bedak, sisir alat mandi dan lain-lain sudah dia masukkan ke dalam tas. Kemudian Adit menghampiri nakas yang berisi beberapa parfum koleksi miliknya. Ada dua parfum kesukaan Adit yang mungkin akan dibawanya besok. Dia bingung memilih diantara kedua parfum tersebut.             “Ini atau ini ya?” Ucapnya sambil menggenggam kedua parfum di kedua tangannya.             Mencoba kembali menghirup wangi yang dikeluarkan parfum, Adit malah semakin bingung. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.             “Haduh, baunya kayaknya enakan yang ini. Kira-kira dia suka yang mana ya?” Tuturnya sambil terus mencium bau parfum tersebut. “Tapi yang ini lebih maskulin, jadi keliatan jantan. Aarrhhh tambah bingung.”             Akhirnya setelah berjam-jam bergelud dengan dirinya sendiri, Adit memutuskan untuk membawa parfum Dior Sauvage Eau de Parfum miliknya. Parfum itu adalah parfum kesayangannya yang selalu ia pakai di acara khusus atau sepsial. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan wanita yang ia sukai. ****             Tepat pukul 07.45 pagi Adel sampai di Rumah Sakit untuk berangkat ke Bandung. Ada sepuluh orang yang akan berangkat kesana menggunakan bis, sedangkan Adit menyusul dengan mobilnya bersama Adam. Adel duduk bersebelahan dengan Jenny, anak laboratorium yang ia kenal. Saat mengobrol ternyata Jenny menggantikan seniornya yang tidak bisa datang karena sakit dan harus di rawat. Setelah 4 jam perjalanan sampailah mereka di hotel untuk istirahat dan membereskan barang bawaan mereka sebentar. Jam tiga sore nanti mereka akan ke Rumah Sakit yang baru untuk melakukan observasi, setelah itu makan malam. Adel kebetulah juga berbagi kamar dengan jenny, dia orangnya asik dan mudah diajak bicara jadi bisa enak mengobrolnya. Tak lama berselang Adit datang bersama Adam memasuki lobby Hotel dengan angkuh menggunakan setelan jas berwarna biru dan kacamata hitam. Dia membuat semua orang yang melihat membuka mulutnya terpana kecuali Adel. Dia malah sebal dengan dandanan atasannya itu yang norak. Dia melintas melewati Adel dan Jenny yang sedang menunggu kunci kamar mereka. Jenny dengan mata berbinar berbicara sambil terus mengikuti kemana langkah Adit pergi, “Hmm, wangi banget Pak Adit ya.” Adel yang mendengarnya merasa geli, dia muak dengan bau parfum yang sangat menyengat. Dia menggeleng sambil menatap Jenny, “Baunya nyengat banget. Huekk.” Ucapnya pura-pura ingin muntah. “Lo aneh Del.” Sahut Jenny yang tak percaya dengan apa yang ia dengar. *** Setelah beristirahat, Adel dan rombongan kemudian mengelilingi rumah sakit, bangunan berwarna coklat muda nan megah dengan lampu-lampu kristal yang menyala membuat kesan mewah semakin terasa. "Wah, bagus juga ya bangunannya. Kayaknya lebih besar dari RS di Jakarta ya." Seru Jenny penuh kekaguman. Adel yang terbelalak mengamati setiap isi bangunan juga tercengang dibuatnya, "Iya lebih megah dan luas dari yang di Jakarta." Jawab Adel sambil melirik kanan dan kiri memperhatikan sekelilingnya. Tiba-tiba rombongan berhenti, dan Adit yang ada didepan mereka berbalik badan untuk berbicara. "Ok, saya sengaja mengajak kalian semua kemari sebagai perwakilan dari setiap bagian untuk memeriksa dan mengoreksi apa saja yang kurang dan dibutuhkan untuk diadakan disini. Jadi kita akan keliling dan nanti tolong dibikin listnya untuk tiap-tiap unit ya apa saja yang mau di tambahkan." Ucap Adit dengan penuh wibawa dan karisma. Rombongan berjalan kembali berkeliling dari ruangan ke ruangan mengikuti kemana kaki Adit melangkah. Farmasi adalah ruangan terakhir yang dikunjungi oleh mereka. "Apa yang kurang Del?" Tanya Adit dengan memandang Adel begitu dalam sampai Adel mengerjapkan matanya beberapa kali dan harus mengalihkan pandangannya. Dia kemudian mencoba kembali fokus dengan tugas yang harus ia kerjakan. "Kita butuh kulkas vaksin Pak, beda sama kulkas biasa ini." Jawab adel terbata-bata sangking gugupnya. "Oh beda ya?" Tanya Adit sambil mengusap dagunya pelan. "Iya soalnya vaksin harus di simpan di suhu 2 sampai 8 derajat celcius." Tutur Adel dengan jelas, sekarang dia sudah memberanikan dirinya untuk juga menatap mata Adit. "Hmmm ok, tolong di list ya." Adel mengangguk lalu kembali bergabung dengan rombongan mereka. **** Semua ruangan sudah di kunjungi dan hampir 80% sudah siap. Rombongan lalu pergi untuk makan malam di sebuah Restoran di Bandung tempat Rumah Sakit baru mereka akan dibangun. "Wah terima kasih Pak sudah membawa kami kesini." Tutur Toni kepala bagian radiologi. "Sama-sama, semoga cocok ya makanannya. " Ucap Adit dengan ramah, mereka kemudian mulai menikmati makanannya. "Del makan steaknya enak tahu,” Tandas Jenny yang melihat Adel hanya mengaduk-ngaduk makanannya tidak selera “Pak adit udah ganteng, baik lagi." Seru Jenny yang melahap steaknya dengan cepat. "Baik sih baik, tapi sombongnya minta ampun. Gayanya sok banget, berasa Brad Pitt kali dia." Jawab Adel "Sewot amat lo Del, namanya juga bos." Ungkap Jenny sambil memotong daging steak yang tinggal separuh itu. “Hati-hati lo lama-lama naksir.” Adel menggeleng, “Nggak akan.” Ucapnya dengan nada judes. "Adel..." panggil Adit yang melihatnya tidak selera makan dan terus bergurau dengan teman sebelahnya. "Iiiyyya pak?" Jawab Adel gugup. "Kenapa nggak dimakan, nggak enak?" Pertanyaan Adit seketika membuat semua orang menoleh pada Adel dengan tatapan “Ini orang dikasih makan enak bukannya berterima kasih.” "Enak kok ini saya makan." Dengan terpaksa Adel akhirnya memasukkan makanan ke mulutnya, bukan karena tidak enak tapi Adel kurang doyan dengan daging sapi. Terlalu berlemak menurutnya. "Saya harap semuanya senang ya, setelah ini acaranya bebas sampai besok pulang." Ucapan Adit langsung membuat semua orang berkata "Yes" dan akhirnya rombongan pulang ke hotel dan kembali ke ruangannya masing-masing. Adel dan Jenny tidur di kamar 305 sedangkan Adit di kamar 303.  Adel yang sedang tertidur pulas tiba-tiba saja kaget mendengar suara handphonenya berbunyi jam dua belas malam. Dan ternyata Adit yang menelponnya. “Mau apa sih dia nelpon malam-malam begini?” Gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN