Terjebak Gudang

1006 Kata
Gue mengobrak-abrik semua isi tas, tapi nihil. Meskipun tas ini sampai gue bakar pun, buku tugas yang harusnya gue kumpulin hari ini nggak akan nongol sendiri. "Mampus gue!" "Yang bisa menyelamatkan lo hanya dukungan dari sang kuasa, Dja." Dewa menepuk-nepuk bahu gue prihatin. Miko menjentikkan jarinya di depan gue. "Gue ada ide," ujar Miko. Secara spontan gue berbalik menghadap Miko. "Apa?" tanya gue berharap-harap padanya. Miko mengeluarkan rintisan andalannya. "Mending lo langsung ngomong sama Pak Botak masalah buku lo yang ketinggalan ini." Gue berdecak. Harusnya dari awal gue nggak pernah berharap kepada Miko. Kenapa? Karena selalu seperti ini akhir ceritanya. Malah nambah masalah. Hari ini adalah deadline terakhir tugas sejarah dikumpulkan. Tapi sialnya, buku tugas gue ketinggalan, padahal gue udah berusaha mati-matian buat ngerjain tugas itu. Apalagi, ditambah guru gue yang killernya minta ampun. Pak Bondan Takeshi namanya, sebenarnya gue bingung kenapa akhiran namanya harus Takeshi, secara kan Takeshi itu garang. Bahkan gue sempat mikir, mungkin emaknya mau si Bondan Takeshi ini nanti jadi orang yang garang. Kenapa gue dan temen-temen manggil dia botak? Kepalanya aja botak, dan kebetulan banget namanya juga bisa disingkat. Jadilah nama panggilan Pak Botak. "YANG BELUM MENGUMPULKAN TUGAS SEGERA MAJU KE DEPAN!!" Teriakan tiba-tiba Pak Botak berhasil mengagetkan gue. Gue aja nggak tau kapan Pak Botak masuk kelas. Kalau kayak gini ceritanya, gue bisa beneran mampus. Dewa dan Miko mendorong-dorong badan gue untuk segera maju. Rasanya gue ingin segera membogem wajah mereka berdua, tapi sayangnya ini bukan waktu yang tepat. Gue pasrah. Akhirnya gue maju. Awalnya, gue pikir banyak yang nggak ngerjain tugas dari Pak Botak. Ternyata, eh, ternyata, cuma gue, CUMA GUE. Gue dihadiahi tatapan tajam milik Pak Botak. Gue berasa lagi diposisi Nobita, sedangkan Pak Botak itu Takeshi di film Doraemon. Nah kan, gue jadi ngelantur. "Pak, saya seb—" "SIALA YANG MENYURUH KAMU BERBICARA?" Gue kicep. "KENAPA KAMU TIFAK MENGERJAKAN TUGAS?!" Anjir, tau gitu enggak usah motong kata kata gue. "Saya mengerjakan tugas kok, pak. Cuma, tugas saya tertinggal di rumah." Tatapan Pak Botak semakin sinis ke gue. "Alasan!" "Saya benar benar nggak bohong kok, Pak. Kalau bap—" "Sudah! Lebih baik kamu bersihkan gudang sekarang juga!" ujar Pak Botak. Gue terjingkat. "Jangan gudang, dong, pak. Bapak nggak kasihan sama say—" "HALAH, ALASAN! Cepat!" Gue berdecak. Masalahnya sekarang adalah, gue nggak suka tempat yang pengap dan minim udara. Disana, temen-temen gue malah cekikikan nggak jelas seraya memberikan jari jempolnya ke arah gue. Bener-bener minta dijotos kan? Dengan langkah malas gue berjalan ke arah gudang. Sebenarnya tidak seberapa jauh dengan ruang kelas gue, hanya lurus kemudian belok lalu lurus sampai mentok. Sesampainya gue di gudang, gue langsung membuka pintu gudang. Seperti yang gue bayangkan, bahkan bisa lebih buruk, gudang sangatlah kotor, pengap, dan berdebu. Gue berdecak. "Ini namanya gue jadi babu. Harusnya kan bisa hormat di lapangan aja," ucap gue menggerutu. Gue mulai mengambil kemoceng untung membersihkan debu. Beberapa kali gue sempat bersin karena debunya yang luar biasa banyak. Setelah itu gue mengambil sapu untuk membersihkan lantai. Sebenarnya, gudang sekolah gue ini bisa dibilang luas. Tapi, gue hanya berani