Sinar mentari pagi menjilati celah ventilasi udara, menciptakan garis-garis jenjang pada lantai ruangan. Gue memuyu-muyu mata dan merasakan pegal di sekujur badan. Masih dalam posisi terduduk, gue menggerakkan kaki, yang kemudian terantuk pada sesuatu di sebelah kiri tubuh gue. Sontak wajah gue berpaling. Sepersekian detik berikutnya tertegun lantaran mendapati Sheila meringkuk tak jauh dari tempat gue tertidur. Punggung yang melengkung itu menatap ke arah gue. Kasihan, pasti dia kedinginan.
Walau kepayahan, gue berhasil menyeret tubuh mendekat ke arah Sheila. Deru napasnya terdengar jernih di pendengaran gue berkat kesunyian ruangan. "Shei ... bangun." Dengan lemas, gue menggoyang-goyangkan lengan atas Sheila berniat membangunkannya. Sheila tampak melenguh sebelum membuka mata dan membawa tubuhnya duduk.
"E-h, apa-apaan lo! Menjauh dong! Mau macem-macem, ya?!" tuding Sheila. Badannya membeku. Mungkin karena posisi gue dengan dirinya terlalu dekat.
"Simpen dulu omongan lo! Gue gak mau debat sekarang." Cih, gue berbaik hati membangunkannya! Kenapa dikira yang bukan-bukan, sih? Lagian, gue gak berminat dengan tubuh gue yang lunglai begini.
Sheila mencibir samar. Dia membetulkan ikatan rambutnya sekilas sebelum menggedor-gedor pintu gudang meminta pertolongan. Gue melirik arloji. Pukul enam pagi. Jam begini, belum ada siswa-siswi yang sudah datang termasuk mutid rajin akut sekalipun.
"Ada orang gak di luar? Ada orang di sini, tolong bukain dong!" teriak Sheila, walau suara dan hentakan tangannya tak begitu bertenaga.
Pandangan gue berkunang-kunang, tapi gue gengsi mengutarakan ini kepada Sheila. Bisa-bisa dia menambah bahan cibirannya dengan menyatai gue cowok lembek. Sebagai keturunan Dewa Yunani, jelas gue enggak mau hak itu terjadi.
"Heh, lo bantuin dong, cari akal!" Sheila menyusuri ruangan. Menggeser-geser benda. Barangkali ada jalan tikus di sana. "Ck! Gue lupa, semalem kan udah digeledah, tapi gak ada jalan keluar selain ventilasi di atas itu." Rupanya dia ingat juga. Kalau tidak, gue akan berkomentar pedas sebagaimana biasa. Namun melihat kondisi gue yang tak berdaya, gue hanya bisa mengerang merasakan pening yang menghunjam kepala.
"Shei ...."
"Apa sih, diem!" Sheila mendekati ventilasi. Tampaknya menimbang-nimbang apakah tubuh kita berdua—kalau dia ingat gue juga—bisa melewatinya.
"Shei ...."
"Tapi ini terlalu tinggi. Lagian, susah juga ngebobolnya," ujarnya tanpa mengindahkan panggilan gue.
"Shei ...."
"Apaan sih manggil-manggil!" Dia berbalik, kakinya menghentak tanah dengan sebal, dan dahinya mengerut dalam. Sementara itu, gue masih mempertahankan wajah kesakitan. Masa bodoh dengan Sheila! Gue bener-bener lemas luar biasa.
"Eh, lo kenapa?" Sheila memekik seraya berlari menuju gue. Pada wajahnya itu, gue menemukan kekhawatiran dan keheranan dalam waktu bersamaan.
"Gue ... gak apa-apa." Gue memutuskan beranjak berdiri. Dua langkah kemudian, tubuh gue limbung. Pening pada kepala semakin menjadi sementara tubuh gue terasa dingin.
"Lo gila, ya!" maki Sheila. "Jangan gerak dulu!" perintahnya. Tangan Sheila mendarat di dahi gue. "Lo meriang. Hei, Radja, buka mata!" Sheila kelabakan. Gue merasakan tepukan cukup kuat di pipi sebelah kanan.
"Radja!" panggilnya. "Buka mata lo," jedanya cepat, "liat gue." Sheila membingkai wajah gue dengan jari-jemarinya yang dingin. "Sebentar lagi kita keluar, oke?" Mata Sheila melirik bergantian antara mata dan hidung gue yang mengeluarkan napas dengan pelan.
Gue tidak menanggapi ucapannya. Sebelum Sheila menegakkan tubuh berniat menggedor-gedor pintu kembali, gue menahan tangannya.
"Shei ...."
Sheila berdecak. "Apa, hah? Lo ngeyel banget sih. Kita harus cepetan keluar dari gudang s****n ini!" Sheila menghentakkan tangan gue, walau gue tahu dia tidak mengerahkan seluruh kekuatannya. Ada kepuasan tersendiri ketika Sheila merasa gamang karena mencemaskan kondisi gue.
"Tolong, siapa aja, bukain pintunya!" Pukulan Sheila semakin menjadi.
Gue, Rehando Radja Sembiring, merasakan kepuasan tersendiri tatkala Sheila merasa gamang akan kondisi gue saat ini.
"Buka pintunya!" Kakinya ikut menendang. "s****n!" Dia mengerang.
Tubuh Sheila berputar pasrah. Dia melirik gue yang terkapar di atas lantai.
"Ada orang di sana?" teriak seseorang dari luar.
Bersicepat Sheila menyahut. "Iya, Pak! Tolong buka kuncinya! Ada orang yang mau pingsan!"
Gue melega. Sheila mundur dua langkah ketika merasakan pergerakan di lubang kunci. Pintu menjeblak kasar. Seorang lelaki penjaga sekolah melangkah ke dalam.
"Siapa?" tanya Pak Penjaga Sekolah sedikit berteriak.
"Radja," jawab Sheila. Dia mendekati tubuh gue bersama Pak Penjaga dengan tergesa-gesa.
Tubuh gue yang lemas ini dibopong mereka berdua keluar ruangan menuju mobil operasional sekolah. Gue mau dilarikan ke rumah sakit, begitu ujar Pak Penjaga ketika Sheila bertanya. Syukurlah, gue merasa betul-betul lemas, dan kerongkongan gue luar biasa kering. Sheila duduk memangku kepala gue di pahanya. Dengan wajah yang harap-harap cemas, dia terus saja berujar, "Ini bukan syakaratul maut, kan?"
Sialan! Gue memaki dalam hati. Bisa-bisanya dia berlagak songong sementara napas gue tersengal-sengal. Gue kepayahan meneguk saliva. Perih. Pandangan gue mengabur, kepala gue penggar, kemudian seberkas gulita menjemput, dan gue merasakan sesuatu menetes pada pipi sebelum kegelapan itu menyelimuti. Gue tidak sadarkan diri.
• • •
Gue merasa lebih baik daripada sebelumnya walaupun tubuh gue lunglai di atas pembaringan rumah sakit. Kata dokter, gue kelelahan dan dehidrasi sehingga membuat gue tak sadarkan diri. Pak Penjaga Sekolah sudah berpamitan pergi, tinggal Sheila yang menemani. Gue sih bodo amat, tapi kalau mau jujur, gue sedang mengumpulkan tenaga untuk membalas ocehannya Sheila.
"Lo gak denger apa kata dokter? Ayo minum lagi!" Sheila terus saja menodongkan air mineral ke mulut gue. Hei, itu botol ketiga! Dia mau bunuh gue apa?
"Lebay banget sih lo!" Gue mencibir, mendorong tangan Sheila. Dia memanyunkan bibir dan memandang remeh ke arah gue. Oh ya, gue teringat sesuatu!
"Waktu bawa gue ke sini, lo nangis?"
Sheila tampak meneguk ludah, kemudian menggeleng. "Enggaklah."
"Kenapa? Lo nangisin gue, ya?" seloroh gue dengan sudur bibir yang terangkat.
"Dih, pede amat! Buat apa? Gak ada kerjaan aja!" Gue mencium bau-bau kedustaan di sini. Pasti Sheila tengah berkilah.
Tetiba pintu ruangan terbuka kasar. Bibir gue kembali merapat ketika seonggok tubuh lelaki masuk mengagetkan kami berdua.
"Itu bokap gue," terang gue pelan, menguraikan kerutan dahi Sheila. Perempuan itu tampak kikuk dan mengangkat tubuhnya dari kursi ketika bokap berdiri tepat di sebelah kiri pembaringan sementara Sheila di seberangnya.
"Papa ketemu sama penjaga sekolah kamu di lobi. Katanya, semalaman kamu terkunci di gudang. Kenapa?" todong bokap.
Dengan malas-malasan, gue menjawab, "Dihukum ngebersihin gudang." Gue sempat melirik Sheila sejenak. Dia tambah kikuk saja. Sepertinya bokap belum menyadari keberadaannya.
"Apa?! Siapa yang berani menghukum kamu? Kasih tau papa! Berani-beraninya dia, huh! Kalau kamu kenapa-kenapa, papa janji akan menuntut sekolah!" Tangan bokap mengepal erat, tampak urat tangan kehijauan menyembul dari sana. Rahangnya mengetat sementara gigi-geliginya bergemeletuk. Kalau sudah begini, bokap tidak main-main dengan ucapannya.
"Radja gak apa-apa, gak usah lebay."
"Enteng sekali kamu bicara! Kalau kamu gak ada, siapa yang mewarisi perusahaan Papa? Tetangga?" Tangan bokap menggebrak pembaringan. Sheila tampak memekik perlahan. Gue terbungkam, barangkali terlalu muak karena ucapan bokap.
"Dan kenapa kamu bisa sampai dihukum?" lanjutnya. Mata bokap memicing. Duh, gue harus jawab apa?
Sheila berdeham. "Em, permisi Pak." Sheila tersenyum kikuk. Gue mendesah lega. Secara tidak langsung, dia telah menyelamatkan gue dari amukan yang sesungguhnya.
Bokap berpaling. Tatapannya melunak melihat Sheila yang terlihat gamang. "Ah, Om tidak melihat kamu. Kamu temannya Radja yang menelepon, 'kan?" tanyanya. Sheila mengangguk. Huh, pantas saja bokap datang kemari, rupanya ada yang mengabari. Gue berspekulasi, pasti Sheila mengotak-atik ponsel gue yang tidak dikasih pengaman itu untuk menghubungi bokap.
"Nama saya Sheila, Pak." Dia menyalami tangan bokap dengan sopan. Ck! Kamuflase banget.
"Oh, iya. Terima kasih ya, Seila, sudah mengantarkan Radja ke rumah sakit."
"Sama-sama Pak, gak masalah."
Gue sedikit melega karena bokap tidak bertanya kenapa Sheila bisa bersama dan kemudian gue.
"Kamu sopan sekali, ya." Bokap tersenyum ramah. Gue di-peanut-in mereka berdua. "Panggil saja Om, gak usah Pak," pinta bokap.
"Baik, Om."
Setelahnya bokap menggiring Sheila menuju sofa. Mereka terlibat percakapan akrab. Tampaknya bokap menyukai perempuan itu. Ya, gue mengakui jikalau gaya bicara dan berperilaku Sheila elok banget. Gue sampai dibuat tercengang.
Obrolan mereka cepat merambat. Gue takdzim mendengarkan. Akan tetapi, ketika bokap sedikit memelankan suaranya, gue menajamkan telinga.
"Om percaya sama kamu. Jadi Om minta, kamu bersedia memata-matai Radja. Paling tidak selama di sekolah." Mereka berdua melirik bersamaan ke arah pembaringan. Sontak gue memejamkan mata, pura-pura terlelap.
Dirasa aman, gue kembali melihat ke arah mereka. Sheila membasahi bibirnya gusar. Gue yakin dia bakal menolah permintaan aneh bokap gue.
"Iya Om, Sheila mau."
Gue terjengit. Apa?! Si songong Sheila ... dia bersedia?