membersihkan sampai bagian tengah gudang saja. Gue nggak berani sampai belakang. Gue ini berani dengan sesama manusia, bahkan sampai adu jotos dengan taruhan nyawa sekalipun. Hanya saja, kalau masalah diluar nalar manusia, hehe, gue sedikit parnoan. SEDIKIT. Dalam waktu setengah jam, gue mampu membersihkan bagian luar dan tengah gudang. Gue beristirahat sejenak. Sebenarnya gue ingin kembali ke kelas, tapi gue malas kalau akhirnya disuruh balik. Jadilah gue memutuskan untuk sekalian saja membersihkan bagian dalam gudang setelah berperang dengan batin gue. Gue mulai masuk ke area dalam gudang. Sedikit mencekam dengan penerangan yang minimalis. Ditambah lagi dengan barang rongsokan yang berupa bingkai foto beserta foto-foto yang nggak mau gue lihat. Beberapa menit ketika gue membersihkan gudang. Gue mendengar sebuah keributan yang berasal dari luar gudang. Suara perempuan sepertinya. Gue semakin merinding, bulu kuduk gue berdiri, gue mulai gemetar dan berkeringat dingin. Gue memutuskan untuk memberanikan diri melihat keadaan di luar gudang. Kaki gue melangkah perlahan, mencoba untuk tidak menimbulkan suara. Brakk Suara pintu tertutup dengan kencang membuat gue kaget. Hampir aja kaki gue nggak kuat buat nopang tubuh gue. Gue hampir pingsan dibuat penunggu gudang ini. "Aaaakh." Terdengar suara teriakan perempuan. Tangan gue semakin bergetar hebat, keringat dingin sudah mengucur deras, suasana semakin mencekam, entah kenapa rasanya suhu di gudang ini semakin menurun saja. Gue udah lihat! Gue udah lihat mbak-mbak penunggu gudang itu. Gue mencoba untuk meraih kayu yang ada disekitar gue. Tapi, emang hantu bisa dipukul? Ah, intinya gue ada s*****a untuk melawan. Gue semakin mendekati si penunggu gudang ini. Dia menggedor-gedor pintu gudang, sepertinya dia mau mencoba untuk bebas dari gudang ini. Semakin dekat, gue semakin dekat dengan orang—maksud gue hantu—itu. Sesaat ketika gue akan memukulkan kayu ini, hantu itu membalikkan badannya. "Sheila?!" "Radja?!" "Lo kok—" ucap kami bersamaan. "Lo kok bisa disini?!" tanya gue yang KEBETULAN berbarengan dengan Sheila. "Gue abis dibully sama fans fanatik lo tuh!" jawab Sheila dengan penuh penekanan. "Dibully gimana? Emang cewek kayak lo bisa dibully?" tanya gue heran. Sheila berdecak. "Sayangnya sih mereka memang jumlah daripada gue. Coba aja, deh, satu lawan satu, bisa K.O duluan mereka," ucap Sheila membanggakan diri. "Cih, tapi akhirnya juga lo ada disini. Itu artinya...." Gue sengaja tidak melanjutkan kata mata gue. "Apaan?" "Lo kalah!" Telak. Raut wajah Sheila berubah drastis. "Lo bener-bener minta gue hajar?" Gue terkekeh meremehkan. "Lo? Bisa hajar gue?" "Lo ngeremehin gue?!" "Bukan. Gue nggak ngeremehin lo, cuma aja, kurang percaya sama kemampuan lo." Gue puas. Sangat puas ketika melihat wajah Sheila yang merah padam. "Lo minta diapain sih?!" ucap Sheila marah. Gue menahan tawa. Sejujurnya, Sheila sedikit imut ketika marah. Ingat, SEDIKIT. "Minta dicium boleh, nggak?" Gue menaik-turunkan kedua alis untuk menggoda Sheila. Sheila bergidig ngeri. "JIJIK!" teriaknya. "Jujur aja deh, lo pasti udah termakan sama pesona gue, kan?" Sheila menggelengkan kepalanya. "Wah, beneran gila nih anak." Gue menyenggol lengan Sheila. "Ngaku aja deh, She." "Terserah! Serah! Mau lo bilang apapun gue nggak peduli!" Gue tertawa. Seru sekali ternyata bisa menggoda Sheila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN